
“Baiklah ayah.aku juga mau seperti Arimbi! Meskipun dia sudah menikahi Tuan Emir tapi dia tetap bekerja! Aku akan membuat ayah dan ibu bangga padaku.” janji Joana.
“Bagus kalau begitu! Jangan buat masalah lagi seperti waktu itu.” ujar Jayanti mengingatkan.
“Tidak akan, Bu! Aku janji tidak akan pernah melakukan itu lagi. Saat aku punya bisnis sendiri, aku akan sibuk mengurus bisnisku. Aku bisa belajar banyak hal.”
“Nah, karena kamu sudah membuat keputusan seperti itu. Ayah akan mengajakmu nanti malam.”
“Kemana ayah?”
“Ke perjamuan makan malam para pebisnis. Semua pengusaha akan hadir di perjamuan ini! Ini bisa jadi kesempatanmu untuk mengenal beberapa orang! Akan berguna untukmu kelak!”
Joana yang tak pernah tertarik pergi ke perjamuan bisnis setiap kali ayahnya mengajaknya, kali ini pun langsung menyetujui. Dia mengangguk sambil tersenyum, “Aku ikut denganmu ayah! Apakah ibu juga akan pergi?” tanya Joana menatap ibunya.
“Ya, ibu akan menemani ayahmu bertemu kliennya disana. Kamu bisa menikmati pestanya, mana tahu kamu bisa bertemu dengan seseorang disana.”
“Bu! Berhentilah menyuruhku mencari jodoh! Kalau sudah waktunya aku pasti menemukan orang yang tepat! Aku akan menikmati pestanya saja nanti malam.” ujar Joana.
“Terserah kamu saja! Tapi ibu akan tetap mencarikan pria untukmu! Lihatlah Arimbi sudah menikah dan sebentar lagi menjadi seorang ibu! Apa kamu pikir ayah dan ibumu ini tidak mau gendong cucu?”
“Ck!” Joana hanya bisa berdecak. Tak sadar dia malah meraba perutnya dan teringat pada Dion. ‘Sialan! Kalau aku sampai hamil karena malam itu? Apa yang akan kulakukan? Apa ayah dan ibu bisa menerimanya?’ hati Joana merasa resah.
...********...
“Ck! Dimana Amanda sekarang? Gawat! Ini benar-benar gawat! Kenapa dia harus mematikan ponselnya? Aduh…..Amanda!” Sandra berjalan mondar mandir di apartemennya. Berulang kali dia mencoba menghubungi Amanda untuk memberitahukan tentang apa yang terjadi di perusahaan.
Namun Amanda masih menonaktifkan ponselnya dan tak ada satupun email dan chat dari Sandra maupun Zivana yang dibalasnya. Tak ada seorangpun yang mengetahu kalau sebenarnya Adrian sengaja memutuskan jaringan internet ke ponsel Amanda agar dia tidak tahu informasi terbaru.
‘Ah! Aku harus mencari tahu keberadaannya! Dia pergi keluar negeri, mungkin aku bisa mengecek ke airline, dia naik pesawat apa dan tujuannya negara mana!” sebuah ide terbersit dibenak Sandra. Dia pun segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi satu persatu perusahaan airline untuk melacak keberadaan Amanda.
Setelah hampir dua jam dia berusaha, tak ada satupun penumpang bernama Amanda Rafaldi yang berangkat ke luar negeri dalam beberapa hari terakhir. Membuat Sandra semakin bingung dan pusing. Gaji terakhir yang dia terima tidak akan cukup untuknya sampai dia mendapatkan pekerjaan baru. Tapi sampai sekarang dia masih belum mendapatkan pekerjaan.
Setiap perusahaan yang didatanginya selalu menolaknya dengan alasan tidak ada lowongan kerja. Sandra bahkan mencoba melihat lowongan kerja di internet dan mengirimkan email. Namun, tidak ada satupun yang membalas emailnya sehingga membuat Sandra semakin frustasi dan harapan terakhirnya hanyalah Amanda.
Jika Amanda kembali bekerja di Rafaldi Group maka dia pun bisa kembali bekerja sebagai asisten Amanda.
‘Aku sudah bekerja cukup lama dengan Amanda, aku harus membantunya kembali ke perusahaan! Dengan begitu aku bisa kembali bekerja sebagai asistennya! Fuuuuhhh! Mereka pasti sengaja melakukan ini!’
Sementara itu di pedesaan, Amanda berulang kali mencoba mengaktifkan internetnya tetapi selalu saja gagal.
Dia melemparkan ponselnya keatas sofa sambil menghembuskan napas panjang. “Berapa lama lagi aku harus tinggal disini? Kenapa ayah tidak mengubungiku? Aku juga tidak bisa menghubungi ayah dan ibu? Apa yang terjadi?”
“Kenapa tidak ada sinyal internet didesa ini?” Amanda meraih ponselnya lalu pergi meninggalkan rumah. Tapi, baru saja dia masuk kedalam mobilnya kaca jendelanya sudah diketuk orang.
“Ada apa bu? Jangan diketuk-ketuk begitu? Kalau pecah memangnya ibu punya uang buat ganti?” ketus Amanda membentak ibunya. Pratiwi kaget dan memegangi dadanya, suara bentakan Amanda membuatnya membelalakkan mata. Sudah empat hari Amanda tinggal bersamanya tak sekalipun Amanda bersikap baik dan berkata lembut pada ibu dan ayahnya.
Mardin bahkan lebih memilih menghabiskan sepanjang hari dikebunnya dan pulang lewat sore hari agar tidak melihat Amanda. Saat makan malampun tak ada yang bicara, semua ketenangan dan kedamaian serta canda tawa dirumah itu hilang entah kemana setelah kedatangan Amanda.
“Maafkan ibu, Amanda! Apa kamu sudah makan? Kamu mau kemana nak?”
“Bukan urusan ibu! Aku mau pergi keluar! Tidak perlu ditanya-tanya, aku bukan anak kecil lagi!” Amanda langsung menaikkan jendela mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Lalu dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.
Tujuannya hanya satu, menuju ke kota kabupaten untuk mencari tempat yang ada wifi-nya karena selama dia di desanya dia tidak bisa mengakses internet. Amanda tak tahu informasi apapun, apalagi tentang pergantian kepemimpinan di Rafaldi Group.
Belum lagi, Yadid yang mengumumkan ke publik melalui media masa bahwa Amanda tidak lagi menyandang nama keluarga Rafaldi.
Semuanya itu terjadi dalam empat hari dan Amanda tidak tahu sama sekali. Itulah yang membuat orang-orang terdekatnya kalang kabut, terutama Sandra dan Zivanna.
Keduanya tidak tahu dimana keberadaan Amanda dan bahkan tidak bisa menghubunginya. Gio, bahkan mulai khawatir dan meminta anak buahnya mencari Amanda.
Hanya butuh waktu setengah jam perjalanan dari desa ke kota kabupaten. Amanda melajukan mobilnya mencari sebuah cafe. Mengikuti petunjuk dari internet, dia menemukan sebuah cafe besar lalu memarkirkan mobilnya.
Dia masuk ke cafe dan memilih meja paling sudut agar tidak terganggu. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Amanda memesan makanan dan minuman.
‘Ada berita apa selama empat hari ini?’ bisik hatinya saat dia mulai menyambungkan ponselnya ke wifi cafe. Hal pertama yang dicek Amanda adalah kotak masuk, dia mengeryitkan keningnya saat melihat banyaknya pesan masuk dari Sandra dan Zivanna. Perasaannya langsung tidak enak saat dia mengklik link yang dikirimkan oleh Sandra.
BRAKKK!
Tanpa sadar Amanda menggebrak meja, untungnya disudut itu hanya ada dia jadi tidak didengar pengunjung lain.
“Apa-apaan ini? Ayah? Kenapa ayah melakukan ini? Aku sudah mengorbankan waktuku, hidupku untuk perusahaan tapi ayah menggantiku dengan orang lain?’
Belum habis keterkejutan Amanda, dia melihat trending News terbaru, Yadid Rafaldi mengumumkan pewaris Rafaldi Group yang diserahkan kepada putri kandungnya Arimbi Saraswaty Serkan! Tangan Amanda mengepal erat, wajahnya memerah karena emosi! Arimbi! Ini pasti ulahmu!
Dia terus menscroll mencari berita lainnya, hingga dia sampai pada sebuah video saat Yadid mengumumkan pencabutan gelar keluarga dari nama Amanda.
Dengan resmi dan sesuai prosedur hukum, Yadid mengembalikan Amanda kepada keluarga kandungnya dan memberikan sejumlah uang sebagai bentuk terima kasih atas pengabdiaannya selama menjadi putri keluarga Rafaldi.
Komentar netizen yang menyudutkan Amanda membuatnya semakin marah.
‘Wajarlah keluarga Rafaldi menghapusnya dari daftar keluarga! Sudah mempermalukan!’
‘Enak masih dapat uang dari keluarga Rafaldi! Harusnya jangan dikasih apa-apa! Biar mampus!’