GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 415. HADIAH UNTUK NENEK


Emir memeluk Arimbi setelah dia berbaring disamping istrinya.


“Emir, kenapa aku punya uang banyak sekali? Kamu memberiku uang saku ratusan juta perhari! Nenek juga memberiku uang bulanan, ibuku juga mentransfer uang kerekeningku! Aku tidak bisa menghabiskan uangku! Aku bingung mau dikemanakan uangnya. Kamu terlalu memanjakanku.”


Emir mencubit pipi Arimbi yang mulai tembem karena berat badannya naik. “Kamu adalah istriku. Dan jatah uang saku yang kuberikan padamu itu memang standardnya keluarga ini! Semua istri mendapatkan jumlah uang saku yang sama! Aku akan memberimu apapun yang kamu mau! Aku akan memuaskanmu, memelukmu dan menyayangimu.”


“Eh? Maksudnya apa dengan memuaskan? Emir, jangan berpikir yang aneh-aneh.”


“Loh, kamu yang berpikir aneh! Apa yang ada dipikiranmu? Apa salah kalau aku mau memuaskanmu?” Emir menatap Arimbi dengan serius. Istrinya ini kadang suka salam paham dengan perkataannya. Namun Emir menyukai itu karena seringkali Arimbi jadi terjebak sendiri.


“Apa kamu tidak takut kalau terlalu memanjakanku? Anak yang terlalu dimanja biasanya akan semakin bertingkah.” Arimbi bicara lagi mengalihkan topik sebelumnya karena dia tidak mau terjebak dalam kata-kata Emir.


Saat ini dia berada dalam pelukan Emir yang membuat hatinya lembut karena tubuhnya lembut dan hangat. Dia menyukai kehangatan tubuh suaminya itu.


“Memangnya tingkah apalagi mau kamu buat? Bukankah selama ini juga kamu sudah banyak tingkah?” ujar Emir mengejeknya. “Ada berapa banyak lagi tingkahmu?”


“Hahahaha…..aku sangat menyukai suamiku! Dia bahkan membiarkanku bertingkah! Tapi jangan khawatir suamiku, aku hanya banyak tingkah denganmu saja!”


“Oh begitu? Yakin kalau kamu tidak bertingkah diluaran sana?”


“Baiklah! Aku tidak mau berdebat denganmu! Aku memang hanya bertingkah denganmu saja! Apa kamu tidak suka? Jangan bilang kamu tidak suka! Aku akan marah dan membiarkanmu tidur diluar.”


“Eh, kenapa kamu yang marah? Aku bahkan tidak bilang apa-apa!” ucap Emir mencium bibir istrinya. “Semakin hari kamu semakin cerewet saja.”


Arimbi menjulurkan lidahnya ketika mendengar perkataan Emir.


“Sayangku, cepat tidur. Setelah kamu beristirahat dan cukup tidur maka besok aku akan mengajakmu makan malam diluar.” ucap Emir.


Dia tahu kalau Arimbi pasti kesal padanya karena terlambat pulang kerumah tadi. Padahal dia sudah berjanji akan selalu pulang awal.


“Makan malam? Ehmm….bagaimana kalau makan siang saja? Setelah makan siang temani aku belanja. Pakaianku sudah mulai tidak muat, aku butuh baju hamil baru! Lihatlah perutku tambah besar. Menurutmu ada berapa anak didalam perutku? Kenapa sebesar ini?”


“Bukankah dokter sudah bilang kalau anak kita kembar?” kata Emir mengusap perut istrinya.


“Fuuuhhhh! Aku pernah lihat ibu-ibu hamil anak kembar! Tapi perutnya tidak sebesar ini.”


Emir yang melihat wajah cemberut dan bibir manyun istrinya pun tersenyum, dia tergelitik dengan perilakunya yang menggemaskan.


Sepasang suami istri itu terus saling menggoda sebelum memeluk satu sama lain. Kali ini Arimbi benar-benar tertidur lelap dalam pelukan Emir. Tak butuh waktu lama, suara deru napas yang teratur terdengar di kamar tidur mewah itu.


Keesokan paginya Emir dalam suasana hati yang baik dan bersemangat. Para pelayan dan pengawalnya pun sangat terkejut melihatnya. Seperti biasa Arimbi menemani Emir sarapan di paviliun dan memberinya hadiah yang telah dia persiapkan dan rekaman suara yang dia rekam semalam. Didalam rekaman itu dia mengucapkan


“Sayang aku mencintaimu” sebanyak seratus kali


“Selamat pagi Nyonya.” tiba-tiba terdengar suara Yaya menyapanya. Arimbi pun menoleh kearahnya.


“Selamat pagi Yaya! Apa nenek sudah bangun dan sarapan?” tanya Arimbi.


“Ya, Nyonya Besar sudah bangun dan sedang minum teh. Apakah Nyonya mau menemani Nyonya Besar minum teh di taman? Koki membuatkan beberapa cemilan kesukaan Nyonya.” ucap Yaya.


“Wah, kedengarannya menyenangkan. Baiklah, tolong antarkan aku kesana ya.” Arimbi senang begitu mendengar kata makanan.


Yaya dan satu pelayan dari villa Emir menuntun Arimbi menuju ke taman dirumah utama. Sesampainya disana Arimbi melihat diatas meja kecil itu sudah terhidang dua gelas teh dan di meja satunya yang berbentuk panjang terhidang beberapa makanan. Ada Tiramisu, Cheesecake dan berbagai macam makanan ringan dan buah-buahan kesukaan Arimbi.


“Selamat pagi nenek. Bagaimana kabar nenek pagi ini?” Arimbi menghampiri Layla Serkan dan memeluknya lalu mencium pipi keriput wanita tua yang masih cantik itu. Nampak senyum menghiasi wajah tua itu menatap Arimbi.


“Duduklah! Aku baik-baik saja. Aku menyuruh Yaya memanggilmu kesini. Apa tidurmu nyenyak semalam? Apa kamu masih mengalami morning sickness?”


Arimbi duduk dikursi diseberang meja, saling berhadapan dengan Layla Serkan. Dia menunjukkan senyum manisnya, “Sudah tidak separah sebelumnya, nek. Aku masih sering mual tapi tidak muntah-muntah separah dulu.” jawab Arimbi.


“Oh iya, ini hadiah untuk nenek. Aku sendiri yang membuatnya.” Arimbi menyodorkan sebuah kotak pada Layla.


Wanita tua itu selalu menyukai pemberian cucu menantu kesayangannya itu. Dia mengambil kotak itu dan membukanya. Didalam kotak itu ada sebuah kalung mutiara berwarna merah muda yang sangat cantik.


“Arimbi, kamu sangat bertalenta dalam bidang seni. Kenapa kamu tidak membuat perhiasan sendiri dan menjualnya? Pasti banyak yang suka.”


“Hehe, nenek…..aku membuat ini hanya untuk nenek. Lagipula aku sedang hamil dan gampang lelah. Aku mengerjakan kalung ini disela-sela waktuku. Apakah nenek menyukainya?”


“Ya, kalung ini bagus sekali! Nenek suka! Terima kasih Arimbi. Aku akan memakainya diacara pesta ulang tahun putra keduaku nanti! Kalung ini cocok dengan pakaianku.” ucap Layla Serkan senang.


“Ah, kalau begitu aku akan membuatkan gelang dengan warna yang sama untuk nenek. Anting-antingnya juga supaya sepadan.” ucap Arimbi tersenyum senang karena hadiahnya kali ini sepertinya paling disukai nenek Serkan dibandingkan hadiah lain yang pernah diberikannya. Meskipun Layla Serkan tidak meminta hadiah namun Arimbi suka memberikan hadiah kecil untuknya.


“Arimbi, benarkah? Kamu akan membuatkan gelang dan anting-anting untukku? Wah, pasti indah sekali kalau aku memakai satu set.” Layla Serkan terdiam sejenak lalu dia teringat sesuatu lalu memandang Arimbi.


“Jangan terlalu memaksakan dirimu. Tidak perlu membuatkan gelang dan anting-anting untukku. Aku bisa memesan dari toko, kamu sedang hamil dan harus banyak istirahat.”


Meskipun didalam hatinya Layla Serkan sebenarnya sangat senang kalau dia bisa memiliki sepasang perhiasan mutiara buatan cucu menantunya itu. Namun menyadari kalau Arimbi sedang hamil, dia pun terpaksa menekan keinginannya.


“Nenek, ulang tahun paman kan masih dua minggu lagi! Aku bisa membuatkan untuk nenek dalam waktu dua minggu. Akan selesai sebelum hari ulang tahun paman.”


Mendengar perkataan cucu menantunya, wajah Layla Serkan kembali bersinar dan tersenyum lebar. “Baiklah…..baiklah. Haha……aku tidak akan menolak! Aku akan memamerkan pada semua orang perhiasan buatan cucu menantuku! Mereka pasti iri! Tidak ada yang memiliki cucu menantu sepertimu.” Layla Serkan tersenyum dan memandang Arimbi dengan tatapan penuh kasih sayang.


“Oh, iya……ayo makan! Nenek tahu kamu pasti sudah sarapan bersama Emir! Nanti nenek akan minta pelayan membawakan kue-kue itu kerumahmu.” ucap Layla Serkan lagi.


“Aku hanya makan sedikit tadi nek. Aku lebih suka makan kue di pagi hari tapi Emir melarangku. Sekarang dia tidak ada dirumah, aku bisa makan sepuasku.” ucap Arimbi mengambil tiramisu dan memakannya.