GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 218. KECURIGAAN MICHELE


Saat anak-anak keluarga Lavani sibuk berdiskusi untuk menghancurkan Rafaldi Group dan Arimbi agar memperkuat posisi mereka. Arimbi tidak tahu tentang hal itu. Tapi dia sudah menyusun rencana satu persatu untuk membalas Reza, Amanda dan Zivanna. Dia hanya menunggu hingga bola dilemparkan padanya sehingga dia bisa menentukan arah mana tendangan balik dia tujukan.


Setelah makan malam dengan Emir, Arimbi membawanya keluar untuk bersantai melihat matahari terbenam sebelum kembali melanjutkan rehabilitasinya.


Sesaat setelah mereka keluar dari kediaman Serkan, mereka berpapasan dengan Michele. Wanita itu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu berjalan mendatangi Arimbi dan Emir.


Suara tumit sepatu hak tingginya berbenturan dengan aspal membuat suara ketukan keras karena Michel berjalan cepat. “Tuan Emir!” sapa Michele tersenyum dan saat mendekati mereka, Michele mengangguk menyapa Arimbi. “Nona Arimbi.”


“Direktur Januar.“ Arimbi tersenyum membalas sapaan Michele. Arimbi mencoba menebak maksud kedatangan wanita itu kerumah mereka. Dengan wajahnya yang memerah karena malu, Arimbi berkata, “Direktur Januar, saya minta maaf karena saya melupakan sesuatu tentang rancangan pakaian saya.”


Michele pun melihat Emir, mengetahui bahwa ekspresi wajah Emir tidak berubah, Michele tersenyum dan menjawab.


“Pasti anda juga sibuk Nona Arimbi jadi wajar saja anda lupa. Aku sendiri kebetulan sedang tidak sibuk jadi aku datang kesini. Tuan Emir apakah anda akan berjalan-jalan?”


Emir mengangguk dengan datar, “Karena kamu sudah ada disini, lebih baik kita lanjutkan bicara didalam saja.”


Michele merasa tersanjung karena Emir tidak membuatnya menunggu ataupun membuang-buang waktunya. “Terima kasih Tuan Emir!”


Lalu Arimbi mendorong kursi roda Emir kembali kedalam kediaman Serkan. Setengah jam kemudian, Arimbi bertanya, “Direktur Januar mau minum apa?”


Michele menjawab dengan senyuman, “Akhir-akhir ini cuaca sangat panas. Bisakah kamu memberiku segelas jus buah pir segar? Kalau bisa ditambah es.”


“Baiklah Direktur Januar. Anda bisa berbincang dengan Tuan Emir dulu, saya buatkan minumannya sebentar.” jawab Arimbi masih dengan wajah tersenyum. Lalu Arimbi berjalan menjauh untuk mencari Beni. Dia bertanya sambil berbisik, “Apakah ada buah pir didapur utama?”


Di kediaman Serkan, banyak buah-buahan segar dan semuanya adalah buah impor kelas atas. Arimbi tidak pernah menyangka Michele akan benar-benar meminta segelas jus buah pir. Dan dia tidak tahu apakah Michele merasa kepanasan atau sengaja mencoba untuk mempermalukannya.


Beni menjawab, “Nyonya, semuanya ada didapur utama. Meskipun Nyonya dan Tuan Muda Emir tidak makan buah pir tapi selalu ada stok disana. Dapur utama bertanggung jawab untuk semua orang yang tinggal di kediaman Serkan ini.”


Standar makanan staf berbeda dengan majikannya, tetapi mereka memiliki buah-buahan setelah makan setiap harinya dan buah-buahan itu tentu saja buah musiman biasa.


“Beni, tolong suruh pelayan pergi dan ambilkan beberapa buah pir beku. Aku akan membuat segelas jus pir segar untuk Direktur Januar.”


Dia juga ingin mencobanya. Dulu dia sering membuat jus sendiri.


Beni menjawab, “Baiklah Nyonya. Saya akan meminta mereka untuk mengirimnya kesini. Akan lebih cepat jika mereka yang langsung mengirimkan kesini.” Setelah mengatakan itu, Beni langsung menghubungi dapur utama.


Staf dari kediaman Serkan bekerja sangat efisien dan hanya butuh beberapa menit saja Beni sudah menghampiri Arimbi dengan membawa beberapa buah pir segar yang dikirim oleh pelayan dapur utama.


Arimbi pun segera membuat tiga gelas jus buah pir. Lalu membawanya keruang tamu, “Direktur Januar.” Arimbi meletakkan segelas jus pir dimeja dihadapan Michele. Lalu dia memberikan jus kedua pada Emir dan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Arimbi melihat bagaimana Michele meminum jus buah pir itu. “Buahnya benar-benar segar. Terasa sangat lezat.”


Arimbi tersenyum dan melihat Emir yang hanya menatap segelas jus pir dan tidak berniat untuk meminumnya. Arimbi menduga suami manjanya itu belum pernah minum jus buah pir seumur hidupnya. Arimbi pun menyesap jus pir digelasnya lalu meletakkan dimeja.


“Jika semuanya sudah tidak ada masalah, saya bisa mulai membuat pakaiannya. Dan Tuan Emir juga meminta saya untuk membuatkan beberapa rok untuk anda juga.”


Gaya sehari-hari Michele sangat mewah jadi Arimbi menyukai semua desain yang ditunjukkan padanya. Sketsa desain pakaian Arimbi terlihat sangat mewah dan tidak terlalu glamor karena Arimbi tidak menyukai sesuatu yang berlebihan.


“Buat desainnya tidak terlalu rumit dan jangan tunjukkan bagian dibawah lehernya. Selama musim panas, Arimbi juga suka memakai celana pendek. Buatkan juga beberapa celana pendek untuknya.” ujar Emir menjelaskan padahal Arimbi belum sempat mengatakan apapun.


Setelah mendengar kata-katanya, Arimbi meliriknya karena terkejut bahwa Emir benar-benar memperhatikan bahwa dia suka memakai celana pendek.


“Baiklah Tuan. Saya mengerti. Bagaimana dengan rok? Model seperti apa yang anda suka, Nona?”


“Tidak perlu!” dengan cepat Arimbi menolak. Dia berjalan cepat dan dia juga akan sering berkelahi. Jika mengenakan rok akan membatasi langkah dan pergerakannya. Selain itu jika seseorang mengertaknya dan dia akan kewalahan untuk mengangkat kakinya.


Emir berkata dengan suaranya yang dalam, “Buatkan lima rok untuk setiap musim. Buatkan model yang ramping dan panjang. Aku tidak mau dia mengenakan rok pendek.”


Arimbi dengan cepat membantah, “Emir, aku tidak suka memakai rok yang pas dan panjang.”


Jika dia benar-benar harus memakai rok, Arimbi lebih suka memakai yang longgar atau rok kulot. Ya benar, kulot! Itu akan mudah baginya bergerak.


“Emir, aku mau rok kulot. Akan terlihat seperti rok ketika aku memakainya dan jika terjadi sesuatu, rok kulot tidak akan menghalangiku berlari dan bergerak.”


Emir menatapnya cukup lama lalu dia berkata pada Michele, “Anda bisa membuat kulot untuk musim gugur dan musim panas. Rok panjang yang pas untuk dua musim lainnya. Terima kasih Michele.”


“Oh iya. Tambahkan juga beberapa kemeja untuk musim panas dan pakaian ke pantai untuknya. Tapi jangan terlalu seksi dan terbuka. Buatkan desain yang tidak terlalu mengekspos tubuhnya.” tambah Emir lagi yang membuat wajah Arimbi merona.


Arimbi menganga, namun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia memutuskan untuk mengikuti keinginan suaminya saja agar Emir tidak marah. Michele tersenyum meskipun didalam hatinya dia merasakan ada keanehan dengan kedua orang didepannya itu.


“Sama-sama Tuan Emir. Merupakan kehormatan bagi saya untuk bekerja bersama anda. Tuan Emir.”


Setelah menyaksikan percakapan pasangan itu, Michele merasa kaget dan cemburu. Perlakuan Emir terhadap Arimbi begitu istimewa sehingga dia pun merasa sangat curiga jika mereka sudah menikah.


Karena berdasarkan gelagat mereka, hanya pasangan yang sudah menikah yang memiliki interaksi seperti itu. Apalagi sepertinya Emir sangat mengetahui semua tentang Arimbi.


Bagaimana bisa Emir mengetahui semua model pakaian yang biasa dipakai Arimbi kalau dia hanya berstatus sebagai pengasuh saja? Bukankah hanya seorang suami yang bersikap seperti itu pada istrinya? Michele semakin merasa cemburu tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


“Nona Arimbi saya akan membantu anda untuk mengukur celana dan rok-nya.”


“Baiklah.”