GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 84. RENCANA KERJA


Kemudian Yadid menambahkan, “Atau kamu bisa memberinya jam tangan yang mahal. Tuan Emir adalah orang penting. Kamu tidak bisa begitu saja membelikannya apapun sesukamu. Apakah kamu punya cukup uang Arimbi? Aku bisa mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu. Belilah hadiah yang pantas untuk Tuan Emir. Oh---kamu harus pergi ke Kediaman Lavani dengan Amanda lusa untuk jamuan makan. Sudahkah kamu menyiapkan hadiah untuk Nona Zivanna?”


Tanpa sepengetahuan Yadid, Arimbi bahkan tidak memikirkan apa yang harus dia belikan untuk Zivanna. Dia ingat betapa tulusnya dia memberikan hadiah ulang tahun pada Zivanna di kehidupan sebelumnya tapi gadis itu menatapnya dengan jijik sebelum berbalik pergi dan memberikan hadiah dari Arimbi pada seorang pelayan. Karena dimata Zivanna hadiah Arimbi itu tidak layak untuk diterima.


Sekarang, dia diberi kesempatan kedua dalam hidupnya, dia tidak akan berusaha mempersiapkan hadiah untuk Zivanna. Jadi, Arimbi melanjutkan untuk memilih satu set produk perawatan kulit yang belum dibuka dari rangkaian perawatan kulitnya dan menjadikan itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Zivanna. Lagipula Zivanna akan membuat Arimbi merasa tersisih dan dipermalukan nanti.


Arimbi semakin tak sabar menunggu hari sabtu, karena dia sudah mempersiapkan diri untuk melakukan pembalasan awal di pesta itu nanti. Dia ingat apa yang terjadi di pesta itu dikehidupan sebelumnya tapi di kehidupan sekarang dia akan membalikkan keadaan, bukan dia yang akan dipermalukan tapi ada beberapa orang. Dan Arimbi akan berdiri disana dengan senyum puas, hanya membayangkan rencana balas dendamnya saja sudah membuat Arimbi sangat senang.


“Aku sudah menyiapkan hadih untuk Zivanna sejak lama, ayah.”


Yadid mengangguk mendengarnya, “Keluarga Lavani adalah keluarga kedua setelah keluarga Serkan dalam hal kekayaan di kota ini. Keluarga itu berada dilevel yang sama dengan keluarga Harimurti. Laki-laki dari keluarga Lavani selalu lebih dominan daripada wanita itulah sebabnya Nona Zivanna dimanjakan sempai-sampai dia sombong. Arimbi, pastikan kamu tidak terlalu dekat dengannya saat kamu pergi kesana bersama Amanda. Cobalah menjauh jika kamu bisa.”


“Baiklah ayah. Aku mengerti.”


“Satu lagi, cobalah untuk lebih banyak berpartisipasi di acara perusahaan dan amal di masa depan. Kamu tidak hanya seorang Nyonya Muda Keluarga Serkan tapi kamu akan mengambil alih Rafaldi Group di masa depan. Kamu perlu bersosialisasi dan mencari lebih banyak teman. Ini akan menguntungkanmu di masa depan nantinya.”


“Terimakasih sudah mengingatkanku ayah. Aku akan melakukan itu.”


Tapi meskipun Arimbi ingin berteman, orang lain belum tentu memiliki niat yang sama dengannya. Sudah setahun sejak dia kembali ke Keluarga Rafaldi dan hanya Joana saja satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti seorang teman. Joana sudah memberitahunya bahwa dia akan kembali dalam dua hari lagi. Dia juga akan menghadiri pesta ulang tahun Zivanna.


“Aku harap kamu dan Amanda akan tetap bersikap seperti saudara perempuan. Dia telah membangun reputasi dan koneksinya sejak lama dan dia juga menghabiskan banyak waktu untuk menangani bisnis denganku. Dia secara langsung memiliki pengaruh di perusahaan juga.”


Andai saja Yadid tidak mengetahui kalau putrinya telah ditukar, dia pasti sudah mengatur pensiunnya sendiri dari perusahaan.


“Arimbi, ini akan menjadi debutmu diperusahaan. Bahkan jika aku yang akan mengawasimu, ada banyak petinggi perusahaan yang akan mengawasimu. Mereka bahkan mungkin memilihmu, Amanda akan melindungimu jika kamu dekat dengannya. Arimbi, apakah kamu mengerti mengapa aku memberitahumu ini?”


Tanpa perlu diberitahu pun Arimbi sudah memahaminya dengan sangat baik. Meskipun dia dibesarkan di pedesaan tapi tidak ada seorangpun yang tahu betapa pintarnya dia, dia memiliki otak yang cerdas dan cemerlang serta kemampuannya menguasai beberapa bahasa yang sampai saat ini tidak diumbarnya didepan siapapun. Dia mempersiapkan begitu banyak kejutan setelah dia masuk ke perusahaan.


Ayahnya sendiri menyuruhnya untuk tidak mencari masalah dengan Amanda sebelum Arimbi bisa berdiri diatas kakinya sendiri dan mampu mengambil alih perusahaan. Atau dia akan dengan mudah dikeluarkan dari perusahaan jika Amanda memutuskan untuk bekerja dengan para petinggi untuk mengusirnya. Rafaldi group mungkin adalah bisnis keluarga mereka tetapi Yadid tidak mungkin melawan begitu banyak anggota dewan untuk Arimbi sendirian.


Seperti kata Emir, tidak masalah apakah Arimbi ingin suka atau tidak, selama dia adalah putri kandung Keluarga Rafaldi maka Amanda kan selalu memperlakukannya sebagai musuh apapun yang terjadi. Itulah sebabnya dia tahu tidak ada gunany mencoba mendekati Amanda dan bersikap baik padanya. Yadid tahu kalau putrinya itu tidak bodoh, lingkungan hidupnya di masa lalu adalah alasan mengapa kemampuannya tidak seluas Amanda.


“Kamu berjanji pada ibumu bahwa kamu akan pulang untuk makan siang bersamanya. Ini sudah hampir jam makan siang. Kenapa kamu tidak kembali sekarang?” Yadid melirik jam tangannya. “Sudah waktunya aku pergi menemui klienku juga.”


“Bolehkah aku mulai belajar dari ayah mulai besok? Aku akan resmi bekerja mulai senin depan”


Memikirkan bagaimana Amanda akan berada dirumah sakit beberapa hari ini untuk merawat ibu kandungnya, Yadid mengangguk setuju, “Tentu! Datanglah ke perusahaan besok. Aku akan mengajarimu satu atau dua hal tentang bisnis. Tapi tetap saja kamu tidak boleh mengabaikan Tuan Emir.”


Sudah pasti Arimbi tidak akan berani melakukan itu pada suaminya. “Baiklah ayah. Kamu bisa kembali bekerja. Aku akan pulang untuk makan siang bersama ibu.”


Setelah percakapan mereka berakhir, mereka berjalan keluar dari kantor direktur bersama. Arimbi tidak mengendarai mobilnya sendiri dan kebetulan supirnya sudah kembali kerumah. Karena dia tidak ingin memberitahu ayahnya bahwa dia bertemu Dion Harimurti, dia pun berbohong pada ayahnya bahwa dia sedang menunggu supirnya untuk menjemputnya.


Arimbi menghentikan taksi setelah dia melihat mobil ayahnya pergi dari perusahaan dan menghilang dikejauhan. Setelah dia masuk kedalam taksi, supir bertanya, “Kemana Bu?”


“Antarkan saya ke Serkan Global Group.” jawabnya seraya tersenyum membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti pada suaminya.


Tiba-tiba Arimbi merubah rencananya, dia memutuskan untuk pergi ke Serkan Global Group untuk membujuk suaminya yang marah dan kemudian pulang untuk makan siang bersama ibunya. Lagipula masih ada cukup waktu sampai makan siang.


“Baiklah.” jawab supir taksi itu.


Karena harus melewati Serkan Global yang berada ditengah perjalan baik ke dan dari Rafaldi Group, hanya butuh waktu singkat baginya untuk sampai ditujuannya. Arimbi membayar uang taksinya lalu turun dan berdiri didepan pintu masuk saat dia memasuki gedung perkantoran tujuh puluh lantai itu. Perusahaan keluarganya bahkan tidak bisa bersaing dengan kemegahan Serkan Global Group. Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki orang sesuka hati.


Jadi wajar jika penjaga keamanan agak mengacuhkan saat melihat Arimbi mendekatinya dan mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Emir meskipun tanpa ada janji. “Direktur kami adalah orang yang sangat sibuk. Kamu tidak hanya tidak bisa bertemu direktur kami, kamu bahkan tidak bisa masuk tanpa membuat janji terlebih dahulu. Aku harus memintamu pergi Nona Rafaldi.” penjaga itu dengan hormat menolak kedatangan Arimbi disana.