GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 89. PEMBALASAN DIMULAI


“Arimbi sayang! Itu hanya mimpi dan bukan kenyataan. Hanya karena mimpi yang kamu alami, kamu benar-benar memaksa Tuan Emir untuk menikahimu. Lalu berselisih dengan Amanda dan juga menjauh dari Reza? Tidakkah menurutmu semua itu agak konyol?”


“Ibu, aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Aku takut ibu dan ayah akan benar-benar----Aku lebih suka menganggapnya sebagai mimpi pertanda. Aku ingin memastikan semua orang aman daripada menganggapnya hanyalah sebuah mimpi belaka.”


Mendengar itu Mosha pun bertanya, “Tapi, apakah kamu pernah mempertimbangkan bahwa Amanda melakukan apa yang dia lakukan persis seperti di mimpimu karena kamu membiarkan mimpi itu sendiri menghancurkan kalian berdua?”


Arimbi tidak bisa memberitahu begitu saja pada ibunya bahwa mimpi itu adalah sesuatu yang telah terjadi di kehidupan sebelumnya. Yang bisa dia katakan adalah menggunakan kata-kata yang diucapkan Emir sebelumnya, “Ibu! Amanda dan aku pada akhirnya tidak akan akur selama aku menjadi putri kandungmu dan ayah. Dia masih akan datang untuk memenggal kepalaku bahkan jika bukan aku yang mencoba memenggal kepalanya.”


Mosha pun langsung terdiam mendengar ucapan putrinya. Dia dan Yadid telah melatih Amanda untuk menjadi pewaris Rafaldi Group. Mungkin Amanda terlihat lembut dan sopan di luar tetapi dia sebenarnya adalah wanita yang sangat ambisius.


Berpikir bahwa semua milik Keluarga Rafaldi akan jatuh ketangannya, Amanda telah bekerja keras untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dia selalu didorong oleh motivasi untuk mengembangkan Rafaldi Group dan menjadikannya sebagai salah satu perusahaan terkaya di kota itu.


Namun rencananya telah gagal ketika terungkap fakta bahwa dia adalah anak dari pasangan dari sebuah desa dan dia tidak mempunyai hubungan darah dengan keluarga Rafaldi. Masuk akal bahwa ini bukan kenyataan yang akan bisa diterima oleh Amanda. Mengetahui bahwa Arimbi adalah orang yang akan mengambil semuanya darinya, itu hanya akan memperburuk keadaannya. Amanda tidak akan memiliki apa-apa dan semua mimpinya hancur begitu saja.


Ditambah lagi Amanda dan Reza sebenarnya adalah sepasang kekasih. Arimbi mengatkan bahwa mereka berdua telah menjalin hubungan dibelakangnya dalam mimpinya. Mereka bahkan memiliki anak hasil dari cinta mereka. Tidak hanya itu mereka yang menyebabkan kematian Yadid dan Mosha juag anak Arimbi.


Wajah Mosha langsung pucat setelah dia mendengarkan penjelasan putrinya. Tidak ada yang bisa bermimpi dimana setiap detailnya saling terhubung. Alih-alih mimpi, bayang-bayang itu lebih seperti sebuah memori yang dimainkan dimana setiap adegan membuat Mosha mulai merasa ketakutan. Tidak heran jika Arimbi akan membuat keputusan seperti itu setelah dia bermimpi.


“Ibu, jangan khawatir ya. Aku janji akanbekerja keras untuk menjadi lebih kuat sehingga aku bisa melindungimu dan ayah. Aku tidak akan membiarkan mimpi itu menjadi kenyataan. Lagipula Emir sudah berjanji akan membantuku.”


Mosha menjawab dengan nada tegas, “Kamu benar Arimbi! Lebih baik menganggap mimpi itu sebagai pertanda daripada hanya mengabaikannya. Kamu tidak perlu khawatir aku akan selalu ada disisimu apapun yang terjadi.”


“Terimakasih ibu.”


Tanpa sepengetahuan mereka sebuah kekacauan sudah terjadi di PT. Kanchana saat mereka sedang berbicara dari hati ke hati. Ternyata Emir sudah mulai melakukan pembalasannya atas nama Arimbi.


Direktur perusahaan Harry Kanchana yang adalah ayahnya Reza sedang berjalan keluar dari kantornya dengan Reza ketika dia mengingatkan sekretarisnya sendiri, “Bawa semua dokumen jangan biarkan Direktur Radhika menunggu terlalu lama.”


Harry sudah berusaha keras untuk membuat janji makan siang dengan Direktur Radhika untuk membahas proyek baru yang seharusnya mereka kerjakan. Acara ini adalah janji makan siang yang sangat penting bagi Harry Kanchana. Sekretaris telah memeriksa semua dokumen yang perlu dibawa berulang kali dan yakin tidak ada yang tertinggal.


Mendengar itu pria paruh baya itu bersenandung kecil sambil memasuki lift bersama putranya dan sekretarisnya yang mengikuti mereka dibelakang. Triigggg…..triiinnngg…...tiba-tiba ponsel si sekretaris berbunyi. Dia melihat ke ponselnya dan memberitahu pada Harry Kanchana.


“Saya mendapat telepon dari sekretaris Tuan Radhika.”


“Cepat angkat!” desak Harry dengan penuh semangat.


Si sekretaris pun segera mengangkat teleponnya, namun hanya dalam beberapa detik saja ekspresi wajahnya langsung berubah ketika dia mendengarkan apa yang dikatakan orang yang meneleponnya.


Setelah panggilan berakhir, dia menoleh pada Harry dan berkata, “Direktur Kanchana, t Direktur Radhika baru saja memberitahu saya bahwa kita tidak perlu pergi menemui Direktur Radhika lagi. Beliau sudah membahas dan menandatangani kontrak kerjasama dengan Tuan Emir.”


“Apa?” Harry meraung dengan mata terbelalak. Dia bahkan mengira kalau dia salah dengar. Sedangkan wajah Reza pun langsung berubah menjadi muram.


“Apakah sekretaris Direktur Radhika benar-benar mengatakan itu? Tapi dia sepertinya sangat mengharapkan perjanjian kerjasama dengan kita? Dia bahkan bereaksi positif pada kolaborasi kita tapi mengapa tiba-tiba dia beralih ke Tuan Emir dan menandatangani kontrak dengannya?” tanya Reza.


“Wakil Direktur Kanchana, hanya itu yang disampaikan sekretaris Direktur Radhika pada saya tadi. Dia tidak ada mengatakan apapun alasannya. Dia hanya mengatakan pada  saya bahwa kita tidak perlu pergi menemuinya lagi, setelah itu dia menutup telepon.”


Orang yang mengambil peluang bisnis yang sudah dinanti-nantikan oleh Pt. Kanchana adalah Emir Serkan, dewa bisnis di Kota Metro. Oleh karena itu tidak ada yang bisa dilakukan oleh keluarga Kanchana bahkan jika mereka marah.


PT. Kanchana tidak punya peluang dan kekuatan untuk melawan Serkan Global Group. Apa yang tidak dapat dimengerti oleh Harry dan Reza adalah meskipun perusahaan mereka tidak memiliki sejarah kemitraan yang erat dengan perusahaan milik Emir tapi selama ini PT. Kanchana selalu berhati-hati di sekitar Keluarga Serkan. Bahkan jika mereka bukan teman tapi mereka juga bukan musuh. Dan selama ini keluarga Kanchana sudah berhati-hati agar tidak menyinggung Keluarga Serkan.


Bagi Emir untuk merampok proyek kerjasama yang seharusnya adalah milik mereka, mungkinkah itu pertanda bahwa Emir sedang memusuhi mereka?


“Reza! Ikut aku ke ruanganku sekarang!” Harry mendengus dengan wajah masam saat dia berbalik untuk masuk kembali ke ruang kerjanya.


Lalu dia memberitahu sekretarisnya untuk segera mencari tahu apakah Tuan Emir melakukan itu dengan sengaja atau tidak. Mendengar perintah atasannya, sekretaris itu mengangguk dan melakukan perintahnya. Pada saat itulah Reza berbalik dan bergegas mengejar ayahnya. Setelah mereka berdua berada didalam ruang direktur, Harry menatap reza dan bertanya, “Jujurlah! Katakan padaku Reza, apakah kamu melakukan sesuatu yang menyinggung Tuan Emir?”


“Ayah, aku tidak akan pernah berani melakukan itu! Aku selalu menunjukkan rasa hormatku padanya seperti dia adalah seorang raja setiap kali aku melihatnya. Jadi mengapa aku menyinggung perasaannya? Bahkan jika aku sudah bosan dan muak dengan hidupku, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan merusah nama baik keluarga kita.” protes Reza yang merasa tak suka jika dirinya dituduh ayahnya seperti itu.