
Emir membalas, “Tidak kesal? Lalu kamu memikirkan apa barusan? Kamu menyesal karena tidak bisa menikahinya kan? Arimbi Rafaldi! Kamulah yang memohon pernikahan ini terjadi diantara kita. Aku telah memberimu kesempatan terakhir untuk memundurkan diri. Sudah terlambat kalau kamu menyesal sekarang.”
“Emir, aku sama sekali tidak menyesal menikahimu! Kamu bisa pegang kata-kataku dan aku takkan pernah menyesalinya. Siapapun istri pria brengsek itu, bukanlah urusanku. Aku sedang memikirkan hal lain, bukan tentang menikahinya.” Arimbi tahu betul dampaknya memprovokasi pria yang satu ini. Dia mendengar Emir mendengus kesal.
“Emir,” Arimbi mengulurkan tangan untuk menarik tangan pria itu, tapi Emir mendorong tangannya dan memalingkan tatapannya ke luar jendela. Tak ingin melihat kearah wanita itu saat ini.
“Emir, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak pernah menyesal telah menikahimu dan aku sama sekali tak peduli siapa yang dinikahi reza. Percayalah.”
“Aku tahu segala hal yang kamu lakukan untuknya.” ujar Emir lagi.
Bibir Arimbi berkedut mendengar perkataan suaminya. “Itu hanyalah masa lalu. Aku dibutakan cinta waktu itu dan pikiranku kacau saat itu. Aku akan mendedikasikan diriku hanya padamu oke?”
“Kamu pikir aku ini apa? Aku tak cemburu dengan pria itu.” ketus Emir.
“Ya, tentu. Kamu benar sekali. Sayangku ini adalah pria terbaik dan Reza tak akan pernah bisa disandingkan denganmu meski ia berusaha keras. Kamu adalah satu-satunya bagiku, kurasa tak ada seoranpun yang bisa menggantikanmu.”
Emir mendengus, lalu menambahkan, “Apa lagi yang bisa kamu lakukan selain membanjiriku dengan pujian? Kamu bahkan tak mengambil semua barang-barang yang telah kamu berikan padanya.”
Arimbi pun berjanji, “Kalau begitu aku akan ijin nanti siang supaya bisa mengambil barang-barang itu. Aku janji akan mengambil semuanya bahkan jika itu hanya selembar kertas.
“Itu urusanmu. Apa hubungannya denganku?” emosi Emir naik, dia merasa sangat kesal dan cemburu.
Arimbi sudah merasa putus asa mencapai puncak kesabarannya. Aku harus apa sekarang?
“Hentikan mobilnya!” teriak Emir marah. Dengan cepat supir mematuhi lalu menyetir ke pinggir jalan. Sementara Rino mulai merasa gelisah.
Apakah Tuan Emir akan meninggalkan Nyonya Arimbi disini? Dia khawatir hal itu akan menjadi kenyataan bagi Arimbi. Saat itulah kemarahan Emir telah mencapai batasnya.
“Arimbi Rafaldi! Aku sama sekali tidak terbujuk dengan kata-katamu! Sekarang aku memberimu kesempatan untuk keluar dari mobil dan menghancurkan pernikahan mereka. Setelah kamu berhasil, kita bisa menandatangani surat perceraian dan aku akan membebaskanmu. Kamu bisa pergi bersama pria itu sesuai dengan keinginanmu.”
Arimbi merasa sakit hati dengan pernyataan pria itu, “Emir, apa yang bisa kulakukan supaya kamu bisa percaya kalau tak lagi peduli apa yang pria itu lakukan. Apalagi dengan siapapun dia ingin menikah? Kuakui kalau aku memang pernah mencintainya tapi hal itu karena aku dulu bodoh. Sekarang aku tidak bodoh lagi. Aku tak lagi mencintainya dan dia sama sekali tak berarti dihidupku.”
“Sekarang, yang kupedulikan hanyalah kamu, Emir. Tak bisakah kamu percaya denganku sekali saja? Yang kita butuhkan adalah rasa percaya, hormat dan saling memahami satu sama lains ebagai pasangan yang sudah menikah. Bukankah kamu ingin hal itu?”
Wajah Emir menggelap karena marah tapi dia tak berkata apapun saat menatap Arimbi. Tatapan insten-nya itu membuat Arimbi sangat frustasi hingga ia membuka pintu lalu turun dari mobil.
“Nyonya Arimbi!” Rino yang gelisah ingin mengejar wanita itu.
“RINO!” teriak Emir memanggilnya dengan amarah. Sehingga Rino tak bisa bergerak.
Kemudian Emir meminta supirnya untuk kembali menjalankan mobil dengan wajah dingin tanpa emosi. “Jalankan mobilnya.”
Mereka baru saja bermesraan beberapa detik lalu, tapi sekarang mereka bertengkar didetik berikutnya. Pasangan ini memang menakutkan. Sementara Arimbi yang turun dari mobil karena kesal tak menyangka mobil itu akan meninggalkannya. Dia meninggalkanku?
Arimbi berjongkok dipinggir jalan menutupi wajahnya lalu menangis sesenggukan. Pria itu sungguh tak bisa ditebak! Memangnya apa salahku? Kenapa dia cemburu tanpa sebab?
Dia pikir Emir memperlakukannya dengan baik dan tak akan pernah memperlihatkan sisi yang tak bisa ditebaknya itu lagi. Emir memperlakukannya seperti ini hanya karena Arimbi terdiam.
Tapi dia tak tahu cara menjelaskan hal ini kepada pria itu. Kalau bukan karena dia yang mengalami sendiri mana ada orang yang percaya dengan pengulangan kehidupan?
Dulu dia memang sangat mencintai Reza sepenuh hatinya….kenapa Tuhan memberinya kesempatan untuk reinkarnasi dan tak mengulang kehidupannya saat dia berusia dua puluh tahun dimana dia belum tahu kalau dia adalah putri kandung keluarga Rafaldi dan siapa Reza sebenarnya. Kalau dia dilahrikan kembali dia lebih memilih bertemu Emir terlebih dahulu.
Dan mungkin bisa mencegah kecelakaan yang membuat pria itu lumpuh. Sayangnya dia kembali setelah dia menyayat pergelangan tangannya untuk menolak pernikahan itu didepan Emir!
Sementara didalam mobil, suasana hati Emir terlihat sangat buruk hingga membuat suasana disekitarnya begitu dingin.
Rino sejak tadi menoleh kearahnya berharap dia akan memerintahkan supir untuk putar balik. “Tuan.”
Emir tak menjawab.
“Tuan apakah aku boleh mengatakan sesuatu?” tanya Rino.
Kalimatnya mendapatkan jawaban dingin dari Emir, “Aku tidak membungkam mulutmu dengan selotip, kan?”
Rino pun memberanikan diri berkata, “Tuan, meskipun Nyonya Arimbi mungkin belum sepenuhnya menyerah dengan Reza, menikah dengan Tuan adalah kemauan Nyonya sendiri. Tentu saja kita tak bisa mengabaikan fakta kalau mungkin Nyonya punya motif pribadi tapi setelah melihat pernikahan kalian, Nyonya selalu merawat Tuan dengan sepenuh hati.”
“Tuan, menurut saya alasan kenapa Tuan marah adalah karena Tuan mulai merasa peduli dengan Nyonya. Apa yang dikatakan Nyonya tadi memang benar adanya. Pasangan sudah menikah harus saling memiliki rasa percaya, hormat dan pengertian. Tak peduli seberapa besar rasa cintanya kepada Reza dulu. Nyonya sekarang adalah istri Tuan dan aku yakin Nyonya tahu itu.” ujarnya menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Tuan harus memberikan lebih banyak waktu untuk merubah pikiran Nyonya dan percaya padanya. Bukannya terus salah paham dan mengusirnya keluar dari mobil. Oh, apakah Tuan tahu soal penculikan pengantin? Apakah Tian akan senang kalau Nyonya terlibat didalamnya?”
Emir masih tetap diam. Aku kesal! Aku cemburu! Titik!
Jangankan penculikan pengantin, dia sudah sangat cemburu karena Arimbi terpaku saat mendengar Reza yang ingin bertanggung jawab atas Ruby. Itulah mengapa mereka tiba-tiba bertengkar.
Kalau Arimbi sungguh berani untuk menculik si pengantin…..akan kukekang dia didalam rumah dan tak akan pernah membiarkannya keluar. Saat itulah dia akan diam dan menjadi istriku sepenuhnya!
Inilah hukuman yang dia dapatkan karena inginmenikahiku! Aku telah memberikannya banyak kesempatan untuk mempertimbangkan kembali pilihannya. Wanita itulah yang tak berpikir matang soal hal ini! Jadi aku tak bisa disalahkan kan?
“Tuan, apakah kita akan putar balik dan menjemput Nyonya?”
Emir menjawab dengan tegas, “Kalau dia meneleponku dan meminta maaf, akan kuperintahkan seseorang untuk menjemputnya. Kalau tidak, dia pulang dengan berjalan kaki saja.”
Rino langsung kehilangan kata-kata mendengar itu. Tuannya yang cemburu ini sungguh keras kepala dan mengesalkan sekali!