GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 205. DITOLAK DAN DIUSIR


Wanita itu tak terkalahkan! Bagaimanapun dia adalah seseorang yang telah menjatuhkan pengawalnya. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman mengingat bagaimana Arimbi mengalahkan pengawalnya dengan mudahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan Direktur Harimurti? Kamu senyum-senyum sendiri.” Zivanna terpaku oleh senyuman Dion yang membuatnya tambah tampan. Kata-kata sangat tampan terlintas dibenaknya.


Selain parasnya yang tampan, Dion memiliki sepasang mata yang menawan. Jika bukan karena sikapnya yang dingin dia akan memberikan kesan sebagai pria yang feminim dan sangat cantik yang tidak maskulin seperti  Emir.


“Senyumanku tidak ada hubungannya denganmu Nona Zivanna.”


Zivanna telah mencoba untuk mencari informasi lebih jauh tentang pria ini. Karena dia ingin memberikan kasih sayang dan hatinya pada Dion Harimurti, Zivanna meminta kakaknya untuk mencari tahu semua tentang Dion. Lagipula hanya dengan mengenalnya lebih jauh baru dia bisa mendapatkan hatinya bukan?


Zivanna tidak bisa merebut hati Emir karena Emir berhati dingin dan tidak berperasaan. Zivanna berani mengatakan bahwa tidak ada seorang wanita pun didunia ini yang bisa meluluhkan hati Emir. Karena itulah dia harus memenangkan hati Dion.


“Direktur Harimurti, kamu belum memiliki seseorang yang kamu sukai, aku harus menyerah karena orang yang kusukai menolak menikah denganku. Kenapa kita tidak mencoba untuk berkencan? Mungkin dengan begitu kita bisa tahu kalau kita cocok.”


Dion Harimurti mengangkat tangannya lalu melirik jam tangannya, “Nona Zivanna, aku harus bersiap-siap untuk bekerja. Aku memiliki banyak pekerjaan dan sangat sibuk.” secara halus dia mengusir Zivanna untuk pergi dari sana. Zivanna yang mendengar kata-kata Dion pun mengerucutkan bibir merahnya lalu menjawab.


“Aku akan segera pergi setelah kamu mencicipi semua makanan yang aku bawakan.” Dengan tidaktahu malunya, Zivanna bersikeras untuk tinggal disana. Seperti yang diharapkan dari putri keluarga Lavani. Wanita itu cukup percaya diri untuk tidak takut pada Dion.


‘Dia terlalu percaya diri untuk tidak takut padaku ya?’ bisik hatinya sambil menatap wanita itu lekat-lekat sejenak.


Kemudian Dion menelepon sekretarisnya dan mengatakan, “Suruh beberapa petugas keamanan wanita datang kesini untuk mengawal Nona Zivanna keluar.”


Dion tidak takut pada Keluarga Lavani, tetapi diatidak ingin menyinggung Zivanna sepenuhnya karena statusny sehingga dia menyuruh agar beberapa petugas keamanan wanita yang datang untuk mengawalnya turun kebawah.


Ekspresi wajah Zivanna langsung berubah saat mendengar intruksi pria itu. “Direktur Harimurti!”


Setelah menutup telepon, Dion berkata dengan dingin dan suara yang dalam, “Nona Zivanna, jika kamu tidak ingin dikawal keluar dari gedung ini oleh petugas keamanan perusahaanku, maka segera kemasi barang-barangmu dan bawa pergi bersamamu untuk menyelamatkan martabatmu.”


Zivanna menggigit bibir bawahnya. Seperti yang diharapkan dari musuh bebuyutannya Emir. Dion adalah orang yang sulit ditembus sama seperti Emir. “Apakah kakimu masih baik-baik saja?” tanya Zivanna mengalihkan topik menanyakan kakinya yang terinjak Arimbi. Zivanna bertanya sambil mengemasi semua barang-barangnya agar dia tidak akan terlihat begitu memalukan.


“Bengkaknya sudah sedikit berkurang. Terima kasih atas perhatianmu, Nona Zivanna.”


“Apa Nona Arimbi tidak mengatakan apapun? Bagaimanapun dia yang menginjak kakimu begitu kuat.” Zivanna telah memasukkan kembali enam jenis makanan kedalam kotak makan.


“Dia sudah meminta maaf.” kata Dion tanpa ekspresi. “Dia tidak sengaja menginjak kakiku jadi aku membiarkannya setelah dia meminta maaf.”


Zivanna tersenyum, “Direktur harimurti, kamu cukup murah hati untuk memaafkannya ya?”


Zivanna dibuat terdiam. Tentu saja, dia tidak ingin Dion Harimurti dan Arimbi bertemu lagi. Bahkan jika dia berpikir bahwa dia seratus kali lebih baik dari Arimbi tapi dia tidak bisa menjamin bahwa Dion Harimurti tidak akan dibuat terpesona oleh kecantikan Arimbi. Harus diakuinya bahwa kecantikan Arimbi melampaui Amanda apalagi saat dia memakai pakaian terbaiknya.


Tapi, memangnya kenapa kalau Arimbi itu sangat cantik? Bukankah Emir kembali padanya? Kini dia masih bekerja sebagai pengasuh Emir di Villa Serkan sebagai pembantu rumah tangga yang tidak dibayar.


Dengan temperamen Emir, wanita itu pasti menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada kematian! Begitulah yang dipikirkan oleh Zivanna yang sama sekali tidak mengetahui kebenaran status Arimbi saat ini.


Memikirkan hal itu, Zivanna merasa jauh lebih baik. Dia berdiri dan mengambil dua kotak makan. Setelah menatap mata Dion lalu dia berkata, “Maaf telah mengganggumu Direktur Harimurti. Tapi aku tidak akan pernah menyerah padamu.”


“Selamat tinggal Nona Zivanna. Aku harap kamu jangan pernah datang lagi menemuiku.”


Zivanna menarik napas dalam-dalam setelah mendengar perkataan Dion, lalu dia berbalik untuk pergi. Begitu dia keluar dari kantor itu, dia melihat beberapa petugas keamanan wanita naik kelantai atas.


Melihat Zivanna keluar atas kemauannya sendiri, sekretaris Dion segera berdiri dan melihatnya keluar sambil menyuruh petugas keamanan wanita untuk turun kembali.


Sebelum memasuki lift, Zivanna menyerahkan kotak makan pada sekretaris dan berkata dengan lembut, “Tuan Yogi, Direktur Harimurti sudah sarapan jadi dia tidak memakannya. Sebagai gantinya, kamu bisa memakannya. Makanan ini dibuat oleh koki keluargaku.”


Yogi sang sekretaris tidak tergerak oleh kebaikan yang ditunjukkan oleh Zivanna padanya. “Terima kasih Nona Zivanna. Tapi saya sudah sarapan tadi dirumah.” terlepas dari apakah Zivanna bisa memenangkan hati Dion Harimurti, dia tidak akan menerima kebaikannya dan dia juga tidak berani.


Alih-alih marah padanya, Zivanna tersenyum dan memujinya. “Kamu cukup baik Tuan Yogi. Aku akan mengingatmu.” ucapnya entah apa maksud dibalik perkataannya.


“Suatu kehormatan bagi saya bahwa anda akan mengingat saya. Nona Zivanna liftnya ada disebelah sini. Silahkan lewat sini.” Yogi memberi isyarat perpisahan padanya.


Zivanna memberikan senyuman manis sebelum melangkah memasuki lift. Begitu pintu lift tertutup, senyumnya langsung hilang. Dia ingin membuang kedua kotak makan itu tetapi akhirnya dia memutuskan tidak melakukannya.


Sebelum dia meninggalkan gedung Harimurti Group, dia meninggalkan kedua kotak makan itu dimeja resepsionis, dan mengatakan bahwa ini adalah hadiah untuk para wanita resepsionis itu.


Kemudian Zivanna berjalan pergi tanpa peduli bagaimana respon wanita resepsionis. Setelah itu mobil ferrari sport merahnya melesar keluar dari Harimurti Group layaknya bola api. Lokasi gedung Harimurti Group berada tidak jauh dari Gedung Serkan Global Group, secara naluriah dia melajukan mobilnya kesana. Tetapi alih-laih masuk kedalam, dia hanya berhenti diluar pintu masuk perusahaan.


Dia menatap menara kantor berlantai enam puluh itu sambil melamun. Setelah waktu yang lama, akhirnya dia pun pergi. Dia harus menyerah pada Emir, tidak peduli betapa dia mencintainya dan betapa enggannya dia untuk berpisah dari pria itu. Tapi Emir tidak pernah memberinya harapan, bahkan hadiah ulang tahun dari Emir untuknya adalah vas bunga murah penuh makna sarkastik.


Bukankan pria itu mengejeknya karena memiliki wajah cantik yang tidak berguna seperti vas bunga itu? Mungkinkah Emir menyukai wanita yang kuat dan kompeten? Tidak mungkin dia bisa menjadi wanita yang kuat dan kompeten.


Dia memiliki banyak saudara laki-laki yang semuanya begitu memanjakannya. Bagaimana mungkin mereka rela membiarkannya bekerja?