
Arimbi dengan cepat mengangguk dan mengeluarkan ponselnya untuk memblokir nomor telepon Dion. Ketika Emir melihat bahwa dia telah selesai melakukannya, cahaya licik melintas dimatanya. Dia juga tahu cara menghancurkan seseorang!
“Emir! Bagaimana jika aku tidak sengaja bertemu dengannya?”
Emir bertanya dengansuara dingin, “Apa kamu masih memerlukan aku untuk memberitahumu?”
Arimbi tersenyum canggung. “Jika aku berkelahi, aku mungkin tidak akan bisa mengalahkan Dion. Bagaimanapun dia punya banyak pengawal. Tapi jika satu alwan satu atau lawan dua aku mungkin masih bisa menang bertarung. Tetapi aku tidak mungkin menang melawan sekelompok orang.”
Arimbi menghembuskan napas panjang. Lalu Emir berkata lagi, “Arimbi, kamu wanita yang sangat pintar. Jangan pura-pura bodoh dihadapanku.” Emir mencubit pipinya dengan gemas.
Ketika Arimbi menghadapnya, tiba-tiba Emir menekannya ketanah dan menutupinya dengan tubuhnya dan dengan angkuk meraup bibirnya.
Ini adalah ciuman yang menghukum dan posesif. Pria itu tidak lembut sama sekali. Arimbi merasa seperti anjing yang sedang menggigitnya. Butuh beberapa saat sebelum dia melepaskan Arimbi dan berdiri sendiri.
Arimbi masih terbaring di tanah dan menenangkan dirinya sebentar sebelum dia berbalik dan berdiri juga. Dia menyentuh bibirnya yang digigit dan berdarah lalu berkata pada Emir,
“Kamu selalu mengatakan bahwa aku adalah seekor anjing, tetapi malah kamu yang jadi anjingnya.”
“Aku laki-laki dan kamu perempuan. Kita bisa membuat sekawanan bayi.”
Arimbi hampir menggigit lidahnya, “Emir, apakah kamu benar-benar menganggap dirimu seekor anjing? Apa maksudmu membuat sekawanan bayi? Apakah kamu sudah siap untuk melakukannya? Tadi pagi kita tidak melakukannya. Mungkin kalau aku punya bayi bersamamu maka Dion akan berhenti mengejarku. Ah….Emir…..ayo kita buat bayinya! Kita harus lebih sering lagi melakukannya biar bayinya cepat tercetak!”
Emir menjentikkan jarinya dikening Arimbi membuat wanita itu meringis, “Ayo kita berangkat.”
“Hah? Kemana?”
“Memangnya kamu si tukang makan tidak kelaparan?” Emir memelototinya.
“Iya, aku kelaparan. Kupikir kamu mengajakku membuat bayi.”
“Lalu kenapa kamu bertanya kita mau pergi kemana?”
Arimbi tersenyum genit dan membantunya duduk kembali di kursi roda lalu mendorongnya keluar. Begitu saja, hubungan mereka yang sempat tenggelam dalam kekacauan kembali berjalan mulus. Hidup itu seperti lautan luas, kadang bisa tenang tapi dilain waktu bisa bergejolak.
...*********...
Sementara itu dikediaman Harimurti, tampak Dion yang merasa kesal karena apa yang di inginkannya tidak didapatnya. Arimbi terus saja menolaknya, kini dia harus memikirkan cara lain agar Arimbi bisa berada disisinya. Dia ingin mendapatkan bayinya jadi dia harus segera mendapatkan ibu bayinya.
Dion melemparkan ponselnya keatas meja kopi ketika dia tidak menerima balasan apapun dari Arimbi setelah dia menunggu cukup lama. Baru saat itulah seorang pengawal berjalan masuk. “Tuan.”
Dion mengangkat kepalanya dan pengawal itu berkata dengan hormat, “Putri keluarga Ganesha diam-diam mengambil foto anda dan menyebarkannya kemana-mana Tuan.”
“Joana?” gumam Dion. Joana Ganesha adalah teman baik Arimbi. Ketika Arimbi pertama kalinya masuk ke masyarakat kelas atas, semua orang menjauhinya dan mengejeknya.
“Kapan dia memotretku?” tanya Dion saat dia terpikirkan sesuatu. Dion bahkan tidak menyadari kalau gadis itu memotretnya. ‘Aku harus memberinya acungan jempol pada kemampuannya diam-diam mengambil gambar. Sungguh suatu kerugian besar bagi industri deteftif swasta jika Joana tidak menjadi salah satu detektif, dia pasti melakukannya dengan baik.’ bisik hatinya.
“Dua hari yang lalu, Tuan.”
“Dimana Joana sekarang?”
“Di kediaman Ganesha, Tuan.”
Sebuah kilatan licik berkedip dimata besar Dion. Dan dia dengan suara dingin memerintahkan, “Pergilah ke kediaman Ganesha dan undang Joana kesini. Ingat! Kamu harus mendapatkan kembali semua foto-fotoku!”
Jika Joana jatuh ketangannya, dia tidak perlu khawatir lagi Arimbi tidak akan datang padanya. Arimbi…..jangan salahkan aku karena begitu berbahaya. Aku hanya ingin bayiku!
...************...
Di waktu yang bersamaan di dalam villa Keluarga Lavani.
“Johan! Apa kamu akan membiarkan saudarmui sengsara begitu saja?” Zivanna memeluk Johan, anak tertua Keluarga Lavani dari belakang. Dengan suara memelas berkata, “Bahkan anak pinggiran seperti Arimbi berani memperlakukan saudarimu seperti ini. Kamu bahkan sudah mendeklarasikan dirimu sebagai orang terkuat di Metro, dan selain Elisha, akulah wanita yang paling berharga di Metro.”
“Jadi kamu sudah pasti akan mencintaiku, melindungiku dan memanjakanku. Tapi sekarang aku diremehkan oleh Aarimbi dan kamu tidak mau membantuku.”
Setelah mendengarkan itu, Johan melihat kearah saudarinya dan bertanya, “Kamu meminta bantuanku yang bagaimana? Biasanya kamu bisa menangani orang-orang yang meremehkanmu sendirian.”
“Jadi untuk apa aku ikut campur sekarang?” ujar Johan yang merasa heran dengan sikap lemah saudarinya itu. ‘Arimbi hanya anak dari keluarga Rafaldi, kenapa Zivanna tidak bisa menangani wanita seperti itu sendirian? Sampai-sampai dia meminta bantuan kakak-kakaknya? Ada apa ini sebenarnya? Seberapa buruk perlakuan wanita itu pada Zivanna?’ bisik hati Johan.
Zivanna memasang wajah cemberut penuh iri pun berkata, “Itu semua karena dia berada didalam Villa Keluarga Serkan. Johan, kamu sendiri kan tahu bagaimana temperamen Tuan Emir. Tak peduli bagaimana dia memperlakukan Arimbi, hanya dia saja yang berhak melakukan itu kepadanya. Jika dia tidak keluar dari Villa Keluarga Serkan, aku tidak mungkin bisa menangani dia tapi aku sudah tidak bisa bersabar dan menunggu lebih lama lagi.”
Johan pun berpikir sejenak sebelum memberikan sarannya, “Aku ada ide. Bagaimana kalau aku memaksa Rafaldi Group untuk mengeluarkan Arimbi dan membuatnya meminta maaf kepadamu. Bagaimana?”
“Saat ini Amanda adalah wakil direktur Rafaldi Group. Jika kamu menghancurkan mereka, Amanda pasti akan mendatangi dan memohon kepadaku. Aku sudah berteman dengannya cukup lama dan aku benari-benar menganggapnya sebagai teman. Lagipula, Gio mempunyai perasaan pada Amanda. Jika Amanda memohon pada Gio, apakah Gio bisa membiarkan itu semua terjadi?”
Setelah berpikir sejenak, Zivanna melanjutkan. “Johan, mari kita lakukan saja seperti rencanamu. Ayo kita hajar Rafaldi Group habis-habisan sampai mereka bangkrut."
"Dengan begitu kita pasti bisa menghajar Arimbi dan memberinya pesan kalau dia berani macam-macam dengan kita maka keluarganya akan menanggung akibatnya. Setelah itu orang tuanya pasti akan kecewa dengan Arimbi dan kita bisa semakin mendekatkan Amanda dan Gio.”
Ketika keluarga Lavani selesai menghancurkan Rafaldi Group, Amanda pasti akan mendekatinya dan Gio. Itu akan memberikan kesempatan pada Gio. Saan Yadid dan Mosja mulai membenci Arimbi atas perbuatannya, mereka akan memihak Amanda yang sudah mereka besarkan dan yang pastinya lebih bertanggung jawab untuk menjadi penerus perusahaan Rafaldi Group.
Jika ini berhasil, maka jalan Amanda menuju ke puncak dan mengambil alih Rafaldi Group akan terjadi lebih cepat. “Baiklah aku akan membantumu.” mata Johan bersinar.
Itu adalah alasan yang bagus untuk mengambil alih Rafaldi Group dan mengubahnya menjadi perusahaan dibawah Lavani Indoraya dan membuat Keluarga Lavani menjadi semakin kuat.