
Saat Yadid ingin bicara lagi, tiba-tiba pintu ruang kerja diketuk dan nampak Sartika membuka pintu sambil tersenyum lalu masuk. “Asisten Rafaldi, Direktur Januar dari M&J Butik ada disini. Dia bilang dia disini untuk membantumu mengukur badan dan menanyakan desain apa yang kamu suka sehingga dia bisa membuatkan rancangan desain pakaian untukmu.”
Arimbi ternganga lalu menoleh menatap ayahnya yang juga bingung. “Apa kamu memesan pakaian?” tanya Yadid pada putrinya itu yang menjawab dengan gelengan kepalanya.
Lalu dia teringat pembicaraan mereka pagi tadi, akhirnya Arimbi tersenyum. Emir benar-benar bergerak cepat. Suaminya itu langsung memenuhi kebutuhannya pagi ini dan sekarang ada lagi kejutan lain.
Hanya karena dia membantah Nenek Serkan, Emir tidak hanya memberinya uang saku seratus juta pagi ini dan seratus juta untuk siang hari serta uang saku malam hari dengan jumlah yang sama.
“Tapi aku tidak ada memesan pakaian hari ini?” ujar Arimbi seolah tak tahu apa-apa.
“Menurut Direktur Januar, Tuan Emir yang memintanya untuk datang kesini untuk mengukur badanmu. Katanya Tuan Emir sendiri yang sudah memesankan pakaian sehari-hari untukmu.” jawab Sartika menjelaskan sesuai dari apa yang dikatakan Michele padanya tadi.
“Ah, benarkah?” seru Arimbi yang masih terkejut.
“Suruh saja segera masuk. Biar Arimbi diukur disini saja. Aku juga ingin melihat pilihan desainnya.” ujar Yadid setelah mendengar perkataan sekretarisnya. Bagaimana mungkin dia tidak menerima tamu putrinya yang datang untuk mendesain pakaiannya. Apalagi itu adalah perintah menantunya yang menbuat Yadid merasa senang sekali.
“Baiklah Direktur Rafaldi.” ucap Sartika. Tak berapa lama pintu kembali diketuk lalu terbuka dan tampak Sartika berjalan masuk diikuti oleh Michele dibelakangnya.
“Selamat pagi Direktur Rafaldi. Selamat Pagi Nyonya Arimbi.” sapa Michele dengan sopan.
Setelah saling menyapa dan berbincang sebentar, Arimbi berjalan menuju sofa dan duduk berseberangan dengan Michele.
“Maaf sudah mengganggu waktumu dan datang kesini tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ini karena Tuan Emir sendiri yang menyuruhku untuk datang langsung kesini. Tadi pagi dia singgah ke butik dan memberitahu manajer toko bahwa dia memesan empat puluh set pakaian sehari-hari untukmu.”
“Oh begitu. Baiklah. Aku sedang tidak sibuk sekarang. Kita bisa mulai saja pengukurannya.”
Michele memandang Arimbi dengan perasaan tidak menentu dihatinya. Dia merasa cemburu dan tidak senang saat manajer toko memberitahunya tentang perintah Emir. Setahunya, selama ini Emir tidak pernah peduli pada wanita manapun.
Jika sekarang tiba-tiba pria itu memintanya secara khusus untuk membuatkan empat puluh set pakaian sehari-hari untuk Arimbi, itu berarti wanita ini sangat istimewa. Michela juga salah satu penggemar Emir sejak lama. Dia sama seperti Zivanna yang tidak suka jika Emir dekat dengan wanita lain.
Meskipun dia tidak segresif Zivanna, tapi Michele juga adalah seorang wanita licik dibalik wajah ramah dan penuh senyumnya. “Nona Arimbi, mari saya ukur dulu.”
Arimbi berdiri dan membiarkan Michele mengukur tubuhnya, setela beberapa saat pengukuran pun selesai, mereka duduk kembali.
“Nona Arimbi. Desain seperti apa yang anda sukai untuk pakaian ini?”
“Aku menyukai banyak desain tapi aku serahkan sepenuhnya padamu. Aku tahu kalau kamu punya selera yang bagus dan pasti tahu apa yang cocok untukku. Aku melihat semua desainmu bagus-bagus jadi aku percayakan saja semuanya padamu.” jawab Arimbi yang memang menyukai banyak desain.
“Baiklah. Saya merasa senang jika anda mempercayakan semuanya pada ku. Sesuai dengan perintah Tuan Emir, untuk membuatkan empat puluh pasanga pakaian untuk sementara. Dia meminta sepuluh desain untuk masing-masinh musim. Apakah anda ingin saya sesuaikan dengan aksesoris dan lainnya?”
Arimbi berpikir sebentar, karena Emir tidak mengatakan apapun soal ini. Dia baru saja mengetahui tentang pemesanan pakaian, lalu bagaimana dengan aksesoris perhiasannya? Ah, lebih baik dia menanyakan langsung pada suaminya saat pulang kerumah nanti.
“Baiklah kalau begitu. Pengukuran sudah selesai jadi saya pamit untuk kembali ke toko dan mulai mempersiapkan semuanya untukmu.
Saya akan kabari jika semuanya sudah selesai, akan saya kirimkan contoh desainnya nanti jadi anda bisa memberi pendapat jika ada yang tidak sesuai.”
“Oke. Terima kasih untuk waktumu sudah datang kesini.”
“Tidak apa-apa Nona Arimbi. Ini sudah tugas saya yang diberikan Tuan Emir.” jawab Michele.
Setelah kepergian Michele kini ruangan itu hanya ada Yadid dan Arimbi.
“Kenapa Emir memesan begitu banyak pakaian untukmu?”
“Ayah, ini karena obrolan kami tadi pagi saat sarapan. Aku juga tidak tahu kalau Emir akan langsung memesankan pakaian untukku.”
“Ayah, tadi pagi juga Emir memberiku uang saku yang banyak sekali. Aku jadi ketakutan dan gemetar memegang ponselku saat melihat transferannya.”
“Apa? Emir memberimu uang saku banyak? Tapi itu sudah kewajibannya sebagai suami.”
“Iya aku tahu ayah. Dia memberiku uang saku sebanyak tiga ratus juta setiap hari. Seratus juta masing-masing untuk uang saku pagi, siang dan malam. Ayah, bukankah itu banyak?”
Yadid tersenyum, dia tidak menyangka Emir akan memberikan uang saku sebanyak itu pada putrinya. Dia lalu memikirkan betapa kaya-nya Arimbi kelak jika menerima uang saku sebanyak itu. Yang dia perlu lakukan sekarang adalah belajar bisnis sehingga kelak dia bisa mengambil alih perusahaan dan pandai mengelola uangnya.
“Itu jumlah uang yang sangat banyak. Kenapa dia memberi sebanyak itu padamu?”
“Itu wajar, karena semua wanita yang menikah dengan Keluarga Serkan akan menerima uang saku sejumlah itu. Tidak termasuk dengan biaya lainnya, misalnya aku mau shopping maka Emir akan memberiku uang tambahan tanpa mengganggu uang saku ku.”
Yadid tahu betapa kaya-nya Keluarga Serkan, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika uang saku akan sebesar itu. Dia menatap Arimbi yang senyum-senyum sendiri dengan wajah berbinar bahagia.
“Ayah, sekarang Emir sedang membuat daftar hadiah tunangan dan pernikahannya. Katanya kalau semua sudah siap maka dia akan segera mempersiapkan pesta pernikahan kami.”
“Baiklah. Ayah mengerti, bagaimanapun dia harus memperkenalkanmu pada publik. Aku hanya berharap kamu sanggup menjalani kehidupan bersamanya. Jika kamu menyerah, ingatlah bahwa kami akan selalu ada untukmu dan kembalilah kerumah.” ucap Yadid menyemangati putrinya.
“Ayah, aku sudah berjanji akan selalu bersama Emir seumur hidupku. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah menyerah. Hanya dia yang bisa menjaga dan melindungiku, ayah. Jadi aku harus bisa membuatnya untuk mempertahanku disisinya selamanya. Dia sudah berjanji tidak akan pernah menceraikanku.”
“Baguslah kalau begitu. Ayah senang mendengarnya. Meskipun kadang ibumu merasa khawatir padamu. Keluarga Serkan itu punya banyak aturan ketat yang harus dipatuhi.”
“Jangan khawatirkan itu. Emir pasti akan selalu melindungiku dirumah itu.” jawab Arimbi tersenyum.
“Oh iya, jam berapa kamu akan pergi ke PT. Libra Elektroindo?”