GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 332. RUMAH SEWA


“Amanda! Kamu mau menemani ibu ke kebun? Disana pemandangannya indah, kamu pasti suka! Tidak baik diam dirumah saja nak. Sudah tiga hari kamu disini, hanya duduk dirumah saja. Ayo ikut ibu!” Pratiwi menyentuh tangan Amanda hendak mengajaknya pergi keluar. Tapi dengan cepat Amanda menghempaskan tangan ibunya sambil menatapnya tajam.


“Jangan pegang-pegang! Kalau ibu mau pergi ke kebun ya pergi saja! Ibu tahu kan seumur-umur aku tidak pernah berpanas-panasan diluar, pergi ke kebun becek dan kotor! Kalau ibu mau pergi ke kebun ya pergi saja sendiri! Aku mau diam dirumah itu urusanku!”


 


Pratiwi membulatkan matanya namun dia berusaha tenang dan sabar lalu tersenyum. “Maafkan ibu ya Amanda. Ibu terlalu senang kamu ada disini dan ibu hanya ingin menunjukkan padamu lingkungan sini. Banyak tempat yang indah untuk dikunjungi selama kamu disini supaya tidak bosan.” ujarnya.


 


“Aku bisa pergi sendiri! Tidak perlu mengajakku ke kebung! Sudahlah, pergi sana! Aku tidak mau ikut, ibu jangan pulangnya kelamaan. Nanti tidak ada yang memasak untukku! Aku selalu makan tepat waktu dan tolong jangan ganggu aku. Atau ibu mau aku tidak betah dan pergi dari sini?”


 


“Tidak! Tidak….Amanda jangan begitu. Ibu senang kamu ada disini dan tinggal lebih lama. Ibu tidak akan mengganggumu lagi. Baiklah, ibu akan kembali sebelum siang. Nanti ibu akan masakkan makanan yang enak untukmu. Ibu pergi dulu ya.” ujar Pratiwi menatap Amanda sekejap lalu melangkah menuju ke pintu dan pergi dengan sedikit rasa kecewa dihatinya.


 


‘Arimbi selalu menemaniku ke kebun. Kadang dia suka membantu ayahnya kalau sedang panen. Dia suka sekali kalau diajak ke kebun dan menghabiskan waktu disana. Pfffff! Kenapa Amanda bersikap seperti itu? Aku ini ibunya tapi dia selalu bersikap kasar dan menuntut banyak hal. Sudah tiga hari dia disini dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatny dekat denganku.’ bisik hati Pratiwi.


 


...*****...


Sementara itu Joana yang sedang mengemudikan mobilnya menuju ke lokasi yang dikatakan Arimbi untuk disewa. Setelah beberapa hari berdiam diri dirumah karena masih takut, akhirnya hari ini dia memutuskan untuk pergi keluar dan memulai kegiatannya.


 


Ide untuk membuka galery cafe pun rasanya cukup bagus, dan Arimbi sudah menemukan lokasi yang cocok dan memberitahukan pada Joana tadi pagi. Karena Arimbi sibuk dengan pekerjaan maka Joana terpaksa pergi sendiri untuk mengecek lokasi yang telah dikirimkan Arimbi padanya.


 


Setengah jam kemudian dia sampai disatu tempat. Lokasinya berada di tengah kota tapi bukan didaerah yang padat. Boleh dibilang lokasi ini sangat strategis karena mudah dijangkau. Tidak jauh dari sana ada sebuah universitas terkenal, Joana mengeryitkan dahinya melihat bangunan yang sepertinya sudah agak lama tak dihuni.


 


‘Kenapa Arimbi memilih bangunan terbengkalai ini? Aduh, ada-ada saja dia! Begitu banyaknya bangunan bagus dan masih baru, mengapa harus memilih bangunan seperti ini?’ Joana memperhatikan bangunan didepannya yang terlihat seperti rumah lama. Kosong tapi halamannya cukup luas meskipun ditumbuhi rerumputan.


 


‘Ada-ada saja Arimbi! Bair kuhubungi dia dulu, mungkin dia salah memberikan alamat.’ bisik hatinya. Bertepatan saat dia mengambil ponsel hendak menelepon Arimbi, seorang pria tua dan wanita tua menghampiri Joana membuatnya mengeryitkan dahi, menatap horor. Terlalu banyak menonton film horor membuat Joana berpikir kedua orang tua itu mirip seperti yang di film horor.


 


“Nona, apakah kamu yang mau menyewa tempat ini?” tanya bapak yang diperkirakan berumur sekitaran tujuh puluhan tahun.


“Ehm….bapak sama ibu ini siapa ya?” tanya Joana.


“Oh, kami pemilik rumah ini! Kata anak saya, ada yang mau menyewa dan orangnya mau lihat-lihat dulu. Apa kamu yang namanya Nona Joana?” tanya wanita tua itu.


 


“Hehe…..iya benar bu. Saya Joana.”


“Oh, mari silahkan masuk. Biar saya tunjukkan isi didalamnya! Rumah ini sudah enam bulan tidak kami tempati karena kami ikut tinggal bersama anak dan cucu.” ujar bapak tua itu memulai pembicaraan sambil mereka masuk kedalam pekarangan rumah itu.


 


Saat pintu dibuka, Joana terkesiap melihat kondisi dalam rumah yang bisa dikatakan lumayan bersih.


“Ada orang tinggal disini ya pak? Rumahnya lumayan bersih.”


 


“Oh begitu! Rumahnya bagus juga ya.” ujar Joana yang menyukai rumah dengan model bangunan rumah belanda. Karena memang ini adalah rumah lama yang kabarnya dibangun masa kolonial.


“Bagaimana? Kamu suka tidak rumahnya?” tanya wanita tua itu sambil tersenyum. “Meskipun ini rumah lama tapi aman. Lingkungan disini juga aman dan dekat kemana-mana.”


 


“Suka!” jawab Joana saat dia memasuki area dapur yang lumayan luas dengan jendela besar yang langsung terhubung kehalaman samping dan belakang. ‘Wah sepertinya aku sudah punya ide untuk mendekor tempat ini. Lumayan unik rumahnya. Pantas saja Arimbi memaksaku datang kesini.’


 


“Kalau setuju, langsung hubungi anak saya saja ya. Dia yang akan mengatur kontraknya.” ujar bapak tua itu lagi. “Kamu mau menempati rumah ini atau bagaimana?”


“Tidak pak! Rencananya mau saya pakai buat galery.”


“Oh begitu! Jadi kamu artist ya?”


 


“Ya begitulah kira-kira pak! Saya suka rumahnya, kalau begitu saya akan berurusan dengan anak bapak ya? Biar saya bisa langsung beres-beres rumahnya secepatnya.”


“Iya...iya! Silahkan!”


 


Joana mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak si pemilik rumah.setelah berbincang mengenai sewa dan perjanjian kontrak, akhirnya Joana merasa lega karena semua urusan akan selesai secepatnya.


“Pak, Bu, terima kasih ya sudah menemani saya lihat-lihat rumahnya.” kata Joana tersenyum.


 


“Bapak sama ibu tadi kesini naik apa?”


“Oh kami diantar supir tadi. Ada diluar menunggu.” jawab si bapak. “Kalau begitu kuncinya langsung saya serahkan ya? Ini kunci pagar depan dan kunci pintu. Hal lainnya kamu diskusikan saja dengan anak saya.” ujar si bapak menyerahkan set kunci pada Joana yang menerimanya dengan tersenyum.


 


Setelah sepasang suami istri itu pergi, kini hanya ada Joana berdiri di teras rumah itu. ‘Ruang tamunya lumayan luas untuk dibuat cafe dan galery bisa kubuat di kamar-kamar itu! Wah Arimbi! Rumah ini keren! Darimana dia dapat informasi mengenai rumah ini ya?’ Joana berjalan kembali masuk kedalam rumah.


 


Tanpa dia sadari sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengamatinya. Lalu orang itu pergi setelah melihat Joana keluar rumah dan mengunci pintu serta gerbang rumah itu. Di persimpangan jalan orang itu menghentikan mobilnya dan melirik dari spion saat melihat mobil yang dikendarai Joana melaju kearahnya lalu melewatinya.


 


“Halo Tuan! Saya masih mengikuti wanita itu! Sepertinya dia baru saja menyewa sebuah rumah didaerah……..!” pria itu memberikan lokasi rumah itu pada orang yang diteleponnya. “Apa ada hal lain lagi yang harus saya lakukan Tuan?”


 


“(……….)”


“Baik Tuan! Saya mengerti.” lalu dia mematikan teleponnya dan kembali melajukan mobilnya mengikuti kemana mobil yang dikendarai Joana pergi. “Aihhhh…..kemana perginya mobil itu?” ujarnya karena dia sudah tidak melihat mobil Joana lagi.


 


Sementara itu didalam mobil yang dikendarai Joana, dia melirik kebelakang memastikan tidak ada yang mengikutinya. “Siapa orang itu? Ah, syukurlah dia tidak mengikuti aku lagi!” ujar Joana menghela napas lega.


‘Apa dia orang suruhan Tuan Dion? Tapi buat apa dia mengikutiku? Aku tidak ada urusan dengan pria itu lagi! Ogah! Untung saja Arimbi mengambil cek itu! Setidaknya aku dapat ganti rugi buat modal usaha! Hehehe….!”