
Meskipun Emir ekspresinya sangat serius tapi kehangatan terpancar dari matanya. Suasana hatinya jelas lebih baik. Dia terbatuk ringan dan mengambil bunganya. Pada saat yang sama dia menatap Arimbi dan berkata, “Sudah kubilang jangan panggil aku sayang.”
“Tapi aku suka! Sayang---” Arimbi dengan sengaja membuat suaranya terdengar manja dan centil. Itu benar-benar meluluhkan hati Emir, pria itu meleleh seketika.
“Apa kamu suka bunganya suamiku sayang?”
Arimbi sebenarnya tidak biasa bertingkah seperti itu dan dia juga tidak tahu bagaimana reaksi Emir. Arimbi sebenarnya merinding ketakutan membayangkan kalau Emir akan marah.
“Seharusnya pria yang memberikan bunga pada wanita.” ucap Emir sebagai jawaban.
“Kebalikannya juga bisa. Em—maaf, suamiku sayang. Kamu tidak pernah menerima bunga kan?”
“Ya benar.” jawab Emir menunduk untuk mencium bunganya dan menjawab dengan santai.
“Kalau begitu aku akan memberimu bunga setiap hari ya sayang.” Arimbi tersenyum.
“Buatlah janji yang bisa kamu tepati.” balas Emir dengan tersenyum.
Arimbi mengingat kalau dirinya pelupa, dengan canggung dia menjawab, “Aku akan berusaha sebaik mungkin untukmu suamiku sayang.”
“Aku tidak mau mendengar itu. Pokoknya kamu harus bawakan aku bunga setiap hari atau jangan bawakan bunga sama sekali.” kata Emir yang membuat Arimbi tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Ayo kita makan siang.” ucap Emir memegang bunga ditangannya.
“Baiklah, sayang.” ucap Arimbi tersenyum padanya.
Arimbi berjalan kebelakang Emir dan mendorong kursi rodanya. Sementara para pengawal mengikuti mereka. Saat itu jam makan siang dan lobi sangat sibuk. Pemandangan Emir yang didorong oleh seorang wanita cantik sambil memegang bunga ditangannya menyebabkan semua orang di perusahaan itu menoleh dan menatap tak percaya. Semua karyawan berandai-andai siapa Arimbi.
Mereka keluar gedung dan masuk kedalam mobil yang sudah menunggu. Arimbi menghela napas dalam-dalam saat membantu Emir masuk kedalam mobil sambil berkata, “Sayang, semua orang menatap kita barusan.”
“Bunganya terlalu mencolok untuk diabaikan.” jawab Emir.
“Bukan. Menurutku pemegang bunganya yang lebih memikat mata. Sayangku, kamu sangat tampan.”
Supir pun melajukan mobil. “Ahh….akhirnya aku bisa makan di The Palm Bliss Hotel!” seru Arimbi.
“Kurasa di kehidupanmu sebelumnya kamu mati kelaparan. Pantas saja dikehidupan ini yang ada dipikiranmu hanya makanan saja.” kata Emir.
“Tidak! Aku mati dalam kecelakaan mobil di kehidupanku yang sebelumnya.” jawab Arimbi cepat.
Tatapan Arimbi menjadi menegang, “Di masa depan aku ingin mengemudikan mobil sendiri.”
Jantung Emir langsung berhenti berdetak saat ingat bagaimana Arimbi mengebut.
“Sayang, aku pengemudi ulung! Aku mendapatkan SIM ku saat berusia delapan belas tahun dan sudah mengemudi selama enam tahun. Kemampuanku sebenarnya bisa diandalkan. Dua kejadian tempo hari itu hanya kebetulan saja.”
“Ku bilang jangan! Aku serius Arimbi! Kalau kamu berani mengemudi mobil sendiri maka akan kuhancurkan mobilmu setiap kali aku melihatnya.”
“Kamu terlalu menguasaiku.”
“Apa katamu?”
Mendengar itu Emir mencibir, “Tidak bisakah kamu mengubah rayuanmu?”
“Sudah aku ubah, sayang? Aku bilang pesonamu tak tertandingi, itu rayuan baru kan?”
Emir pun tak bisa berkata-kata lagi.
“Sayang.” Arimbi semakin terbiasa memanggilnya seperti itu.
“Aku sudah bilang jangan panggil aku begitu.” ujar Emir mngerucutkan bibirnya.
“Kenapa aku harus mendengarkanmu, sayang?” Arimbi malah semakin membuat suaranya manja.
Bukankah Emir yang ingin Arimbi ingat kalau dia suaminya agar orang lain tahu dia adalah milik Emir, tapi pria itu masih saja bersikap angkuh.
Karena itulah Arimbi menurutinya dengan tetap memanggilnya sayang, supaya orang-orang bisa mendengar dan mereka bisa menebak hubungan mereka. Emir menjulurkan tangannya dan mencubit pipi istrinya yang menggemaskannya itu.
Arimbi merespon dengan menggenggam tangannya dan bersandar padanya. Aroma tubuhnya merasuk ke hidung Emir menyebabkan adrenalin Emir terpacu.
Dia mulai merasa sedikit gelisah, wanita ini sangat menggoda dan reaksi tubuh Emir sangat cepat.
“Sayang.”
“Apa?” suara Emir semakin berat. “Menjauh dariku.” ucapnya. Dia sudah tidak tahan lagi dan saat ini mereka berada didalam mobil. Detak jantungnya semakin cepat dan sebelah tangan Emir mengepat erat menahan gejolak hasrat yang muncul.
Bukannya menjauh, Arimbi malah semakin merapat. “Aku tidak mau! Apakah kamu bahagia hari ini suamiku sayang?”
Emir tetap diam membisu, dia berusaha menahan gejolak yang semakin berkobar. Andai saja mereka ada dirumah Emir memastikan istrinya yang tak tahu malu itu akan mendapat hukuman berat. Sangat berat! Yang bisa membuat Arimbi tidak bisa bangun dari tempat tidur.
“Baiklah. Aku anggap keheninganmu sebagai jawaban ‘iya’ Karena kamu bahagia, bisakah aku dimaafkan sayang? Jangan menyuruhku menulis sepuluh ribu kata lagi. Aku sungguh tidak bisa melakukannya. Semua essaiku waktu di sekolah dulu itu bekas menyontek! Aku juga tidak tahu mengapa Dion harimurti datang hari ini ke perusahaan ayah. Selain tak sengaja bertemu dengannya dirumah sakit waktu itu, aku tidak pernah melakukan apapun! Mungkin dia terobsesi padaku karena dia terpikat oleh kecantikanku. Karena itu dia mungkin mau meminangku dengan berkedok hubungan kerja dengan Rafaldi Group. Emir, jika dia benar-benar melamarku haruskah aku tolak mentah-mentah atau menunda jawabanku?”
Arimbi lupa mengucapkan kata sayang saat dia bicara tadi. Dia tak sadar kalau itu akan membuat masalah baru lagi baginya. Emir tak senang mendengarnya tapi dia tidak menunjukkannya, dia sudah mulai biasa mendengar istrinya memanggil kata ‘sayang’ padanya dan saat Arimbi lupa menyebut kata itu alih-alih menyebut namanya, membuatnya sangat kesal.
Emir menjawab dengan kaku, “Aku punya aturan keluarga yang ketat. Jika seseorang berani tidak setia pada keluargaku maka aku akan mengusirnya tanpa ragu-ragu.”
“Aku hanya bercanda Emir. Tenang saja ya, aku akan mencintaimu untuk selamanya.”
“Apakah aku bisa mempercayai cintamu? Barusan saja kamu memanggil namaku, tidak menyebut sayang lagi! Cepat sekali berubah! Dasar labil!”
Arimbi tak percaya mendengar ucapan Emir. Mereka baru menikah selama tiga minggu. Tentu saja Emir tidak percaya pada cinta Arimbi yang selalu diucapkannya.
“Kamu sungguh tidak bisa mempertahankan percakapan Emir.”
Sikapnya yang serius selalu mengakhiri segala percakapan yang melibatkan dirinya. Saat Emir mendengarnya dia mendengus pelan dan menepis tangan Arimbi yang merangkulnya.
Emir bergeser seolah menjauh dari Arimbi tapi tangannya masih menggengam bunga. Arimbi menyadari keangkuhan Emir dan memutuskan untuk mengabaikannya. Dia mengeluarkan sketsa papan sirkuit dari tasnya lalu mempelajarinya. Dia ingin belajar cara membacanya sesegera mungkin. Selama perjalan keduanya tidak lagi bicara, keadaan didalam mobil menjadi sunyi.
Pengawal yang mengemudi dan Rino jadi gugup dibuatnya. Mereka takut jika Arimbi membuat Emir murka. Jika itu terjadi maka mereka semua yang akan sial menanggung akibatnya. Untungnya mereka segera sampai di hotel. Hotel bintang tujuh di kota ini sangat megah, rombongan mobil Emir berhenti di pintu masuk hotel.