GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 82. DION TEROBSESI


“Oh, aku mengerti. Tuan Muda yang kamu layani itu seperti cuaca di bulan Juni ya? Suasana hatinya berubah sesuai keinginannya.” ujar Arimbi. ‘Emir! Pria ini memiliki temperamen buruk untuk seorang pria setampan dia.’ gerutu Arimbi didalam hatinya. Dia seharusnya tidak memberinya sesuatu yang murah. Tapi tetap saja, itu adalah hadiah tulus yang dia buat sendiri. Setelah memikirkannya, Arimbi memutuskan untuk pergi berbelanja di sore hari untuk Emir.


...******...


Dion Harimurti sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia memarkir mobilnya tepat didepan pintu masuk rumah sakit. Jendela samping telah diturunkan sedikit untuk memungkinkannya melihat lebih jelas apa yang terjadi diluar. Matanya terpaku pada pintu masuk rumah sakit. Begitu dia melihat Arimbi, Dion bergegas mendorong pintu mobil hingga terbuka dan turun dari mobil.


Para pengawalnya tahu apa yang ingin dia lakukan dan mereka bergegas ke depan untuk menghentikan Arimbi. “Kalian lagi?” Arimbi memelototi para pengawal Keluarga Harimurti itu, “Apa yang kalian mau lakukan kali ini?”


“Ayo kita bicara Arimbi,” suara yang tidak dikenalnya tiba-tiba datang dari belakangnya membuat Arimbi menoleh. Dion berjalan kearahnya dengan langkah panjang. Sama seperti Emir, Dion juga suka mengenakan jas hitam. Caranya melangkah lebar dan mulus membuatnya terlihat mengesankan.


Selain itu, para pengawalnya lebih menunjukkan sikap seperti bangsawan. Pria ini mungkin berada di level yang sama dengan Emir.


“Anda siapa?” tanya Arimbi.


“Dion harimurti.”


“Dion Harimurti? Ah---Direktur Harimurti! Apa yang ingin anda bicarakan denganku? Jika ini tenang kemarin, memang itu salahku. Aku ingin meminta maaf dengan tulus padamu. Aku benar-benar minta maaf.” ucap Arimbi yang tak ingin berlama-lama.


Dion melangkah lebih mendekat pada Arimbi dan wanita itu melangkah mundur. Wajar jika saingan Emir begitu mendominasi, Dion Harimurti bukanlah seseorang yang bisa dilawan oleh seorang wanita kecil seperti Arimbi.


“Aku akan menyuruh anak buahku untuk membawakan kotak makan siang itu ke bangsal ibumu. Dan kamu, harus ikut denganku sekarang.” ucap Dion. Nada bicaranya yang sok mengatur membuatnya tidak memiliki ruang untuk penolakan.


Tepat setelah Dion mengatakan itu, seseorang mendatanginya dan mengambil kotak makan siang dari tanagnnya. Bahkan dua penagwal dengan sopan memberi isyara agar Arimbi mengikuti Dion saat dia berbalik dan berjalan pergi. Orang-orang yang lewat melirik mereka, tidak ada yang berani berkerumun disana dan tak ada mau ikut campur. Arimbi melihat para pengawal telah mengelilinginya untuk mencegahnya melarikan diri.


Tidak mungkin Arimbi bisa menjatuhkan mereka dengan kemampuannya sendiri. Satu-satunya alasa dia berhasil dengan mudah melemparkan lawannya kemarin adalah karena pengawal itu telah meremehkannya. Akhirnya Arimbi yang tak punya pilihan pun mengikuti Dion dengan patuh. Setelah tiga puluh menit, Arimbi dibawa ke kamar Direktur di Hotel Harimurti. Dion langsung menuju jendela sudut saat memasuki ruangan dan melihat ke langit biru yang dihiasi awan putih.


Cuaca hari ini sangat bagus untuk dipandang. Para pengawal tidak ada yang ikut masuk keruangan itu. Hanya ada Arimbi dan Dion dikamar yang luas itu. Arimbi duduk di sofa dan tidak akan mengganggu pria itu jika Dion juga tidak mengganggunya. Arimbi merasa dia harus melakukan sesutau tentang temperamen suaminya sendiri terlebih dahulu.


Jadi dia mengirimkan sekitar sepuluh pesan kepada Emir tetapi entah bagaimana tidak mendapat balasan.


“Aku pernah menjalani operasi kepala sebelumnya.” rubah licik disamping jendela itu tiba-tiba berbicara. Arimbi hanya diam tak membalas apapun, tetapi dia agak terkejut mengetahui bahwa Dion pernah menjalani operasi kepala.


Arimbi yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Setelah beberapa menit, Dion berbalik dan menatapnya sejenak saat dia berjalan didepannya. Kemudian Dion membungkuk dan menyangga lengannya dikedua sisi dan mengunci Arimbi ditempatnya.


“Direktur Harimurti?”


“Aku selalu memimpikan hal yang sama Arimbi. Dalam mimpiku aku menciummu dan...kamu hamil setelah itu. Bayi itu milikku kan? Dimana bayiku? Apakah laki-laki atau perempuan? Dimana kamu menyembunyikannya? Siapa yang menghapus catatan bahwa kamu pernah melahirkan? Aku tidak dapat menemukannya.”


Wajah Arimbi langsung murung setelah mendengar itu. Sepertinya orang yang merampas kesuciannya di kehidupan sebelumnya adalah Dion Harimurti!


“Aku punya perasaan bahwa itu bukan mimpi tapi adalah kenangan yang hilang dariku. Aku baru saja mengingatnya itulah sebabnya mimpi itu terus saja datang.” Dion tiba-tiba meraih bahunya dan menginterogasinya, “Sebaiknya kamu berterus terang denganku Arimbi Rafaldi! Dimana bayinya?”


Dimana bayinya? Bayi itu tidak ada lagi! Mengapa dia tidak mendapatkan mimpi-mimpi ini di kehidupan masa lalunya?


‘Jika dia tahu kalau anak itu adalah miliknya, dia pasti akan membawanya. Anak itu akan hidup…..


Dia menginginkan aku tetapi dia tidak pernah bertindak apapun setiap kali bertemu setelah kami melakukan itu.’ pikirnya. Semakin Arimbi memikirkannya, semakin dalam kebenciannya mengalir. Dion hanyalah seorang brengsel!


Sambil mengangkat tangannya, Arimbi menampar tangan Dion sebelum dia berdiri dari sofa. Kemudian dia berkata, “Aku sangat terkejut Direktur Harimurti! Kamu pasti bermimpi tidak hanya tentangku tetapi juga bermesraan denganku karena aku terlalu cantik. Kamu pasti jatuh cinta denganku pada pandangan pertama dan bahkan memimpikan semua tentangku. Tapi kemarin adalah pertama kalinya aku melihatmu. Kamu harus pergi memeriksakan diri ke dokter jika kamu tidak sehat secara mental. Jangan salah mengartikan mimpimu sebagai kenyataan dan datang mengganggu hidupku! Aku tidak pernah menjalin hubungan apapun denganmu, jadi tidak mungkin aku hami anakmu!”


Dion diam menatap Arimbi. Dia mengalami pergumulan didalam dirinya, apakah dia harus mempercayai ucapan Arimbi. “Aku butuh bukti! Aku telah mendatangkan seornag dokter untuk memeriksamu. Jika hasil tesnya benar, aku berjanji akan melepaskanmu dan tidak akan mengganggu mu lagi mulai besok dan seterusnya.”


Arimbi tidak bodoh, dia tahu apa yang ingin dibuktikan oleh pria itu. Arimbi sangat ingin menampar pria itu dengan keras tetapi dia sadar untuk menahan dirinya sehingga dia bisa menjalani sisa hidupnya dengan damai.


“Tenang saja, dia adalah seorang dokter wanita. Dia juga akan merahasiakan ini. Tak ada satupun yang terjaid hari ini akan meninggalkan ruangan ini.” ujar Dion.


Mendengar itu Arimbi hanya bisa mengatupkan bibirnya. Apalagi yang bisa dikatakannya tentang itu? Dion Harimurti adalah pria yang keras kepala dan mendominasi. Dia berpikir bahwa dia hanya bermimpi tentang apa yang sebenarnya terjadi, dia tahu ketenangan hidupnya hanya akan menjadi mimpi yang tidak bisa diraih jika Arimbi tidak membuatnya menyerah.


Arimbi pun tanpa sadar gemetar saat dia tiba-tiba teringat Emir yang masih marah padanya. Dia pikir mungkin lebih baik banginya untuk tidak mengganggu Dion dengan cara apapun. Yang diinginkannya setelah dia dilahirkan kembali adalah bergantung pada kesuksesan Emir dan dengan dukungan pria itu menjadikan Arimbi lebih kuat sebelum secara perlahan dia bisa membalas dendam pada Amanda dan Reza.


Dia ingin keduanya kehilangan kedudukan dan reputasi mereka dan berakhir tanpa memiliki apa-apa setelah dia selesai membalas mereka. Sedangkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengannya seperti Dion Harimurti misalnya akan lebih baik bagi Arimbi jika pria itu menjauh sejauh mungkin.