
Sementara Joana tak hanya bersantai diruang tamu, dia telah mengambil beberapa kantong plastik besar dan kotak lalu mengemas barang milik Arimbi kedalamnya. “Arimbi, apakah kamu sudah mengemas semuanya? Pastikan semua sudah diambil dan tidak ada lagi yang tersisa.”
“Iya, sudah semuanya kok.” jawab Arimbi.
“Aku sudah mengemas yang disini juga untukmu. Semuanya sudah beres, ayo kita masukkan kedalam mobilku dan pergi dari sini.”
“Ayo kita pergi.” balas Arimbi.
Dia membiarkan Joana membawa dua koper sementara dia membawa beberapa karung besar lalu setelah memasukkan ke mobil, dia masuk kembali kerumah dan mengambil kotak lainnya.
Bagaimanapun berbagai hiasan di lantai kebanyakan barang antik yang berat dan mahal. Karena Joana tak pernah belajar bela diri, tubuhnya tidak sekuat Arimbi.
Melihat kedua wanita keluar seperti itu sangat mengejutkan pelayan di kediaman Kanchana. Arimbi berkata pada salah seorang pelayan,”Tuanmu akan menikahi putri dari keluarga Zimena, jadi aku kemari untuk mengambil semua yang pernah kuberikan padanya. Mulai sekarang anggap saja hubungan kami sudah putus dan tidak pernah ada.”
Para pelayan itu tidak bisa berkata apapun mendengar kalimat itu mereka hanya bisa menatap kedua wanita itu pergi sambil membungkukkan badan.
Pada saat itu Harry dan Yessi sedang berjalan di halaman depan karena tadi diminta untuk tidak turut campur. Mereka segera bergegas masuk setelah mendengar kabar kalau ada yang melihat mobil Joana meninggalkan rumah mereka.
“Loh bukannya Arimbi datang kemari supaya bisa kembali dengan Reza?”
Dengan ekspresi menggelap, Yessi bertanya pada pelayan, “Bagaimana dengan Reza? Dia membiarkan mereka melakukan hal sesuka hati mereka?”
Pelayan itu menjawab dengan hati-hati, “Tuan muda ada didalam kamar sepanjang waktu. Tanpa perintahnya, kami tidak berani menghentikan mereka.”
Marah, Yessi sangat marah lalu berbalik dan memasuki rumahnya untuk mencari keberadaan anaknya. Harry mengerut sambil berpikir kalau perlakuan Arimbi itu sedikit tidak tahu malu.
Ketika mereka jatuh cinta, dia bisa memberikan berbagai macam harta tanpa pamrih tetapi ketika mereka putus dia malah ingin semua barangnya dikembalikan hingga tak tersisa.
Kekejaman dan sikap tak tahu malu Arimbi itu membuat Harry senang putranya tidak menikahi gadis desa semacam itu! Tak lama kemudian dia mengikuti istrinya memasuki rumah dan saat sudah berada didalam, mereka menyadari ada banyak barang yang hilang dari ruang tamu.
Ruangan itu kini terlihat sedikit kosong dan tak semewah sebelumnya. “Apakah arimbi mengambil barangbarang dari rumah kita juga? Kenapa aku merasa seolah ruang tamu kehilangan banyak dekorasi?” wajah Yessi seketika menggelap dan tampak suram melihat pemandangan ruang tamunya.
Sedangkan Harry dengan wajah serius berkata, “Wanita itu memberikan banyak barang pada Reza, semuanya bernilai mahal. Kebanyakan berasal dari koleksi orang tuanya dan harganya sangat tinggi.”
Karena keluarga Rafaldi merasa tak merawat putrinya dalam jangka waktu lama sehingga mereka memberikan Arimbi apapun yang dia inginkan.
Dari situlah seseorang bisa melihat betapa baiknya Arimbi memperlakukan Reza di masa lalu. Dia bisa memberikan apapun untuk membuat Reza bahagia.
Pada akhirnya, yang dia perolah adalah akhir hidupnya yang tragis. Yessi melihat sedikit terkejut, “Dia memberi Reza begitu banyak barang?”
Sambil mengatupkan bibir, Harry menjawab, “Kalau tak banyak hal buruk yang terjadi da Reza sungguh menikah dengan Arimi maka hal itu akan sangat menguntungkan Reza. Meskipun Arimbi tak sepintar Amanda tapi kebanyaan saham pasti jatuh ketangan Arimbi.”
“Kalau Reza sungguh menikahi Arimbi, hal itu berarti Rafaldi Group akan menjadi miliknya. Meskipun jika Reza tidak mewarisi perusahaan kita, dia sama sekali tidak akan kehilangan apapun.”
Yessi juga mengerti tentang itu, dia pun menggumam, “Aku juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya sudah tersusun dengan baik. Tapi siapa sangka semua hal itu akan menjadi berantakan tanpa kendali.”
Sekarang bahkan putranya ingin menikahi Ruby tanpa keinginannya sendiri. “Dimana Reza? Aku akan memeriksanya diatas. Dia sudah membiarkanArimbi mengambil semua barangnya kembali. Omong kosong macam apa ini? Wanita otulah yang memberikan semua hadiah itu pada Reza. Kita bahkan sama sekali tak memaksanya. Memikirkan dia yang berani untuk mengambil semuanya kembali sungguh mengesalkan.”
Yessi melangkah menaiki tangga dengan marah, lalu saat dia sampai didepan kamar anaknya, dia melihat pintu kamar itu sedang terbuka lalu dia mendekat dan melihat kedalam kamar yang seperti kapal pecah, seakan-akan baru saja dirampok.
“Reza!” Yessi memanggilnya sambil bergegas masuk.
“Ibu…..?” terdengar suara lirih Reza dari sudut kamar. Yessi mengikuti sumber suara itu dan menemukan anaknya terbaring dilantai dengan tangan terikat ke belakang tubuhnya. Terkejut, Yessi buru-buru mendekat dan menolong anaknya untuk berdiri sambil bertanya.
“Reza, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang mengikatmu begini? Apakah kamu dirampok?”
Reza setelah mendapatkan kebebasannya lalu bersandar di sofa dan menjawab pertanyaan ibunya dengan lemah, “Ibu, bisakah tuangkan air minum untukku terlebih dulu? Tenggorokan ku sakit dan kering.”
Mendengar itu, dalam sekejap saja Yessi sudah memberikannya segelas air minum.
“Ibu, ini perbuatan Arimbi. Dia ingin semua barang pemberiannya dikembalikan. Sepatu, kaus kaki, bahkan bajuku semua diambilnya. Selama barang itu pemberiannya, dia mengambil semuanya kembali.” ujar Reza. Perbuatan Arimbi itu sangat mengejutkan Reza, dia telah terbiasa dengan Arimbi yang selalu mematuhinya.
Yessi berteriak marah setelah mendengar ucapan putranya, “Dasar ****** tidak tahu diri!”
“Ibu, Arimbi tahu seni bela diri dan dia sangat mahir.” ucap Reza lagi. Reza mengelus pergelangan tangannya, dia merasakan tubunya yang nyeri, dia pikir akan mati setelah dibanting berulang kali oleh Arimbi. Setelah beberapa saat, Reza kembali bersikap tenang.
“Seni bela diri? Aku tak pernah mendengar soal itu.” ucap Yessi sambil mengeryitkan dahinya dan leanjutkan. “Mungkin karena dia pernah hidup didesa dan sering bertengkar dengan orang lain. Karena itulah dia bisa jadi sekuat itu.”
Reza menggelengkan kepalanya, “Arimbi pernah membuka sebuah pusat ekstra kurikuler yang mengajarkan seni bela diri, musik, tari, taekwondo, sanda dan beberapa hal lain. Jadi dia pasti telah mempelajari semua hal itu. Belajar seni bela diri bukanlah hal tidak mngkin baginya. Hanya saja dia tak pernah membicarkan soal ini sebelumnya.”
Tidak, dia salah! Alasan dibalik sikap lembut Arimbi selama ini adalah wanita itu mencintainya. Karena itulah Arimbi selalu bersikap lemah lembut didepannya selama ini. Sekarang Arimbi sudah tak mencintainya lagi, jadi dia tak akan bersikap lemah lembut lagi padanya! Memikirkan hal itu membuat Reza kesal.
Jadi diam-diam Reza bersumpah didalam hatinya bahwa suatu hari nanti dia akan setara dengan Emir dan membeli Rafaldi Group. Lalu dia akan membuat mereka semua menderita dengan banyak hutang dan membuat Arimbi mencarinya untuk memohon belas kasihannya. Reza tampak tersenyum menyeringai dengan ekspresi jahat diwajahnya.