GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 105. DIBIMBING AYAH


Sementara itu di kediaman utama Keluarga Serkan.


Elisha yang sudah terbangun tidak bisa tidur lagi. Dia semakin penasaran dan hatinya terasa gatal dengan kelakuan kakaknya terhadap Arimbi. Semenjak Arimbi pindah kerumah Emir, Elisha tidak pernah mau ikut-ikutan merundung Arimbi seperti yang dilakukan ibu dan neneknya. ‘Yang benar saja! Emir tidak butuh bantuanku untuk balas dendam pada Arimbi.’ pikirnya.


Emir bisa saja membuat seseorang hidup menderita tapi setelah apa yang terjadi tadi membuat Elisha mulai tertarik untuk mengenal Arimbi. Kakaknya menyuruh kepala pelayannya untuk meminta sepatu Elisha yang belum pernah dipakai untuk diberikan pada Arimbi? Ini bukan Emir yang dikenalnya selama ini. Mana pernah kakaknya memberikan perhatian pada wanita sebelumnya


...*******...


Rafaldi Group adalah sebuah perusahaan yang memproduksi battery dan papan sirkuit. Dalam beberapa tahun perusahaan itu sudah memperluas bisnisnya ke industri-industri lainnya meskipun produk utama tetap batery dan papan sirkuit. Amanda dulu memberi saran pada Yadid untuk memperluas bisnis mereka ke bidang properti. Tapi menurut Yadid, industri properti itu sudah banyak dan akan tergilas oleh perusahaan-perusahaan lain.


Karena peluang suksesnya sedikit itu akan membahayakan perusahaan jika memaksa masuk ke industri itu. Setelah supir Keluarga Serkan berhenti didepan pintu masuk perusahaan, Arimbi keluar dari mobil mewah itu dan menyuruh supir itu pulang lalu dia melangkah masuk kedalam gedung.


“Selamat pagi Nona Arimbi.”


“Nona….”


Setiap pegawai menyambutnya dengan sopan dan hormat. Sandra asistennya Amanda pun melihatnya juga lalu memanggilnya dengan kaget, “Nona Arimbi? Kenapa Nona datang kemari pagi-pagi sekali? Nona bisa bicara dengan Direktur dan Nyonya Rafaldi dirumah kalau ada masalah, tidak perlu datang kemari jauh-jauh karena ini tempat kerja. Pak Direktur hanya bicara urusan pekerjaan disini.” ujar Sandra jijik melihat Arimbi.


Setelah membalas sapaan semua orang, Arimbi menoleh pada Sandra dan tersenyum sinis, “Aku kesini untuk bekerja. Oh ya, memangnya kamu itu siapa? Mengatur-atur aku? Apa kamu lupa siapa aku ini? Bersikap sopanlah kalau bicara padaku! Ingat ya, mulai hari ini aku menjadi bagian dari perusahaan ini!” ucap Arimbi sinis.


“Kerja? Kerja dibagian mana?” Sandra tak suka jika Arimbi bergabung dengan perusahaan, ini tak bagus untuk Amanda dan dia harus segera melaporkan pada Amanda.


Sudah beberapa hari Amanda tidak masuk kerja karena dia terpaksa menemani ibu kandungnya dirumah sakit. Selama Amanda cuti semua pekerjaannya ditangani oleh Sandra dan sebagai asistennya Amanda, Sandra juga mempunyai sikap arogan dan memandang remeh Arimbi.


“Yang pasti bukan di departemenmu!” balas Arimbi dengan cepat membuat Sandra mendecakkan lidah.


Lalu mereka masuk ke lift bersama-sama. Sandra melihat Arimbi memencet tombol lift untuk naik kelantai paling atas. Meskipun Arimbi tahu kalau Sandra akan melaporkan soal dia pada Amanda tapi Arimbi tidak mau terlalu memikirkannya. Amanda pasti tahu kalau Arimbi akan mulai bekerja untuk perusahaannya. Namun Arimbi masih punya beberapa hari untuk rileks karena Amanda masih cuti.


Akhirnya Arimbi berada didalam lift sendiri setelah Sandra keluar, tak seperti yang lain ruang kerja Arimbi ada di lantai atas. Sekretaris Yadid sudah ada dikantornya ketika Arimbi tiba disana. Begitu dia melihatnya dia langsung menyapa Arimbi dengan ramah dan mengantarnya ke sofa. Dia lalu menghidangkan minuman untuknya.


“Apakah Nona Arimbi sudah sarapan?”


“Hmmmm.” Arimbi sudah sarapan dirumah bersama Emir tadi.


Ini adalah perusahaannya sendiri namun dia merasa gugup di hari pertamanya bekerja di perusahaan sebesar ini. Di kehidupan sebelumnya dia tidak diberi kebebasan untuk bekerja setelah dia menikah dengan keluarga Kanchana.


Reza dan Amanda tidak akan memperbolehkannya bekerja karena tujuan mereka adalah untuk menguasai Rafaldi Group. Arimbi adalah orang baru didunia bisnis dan dia merasa apakah dia akan terbiasa dengan dunia bisnis yang penuh trik ketika dia mulai terlibat didalamnya.


Agar dia dapat membalas akhir tragis di kehidupan sebelumnya dan menjadi kuat untuk membalas dendam pada Amanda. Arimbi harus mengerti bahwa lika liku dunia bisnis adalah bagaimana caranya untuk mengatur sebuah bisnis.


“Aku yakin kamu pasti belum sarapan Monika. Silahkan makan dulu, aku akan menunggu ayah dan menemuinya saat dia datang.” ujar Arimbi pada sekretaris ayahnya.


“Baiklah. Aku pergi dulu ya.” sekretaris itu tersenyum.


Monika adalah sekretaris Yadid dan dia selalu datang awal setiap harinya. Dia selalu menyiapkan sarapan untuk dimakan di kantor. Arimbi tersenyum saat melihat sekretaris itu pergi ke pantri untuk menyantap sarapan paginya.


Yadid tiba dikantor pukul delapan lebih. Begitu dia melihat putri kandungnya berdiri didekat pintu kantornya dia merasa kaget. “Arimbi? Sedang apa disini?”


“Ayah, aku siap untuk bekerja hari ini. Bukankah nanti ayah yang akan membimbingku langsung? Aku sedang menunggumu disini.”


“Ah, aku hampir lupa.” ucap Yadid menjawab dengan tawa. Dia membuka pintu kantornya dan membawa Arimbi masuk. Setelah mereka berada didalam, Yadid bertanya dengan santai, “Bagaimana reaksi Tuan Emir ketika dia tahu kamu akan bekerja hari ini?”


Arimbi mengangkat tangan dan mengayunkan kepalan tangannya, “Dia menyemangatiku.”


Yadid segera menghela napas lega setelah mendengar itu.


“Ayah, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“Ikuti aku dan lihat apa yang aku lakukan.” kata Yadid sambil berjalan ke mejanya. “Aku akan memberimu beberapa informasi perusahaan kita yang berfokus pada produksi papan sirkuit. Kamu harus tahu apa yang perusahaan ini lakukan.”


“Aku mengerti.” kata Arimbi sebelum berbalik dan menuangkan segelas air hangat untuk ayahnya.


“Aku biasanya minum kopi. Ada dapur kecil di kantorku. Bisakah kamu membuatkan secangkir kopi untukku? Pakai saja biji kopi didapur itu.”


“Baiklah ayah. Minumlah air hangat dulu ayah. Aku akan membuatkanmu kopi sekarang.”


Arimbi pun pergi menuju dapur kecil dan menyeduh kopi. Saat itu Yadid mengeluarkan dokumen berisi informasi perusahaan dan contoh rancangan produk mereka.


Arimbi membawakan secangkir kopi yang baru diseduh lalu meletakkannya diatas meja. Yadid menyerahkan dokumen-dokumen itu padanya dan berkata, “Arimbi kamu sama sekali tidak tahu sistem operasi dan produk perusahaan ini kan? Pelajari semua dokumen ini sekarang. Kamu boleh bertanya padaku atau siapapun jika ada yang tidak kamu mengerti.” Yadid menyesap kopinya dan tersenyum. Kopi buatan Arimbi terasa sangat enak berbeda dengan kopi yang biasa diminumnya meskipun dibuat dengan kopi yang sama.


“Jenis papan sirkuit sangat banyak dan kamu harus menghapalnya satu persatu. Hanya dengan cara itu kamu bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan ini. Diskusikan bisnis dengan orang lain untuk mempromosikan produk kita. Pabrik kita berada tepat dibelakang gedung ini, kamu boleh mampir kesana dan berjalan-jalan disana. Semakin sering kamu berkunjung maka semakin banyak yang bisa kamu pelajari.”