
Air matanya menetes membasahi pipinya. Dia merasa sendirian, tak ada seorang pun yang melindunginya meskipun kini ada Gio tapi dia tak sepenuhnya yakin pada pria itu. Dia merasa sakit hati dan marah, menyalahkan keluarganya yang miskin. Menyalahkan Arimbi yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan hidupnya dan membuat Amanda kehilangan segalanya.
Selama ini dia hanya berteman dengan Zivanna. Tak ada teman lain yang dia punya karena sikap angkuh Amanda yang hanya mau berteman dengan orang yang selevel dengannya saja. Sehingga dia tidak memiliki teman curhat. Sedangkan Zivanna saat ini masih dikurung dirumahnya dan dilarang keluar. Setelah kejadian memalukan yang menimpa Zivanna, keluarga Lavani memilih bungkam dan mengurung Zivanna dirumah.
Biasanya Amanda akan menelepon Reza dan mengajaknya bertemu. Selama ini hanya Reza tempatnya berkeluh kesah tapi besok pria itu akan menikah. Tidak mungkin dia menghubungi Reza dan mengajaknya bertemu. Amanda semakin menangis membayangkan pesta pernikahan Reza, dia bimbang untuk hadir di pesta itu besok. Tapi dia ingin melihat Reza dan memastikan pria itu memegang janjinya.
Satu hal yang dia takutkan sekarang adalah, dia hamil. Setelah dia mual dan muntah sejak tadi malam, Amanda mulai merasa cemas memikirkan kemungkinan dia hamil. Setelah menghapus airmatanya, dia kembali melajukan mobilnya. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah mencari apotik dan membeli alat tes kehamilan untuk memastikan.
...*********...
Hari ini pesta pernikahan Reza dan Ruby dilaksanakan di sebuah hotel. Saat keadaan keluarga Kanchana sedang kacau karena perusahaan mereka dalam masalah namun mereka dituntut untuk mengadakan pesta pernikahan besar yang tentu saja membutuhkan biaya besar. Tempat pesta berada di sebuah hotel berbintang empat yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga Kanchana.
Yessi ibunya Reza awalnya tidak mau membuat pesta mewah tapi karena desakan dari keluarga Zimena maka terpaksa mereka mengeluarkan semua uang yang mereka punya untuk pesta pernikahan ini. Arimbi sudah bersiap-siap, dia mengenakan gaun warna gold yang membentuk lekukan tubuhnya.
Meskipun bagian perutnya nampak sedikit besar karena kehamilannya namun tak mengurangi penampilannya yang cantik dan elegan. Emir berdiri dibelakang Arimbi yang duduk didepan meja rias, dia menyodorkan sebuah kotak perhiasan pada Arimbi.
“Sayang, ini untukku?” tanya Arimbi mengambil kotak itu.
“Iya. Bukalah.” jawab Emir memperhatikan ekspresi bahagia terpancar diwajah istrinya.
Arimbi langsung membuka kotak perhiasan, matanya mendelik melihat satu set berlian yang bisa dia tafsir nilainya pasti mahal. Dia menatap Emir dari pantulan cermin didepannya. “Sayang, maukah kamu membantuku memakaikan kalungnya?”
“Ehm…...” Emir mengambil kalung berlian dan memasangkan ke leher Arimbi sambil menundukkan kepalanya dan mengendus ceruk leher istrinya. “Kamu wangi sekali. Rasanya aku ingin menahanmu dirumah dan tidak pergi kemana-mana.” Emir mencium tengkuk Arimbi menggodanya.
“Sayang, jadi kamu mau kita dirumah saja? Tapi apa kamu lupa sesuatu?” tanya Arimbi.
“Kalau bisa, aku lebih memilih berada dirumah bersamamu malam ini. Kamu cantik sekali.” Emir kembali menciumi leher istrinya. “Bagaimana kalau kita sebentar saja.”
“Emir! Aku sudah rapi dan merias wajahku! Kamu ini aneh!”
“Kamu terlalu cantik malam ini…….ehhmmmm…...” tangannya mulai menyentuh bagian sensitif Arimbi membuat wanita itu menggeliat.
“Emir! Hentikan! Kita harus pergi ke pesta itu, aku sudah janji dengan Joana! Dia akan kebingungan sendirian disana kalau aku tidak datang.”
“Kenapa kamu bersemangat sekali datang ke pesta pernikahan mantanmu itu?”
“Sssttttt…….aku tidak semangat. Tapi aku ingin melihat saja bagaimana pestanya.”
“Tidak sayang. Jangan khawatir, aku hanya ingin memberikan hadiah pernikahan pada mereka. Oh iya….Zivanna pasti akan hadir di pesta itu. Aku ingin lihat jika Amanda berani hadir juga.”
“Istri nakalku! Kamu tidak bisa membohongiku, katakan apa yang kamu rencanakan?”
“Tidak ada. Sudah kubilang aku hanya ingin memberikan hadiah pernikahan. Thats’ it!” tidak ada yang lain.” ucap Arimbi.
“Baiklah. Aku percaya padamu! Tapi jika kamu membuat kacau di pesta itu, jangan salahkan aku akan menghukummu malam ini.”
“Suamiku sayang…...tidak perlu menunggu sampai aku membuat kacau, malam ini aku akan membuatmu berlutut memohon padaku.” ucap Arimbi mengedipkan sebelah matanya menggoda Emir.
Emir melirik ke tas kecil milik Arimbi yang terletak diatas meja rias. “Apa kamu membawa topeng?”
“Tidak. Bukan itu rencananya.” jawab Arimbi sekenanya.
“Aku sudah tahu. Kamu tidak sesederhana itu. Kamu pasti sudah merencanakan sesuatu kan?” tanya Emir yang terus mendesak Arimbi untuk mengatakan padanya. Dia merasa penasaran apa lagi yang direncanakan istrinya itu.
“Sayang, tenang saja! Bukankah ini pesta pernikahan keluarga Zimena? Dan keluarga Lavani akan hadir disana juga kan? Kamu cukup mendampingiku saja dan jangan jauh-jauh dariku. Akan ada pertunjukan menarik di pesta itu nanti.”
“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Jangan membuatmu mencolok, kalau kamu butuh bantuan biarkan anak buahku yang melakukannya.”
“Tenang saja sayang. Malam ini, di pesta itu kita hanyalah tamu dan pasangan yang paling romantis. Kita tidak bisa membiarkan keluarga Lavani hidup tenang setelah malam ini! Mereka bisa bebas begitu saja tanpa mendapatkan hukuman tapi aku punya cara membuat mereka mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.”
Sepasang suami istri itu sudah berada didalam mobil, seperti biasanya rombongan mobil Emir melaju menuju ke tempat diadakannya pesta. Sementara itu Joana sudah mengirimkan pesan pada Arimbi kalau dia sudah sampai disana bersama seseorang.
Arimbi langsung membalas pesan Joana dengan tersenyum puas. Malam ini, pesta pernikahan Reza akan menjadi pesta yang tidak akan pernah dilupakan semua orang.
Di tempat resepsi pernikahan Reza dan Ruby, tampak para tamu sudah berdatangan. Arimbi dan Emir beserta rombongannya pun tiba. Kehadiran pasangan itu sontak menjadi pusat perhatian dan semua orang menyapa dengan hormat.
Tidak ada yang menyangka jika Emir akan datang ke pesta itu, Keluarga Kanchana yang melihat Arimbi mengandeng tangan Emir dan terlihat sangat cantik membuat mereka meradang. Tak jauh dari pintu masuk Joana sudah menunggu, dia lalu berbisik pada orang disebelahnya.
“Hei Arimbi! Tuan Emir.” Joana menyapa sepasang suami istri itu.
Emir memperhatikan pria disamping Joana, dia belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Arimbi mendekatkan wajahnya ke telinga Emir dan berbisik, “Dia adalah Dilon Pradipa! Masak kamu tidak mengenalinya?” Arimbi tersenyum.
“Oh…..apa kamu memberinya topeng wajah baru lagi?” bisik Emir.
“Hmmm…...malam ini dia adalah pasangan Joana. Sebaiknya kita duduk saja dan nikmati pestanya.”
Acara sudah dimulai saat mereka tiba, Joana dan Arimbi langsung menuju ke tempat makanan dan memilih beberapa makanan dan kembali ke meja mereka.