GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 347. NYONYA SERKAN YG TERHORMAT


Mobil yang membawa Arimbi berhenti didepan pintu masuk Rafaldi Group. Sekurit langsung membukakan pintu mobil untuk Arimbi. Sejak semuanya sudah tahu kalau dia adalah Nyonya Serkan yang terhormat tak ada lagi seorangpun yang berani membicarakannya.


Apalagi sejak semua skandal yang menimpa Amanda membuat para karyawan yang sebelumnya selalu berpihak pada Amanda kini hanya bisa menundukkan kepala didepan Arimbi.


 


“Selamat pagi Nyonya!”


“Selamat pagi semuanya!” balas Arimbi sambil tersenyum ramah pada semua karyawan yang menyapanya. Jelas sekali perbedaan dengan Amanda yang selalu menjaga image.


Arimbi tidak peduli soal itu, baginya sikap ramah itu akan membuat jurang yang lebar antara atasan dan bawahan menjadi dekat. Itu yang dia inginkan, karyawan harus menghormatinya tapi bisa juga akrab dengannya.


 


Arimbi masuk ke lift khusus dan memencet tombol lantai teratas dimana ruang Direktur berada. Pagi ini senyum tak pernah lepas dari wajahnya, ada secuil kebahagiaan tumbuh dihatinya karena sikap nenek Serkan yang sedikit berubah.


‘Masih butuh waktu lama untuk membuat wanita tua itu mengakui kesalahannya dan menerimaku dengan baik.’ bisik hatinya.


 


‘Ah, tapi tidak masalah! Aku akan selamanya menjadi Nyonya Serkan dan nenek tidak bisa memungkiri itu. Aku cuma berharap tidak akan ada lagi wanita-wanita lain yang akan mereka kenalkan pada Emir untuk menggantikanku. Kau hanya butuh ketenangan selama masa kehamilanku.’ bisik hatinya.


Arimbi keluar dari lift setelah sampai dilantai atas. Dia melihat Sartika sedang menyantap sarapannya, lalu Arimbi mendekat. “Sepertinya aku harus mengajukan pada Direktur Rafaldi untuk menyediakan sarapan pagi untuk semua karyawan.”


 


“Selamat pagi Arimbi!” sapa Sartika tersenyum.


“Kamu sudah sarapan? Sepertinya idemu bagus juga.”


“Aku sudah sarapan dirumah. Akan kubicarakan dengan Direktur Rafaldi nanti. Aku ke ruanganku dulu. Selamat bekerja.” ucap Arimbi lalu melangkah menuju ke ruang Direktur.


 


“Selamat pagi ayah.” sapa Arimbi pada pria yang baru hendak duduk di kursinya.


“Pagi, Arimbi. Kelihatannya kamu ceria sekali hari ini.”


“He he he biasa saja ayah. Bagaimana kabar ayah?”


“Aku baik-baik saja. Duduklah, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”


 


Arimbi pun duduk dikursi berseberangan dengan ayahnya. “Ada apa ayayh?”


“Ehm...ini mengenai Amanda. Ayah cuma mau mengingatkanmu untuk berhati-hati, aku tidak menyangka dia bisa segila itu!”


Arimbi tersenyum, dia senang tanpa perlu kerja keras untuk membongkar topeng kepalsuan Amanda, akhirnya ayahnya bisa melihat dan menilai sendiri bagaimana Amanda.


 


Dia tahu ada kekecewaan di nada suara ayahnya, siapapun pasti merasa kecewa jika berada diposisi Yadid. Anak yang sudah dia besarkan bertahun-tahun membalas semua kebaikannya dengan keji. Dengan sadar ingin menghancurkan keluarga yang sudah memberikan segalanya pada Amanda.


 


“Ayah, jangan khawatirkan aku. Emir mengirimkan beberapa pengawal untuk mengikutiku. Mereka memang tidak berada bersamamu, mereka mengawasiku dari jauh karena aku tidak mau orang-orang melihatku dikelilingi pengawal. Bukankah Emir juga menempatkan beberapa orang dirumah?”


 


“Iya, aduh…..dia mengirimkan banyak orang. Ibumu sampai kebingungan karena sekarang dirumah ramai orang. Dia senang juga karena ada yang bisa dia ajak bicara. Tapi ayah merasa tidak enak hati dengan suamimu. Dia sudah banyak membantu kita. Bagaimana pendapatnya tentang kasus Amanda?”


 


“Emir sepenuhnya menyerahkan pada ayah. Apa keputusan ayah soal masalah itu? Memberikan data rahasia perusahaan pada orang lain jelas pelanggaran hukum. Tapi semuanya kembali pada ayah, apakah ayah mau meneruskan kasus ini sampai ke pengadilan atau tidak.”


“Ayah juga bimbang, ada rasa kasihan juga karena dia akan berakhir di penjara! Tapi kalau dibiarkan ayah khawatir dia akan memikirkan cara lain untuk membalas.”


 


“Memangnya apa yang bisa dia lakukan sekarang ayah? Dia sudah bukan putri keluarga Rafaldi lagi dan ayah sudah mengumumkan ke publik tentang itu! Ehm….boleh aku menanyakan sesuatu?”


“Apa? Katakanlah Arimbi.”


“Apa ayah ada memberikannya sedikti warisan? Mungkin uang atau rumah?”


 


 


“Aku hanya bertanya saja ayah! Kasihan juga Amanda. Aku tidak keberatan seandainya ayah memberinya sedikit uang supaya dia bisa memulai buka usaha atau apapun itu.”


“Gajinya besar! Semua pengeluarannya kami yang menanggungnya selama ini, kalau dia tidak boros mungkin dia sudah punya simpanan banyak.”


 


“Oh, begitu ya.”


“Ibumu juga sudah meminta pelayan mengganti kunci rumah. Nanti ayah berikan satu set untukmu. Emir juga memasang CCTV baru di rumah katanya lebih canggih bisa menangkap suara. He he suamimu itu protektif sekali.” Yadid terkekeh, dia merasa bangga memiliki menantu seperti Emir. Dia tidak pernah menyangka jika pria yang dikenal kejam itu ternyata sangat baik.


 


“Emir mengkhawatirkan kalian! Ayah dan ibu tinggal berdua dirumah itu bersama beberapa pelayan saja. Sedangkan pelayan tinggal dirumah belakang, sekarang ayah sudah merasa lebih tenang kan?”


“Ya, ibumu juga merasa tenang. Dia malah semakin rajin memasak buat cemilan untuk pengawal-pengawal itu. He he he….”


 


“Wah, pasti mereka senang sekali.” ujar Arimbi menatap ayahnya yang terlihat ceria dan senang.


“Ehm...bagaimana jika Amanda datang ingin mengambil barang-barangnya dirumah?” tanya Arimbi.


“Ibumu sudah menyuruh pelayan mengemasi semua barang-barangnya. Ah, ibumu sangat marah dan dia bahkan mengambil kembali semua perhiasan yang pernah dia belikan untuk Amanda.”


 


“Hah?”


“Ya, begitulah ibumu kalau sudah marah dan membenci seseorang! Jangan khawatir Arimbi, semua barang Amanda sudah dikirimkan ibumu ke desa. Ibumu juga sudah menelepon Pratiwi dan menjelaskan semuanya.


Memang ini yang benar! Sejak awal harusnya kami sudah melakukan ini. Tapi sebelumnya kami berharap dia bisa memperlakukanmu dengan baik makanya kami tidak mengusirnya.”


 


“Ayah, sudahlah jangan dibahas lagi. Sekarang semuanya kita awali dengan sesuatu yang baru. Aku sudah siapkan rancangan peraturan perusahaan yang baru.” Arimbi mengeluarkan map dari dalam tasnya lalu meletakkan diatas meja kerja Yadid. “Ini ayah. Silahkan dibaca dulu mungkin ada yang ingin ayah ubah atau tambahi.”


 


“Oke. Aku akan memeriksanya nanti. Oh iya, bagaimana dengan persiapan pesta pernikahan kalian?”


“Aku tidak tahu ayah. Emir belum mengatakan apapun padaku. Aku juga tidak menanyakan lagi padanya, aku juga tidak masalah jika tidak ada pesta pernikahan.”


 


“Mana bisa begitu! Sekarang semua orang sudah mengetahui status kalian dan Keluarga Serkan tidak akan membiarkan begitu saja tanpa pest pernikahan. Tanyakan pada suamimu, kamu jangan diam saja Arimbi! Bantu dia mungkin dia juga butuh masukan darimu tentang konsep pernikahannya atau hal lainnya.” ujar Yadid menasehati putrinya.


 


“Baiklah. Nanti akan kutanyakan ayah. Sekarang aku mau keruanganku dulu. Oh iya, bagaimana dengan Renaldi? Apakah ayah menyukai pekerjaannya?”


“Ya, dia anak buah Emir! Mana mungkin ayah tidak suka, dia banyak pengalaman dalam bisnis. Kamu harus banyak belajar darinya.”


 


“Emir pasti akan menghukumku ayah! Dia yang paling ahli dalam bisnis tapi istrinya malah belajar dari orang lain, ha ha ha….” ujar Arimbi berdiri dan pamit pada ayahnya.


 


Sementara itu, pada saat yang bersamaan Amanda melajukan mobilnya menuju ke Rafaldi Group. Saat itu ponselnya berdering, dia mengenakan bluetooth dan langsung menjawab panggilan itu. “Halo Gio.”


“Amanda! Kamu dimana sekarang?”


“Aku sedang menuju ke kantor ayahku.” jawab Amanda.


“Buat apa kamu kesana? Tuan Rafaldi sudah memecatmu dan kabarnnya sudah ada yang menggantikanmu. Menurut kabar salah satu orang kepercayaan Tuan Emir! Sebaiknya kamu jangan pergi kesana Amanda!”


 


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menemui ayahku saja! Ada hal yang ingin kubicarakan dengannya.”


“Baiklah kalau begitu. Temui aku setelah urusanmu selesai.” ucap Gio lalu memutuskan panggilan.


“Pffffhhhh! Orang kepercayaan Tuan Emir? Apakah kedua perusahaan akan melakukan koalisi? Sehingga Tuan Emir menempatkan orang kepercayaannya disana?”