GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 345. SENJATA MAKAN TUAN


“Kebodohan apa yang sudah kalian lakukan?”” teriak Yuda Lavani. Ketiga anaknya duduk dengan menundukkan wajah tak berani mengatakan apapun pada ayah mereka yang sedang marah.


Setelah beberapa saat, Johan mendongak menatap ayahnya, “Zivanna dijebak ayah! Dia tidak sengaja melakukan itu! Pelakunya adalah Dilo Dharsana! Putra keluarga Dharsana!”


 


“Apa kamu bilang? Siapa? Putra keluarga Dharsana?” Yuda semakin emosi. “Darimana datangnya orang itu? Bukankah waktu itu kamu bilang kalau orang-orang sudah dibereskan? Kenapa tiba-tiba sekarang ada yang muncul dan mengaku sebagai putra keluarga Dharsana? Johan!”


 


“Aku akan menyuruh anak buahku untuk menyelidiki itu ayah! Yang penting sekarang adalah Zivanna! Dia syok dan tertekan, dia tidak bersalah ayah!”


“Zivanna! Pergilah ke kamarmu! Nanti ayah akan bicara denganmu.”


“Baik ayah.” Zivanna berdiri dan melangkah pergi dengan wajah menunduk.


 


“Apa yang kamu lakukan di perjamuan itu Gio?”


“Ti—tidak ada ayah!”


“Aku sudah memperingatkanmu! Jauhi Amanda! Dia hanya akan mendatangkan masalah pada keluarga ini! Lihatlah sekarang Tuan Emir akan menganggap keluarga kita sebagai musuh karena kamu membantu Amanda!” ujar Yuda Lavani.


 


“Ayah, jangan menyudutkannya! Amanda hanya ingin mendapatkan apa yang menjadi haknya. Dia tidak memintaku untuk membantunya. Tapi aku yang menyodorkan diri untuk membantunya! Aku tidak bisa diam saja melihatnya diperlakukan tidak adil ayah!”


“Sejak kapan kamu menaruh simpati pada orang lain? Amanda bukan putri keluarga Rafaldi! Tuan Yadid bahkan sudah mengumumkan ke publik memutuskan hubungan kekeluargaan dengan Amanda.”


“Dia berhak mendapatkan sebagian saham di perusahaan itu! Dia sudah banyak berkontribusi pada Rafaldi Group hingga berkembang! Dia menghabiskan waktunya untuk mengabdi tapi lihatlah bagaimana mereka memperlakukannya! Aku tidak akan membiarkan wanita yang kucintai diperlakukan tidak adil seperti itu, ayah!”


 


“Cih! Saat keluargamu sedang menghadapi masalah? Kamu masih berpikir untuk mendapatkan keadilan untuk wanita itu? Pakai otakmu untuk berpikir Gio! Dia tidak pantas!”


“Aku hanya berusaha membantu keluarga kita juga! Jika Amanda berhasil mendapatkan Rafaldi Group maka keluarga Lavani akan semakin kuat, kita bisa menguasai Rafaldi Group! Dengan begitu status kita akan setara dengan keluarga Serkan!”


 


“Fuuuhhhh! Dasar bodoh! Membantu katamu? Kamu justru melukai orang? Kamu bahkan membuat adikmu menderita karena mendapat pelecehan! Aku tidak suka dengan apa yang kalian lakukan! Bagaimana bisa aku memiliki anak seperti kalian yang bertindak bodoh dan ceroboh? Hah?”


PLAAAKKK!


 


Sebuah tamparan sangat keras membuat Gio terlempar kesamping.  Dia bahkan hampir terjatuh dari duduknya, jika dia tidak berpegangan, dia pasti sudah terjerembah ke lantai. Gio mengusap hidung dan bibirnya, darah! Dia berdarah! Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya Yuda Lavani memukulnya. Biasanya apapun yang mereka lakukan selalu mendapat dukungan ayahnya.


 


PLAAAKKK!


Lagi-lagi Yuda melayangkan pukulan ke wajah Johan putra sulungnya. Tamparan itu membuat Johan syok dan berkunang-kunang. Yuda menampar keras kedua putranya yang sudah merusak nama keluarga! Yuda bukan seorang pebisnis yang bersih, dia juga banyak melakukan pelanggaran tapi tidak ada seorangpun yang tahu karena dia melakukannya dengan bersih.


 


Tapi anak-anaknya malah melakukan kebodohan dan kecerobohan seperti ini! Itu akan berdampak buruk pada reputasi keluarga Lavani dan perusahaan mereka.


“Sekali lagi aku peringatkan pada kalian! Jangan bertindak ceroboh dan berdiam dirilah merenungi apa yang sudah kalian lakukan! Pikirkan cara untuk memperbaiki nama baik keluarga Lavani!”


 


Suara Yuda Lavani dalam dan menakutkan, mengekspresikan kemarahannya dari dalam lubuk hatinya. Yuda melangkah meninggalkan kedua putranya itu setelah merasa puas melampiaskan semua amarahnya.


Kini dia harus memikirkan perusahaannya! Dia yakin besok semuanya tidak akan baik-baik saja. Apalagi Dilon Dharsana telah membuat laporan ke pihak berwajib atas apa yang terjadi malam ini.


 


Saat ini Zivanna berada dikamarnya, menangis meratapi nasibnya yang sial! Semuanya sudah mereka persiapkan dengan baik, tapi kenapa jadi seperti ini? Bagaimana bisa orang itu yang berada dikamar? Padahal dia sudah memastikan kalau orang yang dibawa orang suruhannya adalah Emir.


 


Flashback on


“Masuklah! Kita tidak punya banyak waktu!” ujar Emir pada seorang pria yang baru masuk.


“Apakah aku sudah terlihat sepertimu Tuan?” tanya pria itu yang memakai pakaian yang sama seperti Emir dan mempunyai wajah yang sama.


 


‘Ehm….ingat! Bersikaplah sepertiku dan jangan dekati istriku!” ujar Emir penuh penekanan.


“Jangan khawatir! Sesuai dengan rencana kita, Tuan! Terima kasih sudah membantuku.”


“Kamu yang membantuku! Sebaiknya kamu segera pergi! Jangan sampai ada yang merasa curiga.” perintah Emir.


“Baiklah. Aku pamit dulu!” ujar pria itu hendak melangkah pergi.


 


“Dilon! Berhati-hatilah!” Emir kembali mengingatkan.


“Baik. Terima kasih.” ucapnya tersenyum lalu menghilang dibalik pintu.


Sedangkan Emir melangkah menuju pintu penghubung lalu menutup pintu itu dan menguncinya. Ruangan disebelahnya adalah sebuah ruang kerja, diatas meja kerja terdapat komputer yang menyala dan Brian yang duduk di sofa sambil sibuk memperhatikan layar laptop didepannya.


 


“Bagaimana? Semuanya lancar?”


“Iya Tuan! Data yang diberikan Dilon ini----” Brian tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Emir.


“Kenapa?”


“Semua adalah data penggelapan pajak yang dilakukan keluarga Lavani selama ini. Dan ada juga informasi mengenai perusahaan yang mereka akusisi.”


 


“Ehm….bagus sekali! Apa ada yang lainnya?”


“Ada Tuan! Silahkan Tuan lihat sendiri. Ini sangat mengerikan!” ujar Brian mengarahkan laptopnya kedepan Emir yang sudah duduk di sofa.


“Dimana posisi Rino dan yang lainnya sekarang?” tanya Emir.


“Rino memerintahkan sepuluh orang untuk pergi ke daerah terpencil di pengunungan itu Tuan! Mereka ingin mengecek untuk memastikan kalau informasi yang diberikan Dilon memang benar.”


 


Sementara itu, Emir berjalan menuju lift. Sambil menunggu lift dia memainkan ponselnya dan saat pintu lift terbuka tampak dua orang pria keluar dari lift. Emir memasuki lift, saat itu salah satu pria itu menelepon seseorang. “Tuan Emir baru saja masuk ke lift dan menuju ke kamar.”


“Bagus! Apa kalian sudah melakukan apa yang aku perintahkan?”


 


“Sudah Nona! Apakah kami harus mengikutinya ke lantai atas?”


“Tidak perlu! Tunggu saja disana! Aku akan segera kesana. Bersikaplah normal jangan sampai ada yang melihat dan mencurigai.”


“Baik.”


 


Emir membuka pintu kamar 408, dia melangkah masuk dengan tersenyum menutup pintu dibelakangnya. Dia menghela napas panjang lalu berjalan menuju ke kamar tidur. Dia melepaskan jas nya lalu meletakkan di sandaran kursi. Dia melirik air mineral diatas meja lalu meminumnya hingga habis. ‘Semuanya sesuai rencana!’ bisik hatinya lalu membaringkan tubuhnya diranjang.


 


‘Zivanna! Aku mendapatkanmu malam ini! Seperti saudara laki-lakimu yang menghancurkan hidup dan masa depan adikku, aku akan membalas dengan hal yang sama!’ bisik hati Emir aka Dilon Dharsana. ‘Bertahun-tahun aku menunggu hari ini tiba! Akhirnya aku bisa membalaskan dendam keluargaku!’


 


Tak berapa lama dia mendengar suara pintu kamar yang dibuka. Emir memejamkan matanya, dia terlihat seperti orang yang pingsan. Zivanna yang merasa senang pun menyeringai mengetahui kalau mangsanya sudah masuk dalam jebakannya. Hingga terjadilah apa yang memang sudah direncanakan Emir dan Dilon Dharsana.


Flashback off