GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 344. DILON DHARSANA


“Dasar wanita murahan!” Joana hendak menerjang namun Dion menariknya kedalam pelukannya. Melihat itu Zivanna semakin marah, tangannya menggenggam erat seprei yang menutupi tubuhnya.


Tiba-tiba Zivanna berteriak sangat keras.


“Aaaaggghhhhh…..”


Arimbi tertawa begitu mendengar Zivanna mengambil napas akibat teriakannya barusan. Dia semakin mendekati ranjang.


 


Zivanna mundur kearah sandaran tempat tidur sambil mengarahkan telunjuknya pada Arimbi. “Jangan macam-macam kamu!”


“Apa yang kau lakukan pada pria ini? Apa kamu membiusnya? Sudah puas kamu bermain-main dengannya Zivanna? Apakah dia memuaskanmu, hah?” Arimbi tersenyum menyeringai.


 


“Hah! Tentu dia memuaskanku! Kenapa Arimbi? Kamu marah? Tidak terima karena aku berhasil mendapatkan Emir?” Zivanna mencemooh dan terlihat bangga. “Emir akan selalu menjadi milikku.”


“Kata siapa?” terdengar suara bariton dari arah belakang. Suara yang sangat dikenali Arimbi, sudut bibir Arimbi terangkat membentuk senyum saat melihat pria itu memperlihatkan wajahnya.


Zivanna bungkam, dadanya bergetar saat melihat pria itu memeluk pinggang Arimbi dengan tatapan menghunjam dan senyum mencibir pada Zivanna.


 


“Nona Zivanna, sepertinya ada sedang bersenang-senang dan kami sudah mengganggumu. Maafkan kami, ayo…..semuanya pergi dari sini.” ujar Emir yang datang entah darimana dan mengejutkan semua orang yang berada dikamar itu. Apalagi Zivanna yang menatap lurus pada pria disamping Arimbi.


 


“Tu---Tu--Tuan Emir……?” Zivanna terpelongo sebentar lalu dia melirik ke pria yang terbaring disebelahnya.


Wajahnya mirip Emir. Bagaimana bisa ada dua Emir disini? Dia mengerjapkan matanya, sementara orang-orang yang berada disana juga merasa heran dan kaget dengan kehadiran Emir sedangkan pria yang ditempat tidur juga adalah Emir.


 


Dion mendengus, ‘Dasar! Mereka memainkan trik yang sama seperti malam itu? Darimana mereka mendapatkan topeng itu? Lalu, siapa pria yang diatas ranjang itu?’ bisik hati Dion yang mulai penasaran dengan sosok yang diatas tempat tidur tampak tidur dengan tenang seolah tak terusik dengan keributan di kamar itu.


 


“Ada apa ini?”


“Siapa orang yang diatas ranjang bersama Nona Zivanna?”


“Ini sangat memalukan? Dia bahkan rela melakukan hal serendah ini?”


“Apa kalian sudah merekamnya? Ini akan jadi bukti untuk ditindak lanjuti.”


“Putri keluarga Lavani benar-benar memalukan!”


 


Dengungan terdengar dari orang-orang yang berada didalam kamar itu. “Kenapa polisi belum datang? Ini harus diselediki! Merusak citra perjamuan bisnis tahunan saja! Ini acara untuk orang-orang terhormat tapi malah membuat hal memalukan dan menjijikkan seperti ini.”


 


“Benar! Hapus keluarga Lavani dari daftar! Mereka merusak perjamuan bergengsi seperti ini!”


“Saya akan meminta panitia untuk menghapus keluarga Lavani!”


“Iya, saya setuju! Ternyata mereka sangat keji dalam berbisnis.”


Emir tak mempedulikan apa yang dikatakan orang-orang itu. Satu persatu keburukan keluarga Lavani akan terbongkar.


 


“Cepat selidiki siapa pria itu sebenarnya.” teriak salah seorang pria.


Tanpa menunggu lama, Dion melepaskan pelukannya pada Joana, dengan cepat dia sudah berada di samping tempat tidur lalu menarik topeng yang menutupi wajah pria. Namun belum sempat dia menarik topeng itu, si pria sudah terbangun dan menatap Dion.


 


“Mau apa anda?” tanya pria itu menatap Dion. Sedangkan Zivanna yang terkejut mendengar suara itu langsung menoleh. Itu bukan suara Emir, dia ingat suara Emir! Lalu siapa pria yang tadi dia tiduri? Zivanna mulai bergidik, membayangkan dia sudah merendahkan dirinya pada lelaki asing. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya.


 


“Tidak perlu! Aku buka sendiri.” ujar pria itu lalu perlahan dia mulai menarik pelan topeng kulit di wajahnya. Saat terpampang wajah dibalik topeng itu semua orang mengeryitkan kening.


 


“Ka----ka---kamu?” Zivanna gemetar saat melihat wajah pria itu.


“Halo Zivanna! Kita bertemu lagi! Apa kamu puas dengan tubuhku?”


“Kurang ajar! Brengsek!”


“Bajingan kamu!” teriak suara pria yang menerobos masuk. "Beraninya kamu menyentuh adikku!"


 


“Selamat malam Johan Lavani! Bertemu lagi setelah sekian lama.”


“Apa yang kamu lakukan pada adikku?”


“Tidak ada! Tanyakan saja padanya, apa yang dia lakukan padaku. Cih!” pria itu mendengus sinis.


“Kurang ajar!” Johan maju hendak memukul pria itu dengan penuh amarah namun tatapan mata Dion yang tajam bak pisau menghunjam, membuat Johan Lavani menghentikan langkahnya. “Tuan Dion!”


 


“Zivanna! Apa yang kamu lakukan? Cepat pakai bajumu dan pergi dari sini! Kalian semua keluar!”


“Mereka semua adalah saksi disini! Tidak ada yang meninggalkan tempat ini sebelum semuanya jelas.” ujar Emir dengan datar dan dingin. “Tuan Johan Lavani! Sepertinya anda melewatkan pertunjukan yang sangat bagus! Sebaiknya anda persiapkan diri saat kita bertemu di pengadilan nanti.”


 


“Apa maksud Tuan Emir bicara seperti itu? Keluarga kita tidak pernah bersinggungan dan berhubungan baik selama ini. Apakah ada masalah yang tidak saya ketahui.”


“Pikirkan sendiri!” ujar Emir dengan tatapan tajam. “Semua buktinya sudah ada ditanganku!”


Pria yang tadi terbaring di tempat tidur mengambil kesempatan mengenakan pakaiannya dengan cepat lalu berdiri tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


 


“Saya akan menuntut Nona Zivanna atas pelecehan yang dilakukannya pada saya! Tunggu saja!”


“Dilon! Kurang ajar! Kamu yang menjebakku! Iyakan ? Kamu sengaja memakai topeng wajah Emir untuk menjebakku!” teriak Zivanna terisak. Johan menyelimuti adik perempuannya lalu membantunya berdiri dan melangkah menuju ke kamar mandi!”


 


“Siapa menjebak siapa akan ketahuan di rekaman CCTV!” ujar Dilon mencibir. “Aku tidak akan pernah melepaskan kalian! Setelah menghancurkan keluargaku! Seenaknya menjebak dan melecehkanku?” Dilon menatap tajam pada Johan tanpa sedikitpun rasa takut.


 


“Dilon Dharsana! Kehancuran keluargamu tidak ada hubungannya dengan keluarga Lavani!” ujar Johan. Kamu tidak bisa seenaknya memfitnah tanpa ada bukti.


“Ha ha ha ha…..dulu aku memang tidak ada bukti! Selama tiga tahun aku berusaha mengumpulkan semua bukti kejahatan keluarga Lavani! Ternyata aku sangat beruntung, semua buktinya sudah ada ditangan yang tepat!”


 


Johan mengeryitkan dahinya dan terdiam sejenak lalu mencibir, “Oh ya? Kamu pikir semudah itu kamu menuduh orang? Berhati-hatilah dalam menyebar kebohongan! Karena akan menerkam anda sendiri!”


“Tunggu saja Tuan Johan Lavani! Kehancuran keluargamu sudah didepan mata! Oh satu hal lagi, aku tidak menyangka adik perempuanmu begitu liar dan murahan!”


 


Dilo melangkah meninggalkan kamar itu dibawah tatapan semua orang yang saling bertukar pandang dan mulai berbisik. “Dharsana? Bukankah keluarga Dharsana yang merupakan pemilik perusahaan property terbesar beberapa tahun lalu?”


“Iya benar! Setelah bangkrut tidak ada kabar berita lagi. Seminggu setelah itu, keluarga mereka mengalami kecelakaan naas.”


 


“Jangan-jangan kecelakaan itu berhubungan dengan keluarga Lavanni! Bukankah tadi Nona Zivanna sendiri sudah mengakui kalau kecelakaan Tuan Emir pun ada hubungannya dengan putra keluarga Lavani? Wah, ini benar-benar berita besar!”


“Tak disangka kalau keluarga Lavani sangat kejam. Sudah membunuh banyak orang.”


Saat itu pihak berwajib sudah datang dan mulai mengamankan lokasi. Zivanna yang merasa malu memilih bertahan didalam kamar mandi menunggu sampai semua orang meninggalkan kamar itu.