
Sekelompok pria sedang berada didalam ruang bawah tanah dikediamaan Keluarga Lavani yang kini ditempati Jack dan Zivanna. Disana ada Jack, Dilon Pradipa, Emir Serkan, Bryan dan beberapa pengawal yang sedang menyisir tempat itu.
“Kenapa lorong ini panjang sekali?” tanya Emir memandang lorong yang nampak seperti menghubungkan dua tempat yang dia tak tahu berakhir dimana.
“Lorong ini menghubungkan rumah Keluarga Lavani dan rumahku.” jawab Dilon Pradipa.”
“Ya, ternyata Yuda membangun lorong lorong ini bertahun-tahun yang lalu!” Jack menimpali. “Dia sengaja membangun lorong ini untuk menghubungkan kedua rumah. Dan inilah jalur yang dia lalui waktu itu hingga dia bisa memasuki kediaman Keluarga Pradipa waktu itu.”
“Berarti, sudah jelas kalau kehancurkan keluarga Pradipa adalah ulah Yuda Lavani? Mereka juga yang mencuri semua harta berbentuk perhiasan dan barang berharga lainnya dari kediaman Pradipa tanpa diketahui siapapun?” Emir memastikan.
Karena dia masih ingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Dimana keluarga Pradipa yang juga merupakan keluarga kaya kehilangan harta berharga mereka.
“Makanya kita harus segera menemukan kotak itu! Karena aku sangat yakin, mereka menyimpan kunci gudang penyimpanan harta rampasan mereka disuatu tempat! Jika kita bisa menemukan kuncinya, dari sana kita bisa melacak keberadaan harta rampasan itu.” Dilon Pradipa bicara dengan semangat, dia sudah menunggu bertahun-tahun untuk ini.
Dilon Pradipa ingin mendapatkan kembali semua harta berharga keluarganya yang dirampas Keluarga Lavani dan membuat mereka bangkrut dan kehilangan segalanya.
“Oh iya, kapan putusan hukuman mati untuk Yuda dan putranya akan dilaksanakan?”
“Minggu depan! Sebelum itu kita harus mendapatkan semua harta itu. Aku ingin melihat ekspresi wajah mereka sebelum mereka mati! Bagaimana rasanya kehilangan segalanya.”
Nada bicara Dilon terdengar penuh dendam dan kemarahan. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun keluarganya hidup dalam kemiskinan. Jika bukan karena Emir yang mengulurkan tangan membantunya entah seperti apa nasib keluarganya kini.
Dilon bekerja diperusahaan Emir waktu itu dan setelah setahun, Emir mempercayakan salah satu perusahaannya dikelola Dilon. Sejak itulah kondisi keuangan keluarganya kembali membaik meskipun kehidupan mereka tidak bisa kembali seperti semula.
Beberapa pria itu nampak memeriksa setiap sudut ruangan dan beberapa benda yang ada disana. Emir berdiri didepan sebuah cermin besar yang berada didinding sebelah kanan lorong penghubung. Matanya menatap cermin itu sambil tangannya menyentuh setiap sisi.
Emir mengetuk-ngetuk cermin besar itu sambil mengeryitkan dahinya. Lalu dia memanggil seorang pengawal yang berada tak jauh darinya,
“Pecahkan cermin ini!” perintahnya.
“Ada apa Emir?” tanya yang lainnya saat mereka mendengarkan suara kaca yang pecah.
“Lihatlah kaca itu! Apakah cermin menggunakan kaca setebal ini?” ujar Emir lalu menoleh kearah cermin besar yang sudah pecah itu. "Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dibalik cermin ini."
Kaca cermin itu memang sangat tebal tidak sepertinya kaca cermin biasanya. Saat Emir mengetuk-ngetuk kaca itu tadi dia merasa curiga. Mereka sudah menyusuri setiap sudut ruang bawah tanah itu namun tidak menemukan petunjuk apapun. Hingga akhirnya saat dia memandang cermin besar itu muncul kecurigannya.
Mengingat karakter semua pria di keluarga Lavani, untuk apa mereka memajang cermin sebesar itu diruang bawah tanah? Ini hal aneh yang membuat Emir curiga. Tidak ada seorangpun didunia ini yang memasang cermin seukuran raksasa diruang bawah tanah yang notabenenya adalah tempat rahasia. Dan ternyata dugaannya benar.
Saat kaca cermin itu pecah sebagian, terlihat dinding dibelakangnya berbeda dengan dinding lainnya. Semuanya langsung berkumpul didepan cermin yang sudah pecah itu. Dilon yang penasaran langsung menyentuh dinding namun tidak ada apapun disana.
“Ini hanya dinding biasa.” ucapnya melangkah mundur.
Menggunakan alat berupa palu berukuran besar para pengawal itu mulai menghancurkan dinding itu. Namun baru saja satu hantaman, terdengar suara klik. Sebelumnya mereka tidak memperhatikan dengan teliti jika bingkai cermin itu adalah sebuah sensor.
Mereka pun mundur karena khawatir jika suara tadi itu adalah sebuah detektor. Tapi siapa yang menyangka, setelah bunyi itu terdengar tak lama dinding itu bergeser perlahan.
Emir tersenyum, ‘Ternyata ini tempatnya!’ bisik hatinya.
“Ah, ternyata ada pintu rahasia disini.” ujar Jack lalu dia mendekat ke pintu yang sudah setengah terbuka itu.
“Jangan gegabah! Tunggu sampai pintunya terbuka sepenuhnya.” Emir memperingatkan temannya.
“Ya benar kata Emir! Bisa saja didalam sana ada dipasang jebakan. Biarkan pengawal saja yang mengeceknya kedalam terlebih dahulu.” ucap Dilon.
Lalu dia memberikan kode pada pengawalnya untuk masuk keruangan itu. Sementara mereka menunggu didepan pintu rahasian. Dua orang pengawal memasuki ruangan itu dan setelah sepuluh menit, mereka keluar.
“Aman, Tuan! Didalam ada ruangan lain.” ucap salah satu pengawal yang tadi masuk kedalam.
“Sebaiknya kita masuk kedalam. Kalian tunggu disini dan berjaga-jaga.” perintah jack pada pengawalnya. Mereka membawa pengawal masing-masing ketempat itu. Dan kini hanya lima pengawal yang mengikuti mereka masuk kedalam sedangkan sisanya berjaga-jaga diluar.
Emir, Dilon, Jack, Bryan dan Aditia berjalan memasuki ruangan itu diikuti lima pengawal dibelakang mereka. Setelah berjalan beberapa menit mereka menemukan tangga menuju kebawah.
Tepat disebelah kanan tangga ada saklar. Dilon menekan saklar sehingga ruangan itu terang, ada beberapa lampu dinding disepanjang tangga. Mereka pun berjalan menuruni tangga hingga tiba dibawah.
Mata mereka menatap ruangan didepan, ruangan itu tertata rapi. Berbeda dengan ruangan diatas.
“Hebat sekali! Dia membuat ruang rahasia lainnya dengan menggali lebih dalam. Lihatlah, disana dipasang alat untuk menetralkan sirkulasi udara disini.” ujar Aditia. Aditia adalah seorang yang ahli dibidang tehnik dan perusahaannya juga bergerak dalam bidang itu.
Mata Aditia memperhatikan setiap sudut. Meja kerja, kursi, sofa dan lemari buku yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi. “Kita cari lagi disini!” ucap Aditia.
“Oh iya, Jack! Dimana perempuan itu? Dia tidak akan membuat masalah bukan?” Dilon tiba-tiba teringat pada Zivanna.
“Jangan khawatir! Dia sedang dalam pengaruh obatnya! Dia tidak akan kemana-mana sampai besok.” jawab Jack.
“Jangan membahas hal tidak penting! Kita harus secepatnya menemukan kunci itu dan keluar dari sini.” ucap Emir membuat yang lainnya terdiam dan memulai pencarian.
Memang selama ini mereka paling segan pada Emir. Meskipun mereka sudah berteman bertahun-tahun namun Jack, Dilon dan Aditia sangat menghormati Emir.
“Aku ingat Zivanna bilang kalau kunci itu disimpan didalam kotak kayu berukir.” ucap Jack. Dia pernah menanyakan pada Zivanna dan wanita itu mengatakan semuanya.
Tentunya Jack menanyakan Zivanna saat wanita itu sedang tidak sadar, dan sedang dalam pengaruh obat. Zivanna sering mengkonsumsi obat sejak dia diculik dan sulit baginya lepas dari itu.