GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 271. MANGGA MUDA


Arimbi membantu Emir memapahnya keluar dari kamar mandi. Semenjak kondisi kakinya sudah mulai kuat, Emir semakin sering berjalan meskipun dengan bantuan Arimbi ataupun menopangkan tangannya ke dinging ataupun ke benda yang bisa dia gunakan untuk berpegangan,


Setelah mendudukkan Emir diatas ranjang seusai membantunya memakaikan piyamanya, Arimbi mengambil hadiah yang dibelinya tadi untuk Emir. “Sayang, ini hadiahmu untuk hari ini.”


“Apa ini?” tanya Emir.


“Bukalah. Aku harap kamu menyukainya.”


Emir membuka paperbag dan mengeluarkan isinya. Dia melihat kemeja dan dasi yang diberikan Arimbi untuknya. Didalam hatinya dia merasa kehangatan, ini kedua kalinya Arimbi membelikannya barang. Meskipun ini bukan warna pilihan yang biasa dipakainya tapi dia tetap menyukai apapun yang diberikan wanita itu padanya.


“Bagaimana? Apa kamu suka?”


“Hemm….”


“Hanya begitu? Emir kamu ini benar-benar tidak bisa memuji usaha istrimu ini untuk membelikanmu kemaja dan dasi yang bagus ya?”


“Apapun yang kamu berikan untukku aku pasti menyukainya. Kenapa kamu malah ribut.”


“Ck! Kamu memang tidak romantis! Sudahlah….aku mau tidur saja!” Arimbi hendak berdiri tapi pergelangan tangannya segera digenggam oleh Emir.


“Arimbi, terima kasih untuk hadiahmu. Apa kamu tidak mau membantuku mencoba kemeja yang kamu belikan untukku?” tangannya merengkuh pinggang Arimbi.


“Baiklah. Ayo coba kemejanya.” Arimbi membantu Emir berdiri dan mencoba kemeja serta dasi. Warna itu benar-benar cocok padanya dan membuatnya terlihat fresh dan lebih tampan. “Ck!”


“Kenapa? Apa sekarang kamu menyesali pilihan warna kemeja ini?”


“Iya….ini sungguh tidak adil! Kenapa kamu tampan sekali? Emir, berjanjilah padaku kalau kamu memakai kemeja ini, kamu tidak boleh melirik wanita lain.”


“Apa kamu sekarang cemburu? Arimbi, kamu tidak bisa menutup mata semua orang untuk melihatku. Aku memang tampan dan jangan salahkan ketampananku, oke!”


“Emir, rasa percaya dirimu terlalu besar! Aku akan mengacuhkanmu selama seminggu eh….dua minggu jika kamu menatap wanita lain. Ingat itu!”


Emir tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemberut istrinya yang menggemaskan itu. “Kenapa tidak kamu minta aku diam dirumah saja, hemm?”


“Tidak...tidak…..kamu harus menghasilkan uang yang banyak! Kalau kamu diam dirumah lalu siapa yang akan memberikan uang saku harianku? Emir, aku ini adalah wanita yang menyukai uang. Salahmu sendiri menikahiku!”


“Aku tidak masalah jika kamu menghabiskan semua uangku.” ujar Emir santai.


“Benarkah? Semuanya? Ah…..tidak usah! Aku juga tidak tahu cara menghabiskan uangmu. Emir…..boleh kah aku meminta sesuatu?”


“Katakan.”


“Aku mau mangga muda.”


“Hah? Apa?”


“Aku pengen mangga muda. Tapi…..”


“Tapi apa?”


“Aku mau Rino yang memanjat pohonnya. Tidak boleh dibeli.”


Emir terdiam sejenak kemudian dia berkata. “Besok aku akan meminta Rino.”


“Aku mau sekarang. Masa laparnya sekarang makannya harus nunggu besok?” protes Arimbi.


“Ini sudah malam, Arimbi. Dimana harus mencari pohon mangga malam-malam begini?”


“Aku tidak mau tahu! Aku mau mangga mudanya sekarang!”


“Fuuuhhhh! Kamu sengaja ya mau mengerjai Rino?” tanya Emir menatap Arimbi.


“Tidak. Emir ini permintaan anakmu.”


“Jangan memakai anakku sebagai senjatamu. Dia didalam perutmu, bagaimana dia bisa bilang mau mangga muda? Mulutnya saja belum ada.”


“Pffff! Ya adalah…..ini namanya ngidam. Memangnya kamu mau anakmu nanti lahir ileran?”


“Arimbi….sudahlah jangan aneh-aneh. Ini sudah malam. Kita istirahat saja, besok pagi aku akan minta Rino mengambilkan mangga muda untukmu.” ujar Emir.


Arimbi yang merajuk menuruni tangga dan dia berpapasan dengan Beni yang hendak mematikan lampu di ruang tengah. “Selamat malam nyonya.”


Arimbi tak mengindahkan dan terus berjalan menuju pintu dan membukanya. “Nyonya, ini sudah malam. Nyonya mau kemana? Biar saya panggilkan supir untuk mengantar nyonya.”


Arimbi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Beni. “Apa disini ada pohon mangga?”


Beni yang terkejut pun diam sejenak sebelum menjawab, “Ada pohon mangga di halaman belakang rumah utama, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Beni, aku mau makan mangga muda. Panggilkan Rino! Aku mau dia yang memanjat pohon mangga dan mengambilkan mangga muda untukku.” perintah Arimbi.


“Heeh! Sekarang nyonya?”


“Tidak, tahun depan Beni! Emir dan kamu sama saja ya menyebalkan. Huh!” ujarnya membalikkan badan dan keluar dari villa itu. Sedangkan Emir yang baru saja keluar dari lift menatap tajam kearah Beni.


“Dimana Arimbi?”


“Eh, Nyonya baru saja keluar, Tuan.”


“Kenapa kamu tidak menghentikannya Beni?”


“Ini...saya baru menghubungi Rino untuk pergi ke halaman belakang mengambil mangga muda untuk Nyonya. Sebenarnya apa yang terjadi Tuan? Apa nyonya baik-baik saja?”


“Arimbi sedang hamil! Dia marah karena aku memintanya menunggu sampai besok pagi. Ini sudah malam! Ck….dia mau makan mangga muda.” ucap Emir berdecak.


“Oh, memang seperti itu Tuan. Kalau wanita hamil mengidam selalu meminta yang aneh-aneh. Harap Tuan bisa sabar menghadapi nyonya.”


“Antarkan aku menemui istriku.”


“Baik Tuan.” Beni mendorong kursi roda Emir dan membawanya menuju keluar rumah.


Sedangkan Arimbi dan Rino sedang berjalan menuju halaman belakang rumah utama. Ada beberapa pohon mangga disana yang sedang berbunga.


“Rino, nyalakan senternya. Aku tidak bisa melihat mangganya.” ujar Arimbi yang segera dipatuhi oleh Rino. Dia mengarahkan senternya untuk melihat pohon mangga didepannya. Suasana di halaman itu temaram hanya ada lampu taman yang tidak terlalu terang menyinari sekitar.


“Arimbi…..”


Arimbi mendengar suara yang dikenalnya dari arah belakang, langsung menoleh. Dia melihat Emir yang didorong oleh Beni. “Kemarilah.”


“Emir, kembalilah kerumah. Jangan ganggu aku dan Rino!”


Rahang pria itu mengeras mendengar perkataan istrinya. “Apa maksudmu? Rino menjauh dari istriku.”


Glek!


Rino yang berdiri disebelah Arimbi menelan ludahnya. ‘Aissss…..bakalan kena deh aku! Aduh nyonya kenapa tidak jauh-jauh berdirinya?’ gumam Rino didalam hati. Dia sedang fokus menatap keatas pohon mangga. Melihat jika ada buah mangga muda yang sudah bisa dipetik.


“Arimbi!”


“Emir, jangan lupa ya aku masih marah padamu. Aku cuma mau makan mangga muda tapi kamu menolakku.” Arimbi memasang wajah paling menyedihkan di dunia. Hati Emir terasa sakit setiap kali melihat istrinya sedih dan menangis.


 


“Kemarilah…..”


Arimbi melangkah mendekati pria itu. Begitu Arimbi sudah berada tepat didepannya, tangan Emir langsung menariknya jatuh ke pangkuannya. “Ah…...”


“Maaf. Ssshhh…..jangan bersedih.”


“Emir, anakku yang mau mangga muda. Kalau tidak dituruti sesudah dia lahir nanti dia tidak akan menyukaimu.”


“Mana ada yang seperti itu.” ujar Emir mengeryitkan keningnya.


Arimbi menoleh menatap Beni tajam. Kepala pelayan itu paham arti tatapan Arimbi. Setelah berdeham dia pun berkata, “Ehem, Tuan. Memang benar yang dikatakan nyonya. Setiap wanita hamil pasti mengidam dan menyukai sesuatu. Apapun yang mereka inginkan harus diberikan, tidak boleh ditolak Tuan.”