GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 393. BIAR CEPAT HAMIL


“Kenapa memasang wajah seperti itu, hmmm?” tanya Dion sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket. “Joana!”


Joana yang terbaring diatas ranjang rumah sakit tak menjawab. Saat ini dia merasa sangat kesal pada Dion yang menghajarnya habis-habisan sehingga membuatnya kelelahan dan seluruh tubuhnya terasa sakit.


Dion menghampiri Joana lalu mengangkatnya. “Dion! Apa-apaan kamu? Turunkan aku!”


Joana meronta-ronta dalam gendongan Dion yang memikulnya diatas bahu seperti karung beras.


“Diamlah! Perawat akan masuk untuk membereskan ranjang itu! Apa kamu mau mereka melihatmu polos seperti itu?” ujar Dion lalu menutup pintu kamar mandi.


“Keluar! Aku bisa mandi sendiri!” ujar Joana penuh kemarahan mendorong Dion setelah pria itu menurunkannya. Tapi saat Joana hendak melepaskan diri dari pelukan Dion, dia merasakan kakinya lemas seperti jelly, tidak ada tenaga sama sekali untuk berdiri. Sehingga Joana hampir terjatuh namun tangan Dion cepat bergerak memeluk pinggangnya.


“Gadis nakal! Kenapa kamu selalu menentangku? Apa kamu mau kuhukum lagi?”


“Hukum! Hukum! Hukum saja terus! Kenapa tidak sekalian saja kamu bunuh aku! Huaaaa…….kamu membuatku lemas….huaaa……..Dion! Aku akan membalasmu.” teriaknya.


“Baiklah. Aku tunggu! Tapi sekarang kamu harus mandi dulu! Tubuhmu lengket dan bau!”


Joana memelototi Dion saat mendengar ucapan pria itu yang mengejeknya. “Pergi sana! Jangan pernah sentuh aku kalau aku memang bau!”


Setelah mengatakan itu, Joana tiba-tiba mendapatkan ide untuk membalas dendam pada Dion.


“Apa kamu bisa mandi sendiri? Atau aku bantu kamu mandi.”


“Ck! Pergilah! Aku bisa mandi sendiri! Aku tidak suka kamu melihatku.”


“Aku sudah melihat semuanya Joana! Kenapa harus malu hemmm?” ucap Dion berbisik ditelinga Joana membuat tubuhnya bereaksi cepat dan gemetar. Detak jantungnya semakin tak beraturan.


‘Sialan! Kenapa kalau dia dekat-dekat begini aku jadi seperti ini? Ck….menyusahkan saja.”


Joana mendorong tubuh Dion agar keluar dari kamar mandi. “Keluar! Aku mandi sendiri.”


“Baiklah! Jangan lama-lama mandinya atau aku akan masuk kedalam dan kita akan melakukannya lagi. Bagaimana? Kita bisa mencoba disetiap sudut ruangan ini.” Dion berusaha menahan tawa saat melihat Joana yang melotot dan tangan terkepal. Lalu dia memegang dagu Joana dan berkata lagi. “Semakin sering semakin baik. Bukankah begitu Joana? Supaya kamu bisa secepatnya hamil.”


Saat Joana ingin melempar Dion dengan botol shampo, pria itu sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi sambil tersenyum menyeringai. “Dasar gila! Brengsek!” maki Joana.


“Maaf Tuan. Kami bersihkan dulu kamarnya.” ucap dua orang wanita yang sudah berada didalam ruangannya saat Dion keluar dari kamar mandi.


“Ehmmm……tunanganku masih didalam kamar mandi! Kalian bereskan secepatnya dan jangan ganggu dia.” ucap Dion lalu melangkah keluar kamar tanpa menunggu tanggapan dari kedua perawat wanita itu.


“Wah, sepertinya Tuan Harimurti benar-benar memperlakukan gadis itu dengan baik!”


“Iya, aku tadi mendengar suara mereka. Sepertinya tadi mereka baru melakukannya disini.”


Tiba-tiba pintu terbuka saat kedua wanita itu sedang berbisik-bisik sambil membersihkan ruangan.


“Apa yang kalian bicarakan? Cepat selesaikan pekerjaan kalian.” ucap pengawal Dion.


Karena takut akan dimarahi dan dipecat dari pekerjaannya, kedua perawat wanita itu segera membereskan kamar itu dengan cepat.


Mereka mengganti seprei yang basah dan berantakan lalu mengepel lantai. Seluruh ruangan itu mereka bersihkan kecuali kamar mandi karena Joana masih berada didalam.


‘Aduhhhh aku tidak punya pakaiaan ganti! Laki-laki gila itu sudah merobek pakaianku. Bagaimana ini?’ gumam hati Joana membuka pintu kamar mandi untuk mengintip.


Dia melihat ada dua orang perawat yang sedang membersihkan kamar itu, dengan cepat Joana menutup dan mengunci pintu kamar mandi sambil memegangi dadanya. ‘Dion! Brengsek tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia melakukannya diruang rawat inapnya? Aihhhh……kenapa pria itu kuat sekali? Sudahlah tubuhnya besar, semuanya besar!’


Joana berkeluh kesah didalam hatinya. ‘Arimbi juga semakin hari semakin gila! Ide-idenya bukannya membuatku aman dan tenang tapi malah membuat Dion semakin menjadi-jadi! Aduhhhh Arimbi! Apa dia mengerjaiku ya? Aku sudah mengikuti semua sarannya tapi Dion bukannya menjadi lembut tapi sebaliknya! Dia seperti serigala! Buas!’


Setelah Joana tidak lagi mendengar suara apapun dari luar. Dia membuka kembali pintu kamar mandi untuk mengintip. Memang benar, sudah tidak ada orang lain dikamar itu. Dia pun membalutkan handuk ditubuhnya lalu berjalan keluar. Baru saja dia mendekati tempat tidur, pintu ruangan terbuka dan sosok tinggi bertubuh besar dan kekar itu masuk.


“Akhhhh!” teriak Joana terkejut. Dia berlari kembali ke kamar mandi tapi gerakan Dion lebih cepat menangkap tubuhnya dan menariknya.


“Mau lari kemana kamu, hem?” Dion memindai wajah dan tubuh Joana yang hanya berbalut handuk. Dia tersenyum menyeringai. “Apa kamu berusaha menggodaku lagi, Joana?”


“Lepas! Ihhhh……lepaskan aku! Siapa juga mau menggodamu?”


Bukannya melepaskan pelukannya di pinggang Joana, justru Dion semakin mengeratkan dan mencium bibir merah Joana dengan rakus. Wanita itu berusaha mendorong dada Dion namun gagal karena tenaganya sudah habis terkuras.


“Dion……jangan begini! Kamu menyakitiku.” Joana mengeluarkan airmata buayanya. Dia terisak dan memasang wajah sendu membuat Dion merasa bersalah.


“Apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit Joana?”


“Semuanya! Kenapa kamu tidak pernah bisa bersikap lembut! Kamu selalu saja menyakitiku!”


Dion langsung menggendong Joana lalu membaringkannya diatas ranjang.


“Tunggu sebentar lagi asistenku akan membawakan pakaianmu.” ucap Dion membelai pipi Joana menghapus airmatanya. “Sudahlah jangan menangis lagi.”


“Apa masih sakit disana?” tanya Dion melirik kebagian inti Joana membuat wajah wanita itu langsung merona merah. Dia membuang wajahnya kearah jendela menghindari tatapan mata Dion.


Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bagian intinya, Joana menoleh dan melihat Dion dengan tangannya yang sedang bergerak dibagian tubuh Joana.


“DION HARIMURTI! Apa yang kamu lakukan?”


“Ssshhhhh diamlah! Aku mengoleskan salep supaya tidak bengkak dan sakit lagi.”


Joana merasa benar-benar malu saat ini, ingin rasanya dia mencari lubang dan mengubur dirinya.. Sentuhan tangan Dion dibagian intinya membuatnya merasakan aliran listrik ditubuhnya. Joana menggigit bibir bawahnya dengan kuat.


Dion memperhatikan ekspresi wajah Joana yang memerah dan kedua matanya yang tertutup rapat. Dia merasa puas mengerjai wanita itu hari ini, sengaja dia melambat-lambatkan gerakannya mengolesi salep dibagian inti Joana. ‘Aku akan menyiksamu sekarang! Apa kamu masih berani bersikap keras kepala lagi setelah ini?’


Terlihat Joana yang berusaha kuat untuk menahan dirinya. Tiba-tiba Joana merasakan sesak dan tubuhnya seperti tertimpa batu besar. Dia membuka matanya untuk mendapati Dion yang berada diatasnya.


“Dion! Minggir! Apa-apaan kamu?” mata indah Joana membulat saling bertautan dengan mata Dion yang juga sedang menatapnya dengan penuh kasih sayang.