GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 346. SEDIKIT PERHATIAN


Tak ada yang lebih senang dengan kekacauan malam ini selain Arimbi! Tapi ini baru permulaan, dia sudah merencanakan kejutan lainnya. Dia menoleh menatap Emir yang sedang menatapnya.


“Ada apa? Tidurlah!?” ujar Emir memeluk Arimbi.


“Sayang, kenapa pria itu memakai topeng wajahmu? Darimana dia mendapatkan topeng itu?”


“Aku tidak tahu. Sudahlah, kamu pasti lelah sebaiknya istirahat dan jangan pikirkan hal itu lagi.”


 


“Bagaimana aku tidak memikirkannya? Kamu tahu bagaimana perasaanku saat aku masuk ke kamar itu dan melihatmu terbaring tanpa mengenakan apapun? Dan melihat Zivanna dalam keadaan polos seperti itu? Kamu hampir membuatku kena serangan jantung! Itu tidak sesuai rencana!”


 


“Sesuai atau tidak yang penting kita sudah mendapatkan apa yang kita mau malam ini! Amanda tidak akan bisa mendapatkan dukungan dari keluarga Lavani lagi! Tunggu saja besok bagaimana reaksi ayah dan ibumu setelah mengetahui kebenaran tentang rencana Amanda dan keluarga Lavani!”


 


“Amanda! Dia terlalu berambisi! Tak berpikir jika itu hanya akan menghancurkannya.”


“Arimbi! Sampai berapa lama kamu masih akan membahas masalah itu? Ini sudah jam sebelas malam! Tidurlah! Anak kita juga pasti lelah.” ucap Emir mempererat pelukannya.


“Emir?”


“Ehm?”


 


“Joana dan Dion?”


“Jangan campuri urusan mereka! Sepertinya sahabatmu itu menyukai Dion! Fuuuh! Apa yang dia lihat pada pria itu? Dia bahkan rela mengorbankan dirinya untukmu!”


“Mungkinkah Dion…..?”


“Sssstttt…...kalau kamu masih bicara dan tidak mau tidur! Aku akan membuatmu tidak tidur sampai pagi.” ancam Emir yang langsung membuat Arimbi membungkam mulutnya.


 


Emir memejamkan matanya namun Arimbi kesulitan untuk tidur. Dia masih teringat kejadian dikamar 408 saat Dion menarik dan memeluk Joana. Disatu sisi dia merasa senang jika Joana bisa melunakkan hati Dion.


‘Kenapa sikap Dion biasa saja ya? Kami sudah mengambil seratus milyar uangnya tapi dia tidak menyinggung masalah uang itu? Atau, jangan-jangan dia sengaja mendekati Joana untuk membalas dendam?’


'Apa-apaan tadi itu? Dia mencium Joana lalu saat di kamar dia bahkan menghentikan Joana dengan memeluknya. Apakah dia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada Joana?'


'Ck! Orang seperti Dion tidak mungkin merasa bersalah! Pria itu bahkan tidak mau bertanggung jawab dan lebih memilih membayar ganti rugi. Cih! Menyebalkan. Tapi, setidaknya dia tidak menggangguku lagi." bisik hati Arimbi.


 


Arimbi melirik Emir yang sudah pulas, napasnya teratur membuat Arimbi berdecak, ‘Enak sekali dia tidur! Aissss…...Besok aku harus bicara dengan Joana! Dion bukan orang yang bisa dipercaya! Pria itu licik sekali, jangan sampai kejadian seperti waktu itu terjadi lagi.’ bisik Arimbi dihatinya.


 


Dia pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Butuh waktu agak lama hingga akhirnya dia pun terlelap. Senyum muncul diwajahnya seolah satu beban sudah lepas dari bahunya.


 


*******


BRAAAKKK!


Layla Serkan memukulkan tongkatnya membuat Yaya terkejut. Pagi ini Layla Serkan mendapatkan berita apa yang terjadi pada perjamuan bisnis tadi malam. Sinar matanya menyiratkan kemarahan.


"Berani sekali mereka melakukan itu!"


"Apa yang akan Nyonya Besar lakukan pada keluarga Lavani?" tanya Yaya pelan.


"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka! Zivanna! Cih! Kupikir dia wanita baik-baik dan bermartabat! Untung saja dia menjauhi cucuku setelah dia lumpuh." geramnya.


“Yaya! Antar aku ke villa Emir.”


 


“Baik Nyonya Besar.” ucap Yaya yang langsung menggikuti Layla Serkan. Dia berjalan dibelakang wanita tua itu menuju ke villa Emir.


“Yaya! Bagaimana kandungan Arimbi?”


Yaya agak terkejut tiba-tiba Layla Serkan menanyakan soal Arimbi. “Ehm, baik-baik saja Nyonya Besar. Sepertinya Tuan Muda Emir yang menggantikannya ngidam.”


 


“Menurut pelayan di villa Tuan Muda Emir mengalami morning sickness. Sepertinya calon bayinya sangat menyayangi Tuan Muda.” jawab Yaya menjelaskan.


“Ehm…..persis seperti kakeknya dulu! Saat aku mengandung Alarik!” sudut bibir Layla Serkan terangkat. “Tapi, kenapa aku melihat tubuh Arimbi agak kurus?”


 


Yaya kembali mengeryitkan dahinya, ‘Apakah Nyonya Besar memperhatikan Nyonya Arimbi selama ini? Aku bahkan tidak melihat perubahan apapun pada tubuhnya.’ bisik hati Yaya.


“Mungkin pengaruh kehamilannya, Nyonya Besar! Dia juga bekerja setiap hari, bisa juga itu yang membuat tubuhnya sedikit kurus.”


 


“Ehm…..buatkan dia sup dan makanan sehat!” ucap Layla Serkan. “Jangan katakan itu atas perintahku.” ujarnya menambahkan. Dia tidak mau Arimbi menjadi besar kepala karena mengira jika dia sudah menerimanya sebagai cucu menantu.


“Baik Nyonya Besar.”


 


“Selamat pagi Nyonya Besar.” sapa seorang pelayan yang menyambut kedatangan Nenek Serkan di villa kediaman Emir.


“Dimana Emir?”


“Mari saya antarkan ke pavilliun. Tuan Muda dan Nyonya sedang sarapan disana.” jawab pelayan itu.


 


“Selamat pagi Nyonya Besar.” sapa Beni yang melihat Layla Serkan memasuki paviliun membuat Emir dan Arimbi mengangkat wajah mereka. Arimbi berusaha tersenyum menatap nenek mertuanya.


“Selamat pagi Nenek.” sapa Emir.


“Selamat pagi Nenek.” sapa Arimbi. “Silahkan duduk, Nek. Apakah nenek mau sarapan bersama kami?” tanya Arimbi dengan sopan namun tak mendapat respon dari Layla Serkan.


 


Arimbi tak melanjutkan makannya, menunggu pelayan membawakan piring dan secangkir teh untuk Layla Serkan.


“Kenapa kamu tidak lanjutkan makanmu? Apa kamu kehilangan selera karena kedatanganku?” ujar Layla Serkan pada Arimbi.


“Bukan begitu nenek. Aku menunggu nenek. Rasanya tidak sopan jika aku makan duluan.”


 


“Emir, kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?”


“Tidak nek. Aku hanya merasa sedikit mual.”


“Ehm…..ada yang mau kamu makan?”


“Tidak. Aku baik-baik saja, nanti aku akan makan setelah mualnya hilang.” jawab Emir.


 


Emir menatap neneknya yang mulai menyuapkan makanan. Dia merasa sedikti heran dengan kedatangan neneknya pagi ini. Tidak biasanya Layla Serkan datang dan sarapan di villa Emir.


Apalagi sejak kehadiran Arimbi, Layla Serkan selalu membuat masalah untuk Arimbi. Tapi, pagi ini sikap Layla Serkan masih dingin dan ketus tapi dia tidak menyerang Arimbi seperti biasanya.


 


Hal ini membuat hati Emir merasa lega. ‘Ada apa dengan nenek? Tumben dia sarapan disini?’


“Ada apa nenek tiba-tiba datang kesini?” tanya Emir.


“Apa aku sudah tidak bisa datang kesini? Sejak kapan ada larangan dimana aku harus makan?”


Arimbi yang juga merasakan sikap Layla Serkan pun meliriknya diam-diam.


‘Kenapa dia? Biasanya dia memarahiku dengan kata-katanya yang tajam dan kejam. Dia malah makan dengan santainya? Kesambet apa nenek?’ bisik hati Arimbi.


 


“Nenek, apakah nenek mau mencoba ini? Aku yang membuatnya.” ucap Arimbi menawarkan grilled salmon yang dibuatnya. Tadi dia memang sengaja bangun awal untuk membuat grilled salmon karena dia teringin. Tak ada jawaban dari Layla Serkan namun dia menatap makanan yang disebutkan Arimbi.


 


Arimbi mengambil sepotong Grilled Salmon dan meletakkan dipiring Layla Serkan. “Coba ini ya enak. Ikan salmonya masih fresh, jadi rasanya enak sekali. Aku bangun awal untuk membuat ini.” ujar Arimbi tersenyum saat melihat Layla Serkan tidak menolak dan tidak mengatakan apapun.