
Zivanna menggoda kakaknya kemudian dia kembali fokus memakai riasannya. Sementara itu kedua putri Keluarga Rafaldi tidak banyak bicara saat dalam perjalanan menuju ke perjamuan. Saat mereka hampir tiba di tempat itu, Amanda akhirnya bertanya, “Arimbi, hadiah apa yang akan kamu berikan pada Zivanna?”
Arimbi melihat hadiah yang diletakkan Amanda disebelahnya, ia lalu mengangkat perlengkapan rias yang sudah dia siapkan untuk hadiah dan berkata, “Aku tidak tahu hadiah apa yang dia suka jadi aku menghadiahkannya perlengkapan rias.Wanita suka merias wajah jadi aku tidak mungkin salah memilih hadiah untuknya.”
Mendengar itu, Amanda langsung memberinya lirikan mengejek sambil tersenyum, “Ya, perempuan biasanya suka merias wajahnya dan produk perawatan kulit. Itu sudah benar.”
“Nona-nona, kita sudah sampau di Villa Lavani. Tapi ada banyak mobil dan kita harus mengantri untuk bisa masuk kesana.” ucap supir tiba-tiba pada kedua wanita yang duduk di jok belakang.
Amanda membuka jendelanya dan melihat kearah pintu masuk Villa Lavani.
Gerbangnya sudah terbuka lebar tapi hanya dua mobil sekaligus yang bisa masuk. Ada begitu banyak tamu yang datang malam ini. Jadi mau tak mau mereka harus mengantri.
Meskipun begitu, petugas keamanan Keluarga Lavani memberikan arahan di pintu masuk jadi mereka tidak perlu menunggu lama. Tak lama setelahnya giliran mobil mereka untuk masuk.
Parkiran mobil luar ruangan di halaman Villa Lavani sangat besar dan luas jadi cukup tempat bagi semua tamu untuk memarkirkan mobil mereka. Arimbi melihat suasana ini dengan tatapan dingin.
Di kehidupan sebelumnya dia tidak tinggal di Villa Serkan jadi dia tidak tahu sebesar apa Villa keluarga itu. Oleh sebab itu saat dia mengikuti Amanda kesini, dia terpana akan betapa besarnya Villa Lavani. Amanda pernah menghinanya karena dia tidak tahu apa-apa. Dia bilang wawasan Arimbi terlalu sempit
Tapi kini dikehidupan kedua ini, Villa Lavani sama sekali tidak membuatnya terpana karena tidak ada apa-apanya dibandingkan Villa Keluarga Serkan dimana Arimbi tinggal sekarang. Dia pun tersenyum sinis, mengingat semua kejadian di kehidupan sebelumnya. Dan malam ini semuanya sama, terulang kembali tapi yang berbeda adalah Arimbi. Malam ini adalah awal balas dendamnya pada semua orang.
Mobil mereka sudah diparkir ketika Arimbi melihat pria tinggi bersetelan jas hitam berjalan kearah mereka. “Amanda!”
Gionino berjalan mendekat dan membuka pintu mobil untuk Amanda sambil tersenyum berkata, Akhirnya kamu sampai juga. Zivanna sudah menunggumu sejak tadi.”
“Gio? Apa aku sudah terlambat ya?” ucap Amanda dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Bagi Gionino, Amanda adalah wanita sejati. Dia berbicara dengan lembut dan tersenyum sempurna. Senyumnya sangat menarik dan tidak berlebihan. Sementara itu Arimbi membuka pintu dan keluar dengan sendirinya. Saat dia melirik Gionino, dia sadar bahwa perhatian pria itu terpaku pada Amanda.
Dia menyadari bahwa pria itu adalah salah satu pengagum Amanda. Dia memikirkan semua sikap Amanda di kehidupan sebelumnya. Amanda mengabaikan pria sebaik Gio demi pria brengsek seperti Reza sebagai kekasihnya.
Apakah Amanda sengaja melakukan itu untuk menghina Arimbi? Arimbi melihat ke sekelilingnya, dengan hadiah ditangannya dia menghampiri Amanda dengan tenang dan menunggu percakapan dua orang itu selesai.
Saat Gio melihat Arimbi menghampiri mereka, pria itu meliriknya. Dan lirikan itu mengejutkan Arimbi. Gio menyukai Amanda jadi tentu saja Gio pernah bertemu dengan Arimbi. Seingat Gio, Arimbi memang cantik tapi terlalu polos.
Meskipun dia memakai mahkota, Arimbi tidak akan pernah terlihat seperti bangsawan. Tetapi, saat Gio bertemu dengan Arimbi lagi malam ini, dia benar-benar syok dan terpana dengan Arimbi yang tampil sangat cantik dengan pancaran aura bermartabat dan anggun.
“Nona Arimbi juga datang.” sapanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita cantik itu.
“Aku dengar kamu bekerja sebagai pelayan Keluarga Serkan. Apakah kamu pembantu cuma-cuma Emir?” ujarnya sarkas.
Arimbi yang sempat berpikir kalau Gio adalah pria yang terhormat tapi setelah mendengar ucapannya kesan itu pun langsung hilang.
Arimbi kembali tersenyum dan berkata, “Apakah aku tidak berhak menghadiri perjamuan Keluarga Lavani karena aku pelayan Emir?”
“Bukan begitu! Aku hanya berandai-andai kenapa tiba-tiba kamu mau menjadi pembantu cuma-cuma untuk Emir.” ucapnya lagi dengan senyum mencibir.
Arimbi menatap Gio dengan senyum simpul dan saat itu juga Gio merasa canggung, ada sesuatu didalam diri Arimbi yang langsung membuatnya tertekan.
“Kamu sudah tahu jawabannya. Jadi kenapa pura-pura tidak tahu? Apakah kamu ingin mempermalukanku dengan bertanya padaku tentang hal itu disini? Lihatlah...banyak tamu sedang parkir dan keluar dari mobilnya disini. Mereka semua mendengar pertanyaanmu. Apakah pantas seseorang yang berasal dari keluarga kaya bersikap tidak sopan dan tidak hormat pada orang lain hanya karena status dan kekayaan mereka?”
Arimbi semakin bersemangat ingin memusnahkan keangkuhan orang-orang kaya yang tak bermoral itu, “Jadi begini rupanya Keluarga Lavani memperlakukan tamunya? Bagus sekali! Wow...luar biasa! Aku tak menyangka kalau keluarga terhormat tidak tahu cara menghargai orang lain. Harta dan kekayaan tidak berarti apa-apa tanpa hati nurani!”
Kata-kata Arimbi penuh dengan sarkasme, tatapan Gio mulai dingin terhadapnya. Belum lama sejak dia terakhir bertemu dengan Arimbi tapi wanita itu sudah berubah drastis. Bukan hanya penampilannya saja yang berubah tapi sikapnya juga. Orang udik ini berani menghinanya soal perlakuannya kepada tamu diwilayahnya sendiri. Sangat berani!
Tapi Gio tersenyum, pura-pura menunjukkan sikap menyesal, “Aku hanya penasaran Nona Arimbi. Bukan maksudku menyinggungmu. Jika aku telah menyinggungmu aku akan minta maaf.”
Arimbi menegakkan tubuhnya. “Kalau begitu minta maaflah padaku sekarang! Karena kamu memang sudah menyinggungku. Setidaknya tunjukkan sikapmu sebagai seorang pria sejati yang terhormat. Jangan buat orang-orang melihatmu rendah karena sikapmu tidak sesuai dengan statusmu.”
Gionino tercengang. Arimbi ini dingin, seperti pembunuh berdarah dingin.
“Arimbi.” dengan cepat Amanda ikut campur dan berkata, “Gio hanya penasaran saja. Dia tidak punya maksud apapun dengan mengatakan itu padamu. Sudahlah jangan diperpanjang lagi.”
Lalu Amanda menatap Gio dan tersenyum, “Zivanna ada didalam kan Gio? Tolong antar aku untuk menyapa gadis yang berulang tahun. Aku ingin melihat seberapa cantik dia.”
Amanda berniat untuk menghentikan perdebatan dan meredam ketegangan yang terjadi agar Gio tidak perlu meminta maaf pada Arimbi didepan umum. Ini sangat memalukan dan tak pantas. Tapi---
“Kamu menyinggung seseorang dan berkata bahwa kamu akan meminta maaf. Ternyata tidak! Perlakukanmu pada tamu tiada duanya, sungguh hebat!”
Suara dingin seorang pria terdengar tiba-tiba menyela mereka. Semuanya berpaling untuk melihat siapa yang bicara.
Ternyata itu adalah Dion Harimurti! Dia baru saja keluar dari mobilnya. Tak peduli kemanapun Dion Harimurti pergi, selalu ada banyak orang disekitarnya. Dia memimpin lebih banyak kerumunan daripada Emir karena Emir selalu bersama beberapa pengawal tambahan dan dia tidak bisa banyak bergerak. Dengan banyaknya pengawal, Dion Harimurti menghampiri mereka.