GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 201. PERSETERUAN NENEK & CUCU


Arimbi tidak mengatakan apa-apa. Bagaimanapun Desi hanyalah seorang utusan, jadi tidak ada gunanya bagi Arimbi untuk mengatakan apapun pada Desi. 


Melihat Arimbi masih berdiam diri, lalu Desi mendesak dengan sedikit berbisik, “Nyonya Muda Arimbi cepatlah agar Nyonya Tua Serkan tidak marah.” Desi dengan baik hati mengingatkan Arimbi.


“Lakukan saja apa yang dia katakan nanti. Jangan membuat Nyonya Tua Serkan marah.”


Akhirnya Arimbi mengikuti Desi menuju ke paviliun. Rino dan pengawal lainnya berdiri diluar pavilliun seperti biasa ketika Arimbi mendekati mereka lalu menyapa dengan hormat, “Selamat pagi Nyonya Muda Arimbi.”


Arimbi membalas sapaan mereka sambil tersenyum. Rino sama tampan dan keren seperti bosnya. Joana masih menutup teleponnya sampai sekarang. Dia pikir sia-sia bagi Rino bekerja sebagai pengawal Emir. Menurut Joana jika Rino memasuki dunia kerja dia yakin pria itu akan menjadi tangan kanan Emir.


Tampak didalam paviliun Layla dan Emir sedang duduk, Layla mengenakan kacamata baca dan tampak jinak seperti biarawati. Ketika Arimbi masuk, wanita tua itu masih menatap Emir dengan penuh kasih dan berbicara kepadanya tanpa mengangkat alisnya.


Sementara Emir terlihat sangat dingin dengan bibir terkatapu. Dia tidak bicara hanya mengucapkan “Uh-huh.” dengan nada dingin dan monoton sebagai tanggapan atas ceramah Layla yang panjang.


Diatas meja dipenuhi dengan berbagai macam hidangan sarapan. Mata Arimbi berbinar saat dia menatap sarapan diatas meja. Sarapan hari ini tersedia beberapa menu yang kebanyakan adalah makanan kesukaannya.


Ada juga pancake yang paling disukainya. Tidak banyak pancake diatas meja, tapi itu cukup untuknya. Sedangkan makanan lain terlihat sangat lezat.


“Nenek.” Arimbi menyapa Layla dengan sopan. Emir telah mengakui pada Layla tentang hubungan pernikahan mereka yang sudah resmi sebagai suami istri jadi Arimbi memanggil Layla ‘Nenek’ seperti yang seharusnya.


Layla masih terlihat ramah dan bersahabat tapi dia menjawab tanpa memandang Arimbi, “Aku sudah terbiasa kamu memanggilku Nyonya Serkan jadi sebaiknya kamu tidak memanggilku nenek.”


Wanita tua itu tidak mengakuinya sebagai cucu menantunya, ya? Pikir Arimbi. Tepat ketika dia ingin mengoreksi dirinya dan memanggil Layla dengan sebutan Nyonya Serkan tapi Emir dengan dingin sudah duluan bicara, “Justru karena nenek tidak terbiasa sekarang makanya Arimbi harus lebih sering memanggilmu nenek agar nenek terbiasa mendengarnya. Panggil nenek beberapa kali lagi.”


Bibir wanita tua itu berkedut. Melihat Layla masih mempertahankan ketenangannya, mau tak mau Arimbi berpikir kalau Nenek Serkan sangat tenang.


Bagaimana bisa orang yang melatih Emir menjadi cucu yang luar biasa itu begitu merendahkan orang lain? Lalu Arimbi pun mengikuti perintah suaminya, “Nenek….nenek…..nenek….nenek,” Dia memanggil Layla ‘Nenek’ beberapa kali sampai orang yang dipanggil tidak bisa lagi menahan kesalnya.


“Cukup! Apalagi yang kamu tunggu? Cuci tanganmu dan sajikan makanan untuk Emir. Dia akan bekerja setengah jam lagi.” perintah Layla. “Desi!”


Desi segera membawa baskom berisi air yang dipenuhi daun jeruk yang mengambang diatasnya sehingga mengeluarkan bau daun jeruk.


Melihat baskom berisi air yang jelas-jelas direbus dengan daun jeruk bali, Arimbi menatapnya diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Nenek, aku sudah mencuci tanganku sebelum datang kesini.”


Di desa tempat tinggal keluarga Darmawan hanya orang-orang yang dianggap membawa sial yang akan membersihkan diri dengan air rebusan daun jeruk bali.


Dengan kata lain Layla menyuruhnya mencuci tangannya menggunakan air yang dicampur dengan daun jeruk karena alasan yang pertama adalah menganggap Arimbi sebagai pembawa sial.


Arimbi tidak menyerang Layla tetapi dia menolak untuk mencuci tangannya menggunakan air rebusan daun jeruk bali. Saat itu Layla mendesaknya, “Bahkan jika kamu sudah cuci tangan, kamu harus mencucinya lagi. Tanganmu sudah terkontaminasi bakteri ketika datang jauh-jauh kesini. Kamu harus mencuci tangan sampai bersih sebelum menyajikan makanan untuk cucuku.”


Sebelum Arimbi bisa menanggapi perkataan wanita tua itu, Emir menjawab, “Nenek, sudahkah kamu mencuci tangan? Nenek datang dari rumah utama yang jaraknya lebih jauh dari sini dibandingkan Arimbi. Tentunya tanganmu jauh lebih banyak bakterinya daripada tangan istriku.”


Layla bingung dan terhenyak mendengar ucapan Emir, dia tidak tahu bagaimana membalas.


“Rino!” panggil Emir dengan suara muram. Rino segera memasuki paviliun. “Tuang airnya!”


Rino segera menyambar baskom berisi air dari Desi tepat ketika dia melangkah keluar dari paviliun, Emir menghentikannya dan memerintahkan dengan suara dingin dan dalam.


“Cucikan saja disini!” alih-alih meminta Rino untuk menuangkan air, dia mengatakan ‘percikkan’ yang memiliki arti yang berbeda. Lalu Emir menatap kearah neneknya dengan tatapan muram dan tak senang.


“Nenek, jangan pernah membuatku melihat air yang direbus daun jeruk lagi! Kecuali kamu ingin aku menebang semua pohon jeruk bali yang ada di komplek villa ini.”


Layla terdiam selama beberapa menit, berikutnya nada bicaranya berubah menjadi ramah, “Itu salahku. Aku lupa kalau kamu paling membenci aroma daun jeruk bali.” lalu dia mengambil kue pancake dan meletakkannya di piring Emir seolah-olah tidak ada yang terjadi. Kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Aku ingat kamu tidak suka kue pancake. Mengapa sarapan kue pancake hari ini?”


“Karena istriku menyukai pancake. Apapun yang disukai Arimbi maka aku juga suka!”


Layla kembali terdiam, didalam hatinya dia semakin membenci Arimbi karena berhasil merebut perhatian dan kasih sayang Emir darinya. Sedangkan Arimbi merasakan hatinya hangat mendengar ucapan Emir dan dia duduk disebelahnya.


Namun sebelum Arimbi duduk, Layla tiba-tiba mengambil dompetnya yang indah dari kursi disebelahnya lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam.


“Arimbi!” dia melihat Arimbi dengan mata lembut lalu menyerahkan kertas itu padanya sambil mempertahankan sikap ramahnya. Arimbi hanya melirik kearah kertas ditangan wanita tua itu.


“Arimbi, salin isi kertas ini seratus kali untuk mengingatnya sehingga kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan pagi ini. Dan kirimkan salinan yang sudah kamu tulis paling lama sebelum makan siang.” ujar Layla Serkan tanpa ekspresi diwajahnya.


Arimbi bingung, dia tidak tahu sisi kertas itu lalu dia mengambil kertas itu dari tangan Nenek Serkan dan membuka lipatannya. Begitu dia melihat isi kertas, sebuah tangan besar sudah lebih dulu meraih kertas itu lalu merobek-robeknya menjadi serpihan kecil. Yang terdengar hanyalah suara kertas yang dirobek-robek dengan paksa oleh Emir. Baik Arimbi maupun Layla Serkan tercengang.


Emir meraih tangan Arimbi dan menariknya kearahnya. Kemudian dia mengambil yang sudah menjadi serpihan didepan Layla Serkan, lalu meletakkannya dipiringnya dan memasukkan kertas itu bersamaan dengan kue pancake ke mulutnya.


“Emir!” Arimbi mengulurkan tangannya untuk membuka mulut Emir agar mengeluarkan kertas itu tetapi pria itu menggenggam tangannya dengan kuat.


“Emir!”Layla akhirnya kehilangan ketenangannnya. Dia merasa marah dan tertekan, dia berkata. “Mengapa kamu memakan kertas itu?”