GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 123. KUNJUNGAN NENEK


Sementara itu dirumah utama Layla Serkan baru saja menyelesaikan sarapan paginya bersama cucu perempuannya. Kemudian dia mengambit tisu dan menyeka mulutnya dengan anggun. Lalu dia bertanya kepada Yaya yang berdiri disampingnya,”Kapan Arimbi pulang tadi malam? Aku memintanya untuk menungguku tapi kenapa dia tidak melakukannya?”


Layla Serkan merasa kalau Arimbi tidak menghormatinya sebagai tetua dikeluarga Serkan.


“Nenek Serkan, Nona Arimbi pulang pada jam sebelas lewat tadi malam. Beliau sudah menunggu sampai Nyonya bangun tapi Tuan Emir ingin makan dan Tuan Beni datang menjemputnya.” jawab Yaya menjelaskan sesingkat mungkin tanpa mengatakan kehebohan yang terjadi tadi malam.


Layla tertawa mendengar penjelasan Yaya, “Emir sangat protektif padanya! Aku hanya memintanya untuk berdiri sepanjang malam tapi Emir menyuruhnya pulang dengan alasan konyol. Tidak apa-apa selama dia menyukainya.” Layla menggelengkan kepalanya, dia merasa sikap Emir memang sangat berbeda memperlakukan Arimbi.


Tidak peduli seberapa besar kebencian Layla Serkan pada Arimbi, selama Arimbi bisa memuaskan cucunya dan membantunya menjalani rehabilitasi, Layla menganggapnya masih berguna. Dia tidak akan mengganggu Arimbi terlalu sering dan mengizinkannya menikmati hari-hari yang tenang dan damai di keluarga Serkan.


Layla akan menunggu sampai Emir sembuh total lalu menendang Arimbi keluar dari Keluarga Serkan. Di masa lalu dia meminta Keluarga Rafaldi untuk menikahkan Arimbi dengan Emir karena cucunya itu lumpuh. Tidak peduli seberapa banyak wanita kaya kelas atas di Metro yang mengangumi Emir, mereka semua menolak untuk menikahi Emir. Karena sudah kehabisan akal, maka Layla menemui keluarga Rafaldi waktu itu.


Jika Emir sudah sembuh total maka Arimbi tidak akan diizinkan walau hanya menyentuh sepatunya saja. Tentu saja Layla tidak ingin mempertahankan Arimbi disisi Emir, cucunya layak mendapatkan seorang wanita kaya kelas atas sebagai pedamping hidupnya.


“Saya rasa Nona Arimbi merawat Tuan Emir dengan sangat baik. Saya mendengar dari Tuan Beni kalau Nona Arimbi tidak takut pada temperamen Tuan Emir kulit mukanya cukup tebal.”


Layla tersenyum, “Dia benar-benar bermuka tebal? Kalau dia tidak menarik perhatian Emir, dia tidak mungkin bisa bertahan disana setebal apapun wajah yang dia punya.”


Yaya pun mengangguk setuju. Setelah kecelakaan itu, temperamen Emir menjadi semakin buruk sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menghadapinya.


Tapi Arimbi terus tinggal disana karena berasumsi kalau Emir mungkin ingin mengerjainya dan seperti yang dikatakan oleh Layla, Arimbi cocok dengan selera Emir tentang wanita, makanya dia bisa tinggal lebih lama disana. Tiba-tiba Layla mengubah topik pembicaraan, dia menoleh pada Elisha cucu perempuannya dan berkata, “Elisha, temani aku jalan-jalan.”


Elisha menyetujui dan berdiri untuk jalan bersama Layla keluar dari rumah utama. Setelah berjalan mengitari halaman rumah, Layla berkata, “Elisha, kenapa kita tidak mengunjungi kakakmu?”


“Apakah kita tidak mengganggu waktu istirahatnya?” tanya Elisha.


“Kita hanya mau melihatnya saja. Jika dia menolak kedatangan kita, kita bisa kembali kesini.”


“Baiklah, nenek.” Elisha menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua pun berjalan kerumah Emir. Saat mereka berjalan ke kediamannya, mereka melihat halaman rumah yang dipenuhi dengan bunga berbagai jenis. Mereka mengira telah salah rumah dan berbalik arah untuk pergi. Tapi saat baru melangkah Layla menghentikan gerak kakinya lalu berbalik dan melihat area sekitarnya dengan seksama lalu dia menyadari sesuatu.


“Elisha! Aku ingta ini adalah kediaman kakakmu. Kurasa kita tidak masuk ke tempat yang salah kan?”


Elisha pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan dengan ragu berkata, “Nenek, aku ingat tempat ini memang rumah Emir. Aku rasa kita tidak salah tempat.”


“Kalau begitu, bagaimana dengan bunga-bunganya? Aku tadi pikir kita berada ditaman kita sendiri.”


“Nenek, kemarin ada keributan dirumah Emir. Aku lihat Beni telah membelibanyak pot bunga atas perintah Emir. Bukan hanya bunga yang mereka bawa tapi juga banyak tanaman lainnya.”


Layla dan Elisha pun saling pandang. Jika ini bukan sifat Emir, mungkin ini adalah Arimbi. Emir benar-benar merubah halamannya menjadi taman bunga demi Arimbi!


“Nenek, apakah kita tetap akan berkunjung?” tanya Elisha sambil memperhatikan raut wajah neneknya.


Saat ini Layla merasa kesal, tapi dia tidak punya tempat untuk melampiaskan kemarahannya. Bagaimanapun cucunya cacat. Dan Arimbi merawat Emir dan kebahagiaan cucunya itu yang paling penting bagi Layla. Dia tidak bisa ikut campur tentang perlakuan Emir pada Arimbi.


Tapi,bagaimana kalau Emir sudah pulih total? Layla menghela napas panjang dan berkata, :Kita sudah sampai disini. Sekalian saja kita masuk menjenguk kakakmu.”


Keduanya pun masuk ke tempat tinggal Emir dan saat itu bersamaan dengan Agha yang keluar dari villa Emir sambil mendorong kursi rodanya. Arimbi sudah pergi kerumah sakit untuk mengantarkan sup ayam untuk ibu angkatnya. Dia bahkan mengambil cuti dari Emir agar bisa bersama orang tuanya dirumah nanti.


Arimbi akan pergi bersama Amanda nanti malam untuk menghadiri pesta ulang tahun Zivanna di Kediaman keluarga Lavani. Jadi Arimbi akan berangkat ke pesta dari rumah orang tuanya. Arimbi bahkan sudah mengemas gaun malam yang akan dia pakai malam ini.


“Nenek, Elisha!” sapa Agha.


Ekspresi Layla penuh kasih sayang saat dia mengangguk membalas sapaan cucunya.Dia juga merasa lega melihat Emir dan Agha akur. “Apa kamu akan pergi keluar Emir?” tanya Layla pada cucunya itu.


“Aku baru selesai sarapan dan ingin pergi jalan-jalan. Apakah ada yang ingin nenek bicarakan denganku?” tanya Emir cukup serius. Dalam menghadapi masalah keluarga, Emir selalu bersikap serius, itulah mengapa banyak orang yang menganggapnya sulit diajak akur.


“Apa maksudmu nak? Apakah nenek tidak boleh mengunjungimu?”


Emir mengerucutkan bibirnya, membisu. Sejak temperamennya menjadi semakin buruk, pelayannya tidak betah bekerja dirumahnya lagi. Bahkan keluarganya sendiri jarang mengunjunginya. Meskipun alasan utamanya adalah Emir, dia masih merasa tidak enak. Semakin dia marah maka semakin dia melampiaskannya pada orang lain.


“Dimana Arimbi?” tanya Layla pura-pura bersikap tenang.


“Dia sedang pergi keluar.” jawab Emir dengan suara rendah. “Ibu angkatnya mengalami kecelakaan, jadi akhir pekan ini dia pergi kerumah sakit untuk merawatnya.”


Layla mengangguk, “Ibu angkatnya membesarkannya selama dua puluh tiga tahun dengan susah payah. Wajar jika Arimbi merawatnya saat ia mengalami kecelakaan.”


Elisha pun setuju, “Setidaknya dia masih bertanggung jawab pada ibu angkatnya. Itu membuatnya jauh lebih baik daripada Amanda yang tidak mengakui ibu kandungnya.”


Amanda memang tidak mau kembali pada ibu kandungnya dan tidak pernah berhubungan dengannya. Dia dengan jelas memandang rendah ibu kandungnya dan hanya memanfaatkan semua yang bisa dia ambil dari orang tua  angkatnya.


“Emir, kamu mempunyai banyak bunga dihalaman rumahmu.” ujar Layla sambil memperhatikan ekspresi wajah Emir. Dia ingin tahu apa alasan cucunya mengubah halamannya menjadi taman bunga.


“Indah sekali.” jawab Emir dengan suara rendah, “Bukankah semua bunga ini lebih menghidupkan suasana rumah? Rumahku tidak terlihat membosankan lagi seperti dulu. Arimbi menyukainya dan ini semua adalah bunga-bunga kesukaannya.” tambahnya menjelaskan.