
“Bagaimana Arimbi? Enak masakan ibu mertuamu?” tanya Alarik pada menantunya yang sedang menyantap makanan buatan Rania. Arimbi mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.
Sedangkan Rania memasang wajah cemberut. Hari ini dia benar-benar disiksa oleh suami dan ibu mertuanya serta menantunya. Dia sudah memasak dua jenis makanan tapi Layla Serkan malah protes dan memintanya menambah beberapa menu lagi.
Rania yang sudah lama tidak masuk dapur pun kelelahan mempersiapkan makanan untuk menantunya. Menatap wajah Arimbi yang tersenyum sambil menikmati makanannya membuat Rania mendengus kesal.
‘Enak sekali dia makan! Aku memasak itu semua berjam-jam! Issss…...kenapa tempo hari aku tidak pergi ke luar negeri saja? Tidak bakalan ada yang memintaku pulang kalau aku di luar negeri.’
“Bu, terima kasih ya makanannya. Semuanya enak, aku suka sekali!” ucap Arimbi tersenyum. Semua makanan sudah disantapnya sampai habis.
“Sudah….sudah! Jangan sungkan Arimbi. Rania akan masak apa saja yang kamu suka, iyakan istriku?” ujar Alarik melirik Rania yang hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk. Dia teringat ancaman suaminya jika tidak menurut maka dia akan diceraikan.
“Bagaimana persiapan pesta pernikahan kalian?” tanya Alarik menatap putranya.
“Sudah dipersiapkan semua, hanya menunggu hari H nya saja. Minggu depan perancang gaun pengantin akan datang. Kita mau fitting gaunnya minggu depan.” ujar Emir. Dia menatap Arimbi dan melirik kearah perut istrinya.
“Bagus itu! Secepatnya harus diadakan pesta pernikahan, karena semua orang sudah tahu tentang status kalian. Lagipula ini saat yang tepat! Keluarga Lavani sedang sibuk dengan urusan mereka, tidak akan mengganggu pesta pernikahan kalian.” jawab Alarik.
“Tenanglah ayah. Keluarga itu tidak akan pernah bisa mengganggu lagi. Saat ini mereka sedang sibuk menangani begitu banyak masalah yang menghantam perusahaannya.” ujar Emir tersenyum tipis.
“Maksudmu? Memangnya perusahaan mereka sedang ada masalah?” tanya Alarik tak percaya karena selama ini perusahaan keluarga Lavani berdiri kokoh dan tak pernah terlibat masalah apapun.
Namun barusan Emir mengatakan kalau perusahaan itu sedang dihantam masalah bertubi-tubi? Rasanya sangat aneh dan mencurigakan, sebenarnya sejak lama Alarik mensinyalir ada yang tidak beres dengan perusahaan milik keluarga Lavani yang hanya dalam waktu singkat bisa berdiri kuat dan tak tergoyahkan. Hanya Serkan Group saja yang tidak bisa mereka tandingi karena kepiawaian pemimpin Serkan Group selama ini.
“Apa ayah tahu, bisnis apa yang sebenarnya mereka jalani selama bertahun-tahun untuk mendapatkan dana segar? Kalau keluarga Lavani berbisnis biasa dan tidak terlibat permainan kotor, menurut ayah apa mungkin mereka bisa sekuat itu hanya dalam waktu singkat?”
“Sebenarnya sudah sejak lama ayah merasa curiga makanya ayah selalu berhati-hati jika menerima tawaran kerjasama dengan mereka. Rasanya ada yang tidak beres tapi ayah tidak pernah menemukan bukti pelanggaran apapun.” ujar Alarik menatap Emir dengan serius.
“Aku sudah menemukan banyak bukti pelanggaran mereka dan bisnis ilegal yang mereka lakukan selama ini. Sepintar apapun seorang penjahat pasti akan selalu meninggalkan jejak! Begitu pula mereka, pasti ada yang mereka lupakan yang bisa dijadikan bukti. Aku bahkan dengan mudahnya sudah mengumpulkan semua bukti bisnis ilegal mereka.”
“Emir, serahkan saja pada pihak yang berwajib. Keluarga kita tidak perlu menangani hal seperti itu.”
“Tidak bisa ayah. Apa ayah tahu sudah berapa kali mereka ingin menjebak Arimbi untuk menyingkirkannya? Jangan pernah bersikap lembek pada orang-orang seperti keluarga Lavani! Mereka berani berlaku kejam pada orang lain, maka mereka juga harus siap mendapat perlakuan yang sama.”
“Ingat, Arimbi sedang mengandung! Keselamatannya adalah yang paling penting sekarang. Jangan terlibat dalam masalah dengan keluarga Lavani! Seperti kataku tadi, serahkan saja semua buktinya pada pihak berwajib dan biarkan mereka yang menyelesaikannya.” Alarik kembali memberi sarannya.
“Aku tidak akan menyerahkan masalah ini pada pihak berwajib! Ayah tahu bahwa instansi itu tidak bisa dipercaya! Mereka bisa dibayar dengan uang dan semua masalah selesai begitu saja. Aku tidak akan turun tangan dalam hal ini, tapi ada orang lain yang sudah melakukannya tanpa perlu ada keterlibatanku.” jawab Emir menatap ayahnya seraya tersenyum.
Saat ini Arimbi sedang hamil, dan Alarik tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi pada menantu dan calon cucunya. Setelah berbincang beberapa saat, Alarik dan Rania pun meninggalkan tempat itu dan kembali kerumah.
...*****...
“Adrian! Ibu mohon padamu nak! Tolong jemput adikmu! Kasihan dia, Adrian! Dia sedang hamil dan sangat tertekan saat ini, berada di kota sendirian.”
“Bu! Dia tahu apa yang dia lakukan dan aku sangat yakin kalau dia baik-baik saja disana! Sudahlah bu, jangan terlalu dipikirkan. Amanda saja tidak pernah memikirkan perasaan ibu dan keluarga ini.”
Pratiwi terdiam mendengar ucapan putranya, namun sebagai seorang ibu, dia tidak mau anaknya sampai celaka. Bagaimanapun Amanda adalah putri kandungnya. Saat ini sedang hamil dan ditimpa masalah bertubi-tubi. Pratiwi masuk kedalam rumah, mengganti pakaian dan mengambil tasnya lalu keluar rumah.
“Bu! Ibu mau pergi kemana?” tanya Adrian saat melihat ibunya yang sudah rapi dan hendak pergi.
“Aku mau ke kota menjemput Amanda dan membawanya pulang.” jawab Pratiwi.
“Jangan bu! Tunggu saja dirumah, kalau dia mau pulang pasti dia akan pulang. Memangnya dia mau kemana lagi sekarang? Hanya rumah ini tempatnya satu-satunya.” ujar Adrian lagi.
Namun Pratiwi tak goyah, dia tetap melangkah lalu tiba-tiba lengannya di cengkeram erat. “Bu, dengarkan aku. Sebaiknya ibu tunggu saja dirumah, biar aku saja yang menjemput Amanda. Aku lebih paham kota dibandingkan ibu. Apa ibu sudah lupa tentang kejadian waktu itu saat ibu nekad pergi ke kota untuk menemui Amanda?”
“Baiklah Adrian! Yang terpenting kamu mau menjemput Amanda dan membawanya pulang. Hanya kita keluarganya yang bisa melindunginya! Ibu tidak mau dia melakukan hal buruk pada dirinya dan kandungannya karena merasa tertekan.” ujar Pratiwi yang terlihat sangat cemas.
“Baiklah bu. Masuklah dulu. Aku akan pergi ke kota sekarang.” ujar Adrian lalu membawa ibunya kembali masuk ke rumah. Lalu dia bersiap-siap untuk pergi ke kota, dan untungnya dia masih bisa mendapatkan bus terakhir menuju ke kota karena semua bus sudah berangkat mengantarkan penumpang carteran.
Dreeettttt dreeettttt dreeettttttt
“Halo….siapa ini?” terdengar suara wanita dari seberang telepon setelah beberapa kali mencoba menghubungi. Terdengar suara keramaian dari seberang telepon membuat Adrian mengeryitkan dahi.
“Amanda ini aku, Adrian!” jawab Adrian.
“Mau apa meneleponku?” tanya Amanda dengan suara dingin.
“Kamu ada dimana sekarang? Aku sedang dalam perjalanan ke kota untuk menjemputmu.”
“Tidak perlu! Aku baik-baik saja!” balas Amanda masih dengan suara dingin.
“Amanda, ibu dan ayah mencemaskanmu. Pulanglah, kami adalah keluargamu dan saat ini kamu butuh ketenangan begitu juga dengan ibu. Ibu mencemaskanmu sejak kemarin.”
“Katakan saja pada ibu kalau aku baik-baik saja. Aku belum mau pulang sekarang.”
“Lalu, kamu mau kemana?” tanya Adrian lagi menjadi tak sabaran.
“Ada urusan penting yang harus ku selesaikan. Jangan ganggu aku dan katakan saja pada ayah dan ibu tidak perlu mencemaskanku. Aku bukan anak kecil yang tidak tahu mengurus diri sendiri.”
Klik…..