GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 96. MENGADU KE IBU MERTUA


“Dia menabrak pohon di pinggir jalan?” tanya Mosha.


“Hmmm.”


Mosha kembali menghela napas lega kali ini dia bersyukur karena tidak ada korban jiwa.


“Apakah ibu tahu bagaimana cara Arimbi mengemudikan mobil?”


“Dia cukup pandai mengemudi. Saya pernah menjadi penumpang dimobil yang dikendarainya. Dia hebat dalam mengemudi.” jawab Mosha mengatakan yang sebenarnya dia rasakan dan alami.


Emir terdiam setelah ibu mertuanya mengatakan itu.


“Mungkin aku salah melihatnya tapi aku yakin orang yang ngebut terakhir kali adalah dia. Dia juga yang mengemudi mobil seperti menerbangkan pesawat hari ini. Dia tidak akan hampir menabrak mobilku jika dia tidak melaju kencang. Dan dia pasti tidak akan menabrak pohon disisi jalan jika dia tidak menghindari agar tidak menabrak mobilku.”


Mosha kehilangan kata-kata setelah mendengar itu. Dia tampak berpikir keras selama beberapa detik sebelum dengan hati-hati dia berkata. “Bolehkah saya tahu apa sebenarnya niat anda untuk mampir hari ini Tuan Emir?”


“Saya akan kesini untuk mengadukan keluhan.” jawab Emir.


“Mengadukan keluhan?”


“Ibu, tolong jangan biarkan Arimbi mengemudi mobil lagi mulai sekarang. Dia bukan pengemudi hebat seperti yang ibu pikirkan. Dia suka ngebut dan hanya melihatnya mengemudi saja bisa membuat siapapun terkena serangan jantung. Dia istriku dan juga putrimu, Bu. Bagaimanapun juga aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Jadi tolong ibu jangan mengijinkannya mengemudi lagi.”


Bibir Mosha terbuka dan terkatup lagi tetapi dia tidak tahu harus menjawab apa.


Melihat ibu mertuanya tidak mengatakan apa-apa Emir pun menambahkan, “Saya yakin anda tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi bukan? Arimbi beruntung hanya menabrak pohon dan hanya mobilnya saja yang rusak parah tetapi bagaimana jika terjadi lagi di lain waktu? Dengan kecepatan dia mengemudi, dia bahkan bisa menyebabkan kematian jika dia menabrak mobil lain. Baik dia maupun pengemudi lain beresiko disini. Apakah ibu mau melihatku menjadi duda dalam waktu dekat? Dan ibu kehilangannya?”


Wajah Mosha berubah menjadi pucat mendengar setiap kata yang diucapkan Emir padanya. “Baiklah. Saya akan melakukan apa yang anda katakan, Tuan Emir. Saya tidak akan membiarkannya mengemudi lagi saat dia pulang nanti.”


Arimbi adalah pendiri lembaga pelatihan seni bela diri sebelum dia kembali ke orangtua kandungnya. Sebagai seorang yang terlatih dalam seni bela diri sanda dan taekwondo, dia tidak akan pernah berperilaku seperti anak perempuan pada umumnya dari keluarga kaya yang biasanya lembut dan penurut.


Mosha sangat tahu bagaimana Arimbi berusaha menahan diri dari sisi riuh dan sulit diaturnya dan mejalani kehidupan yang hati-hati sejak dia kembali ke keluarga kandungnya. Mosha selalu berpikir bahwa putri dari keluarga Rafaldi yang bergengsi haruslah seorang wanita baik dan berpengetahuan luas. Bahkan lebih dari yang dia harapkan bahwa Arimbi bersedia melupakan masa lalunya. Namun bukan berarti dia merubah kepribadiaan Arimbi.


“Terimakasih, ibu.” kata Emir tersenyum.


Emir terdiam sejenak setelah dia selesai mengadu pada ibu mertuanya itu. Keduanya pun diam karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Meskipun Emir adalah menantu laki-lakinya tetapi Mosha masih ragu untuk memperlakukannya seperti menantu. “Ibu, cukup panggil aku dengan namaku saja. Aku menantumu jangan memanggilku terlalu hormat seperti orang lain.”


Mosha yang sedikit terkejut pun lalu menganggukkan kepalanya, tidak menyangka jika Emir akan memintanya untuk memanggilnya dengan nama saja. Ya, apa yang dikatakannya itu benar dia adalah menantunya kenapa dia malah memanggilnya dengan sebutan tuan?


Mosha memikirkan sesuatu hal lalu ingin menjelaskan pada Emir sebelum pria itu mengetahui, “Kemarin Nyonya Kanchana datang kesini tapi aku mengusirnya. Lagipula dia kesini bukan untuk melamar Arimbi atas nama putranya. Dia kesini untuk melamar Amanda. Tolong jangan salah paham tentang Arimbi ya Emir! Dia sama sekali tidak tahu kalau Nyonya Kanchana akan datang.”


‘Keluarga Kanchana melamar Amanda Rafaldi? Mereka ingin Amanda menikahinya putranya? Ini benar-benar aneh.’ Emir bertanya-tanya didalam hatinya. Matanya yang tajam langsung menjadi dingin ketika dia mengingat semua yang telah terjadi ketika dia meminta anak buahnya untuk menyelidiki Reza dan Amanda.


Keduanya jelas jatuh cinta satu sama lain tetapi entah bagaimana setelah Arimbi jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Reza, keduanya mulai melakukan tindakan dimana yang satu jungkir balik untuk Arimbi sedangkan yang satu lagi mendukung hubungan itu.


Tidak perlu banyak waktu bagi Emir untuk mengetahui rencana macam apa yang kedua orang itu miliki. Amanda Rafaldi! Geramnya. Emir berencana untuk membiarkannya lolos kali ini dan dia mungkin akan membiarkan Amanda menjadi mainan untuk perusahaan sebelum Emir melatih Arimbi untuk siap mengambil alih perusahaan itu.


Tapi dia tidak akan membiarkan keluarga kanchana lolos begitu saja. Didalam benaknya saat ini dia sudah memikirkan permainan apa yang akan dia buat untuk menghancurkan keluarga Kanchana.


“Keluarga Kanchana adalah sekelompok orang yang labil, iyakan bu?”


“Nyonya Kanchana sengaja melakukan itu untuk membalas dendam pada Arimbi-ku! Oh...ini membuatku sangat marah.” ujar Mosha meledak marah.


Emir tidak mengatakan apapun sebagai tanggapannya, dia hanya duduk diam dengan tenang sebelum dia berkata pada Mosha, “Saya harus kembali ke kantor, Bu. Saya izin pergi sekarang dan saya akan menunggu waktu yang tepat ketika semua orang tidak sibuk agar para tetua di keluarga saya bisa makan bersama ibu dan ayah.”


Orang tua dari kedua keluarga harus bertemu secara resmi. Meskipun Mosha tersenyum tapi dia tidak bisa menahan rasa khawatir tentang pertemuan kedua keluarga itu. Keluarga Serkan masih tidak menyadari kalau mereka sekarang memiliki besan.


Itulah mengapa mereka tidak pergi ke Arimbi tanpa alasan atau membuat hidupnya lebih sulit meskipun Emir selalu mempermainkan wanita itu. Mosah tidak tahu apakah tetua keluarga Serkan akan memperlakukan Arimbi seperti salah satu dari mereka. Terlepas dari semua masalah yang tidak menyenangkan yang terjadi setelah Arimbi menjadi Nyonya Muda di keluarga Serkan.


Sebagai seorang ibu, Mosha selalu mengkhawatirkan Arimbi. Bagaimanapun ini adalah jalan yang dipilih putrinya untuk dilaluinya, Mosha tidak mungkin bisa membantu putrinya mencapai ujung jalan karena itu adalah perjalanan hidup Arimbi. Dia hanya bisa menaruh harapannya pada Emir untuk selalu membantu dan melindungi Arimbi. Selama Emir jatuh cinta pada Arimbi maka Mosha tidak akan khawatir tentang anggota Keluarga Serkan lainnya yang pernah mencoba untuk mengganggu putrinya. Tidak peduli apa yang akan mereka lakukan tapi dia memiliki Emir untuk melindungi Arimbi saat itu.


Setelah memikirkan semua itu, Mosha tiba-tiba mempunyai solusi---dia akan mengajari Arimbi cara merebut hati Emir dan membuatnya jatuh cinta serta bertekuk lutut padanya sesegera mungkin saat Arimbi pulang nanti. Ya, dia harus mengajari putrinya itu sebagai istri yang akan selalu dirindukan Emir setiap saat dan tak sanggup lepas darinya. Mosha pun tersenyum setelah memikirkan rencana barunya untuk Arimbi.


Mungkin kedua suami istri itu mungkin tidak akan pernah sempurna dan menjadi pasangan yang benar-benar seperti pasangan menikah lainnya tetapi Mosha yakin bahwa Emir pasti punya sedikit perasaan untuk putrinya, kalau tidak….mengingat sifatnya itu mana mungkin dia mengalah dan menuruti keinginan Arimbi? Apalagi Emir mau bersusah-susah mengadu padanya layaknya menantu pada mertua demi Arimbi?


Memiliki Emir sebagai perisai untuk Arimbi, Arimbi tidak hanya aman dari Keluarga Serkan tetapi Arimbi akan memiliki kuasa di kota ini, dia bisa mengamuk dan meluluh lantakkan orang-orang yang mengejeknya dan menurut Mosha ini akan sangat baik bagi Arimbi jika nanti dia mengambil alih perusahaan dari Amanda. Memiliki dukungan dari seorang suami yang paling kuat dan berkuasa adalah pilihan paling tepat untuk putrinya.