GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 281. DIFITNAH


Saat Arimbi ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara yang familiar. Suara itu seperti mengejeknya, “Oh, bukankah itu Arimbi? Putri kandung Keluarga Rafaldi yang baru kembali dari desa? Apa kamu disini hanya untuk melihat-lihat perhiasan?”


Ketika Arimbi dan Joana menoleh, mereka melihat Zivanna  yang menatapnya dengan pandangan merendahkan. Mereka bertemu sekali lagi disaat Arimbi ingin bersenang-senang menghabiskanuang suaminya. Arimbi merasa bingung, perkataan dunia ini kecil ternyata benar-benar menggambarkan situasi mereka yang sangat akurat.


“Hai Nona Lavani. Selamat datang ditoko kami,” pegawai toko itu mengenali Zivanna dan langsung menyapa dengan senyuman lebar. “Apakah Nona juga ingin membeli perhiasan? Kami memiliki produk baru yang pasti akan membuatmu senang.”


Zivanna melirik ke kalung Safir Biru yang terlihat bagus. Pegawai itu menyadari arah tatapan mata Zivanna yang menatap kalung itu. “Nona Lavani, kamu memiliki selera yang bagus….”


“Tunggu! Kalung ini ditawarkan lebih dulu kepadaku jadi aku yang berhak untuk membelinya.” ujar Arimbi tersenyum tipis menatap pegawai toko itu.


Meskipun pegawai toko itu bersikap buruk padanya, tapi ia masih perlu membeli beberapa perhiasan karena dia tidak mau repot mengunjungi toko lain. Dia bermaksud membeli ketiga perhiasan itu.


“Kamu? Hahaha…..bisakah kamu membelinya? Orang udik sepertimu punya uang darimana? Meskipun keluarga Rafaldi kaya tapi tidak mungkin membiarkanmu menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah kalung.”


“Oh iya. Kamu itukan pengasuh gratis Tuan Emir! Meskipun kamu bekerja di Rafaldi Group, gajimu tidak seberapa. Bagaimana kamu akan membayar kalung semahal ini? Atau jangan-jangan kamu….Cih! Arimbi tidak kusangka kamu serendah itu! Apa kamu pikir kamu bisa merayu Tuan Emir untuk memberimu uang agar kamu bisa membeli kalung ini?”


Pegawai toko itu terdiam melihat perdebatan kedua wanita itu. Dia tidak begitu mengenal Arimbi dan sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya. Dia memang mendengar rumor tentang putri keluarga Rafaldi yang tertukar dan sudah kembali. Tapi dia sama sekali tidak menyangka jika orang itu adalah Arimbi. Sedangkan Zivanna Lavani, cukup terkenal di kota ini dan semua orang mengenalnya.


“Tolong kemas kalung itu untukku, aku mau membelinya.” ujar Zivanna pada pegawai tokok.


“Hoho….ternyata Nona Lavani yang terkenal menyukai apa yang orang lain sukai ya! Ckck….tidak kusangka kalau anda menyukai pilihan orang desa sepertiku ya! Well, bukankah itu berarti orang desa ini punya selera yang lebih bagus darimu Nona Zivanna?” ucap Arimbi mengejek.


Kedua tangan Zivanna mengepal erat, dia selalu merasa kalau Arimbi sangat tahu bagaimana menyulut amarahnya. “Kemas kalung itu, dia tidak akan mampu membelinya.” Zivanna kembali mengingatkan pegawai toko. “Apa toko kalian menerima siapa saja untuk datang sekedar melihat-lihat?”


Para pegawai toko hanya diam, tak ada seorangpun yang mau melawan Zivanna karena mereka tahu konsekuensi apa yang akan mereka terima jika menyinggungnya.


“Seleramu mungkin bagus tapi apalah artinya jika kamu tidak mampu membelinya dan hanya menyusahkan orang lain. Arimbi jangan datang ke toko perhiasan mahal seperti ini jika kamu hanya berniat untuk melihat-lihat saja.”


“Arimbi, ayo kita pergi dari sini!” ujar Joana menarik tangan Arimbi.


“Oh ternyata ada putri keluarga Ganesha juga ya! Kalian ini memang cocok untuk berteman. Sama-sama tidak tahu malu dan tidak berkelas! Pergi sana huss...huss…..”


Sebelum Zivanna ingin membalasnya, dengan cepat Arimbi dan Joana keluar dari toko itu. Lalu Zivanna menghampiri pegawai toko itu dan berbisik kepadanya.


“Nona Lavani, aku…..” pegawai toko itu ragu-ragu.


“Kamu tahu siapa aku kan? Aku kenal dengan pemilik toko ini jadi lakukan saja apa yang aku katakan. Aku yang akan menanggung konsekuensinya. Jika kamu tidak mematuhiku…..” mata Zivanna menatap tajam penuh ancaman. Pegawai itupun meluruskan pandangannya dan berkata dengan lirih, “Baiklah. Aku mengerti.”


Zivanna menyeringai tepat ketika Arimbi dan Joana hendak keluar dari toko perhiasan. Tiba-tiba suara salah satu pegawai toko terdengar lantang memenuhi seluruh toko. “Warna gelang giok Hetian ini berbeda. Seseorang pasti sudah menukarnya!”


Menukarnya? Arimbi dan Joana berhenti melangkah dan menoleh. Dengan cepat pegawai toko itu menghampiri Arimbi dan mencengkeram tangannya dan Joana berusaha mendorong pegawai itu tapi Zivanna yang sudah lebih cepat mendorong Joana kerasa hingga terjatuh.


“Hei kamu! Jangan pergi! Gelang itu masih ada dan baik-baik saja ketika aku mengeluarkannya. Tapi dalam waktu singkat seseorang mengambilnya. Hanya ada beberapa orang di dekat etalase. Pasti kamu yang telah mengambil gelang itu!” Pegawai toko itu lalu menutupi pandangan kearah tas Arimbi dengan tubuhnya dan secara diam-diam memasukkan gelang itu kedalam tas tersebut.


Arimbi tidak menyadari apa yang dilakukan pegawai toko itu. Dia benar-benar mengira gelang itu telah hilang. “Aku memegang tasku sepanjang waktu. Bagaimana mungkin aku mengambilnya dan memasukkan kedalam tasku? Ini hanya kesalahpahaman saja.” ucap Arimbi.


“Salah paham? Hah! Hanya ada kamu dan temanmu serta Nona Lavani didekat etalase tadi. Jika bukan kamu atau temanmu lantas siapa lagi pelakunya? Apakah Nona Lavani pelakunya? Ditambah lagi sikapmu sudah mencurigakan sejak awal. Kamu bahkan tidak mampu membeli perhiasan mahal tapi kamu meminta perhiasan terbaik!” ujar pegawai toko itu.


"Saat aku menunjukkannya kepadamu, kamu bahkan tidak membelinya. Sudah jelas kalau kamu hanya berpura-pura dan mengambil gelang itu!” ia menambahkan dengan ekspresi wajah sedih.


Salah satu pengunjung yang melihat saat Arimbi melihat-lihat perhiasan pun berkata, “Mungkin kamu sudah salah paham menuduh orang. Aku sedari tadi melihat kalau wanita ini selalu memegang tasnya dan tidak menyentuh perhiasan itu.”


Pegawai toko itu tampak seperti akan menangis dan berkata, “Jika bukan dia siapa lagi yang melakukannya? Gelang itu bernilai lebih dari satu milyar dan sekarang hilang dibawah pengawasanku. Aku tidak mampu membayarnya meskipun aku membayar dengan hidupku sekalipun.”


“Menurutku wanita itu bukan pencurinya. Sejak tadi dia tidak menyentuh apapun. Aku tahu karena aku juga memperhatikan dia karena wajahnya sangat cantik jadi aku tahu tangannya hanya memegangi tasnya saja sejak tadi.” ujar pengunjung lain.


“Jangan menilai buku dari sampulnya! Kalian tidak tahu orang seperti apa Nona Arimbi ini! Dia bahkan rela bekerja menjadi pengasuh Tuan Emir tanpa digaji supaya dia bisa selalu dekat dengannya.” ujar Zivanna dengan sengaja ingin memberitahu semua orang tentang Arimbi.


Zivanna terkekeh dan kembali berkata, “Uang sejumlah satu milyar itu hanya seperti uang receh bagi kita tetapi bagi orang lain, mereka mungkin tidak dapat menghasilkan uang sebanyak itu disepanjang hidup mereka. Banyak orang mengambil resiko untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Apa kamu setuju Nona Arimbi?”