
Joana berjalan memasuki gedung perusahaan bersama Dion Harimurti. Dia menundukkan wajahnya tapi Dion meliriknya dengan tajam membuat Joana dengan terpaksa mengangkat dagu dan berjalan dengan dagu terangkat.
Para staff tak ada yang berani mengatakan apapun meskipun mereka terkeut dengan kehadiran Dion bersama seorang wanita.
Untuk pertama kalinya mereka melihat seorang wanita berada disamping Dion. Begitu mereka keluar dari lift setelah sampai di lantai teratas, Joana menghentak-hentakkan kakinya.
“Bersikap baik! Jangan mempermalukanku.” ujar Dion.
‘Huh! Lagipula buat apa aku dibawa kesini? Lebih baik aku tidur dirumah.’ omel hatinya.
“Aku akan meeting sebentar lagi. Kamu tunggu saja disini.”
“Sebaiknya aku pulang kerumah saja. Aku bisa menemani ibuku dirumah. Aku sudah beberapa hari tidak pulang.” kata Joana ingin mencari kesempatan.
“Kamu tidak diijinkn pulang kalau tidak bersamaku. Lagipula, ibumu sedang tidak ada diruma sekarang. Untuk apa kamu mau kesana?” tanya Dion menatap Joana.
“Apa? Tahu darimana kamu kalau ibuku tidak ada dirumah?”
“Telepon saja kalau tidak percaya. Kamu bisa pegang ponselmu hari ini. Tapi kamu harus mengembalikan padaku saat kita pulang nanti.”
“Dion! Bagaimana kalau aku ke cafe saja? Sudah berapa hari tidak kesana, aku harus melihat perkembangan cafe.”
“Tidak perlu. Aku akan menemanimu nanti.” kata Dion meletakkan dokumen yang baru saja ditandatanganinya. Lalu merapikan jasnya dan memanggil pengawal.
“Kalian berjaga diluar. Belikan atau apapun yang dia mau.” kata Dion memberi perintah yang dijawab pengawal dengan angukkan kepala.
“Joana, suruh mereka memesankan makanan apapun yang kamu mau. Aku meeting dulu.”
Cup!
Dion mngecup kening Joana membuat Joana terpaku tak bergeming. Beberapa menit kemudian dia baru tersadar apa yang baru saja terjadi padanya.
‘Hah? Dia tadi menciumku didepan pengawalnya? Issss…..dasar pria ini semakin hari semakin gila. Aha! Katanya aku bisa beli apa saja kan? Aku bisa makan apa yang aku mau?’
Dalam sekejap suasana hati Joana berubah, senyum muncul diwajahnya. Lalu dia mengambil kertas diatas meja kerja Dion lalu mulai menulis daftar panjang makanan, cemilan, minuman kesukaannya. Dan juga beberapa barang baru yang ingin dibelinya.
‘Biar saja dia yang membayar semuanya. Hahaha…..aku ingin lihat seperti apa reaksinya nanti.’
“Hei kemari kalian.” Joana memanggil pengawal yang berjaga diluar ruang kerja Dion. Saat kedua pengawal itu menghampiri meja kerja Dion, Joana meletakkan kertas berisi daftar pesanannya.
“Itu daftar belanjaanku. Tolong kalian beli sekarang ya.” kata Joana dengan santainya duduk di kursi kebesaran Dion Harimurti.
“Nona, sebaiknya anda tidak menduduki kursi kerja Tuan Harimurti. Dia akan marah nanti.”
“Ck! Aku tunangannya, mana mungkin dia marah. Kalaupun dia memarahiku, biarkan saja. Itu urusnku dengan Dion. Sebaiknya kalian cepat belikan itu. Aku sebentar lagi lapar.” kata Joana. Setelah seorang pengawal mengirimkan pesan pada Dion dan mendapat jawaban.
Tak menunggu lama lagi keduanya pun pergi. Kini hanya ada Joana didalam ruang kerja besar da mewah itu. ‘Apa semua CEO kaya seperti Dion, Emir memiliki ruang kerja seperti ini? Oh iya, daripada aku harus bersitegang terus dengan Dion lebih baik aku menurut saja. Toh mau melawan pun tidak ada gunanya, dia akan tetap menang.
Akhirnya dia memutuskan apa yang dia inginkan. Joana mengeluaran ponselnya dari tas lalu menghubungi Arimbi. Tak berapa lama sambungan telepon terhubung.
“Joana! Kamu kemana saja? Aku meneleponmu berulang kali tapi ponselmu tidak pernah bis dihubungi. Katakan padaku, apa kamu baik-baik saja? Ada dimana kamu sekarang?”
Joana menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap layar ponselnya. ‘Kenapa dia jadi cerewet seperti emak-emak pasar sekarang? Bicara tanpa henti begitu?’
“Joana! Kenapa diam saja? Kamu baik-baik saja kan?”
“Fuuuh! Arimbi, bagaimana aku mau menjawab pertanyaanmu? Kamu bicara tanpa henti dan bertanya banyak hal. Yang mana dulu yang harus kujawab?”
“Heehee…..maaf. Aku terkejut melihat mu meneleponku. Cepat katakan dimana kamu sekarang? Aku akan kesana menemuimu.”
“Apa? Apa Dion menyakitimu lagi? Apa dia menahanmu seperti waktu itu?”
“Ssshhh…..tidak. Aduh….aku tidak tahu bagaimana memberitahumu.”
“Ya katakan saja. Kalau kamu baik-baik saja, aku senang mendengarnya.”
“Aku tidak tahu apakah ini bisa dibilang baik-baik saja atau tidak.” kata Joana.
“Memangnya ada apa? Sedang apa kamu dikantor Dion?”
“Dia membawaku kesini dan sekarang dia sedang meeting.”
“Hahahhaha.” Arimbi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Arimbi! Tidak ada yang lucu! Apa yang kamu tertawakan?”
“Ibumu menghubungiku dan memberitahuku kalau Dion melamarmu. Haahaha…..aku sudah tidak sabar melihat apa yang akan terjadi.”
“Aku sedang stress tapi kamu malah menertawakanku.” gerutu Joana.
“Joana sayang, bukankah kamu memang menyukainya? Anggap saja ini keberuntunganmu. Ibumu sudah menceritakan semuanya padaku. Dion bahkan memberimu mahar pertunangan yang banyak dan mahal. Joana…..kamu beruntung.”
“Apanya yang beruntung? Yang ada aku sial terus.”
“Sial? Kenapa? Apa kamu tidak tahu berapa banyak wanita yang bermimpi berada diposisimu sekarang ini? Tapi hanya kamu yang berhasil mendapatkannya. Ah,,, ternyata takdir sangat baik pada kita.”
“Kamu beruntung, tapi aku sial. Aku dikekang sama dia. Tidak bisa kemana-mana.”
“Eh, menurutku Dion pasti mempunyai perasaan padamu. Kalau tidak, mana mungkin dia tiba-tiba melakukan hal-hal gila seperti itu.”
“Ya aku tidak peduli! Aku masih marah dan kesal padanya.” ujar Joana. “Memangnya apa yang bisa kulakukan sekalipun aku pergi keluar. Pengawalnya selalu bisa mengawasiku. Menurutku pria ini seorang freak control!”
“Sepertinya kamu banyak berubah Joana! Jangan-jangan karena sekarang ada seorang pria yang memanjakanmu? Kamu bahkan baru menghubungiku sekarang. Andai ibumu tidak memberitahuku, aku tidak akan tahu kalau kamu dan Dion sudah bertunangan.”
******
Jika Joana bosan menunggu di ruang kerja Dion, tapi berbeda dengan Arimbi yang selalu mengganggu Emir. Tingkah manjanya semakin menjadi-jadi, dia mengikuti Emir kemanapun.
Seperti sekarang ini, dia juga bersama Emir yang sedang meeting. Sejak Emir tidak mengijinkannya lagi bekerja dan menempatkan lagi satu orang kepercayaannya di perusahaan mertuanya.
Dia duduk disamping suaminya sambil memainkan ponsel saling berbalas pesan dengan Joana dan juga ibunya. Semua yang dibahas selama meeting tak ada satupun yang dia mengerti.
“Kalau kamu bosan dan lelah, istirahatlah diruanganku.” kata Emir.
“Tidak mau! Kalau aku istirahat, kamu lama datangnya. Aku tidak mau jauh-jauh darimu Emir.”
“Ya sudah. Tapi aku tidak mau kamu kelelahan. Kasihan anak kita”
“Lebih kasihan kalau kamu tidak dekat anak kita.” sahut Arimbi.
Emir tak mau melanjutkan pembicaraan dengan Arimbi, dia mengalihkan pandangan kembali ke depan. Bagi semua orang yang melihat, mereka menilai kalau Emir sangat baik pada istrinya dan tidak mau jauh-jauh dari istrinya.
Padahal yang sebenarnya adalah Arimbi yang selalu mengekorinya kemanapun.
“Ah, baju bayi ini lucu sekali.” gumam Arimbi pelan saat dia sedang melihat-lihat toko online untuk mngurangi kebosanannya. Tangannya menggulir dan tanpa sadar dia mengklik beberapa item yang menurutnya lucu dan menarik.
Emir yang duduk disebelahnya mengeryitkan dahi saat melirik kearah ponsel Arimbi yang berada dipangkuannya. Sudut bibir Emir terangkat saat melihat apa yang sedang dilakukan istrinya.