
Layla Serkan mengira dia telah membuat kesalahan dengan menyerang Arimbi didepan Emir. Dia mengira Emir akan menunjukkan rasa hormat padanya tetapi siapa yang mengira Emir akan tetap membela Arimbi sampai akhir? Bukan hanya itu, tetapi Arimbi cukup tak tahu malu untuk tidak mengetahui batasannya sendiri.
Orang udik desa hanyalah upik abu dimata Layla Serkan yang tidak bisa ditampilkan dimuka umum. Jika dia begitu angkuh dan arogan diluar sana, Arimbi akan membuat Emir mendapat masalah dengan menyinggung seseorang! Memikirkan hal itu, Nenek Serkan semakin tidak senang dengan Arimbi.
“Oh tidak! Aku akan terlambat.” seru Arimbi dengan suara rendah setelah dia mlihat jam. Dia berbalik untuk menatap Emir. “Sayang, nikmati sarapanmu ya. Aku tidak akan ikut sarapan denganmu. Jangan marah ya sayangku?” lalu dia meletakkan hadiah yang telah dia siapkan sebelumnya didepan Emir.
“Ini hadiahmu untuk hari ini. Seperti biasa, jangan dibuka sampai kamu masuk kedalam mobil. Jagalah agar misteri tetap hidup dan itu akan memberikumu kejutan.” katanya. Lalu mencium bibir dan pipi Emir lalu mengambil tas tangannya dan bergegas keluar dari pavilliun.
Dia meminta Beni untuk mengatur supir yang mengantarnya ke kantor seperti biasa. Sedangkan Emir tidak bisa menghentikannya tepat waktu.
“Dia lari lebih cepat dari kelinci, ya?” Lalu dia mengambil hadiah itu kemudian dia berkata pada Rino. “Kemasi makanan ini dan kirimkan pada wanita tak tahu malu itu sesegera mungkin agar dia makan dalam perjalan ke kantornya.”
Rino dan pengawal lainnya bergegas ke paviliun dan mengemasi sarapan secepat mungkin. Setelah itu mereka meminta seseorang untuk menghalangi mobil Arimbi dan memberikan tas berisi sarapan padanya.
Baru kemudian supir yang bertugas mengantarnya ke kantor mengemudikan mobilnya lagi. Namun Emir tidak makan banyak pagi ini tanpa ditemani istrinya, semua makanan terasa hambar.
Rino bertanya, “Tuan Muda Emir, apakah kamu mau dapur menyiapkan sesuatu yang ingin kamu makan? Aku bisa meminta mereka menyiapkan secepatnya.”
Emir berdiri sendiri, saat Rino ingin membantunya dia menolak dan perlahan berjalan keluar dari paviliun. “Tidak perlu.” jawab Emir.
Sebenarnya sulit baginya untuk berjalan menuruni tangga sendirian, jadi dia harus melakukannya dengan bantuan pengawal. Kursi rodanya didorong sehingga dia bisa duduk diatasnya setelah dia berajlan menuruni tangga. Beberapa menit kemudian, iring-iringan mobil Emir keluar dari Villa Serkan tanpa terlihat.
“Kita pergi ke M&J Butik dulu.” perintah Emir dengan suara berat. Arimbi mengatakan bahwa pakaian yang dikenakannya saat ini semuanya dibawa dari rumah orang tuanya.
Dengan kata lain, dia menunjukkan bahwa Emir tidak pernah membelikan pakaiannya sebagai hadiah. Michele mendesain gaun malam tetapi dia juga bisa mendesain pakaian sehari-hari sesuai pesanan.
Terlepas dari perasaan wanita itu pada Emir, tapi dia mempercayai kemampuannya sebagai seorang desainer.
Saat Emir tiba di toko utama M&J Butik, Michele belum masuk kerja dan toko juga baru dibuka. Ketika manajer toko melihat Emir didorong masuk dibawah pengawalan sekelompok pengawal, dia hampir menjatuhkan gelas air minumnya. “Tuan Muda Emir!” sapanya dengan hormat setelah meletakkan gelas.
Dengan cepat dia menghampiri sambil tersenyum dan membungkuk.
“Apakah Michele ada disini?” tanya Emir.
Manajer toko menjawab sambil tersenyum, “Direktur Januar belum masuk kerja Tuan Emir, mohon ditunggu sebentar, saya akan memberitahunya dulu. Saya pastikan dia akan sampai disini dalam lima belas menit.”
Emir mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam tangannya. Saat itu sudah pukul delapan lewat sepuluh menit. Memang terlalu awal bagi Michele.
Manajer toko itu terkejut sesaat. Tapi dia langsung menjawab dengan tersenyum, “Baiklah. Saya pasti akan menyampaikan pesan anda pada Direktur Januar, Tuan Emir. Apakah anda mau naik ke atas untuk minum teh dulu Tuan?”
Tanpa menjawab pertanyaan manajer toko itu, Emir menyuruh Rino mendorongnya keluar. Jika bukan karena dia harus menyusahkan Michele untuk merancang pakaian sehari-hari Arimbi, dia tidak akan datang ke M&J Butik. Manajer toko itu melihat Emir dan rombongannya keluar dari tokok.
“Terima kasih sudah datang Tuan Muda Emir.” dengan hormat dia mengantar kepergian rombongan itu seolah-olah yang disambutnya adalah seorang raja. Setelah meninggalkan M&J Butik, Emir membuka aplikasi WA diponselnya, terdiam dalam beberapa saat.
Setelah itu dia melakukan lima transaksi ke rekening bank Arimbi di ponselnya, setiap transaksi berjumlah dua puluh juta rupiah.
Segera setelah itu, Arimbi yang menerima notifikasi phone banking dan melihat sejumlah transfer dari Emir, segera mengirimkan pesan suara padanya.
Terdengar suara Arimbi yang bingung dan suara itu terdengar didalam mobil. “Sayang, apakah kamu memerlukan bantuanku untuk membeli sesuatu untukmu?”
Alih-alih menanggapi pesan suara itu, Emir mengetik di ponselnya, “Ini uang sakumu untuk pagi ini.” kemudian Emir mengirimkan pesan itu. Arimbi yang menerima pesan sms dari Emir terperanjat setelah membacanya.
Namun segera setelah itu dia baru menyadari apa yang baru saja terjadi. Ketika Layla memberinya waktu yang sulit pagi ini, Arimbi mengatakan bahwa Emir tidak pernah memberinya uang saku. Yang didengar dan malah ditanggapi pria itu dengan memberinya uang saku sekarang.
Dia memberinya seratus juta rupiah sebagi uang saku pagi hari. Apakah itu berarti aku akan mendapatkan uang saku dua ratus juta perhari? Murah hati sekali! Pikir Arimbi. Bagaimanapun uang itu sudah di transfer ke rekening banknya.
Tapi sms berikutnya Emir menjelaskan kalau dia akan menerima uang saku pagi hari, siang hari dan malam hari. Itu berarti Emir memberinya uang saku sebesar tiga ratus juta perhari?
Lalu Arimbi mengingat semua wanita yang menikah dengan Keluarga Serkan tidak ada yang bekerja dan sekarang dia mengerti. Dengan uang saku sebanyak itu, tanpa bekerja mereka bisa hidup mewah dan jika mereka pintar menyimpan uang saku itu, kelak memiliki tabungan yang banyak. Sedangkan setiap bulannya Arimbi menerima uang saku dari orang tua kandungnya sebesar lima puluh juta rupiah.
Wajah tampan Emir tersenyum ketika dia melihat bahwa Arimbi telah menerima uang itu. Lalu dia mengirim sms lagi padanya.
“Katakan saja padaku jika kamu perlu membeli sesuatu. Aku akan memberimu uang tambahan untuk belanja yang tidak termasuk uang sakumu.”
“Baiklah. Terima kasih Emir sayang.” balas Arimbi lalu mengiriminya emoji tanda cium dan love.
‘Sungguh tak tahu malu.” gumam Emir tapi suaranya terdengar seperti nada kasih sayang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
...*******...
Sementara itu di Harimurti Group, setelah Dion didorong keluar dari lift oleh pengawalnya, sekretaris prianya mendatanginya dan pergi ke ruang kerja direktur bersamanya sambil melaporkan pekerjaan padanya.
Dion kadang-kadang memberikan jawaban sambil mendengarkan laporan berikutnya.