
“Kamu kenapa dari tadi gelisah?” tanya Emir menatap Arimbi yang terlihat mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.”
“Aku mencari Joana! Kenapa dia belum sampai ya?” tanya Arimbi. Dia mencemaskan Joana setelah tahu apa yang dilakukan Dion pada sahabatnya itu.
“Tenang saja, sayang. Dia pasti datang! Kecuali si brengsek itu melarangnya dan mengurungnya.”
“Emir, itu yang kutakutkan! Padahal aku ingin Joana hadir disini.” ucap Arimbi memasang wajah cemberut. Dia tidak menceritakan apapun pada Emir sehingga pria itu tidak tahu jika Arimbi sedang berakting dan terlihat kekhawatiran diwajahnya.
‘Aduh, mudah-mudahan Joana tiba dengan selamat disini! Tapi, bagaimana aku menjelaskan pada Emir nanti? Joana kan memakai topeng wajah?” bisik hatinya sambil melirik suaminya.
Dreeettttt dreeetttt dreeettttt
Ponsel Arimbi bergetar dan ada notifikasi pesan masuk. Dia langsung membaca pesan yang ternyata dari Joana. Senyum pun muncul diwajah Arimbi yang sejak tadi muran.
‘Aku sudah dalam perjalanan kesana. Grace datang bersamaku! Semuanya aman kan disana? Apa kamu melihat Dion atau anak buahnya datang kesana?” pesan Joana.
‘Syukurlah Joana! Aku mengkhawatirkanmu sejak tadi! Tenang saja, pengamanan disini ketat! Dion dan anak buahnya tidak mungkin bisa masuk kesini!’ Arimbi
“Kamu membalas pesan dari siapa?” tanya Emir mengeryitkan dahinya menatap ponsel ditangan Arimbi. “Tidak sopan bermain ponsel!”
“Itu pesan dari Joana. Katanya dia sudah dalam perjalanan kesini.”
“Apa kubilang tadi! Dia pasti bisa keluar dari rumah si brengsek itu! Joana kan licik dan banyak akalnya! Apa Dion mengikutinya?”
“Emir, apa kamu baru saja mengejek atau memuji temanku?”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Menghadapi Dion Harimurti itu tidak mudah. Jika Joana bisa keluar dari rumahnya dengan aman, itu berarti dia seorang yang licik dan banyak akalnya iyakan? Atau….jangan-jangan kamu yang sudah mengatur semuanya, hem?”
“Ehmm……aku memberikan topeng wajah pada Joana! Jadi meskipun Dion dan anak buahnya mencarinya, mereka tidak akan mengenali Joana.” kata Arimbi menjelaskan.
“Sayang, jangan marah ya? Dia sahabatku satu-satunya! Aku tahu betapa tersiksanya dia bersama Dion! Pria itu posesif sekali dan hanya mengijinkan Joana pergi keluar kalau bersamanya.”
“Dia pasti melarang Joana datang ke pesta kita, iyakan? Dasar laki-laki pengecut!”
“Emir sayang, apakah kamu juga akan melarangku datang ke pesta pertunangan Joana nanti?”
“Apa menurutmu Joana dan Dion akan tetap bertunangan setelah ini? Aku tidak yakin itu! Aku tidak tahu apa yang membuat sahabatmu itu tergila-gila pada Dion!” Emir berdecak. “Sudahlah sayang. Ini hari bahagia kita, jangan cemberut begitu.” bujuk Emir.
...*****...
“Tuan, ini adalah pakaian Nona Joana yang dipakainya tadi.” ucap kepala pelayan menunjukkan pakaian yang sudah terbakar dan masih ada tersisa sedikit yang utuh. Dion memicingkan matanya menatap baju itu. Dia mengenal betul baju itu karena dia yang membelinya untuk Joana.
“Periksa semua ruangan ini! Panggil ahli forensik!” perintah Dion dengan wajah gelap.
“Kalian! Pergilah ke kediaman keluarga Ganesha dan cari tahu jika Joana ada disana! Dan kalian berdua pergi ke hotel tempat pesta pernikahan Emir diadakan!”
Wajah Dion semakin menggelap. Tidak! Joana pasti masih hidup, pikirnya. Wanita seperti itu tidak akan mengkahiri hidupnya begitu saja. Dia tahu Joana adalah seorang wanita yang ceria dan penuh semangat menjalani hidupnya. Mana mungkin tipe wanita seperti itu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Ini tidak baik untuk Dion karena semua orang tahu Joana adalah wanitanya.
‘Aku harus memeriksa seluruh isi kamar ini. Biarkan tim forensik memeriksa apakah ada sisa abu tubuh Joana atau tidak! Jika dia memang masih hidup, aku akan mencarinya meskipun ke ujung dunia sekalipun! Kalau dia bersembunyi didalam tanah sekalipun aku akan menemukannya! Dia adalah milikku! Selamanya dia menjadi milikku.’ gumam hatinya.
...*******...
Grace dan Joana memasuki hall tempat acara diadakan. Senyumnya sumringah saat melihat sahabatnya diatas pelaminan. Joana menarik tangan Grace sambil berkata, “Ayo kita kesana! Pasti Arimbi sudah menunggu kita sejak tadi.”
“Eh, pelan-pelan jalannya. Semua orang melihat kearah kita.” bisik Grace yang menyadari pandangan orang kearah mereka.
Joana yang menyadari pun langsung memperlambat langkahnya dan berjalan dengan angggun. ‘Aduh, hampir saja aku mempermalukan diriku! Aku kan pakai topeng wajah, sebaiknya aku bersikap anggun dan berkelas! Bukannya malah bersikap seperti Joana, bisa-bisa nanti aku ketahuan kalau sampai ada yang mengenaliku!’ bisik hatinya.
Sedangkan Arimbi yang melihat Joana dan Grace berjalan kearah pelaminan, tak sabar dan tersenyum. “Akhirnya kalian datang juga.” ujarnya memeluk Grace yang berada didepannya lalu melirik kearah Joana dan berkata, “Aduh Joana, kamu cantik sekali!”
Emir yang mendengar pun langsung menatap Joana dengan mengerutkan dahinya.
“Sssttt……namaku Kimberly! Bukan Joana! Ingat itu.” Joana memperingatkan Arimbi yang keceplosan memanggil namanya.
“Hahaha….Kimb----? Kimberly?” Arimbi mencubit pipi Joana dengan gemas. “Sepertinya nama itu cocok juga denganmu! Tapu kamu harus bersikap lembut layaknya wanita kelas atas.”
“Apa orangtuamu tahu kamu ada disini?” tanya Emir menatap tajam pada Joana. “Kenapa kamu tidak menyapa kedua orang tuamu, hem?”
“Tuan Emir, aku mohon jangan mengatakan apapun ya? Aku juga terpaksa berpenampilan seperti ini, kalau tidak aku tidak bakal bisa datang kesini! Dion mengurungku di kamar.” ujar Joana.
“Selesaikan masalahmu sendiri! Jangan libatkan Arimbi!” Emir memberi penekanan dengan tegas.
“Sayang, bagaimana kalau kita duduk saja. Acaranya masih lanjut kan?” bujuk Arimbi tak mau Emir memarahi Joana. “Kalian duduk saja dan nikmati pestanya ya. Nanti kita bicara lagi.”
“Baiklah, sayangku! Semoga kalian berdua bahagia selamanya sampai maut memisahkan!” ucap Grace dan Joana. Lalu mereka meninggalkan pelaminan dan mencari tempat duduk.
Joana yang merasa was-was terus-terusan melirik kearah tamu undangan, ingin memastikan jika Dion ataupun pengawalnya tidak ada yang datang.
“Hei, bersikap tenanglah! Kalau kamu celingukan begitu malah bikin orang-orang curiga nanti.” Grace memperingatkan Joana. “Sekarang nikmati saja pestanya dan makan sepuasnya. Karena kamu butuh tenaga untuk melarikan diri setelah ini.”
Grace menggoda Joana, mereka sepakat memanggilnya Kimberly! Tak terasa acara pesta berlangsung dengan meriah dan Dion maupun pengawalnya tak nampak hadir disana. Hal ini membuat Joana menghela napas lega. Namun dia masih belum sepenuhnya merasa aman. Bagaimanapun dia harus memikirkan langkah selanjutnya.
“Grace! Apa menurutmu Dion percaya kalau aku terbakar dikamar itu?” bisiknya pelan.
“Aku tidak tahu pasti. Tapi ada dua kemungkinan, bisa saja dia percaya kamu ikut terbakar. Tapi bagi pria sepintar Dion tidak akan semudah itu percaya. Maka yang kedua, dia mungkin akan menyelidiki! Jika dia tidak menemukan keberadaanmu maka dia akan mencarimu.”
“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau aku pergi ke luar negeri, pasti dia akan tahu! Dia bisa saja melacak bukan? Tapi untuk sementara waktu aku harus pergi dan bersembunyi dulu.”
“Apa kamu masih berpikir akan kembali pada Dion?” tanya Grace memperhatikan ekspresi wajah Joana. Dia tahu kalau temannya itu menyukai Dion sejak lama.