
“Emir, mereka menangkap Joana! Bagaimana ini? Kemana mereka membawanya, Emir? Siapa yang menculik Joana? Ini semua salahku menuruti ide gilanya Joana.” Arimbi terlihat menitikkan airmata merasa sangat bersalah pada sahabatnya itu.
“Arimbi, ssshhh…..jangan menangis. Joana akan baik-baik saja.” ucap Emir berusaha menenangkan Arimbi di kamarnya.
“Emir! Bagaimana aku bisa tenang saat sahabatku satu-satunya hilang! Cepat cari dia Emir! Aku akan membencimu selamanya kalau sampai terjadi apa-apa pada Joana.” ujar Arimbi terus menangis.
“Jangan bicara begitu, tidak baik untuk kandunganmu! Tenanglah, aku janji pasti akan menemukan Joana. Semua anak buahku sedang melacak keberadaannya. Emir terus saja menenangkan Arimbi.
“Hiks hikss hiksss…….Joana…….pasti mereka mengira kalau Joana adalah aku! Dia belum melepas topeng wajahnya saat keluar tadi. Ya Tuhan! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya.”
Emir memeluk Arimbi sambil mengelus-elus punggungnya. Sebenarnya anak buahnya sudah menemukan keberadaan Joana. Mereka sedang mengawasi tak jauh dari villa milik Dion.
“Arimbi, kamu percayakan padaku kan?” tanya Emir mengusap wajah istrinya yang basah airmata.
“Ehm….” dia hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa takut dan mengkhawatirkan Joana jika dia sampai disiksa dan bahkan lebih buruk dari itu. Arimbi berpikir mungkin keluarga Lavani yang menculik sahabatnya itu, itu membuatnya semakin khawatir.
“Anak buahku sudah menemukan Joana!” Emir akhirnya buka mulut karena tak tega melihat istri kesayangannya itu menangis dan mengkhawatirkan Joana. Tapi dia tak akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa kemarin Joana yang mengutarakan idenya pada Rino untuk menggantikan Arimbi.
Arimbi langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Emir tak percaya. “Apakah dia baik-baik saja? Ayo kita kesana menjemputnya.” dengan tak sabar dia menarik tangan Emir tapi pria itu langsung menahannya agar tetap diam disampingnya.
“Ini sudah tengah malam. Dia baik-baik saja, besok pagi kita akan menemuinya. Sebaiknya kita istirahat saja oke? Ingat, kamu itu sedang mengandung tidak baik banyak pikiran dan stress.” Emir membantu Arimbi membaringkan tubuhnya di kasur. Wajah wanita itu cemberut, dia setengah percaya pada ucapan suaminya itu. “Aku tidak bisa tenang Emir! Aku takut dia kenapa-napa.”
“Ssshhh…...dia akan baik-baik saja.”
“Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau dia baik-baik saja? Apa ada yang aku tahu?” Arimbi melotot.
“Tidak ada. Kamu tidak perlu terlalu khawatir kalau kubilang dia baik-baik saja. Percayalah!”
“Kamu bohong kan? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu! Aku mau pergi mencarinya.”
“Kemana kamu mau mencarinya? Apa kamu tahu dimana Joana?”
Arimbi terdiam lalu menundukkan kepalanya. “Aku harus menghubungi orang tuanya. Mereka pasti cemas.” ucap Arimbi lagi hendak mengambil ponselnya diatas nakas.
“Arimbi! Jangan ganggu istirahat orang lain, ini sudah malam! Besok pagi saja kamu hubungi mereka setelah bertemu Joana.” ucap Emir.
“Katakan padaku kamu tidak bohong kan? Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?” Arimbi menatap serius wajah Emir ingin melihat ekspresi pria itu tapi melihat ekspresi wajah Emir yang tampak tenang akhirnya dia pun percaya bahwa Joana baik-baik saja.
“Tidurlah! Aku mau ke ruang kerjaku sebentar. Tidak lama, aku akan segera kembali.” ucap Emir dengan suara lembut.
CUP!
Setelah mencium kening Arimbi. Emir perlahan turun dari ranjang, karena latihan rutin yang dilakukannya kini dia sudah mulai bisa berjalan meskipun harus pelan-pelan. Dia berjalan meninggalkan kamar tidurnya menuju ke ruang kerjanya. Emir meraih ponsel dari dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
“Bagaimana?” tanya Emir saat panggilan tersambung.
“Semuanya berjalan sesuai rencana Tuan! Lampu dari kamar atas masih menyala remang-remang. Mungkin Tuan Harimurti belum tidur. Sepertinya dia sudah berhasil masuk dalam perangkap, Tuan.”
“Awasi terus sampai besok pagi. Jangan sampai lengah! Lakukan seusai rencana, besok pagi pastikan Dion Harimurti tetap berada di villa itu! Semuanya harus berjalan lancar.”
...*********...
“Ada apa?” tanya Mosha saat melihat suaminya kembali ke kamar dengan wajah penuh amarah. Tadi saat dia dan istrinya baru saja tidur, ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari kantor polisi yang mengabarinya kalau Amanda sedang berada di kantor polisi karena tertangkap saat ada penggerebekan di hotel dan kelab malam mewah.
“Kamu istirahatlah. Aku mau keluar sebentar ada hal penting yang harus diurus.”
“Hal penting apa semalam ini?” tanya Mosha mengeryitkan dahinya. “Tidak biasanya kamu keluar malam-malam begini. Suamiku, apa ada hal buruk yang terjadi pada perusahaan kita?” tanya Mosha dengan nada suara penuh kekhawatiran.
“Bukan perusahaan.” ucap Yadid. Dia masih terkejut dengan berita yang baru diterimanya.
“Lalu soal apa? Arimbi? Apa Arimbi bermasalah?” tanya Mosha lagi. Dia menatap wajah suaminya tapi ekspresi wajah itu tidak ada sedikitpun kekhawatiran, justru tampak seperti marah dan kesal.
“Amanda.” akhirnya Yadid menyebutkan nama itu.
“Amanda? Kenapa dengan Amanda? Bukannya dia tadi pergi makan malam dengan Arimbi?”
“Aku akan jelaskan nanti. Aku harus pergi sekarang.” saat Yadid hendak pergi mengganti pakaiannya, tangan Mosha menghentikan dan wanita itu berdiri dihadapan Yadid.
“Wajahmu tampak marah. Katakan padaku apa yang terjadi pada Amanda.”
“Dia di kantor polisi sekarang.” ucap Yadid lalu melepaskan tangan istrinya dan berganti pakaian. Mosha menunggu hingga suaminya selesai berganti pakaian dan bertanya lagi.
“Apa dia kecelakaan? Apa dia mendapat masalah? Bagaimana dengan Arimbi.”
Yadid menghela napas panjang, didalam hatinya dia merasakan kekecewaan yang sangat besar.
“Dia tertangkap saat ada penggerebekan! Dia sedang berada di kamar hotel bersama Reza. Kamu istirahatlah! Biar aku urus ini dulu.”
“Apa?” Mosha menutup mulutnya dengan tangan tak percaya. “Reza? Apa yang mereka lakukan dikamar hotel berduaan? Lalu dimana Arimbi? Bukankah mereka bersama pergi makan malam?”
“Arimbi sudah pulang! Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Nanti akan jelas di kantor polisi.”
“Aku ikut!” ujar Mosha bergegas mengambil jaket lalu mengikuti suaminya.
...*******...
“Apa hubungan kalian berdua, Tuan Kanchana?” tanya petugas yang menginterogasi Reza.
“Ka—kami hanya teman! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami dijebak, saya menerima pesan dari nomor telepon Amanda yang memintaku datang ke kamar itu. Saat aku tiba disana, dia sudah setengah sadar.” ujar Reza mengatakan yang sebenarnya.
‘Sial! Sial! Andai tadi aku langsung membawa Amanda ke villa, tidak akan seperti ini jadinya! Aiiisss…..aku bisa hancur kalau sampai keluarga Lavani dan Keluarga Ruby tahu kejadian ini!’ Reza mengepalkan tangannya dengan erat dibawah meja. Sebenarnya dia merasa takut pada amarah ayahnya jika mengetahui ini.
Pernikahannya akan digelar minggu depan, tapi naas dia malah ketangkap basah sedang berduaan dengan Amanda di kamar hotel. Dia tak sempat memperhatikan apakah ada yang mengambil foto atau video saat penggerebekan tadi. Belum selesai masalah perusahaannya, kini masalah baru kembali menghampiri. Reza merasa benar-benar sial sejak berpisah dengan Arimbi.
Amanda di periksa di ruangan lain, kesadarannya sudah mulai muncul. Sama seperti Reza, dia pun merasakan ketakutan karena terpaksa memberikan nomor telepon ayahnya pada petugas. Dia hanya bisa dibebaskan jika ada jaminan dari keluarga. Amanda menggigit bibir bawahnya, malu dan marah itulah yang kini dirasakannya.
Dia tidak tahu dan tidak ingat apa yang terjadi padanya malam ini. Tiba-tiba dia sudah berada didalam kamar hotel bersama Reza. Entah siapa yang membawanya kesanapun dia tidak tahu. Tapi, saat ini dia tidak bisa berpikir karena akal sehatnya belum sepenuhnya pulih.