GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 372. KEDATANGAN DION HARIMURTI


Amanda menangis tersedu-sedu, dia sudah tidak punya tempat lagi. Beberapa perusahaan yang diharapkannya bisa menerimanya sebagai karyawan disana ternyata malah mengacuhkannya. Dan orang-orang itu yang selama ini selalu menjalin kerjasama dengan Rafaldi Group melalui Amanda seolah tak pernah mengenalnya.


 


Tangannya menggenggam erat kemudi mobilnya, melajukan kendaraannya menuju kedaerah pedesaan dimana keluarga kandungnya berada. Dia sudah tidak mungkin menetap di kota dengan situasi seperti ini. Kemanapun dia pergi, orang-orang mengenalnya dan mencibir menatapnya dengan tatapan jijik seolah dia adalah seonggok kotoran.


 


Amanda mengendarai mobilnya dengan derai airmata yang membasahi pipinya. Sesekali dia menghapus airmatanya dengan tangan. Dadanya terasa sesak, dunianya benar-benar hancur, dan yang membuatnya semakin terpuruk adalah kehamilannya. Semua orang mengacungkan tangan padanya dan meneriakinya pelakor! Sementara Reza sedang menikmati bulan madu bersama istrinya.


 


‘Kurang ajar! Brengsek! Kamu sudah berjanji tidak akan menyentuh wanita itu, Reza! Apa-apaan ini? Kalian malah pergi berbulan madu? Apa kamu memang tidak mau bertanggung jawab dan mengakui anak dalam kandunganku ini? Ya ampun…..apa yang harus kulakukan sekarang?’ bisik hati Amanda.


 


Saat dia tiba dipersimpangan jalan menuju ke desa, dia menghentikan mobilnya dan menatap nanar kearah jalanan itu sembari berpikir. ‘Apa sebaiknya aku aborsi saja ya? Aku tidak punya pekerjaan sekarang, kalau aku hamil akan semakin sulit bagiku untuk mendapatkan pekerjaan. Fuuuhhh! Kenapa semuanya jadi seperti ini? Keluarga Rafaldi bahkan tidak memberiku uang apapun! Mereka memiliki banyak rumah dan apartemen, apa salahnya memberikan satu apartemen untukku?’


 


Amanda mendengus kesal, ‘Arimbi! Udik desa itu! Semakin hari hidupnya semakin nyaman dan dia bisa memiliki apapun yang dia mau! Seharusnya itu aku! Aku yang selama ini menikmati semua kemewahan itu bukan Arimbi! Perempuan itu! Kenapa hidupnya selalu beruntung?’ Amanda menghempaskan napas kasar.


 


Pikirannya kembali mengingat bagaimana awal Arimbi kembali ke keluarga Rafaldi. Sejak itu semuanya terasa berbeda dan perlahan berubah hingga hidupnya berakhir seperti ini.


Tok tok tok……


Seseorang mengetuk kaca mobilnya membuyarkan lamunan Amanda. Dia ingin memarahi orang itu, namun saat dia menoleh ternyata itu adalah Adrian.


 


Amanda menurunkan kaca jendela. “Ada apa?” tanyanya dengan ketus.


“Apa kamu mau bermalam disini? Ayo pulang, ibu dan ayah sudah menunggumu dirumah!”


“Hem…..pergilah dulu! Aku akan menyusul.” jawab Amanda menaikkan kembali kaca mobilnya. Dia menatap Adrian yang melajukan motornya meninggalkan Amanda.


 


Dia menyalakan mesin mobil dan melaju menuju kerumah orang tua kandungnya. ‘Apa yang akan aku lakukan sekarang? Aku tidak punya uang yang cukup untuk membuka usaha! Sepertinya aku harus meninggalkan tempat ini dan pindah ke kota lain atau mungkin ke luar negeri. Ck! Mana mungkin aku pergi ke luar negeri dengan kondisi keuangan seperti ini?’


 


...*******...


“Pak tolong geser ke sebelah kiri sedikit!” Joana memberikan intruksi pada pekerja yang sedang memasang lukisan karya Arimbi di ruangan cafe. Hari ini Joana terlihat sangat imut dengan memakai celana lejing hitam dan atasan longgar berwarna biru corak abstrak. Rambutnya digulung acak, riasan wajahnya warna nude membuatnya tampak segar.


 


Dia sudah sibuk sejak pagi mengatur para pekerja yang menyusun perabotan di cafe itu. Kini rumah tua itu nampak berbeda, terlihat sangat bersih dengan halaman yang dihiasi bunga-bunga dan Joana juga membuat sebuah kolam serta pancuran di bagian samping rumah untuk menambah kesan alam yang memang menjadi pilihan untuk konsep cafenya.


 


Rumah itu memiliki halaman yang cukup luas, halaman yang tadinya kosong dan hanya ada beberapa tanaman saja kini terlihat asri. Joana mendesain taman yang indah dengan konsep romantis jadul.


Sedangkan bagian dalam cafe, dinding dipenuhi lukisan serta art karya Arimbi menambah kesan tempo dulu yang kental. Perpaduan konsep jadul modern ini benar-benar sangat menarik.


 


“Apa Tuan mau masuk kedalam?”


“Dia ada disini atau tidak?” pria itu bertanya balik.


“Ada Tuan. Sepertinya Nona Joana masih ada didalam. Apa perlu saya periksa lagi?”


 


“Tidak usah. Aku sendiri yang akan memeriksa ke dalam. Kalian berjaga-jaga disini.’ perintah Dion seraya mengambil paperbag yang ada disampingnya. Lalu dia turun dari mobil dan melangkah memasuki tempat itu. Para pekerja menoleh saat melihat seorang pria berpakaian mewah datang. Mereka melihat Dion datang sebelumnya dan mereka mengira jika pria itu mungkin pacar Joana.


 


Jadi tidak ada seorangpun yang bertanya. Dion melangkah masuk kedalam cafe dan mengedarkan pandangan saat matanya menangkap sosok wanita yang terlihat sedang menyusun beberapa hiasan didinding sembari memberi intruksi pada pekerja. Dion terus saja menatap wanita itu dari balik kacamat hitamnya.


 


Sudut bibirnya terangkat, ‘Kenapa perempuan itu semakin hari terlihat semakin imut? Dia tidak pernah berdanda dan berpakaian pun sekenanya saja.’ gumamnya terus memandang Joana sambil berjalan dan berdiri dibelakang Joana yang masih belum menyadari kehadiran seseorang disana. Namun pekerja yang baru saja meletakkan lukisan diatas meja mendongak menatap Dion.


 


“Ehm…..Tuan.” ucapnya lalu menundukkan kepala memberi hormat lalu berlalu.


Joana yang bingung pun langsung menoleh dan tanpa sadar tangannya menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang saat melihat pria dihadapannya itu. “Eh…...buat apa anda kesini?” tanyanya.


“Apa kamu ada menulis larangan orang tidak boleh masuk kesini hem?” kata Dion seraya menyodorkan paper bag pada Joana.


Joana menatap paperbag itu tanpa mengambilnya, dia kebingungan dengan sikap Dion yang kemarin-kemarin selalu keras dan kasar padanya. Tapi hari ini malah datang membawa paperbag, Joana mengeryitkan dahinya lalu menatap Dion dengan tajam.


 


“Tuan Dion, bukankah saya sudah berjanji akan mengembalikan uang anda? Apa anda sengaja ingin menekan saya lagi? Kenapa anda memberikan itu pada saya? Saya tidak mau berhutang apapun lagi pada anda, Tuan.” ujar Joana menggelengkan kepala menolak pemberian Dion.


 


Dion merasa tidak senang dengan penolakan Joana. Dia datang kesana dengan hati yang tenang namun sepertinya wanita itu baru saja menyulut api. Dion mendekat dan langsung memegang dagu Joana dengan kuat membuatnya meringis. “Ssshhhh…..sakit! Lepaskan!”


 


“Aku datang kesini baik-baik untuk memberikan ini padamu! Aku tidak suka penolakan! Atau…..”


“I---iya. ak---aku terima. Tolong lepaskan, sakit sekali.” ujar Joana menyerah lalu mengambil paperbag itu dari tangan Dion. Dia tidak melihat apa isi paperbag itu namun saat dia melihat nama sebuah toko yang tercetak di paperbag itu, Joana sudah bisa menebak isinya.


 


‘Aiiiihhhhh apa lagi sih maunya orang ini? Kenapa selalu menggangguku? Apa dia belum puas membalasku? Aku harus bicara pada Arimbi dan meminta bantuannya untuk meminjamkanku uang. Aku harus mengembalikan uang Dion agar dia berhenti menggangguku.’ bisik hati Joana.


 


“Kenapa kamu diam saja? Tidak mau melihat apa isinya?” kata Dion lalu menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan dengan seenaknya menarik tangan Joana sehingga dia jatuh keatas pangkuan Dion.


“Ahhkk!” Joana ingin bangkit namun tangan pria itu sudah memeluk pinggangnya dengan kuat. Joana merasakan wajahnya panas dan merona.


 


Napasnya tiba-tiba menjadi sesak, dia membuka mulutnya untuk menghirup udara. Jantungnya berdetak semakin kencang. Semuanya membuat Joana menjadi gila, dia merasa tidak nyaman saat dia merasakan sesuatu yang mengeras tepat berada dibawah tubuhnya. Joana mendelik dan merutuki Dion yang seolah sengaja melakukan itu.