
Sangat jelas terlihat kalau Reza sangat menyukai wajahnya. Amanda pun segera memeriksa luka-luka Reza dan berkata lembut, “Apakah anjing-anjing itu gila? Bagaimana bisa mereka membuat luka sebanyak ini? Ini benar-benar mengerikan!”
“Ini semua karena Arimbi!” Reza masih takut mengingat kejadian itu lalu menyalahkan Arimbi.
Arimbi melihatnya dikejar dan digigit sekumpulan anjing tapi dia tidak meminta seseorang untuk menghentikan dan mengusri hewan itu.
Reza pasti sudah digigit atau mati kalau bukan karena seseorang dari keluarga Serkan kebetulan keluar dan melihat kejadian itu lalu mengusir anjing kembali. Hal itu sangat menakutkan!
“Arimbilah yang melepaskan anjing-anjing itu!” kata Reza.
Amanda terkejut dan matanya penuh rasa benci saat mendengar ucapan Reza.
“Beraninya dia memperlakukanmu seperti ini? Dia telah menamparmu sebelumnya, dan sekarang dia menggunakan anjing-anjing itu! Meskipun Keluarga Serkan adalah keluarga yang berkuasa, aku tahu mereka takkan melepaskan anjing-anjingnya tanpa alasan! Jadi ini semua perbuatan gadis kampung itu ya?”
“Aku tidak tahu siapa yang melepaskan anjing-anjingnya tapi saat aku meminta bantuannya Arimbi hanya berdiri dan melihat! Kalau Tuan Emir tidak keluar, aku pasti sudah dimakan anjing-anjing itu.”
“Tuan Emir tidak ada masalah denganmu! Dia tidak mungkin melakukan hal itu padamu. Semuanya pasti atas perintah Arimbi sialan itu!”
Ekspresi wajah Amanda terlihat pahit lalu berkata, “Arimbi dan aku sedang saling berebut orang tua kami. Dia adalah anak kandung mereka dan ibuku sekarang sudah membelanya! Kalau sampai dia masuk ke Rafaldi Group dan berhasil merebut kepercayaan ayahku dengan kemampuannya mengelola perusahaan, maka tak akan ada lagi tempat untukku di keluarga itu! Jelas sekali kalau dia kembali untuk merebut semua harta Keluarag Rafaldi!”
Mendengar itu Reza memeluk tubuh Amanda lalu menghiburnya, “Jangan takut dengannya, Amanda! Dia sama sekali tidak sebanding denganmu, meskipun dia kelak bisa masuk ke perusahaan, dia tidak akan bisa sukses dengan kemampuannya. Tapi untuk berjaga-jaga, kita harus segera menjalankan rencanamu!” ujar Reza.
Kemudian Reza mencium pipi Amanda dengan penuh kasih sayang. “Percayalah Amanda! Kita tidak akan pernah gagal. Kalau kita gagal kamu tidak akan memiliki apa-apa! Jika itu terjadi maka hubungan kita akan semakin sulit untuk dilanjutkan karena ibuku pasti menolak!”
Ibu Reza tidak lagi mendukung hubungan mereka setelah mengetahui kalau Amanda bukan anak kandung keluarga Rafaldi.
“Aku tahu! Aku tidak akan gagal. Setelah bekerja bertahun-tahun di Rafaldi Group, aku bisa menendang Arimbi keluar. Omong-omong Reza. Apakah ibumu tahu tentang luka-lukamu?”
“Aku tidak memberitahunya. Kalau sampai ibuku tahu maka dia akan bergegas pergi ke kediaman Serkan dan membuat gaduh! Kita tidak bisa menyinggung keluarga itu.” jawab Reza.
“Selain keluarga Harimurti, siapa lagi di kota ini yang berani melawan mereka?” tanya Amanda.
Dia melirik kaki Reza yang gemetar. Karena sekarang Arimbi dijadikan pelayan oleh Emir, Amanda hanya menunggu akhir kisah kehidupannya saja. Dia sangat yakin kalau Emir akan menendang Arimbi secepatnya setelah puas menyiksanya. Mereka berdua tidak tahu kebenarannya dan Emir bahkan sudah menyusun rencana balas dendam untuk Arimbi.
Setelah mengobrol beberapa saat dan menyusun rencana mereka selanjutnya untuk menjebak Arimbi, Amanda melirik jam tangannya seblum berdiri, “Aku harus pergi skearang Reza! Aku perlu menemani ayahku untuk bertemu klien dan bernegosiasi bisnis siang nanti.”
Seolah tak rela melihatnya pergi, Reza menarik Amanda kembali kedalam pelukannya. Lalu dia mengangkat dagu Amanda dan melahap bibirnya dengan buas.
Amanda membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Saat Reza ingin melanjutkan ke sesi berikutnya, Amanda mendorongnya. “Aku harus pergi sekarang Reza! Jaga dirimu baik-baik. Aku akan membalas dendam pada Arimbi demi kamu.”
Reza mengantarkan Amanda sampai di pintu, “Jangan lakukan apapun pada Arimbi sekarang. Seperti yang kamu bilang tadi, ibumu saat ini sudah memihaknya. Ibumu akan kesal jika kamu bertindak gegabah. Meski ayahmu membanggakanmu, akan buruk jadinya kalau ibumu protes ke ayahmu.”
Amanda juga tahu itu, karena dia mengincar harta kekayaan Keluarga Rafaldi, dia tidak bisa melakukan apapun pada Arimbi setidaknya sementara ini. Amanda perlu melanjutkan sandiwaranya didepan orang tua angkatnya agar dia tetap terlihat sebagai anak berbakti.
“Tentu saja! Aku akan datang dengan ibuku.”
“Baguslah. Sampai jumpa ya.” ucap Amanda. Mereka pun berjalan menuruni tangga ke pintu masuk villa. Setelah mobil Amanda menghilang dari pandangannya, Reza berbalik memasuki villanya.
...******...
Arimbi sudah menghabiskan sepanjang pagi mempelajari lingkungannya bersama Beni. Menjelang siang Beni menerima sebuah panggilan telepon. Arimbi tidak tahu siapa yang meneleponnya. Yang dia lihat hanyalah pria itu menjawab panggilan dengan suara berbisik dan mengakhiri panggilan hanya dalam waktu beberapa menit saja.
“Nona Arimbi.” Beni mengejar Arimbi dan memanggilnya.
“Iya?”
“Rino baru saja menelepon. Dia menyuruhku untuk menyiapkan sebuah mobil untuk mengantarmu ke The Palm Bliss Hotel.”
“Hah? The Palm Bliss Hotel?” mata Arimbi berubah cerah dan setelah memikirkannya sejenak dia berkata. “Beni! Apakah Emir akan mentraktirku makanan lezat?”
Beni sungguh mengagumi pribadi Arimbi yang terus terang. Tak seperti orang lain, Arimbi selalu mengatakan apa yang ada dipikirannay dan tak pernah basa basi.
Selain itu Arimbi juga sangat menyukai makanan, dia tidak pilih-pilih dan nafsu makannya juga besar. Belum lagi tubuhnya selalu dijaga dengan baik, seakan berat badannya tak akan pernah naik meskipun dia makan banyak.
“Rino adalah pengawal Tuan Emir. Semua yang dia ucapkan adalah kalimat Tuan Emir. Jadi sudah pasti kalau Tuan Emir mentraktir anda makan disana.”
“Kudengar kalau makanan di hotel itu sangat luar biasa lezat! Aku telah berencana untuk membawa orang tuaku sebelumnya tapi Emir memintaku kembali supaya merubah gaya rambutku. Sungguh kesempatan yang terlewatkan. Aku tidak menyangka sama sekli kalau dia akan menggantinya begitu cepat!” ujar Arimbi merasa sangat senang.
“Tampaknya Nona Arimbi suka sekali makan.”
“Tentu saja! Aku sangat suka semua makanan. Mulut kita kan diciptakan supaya kita bisa bicara dan makan kan?” ujar Arimbi yang membuat Beni tertawa.
“Hahaha….Nona benar sekali! Saya akan pergi menyiapkan mobilnya sekarang. Apakah Nona bisa berjalan sendiri kembali kerumah?”
“Tentu! Emir akan merobek kulitku kalau aku masih tidak bisa mengenali jalan setelah berjalan sepanjang pagi. Tuanmu itu terlalu kejam dan selalu saja menrundungku!”
“Sebenarnya Tuan memperlakukan Nona dengan sangat bai. Selama bertahun-tahun bersamanya saya tidak pernah melihatnya memperlakukan wanita lain sebaik ini selain Nona Elisha.”
Arimbi pun tiba-tiba teringat dengan “Rencana Hidup Bersama” yang disusun Emir. “Ya sudahlah. Mungkin dia punya sisi baik juga, iyakan?”
“Nona belum menghabiskan banyak waktu dengan Tuan Emir! Nona akan sadar kalau Tuan Emir adalah pria terbaik di Metro.” Beni memuji karena dia akan selalu berada disisi Emir.
Arimbi hanya menanggapi ucapan beni dengan senyuman tanpa mengatakan apapun.