
‘Putriku tercinta! Aku tidak pernah melihatmu.’ gumamnya dalam hati. Arimbi adalah wanita muda yang bahkan tidak pernah memiliki seorang pria disisinya apalagi melahirkan anak. Jadi darimana anak khayalan ini berasal? Apakah memang benar yang dikatakan Ari
“Sayangku, ayah tidak bermaksud mendekati ibumu. Ayah sangat merindukanmu sehingga aku ingin kamu menjadi nyata. Aku ingin memelukmu dan mendengar suara kecilmu yang lembut memanggilku ayah….” ujarnya lirih. Dion seperti orang yang sudah tidak waras lagi.
Namun seringai diwajah Dion tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih. “Karena itu ayah akan mendekati ibumu….suatu hari nanti kamu akan wujud ke dunia ini.” lalu dia mengambil lukisan itu dan memegangnya dilengannya seolah-olah dia sedang menggendong bayi.
...********...
Saat itu sudah tengah hari dan keluarga Serkan berkumpul untuk makan siang. Arimbi berhasil kembali tepat saat Emir hendak makan siang. Dia sudah duduk di gazebo.
Meskipun matahari terik tetapi hari itu angin bertiup sepoi-sepoi dan terasa sejuk. Karena itu makan dibawah gazebo bukanlah ide yang buruk.
Dia memang seorang pria yang tahu bagaimana menikmati dirinya sendiri, dia telah memeriksa dengan jelas lingkungan disekitarnya sebelum memutuskan untuk membangun gazebo ini.
“Emir, aku pulang.” Arimbi berseru sambil membawa tas ditangannya. Arimbi berlari kearah gazebo dan berjalan cepat menuju meja.
“Rino!” panggil Emir dengan suara rendah.
Begitu Rino mendengar panggilan Emir, dia langsung membawakan baskom berisi air dingin untuk mencuci tangannya. Begitu dia melakukannya Emir memberinya sebungkus tisu.
“Seka keringat didahi dan wajahmu.Aku tidak mau keringatmu ada dimakananku atau yang lain. Semua hidangan lezat diatas meja akan sia-sia.
Arimbi pun mengambil bungkus tisu dan mengendus-endus piring sebelum menjawab sambil tersenyum, “Baunya sangan enak.” kemudian dia mengeluarkan selembar tisu dan menyeka keringatnya, “Aku berlari terlalu cepat. Aku tidak ingin membuatmu menungguku terlalu lama untuk makan siang.”
Emir masih tetap diam. Setelah melihatnya menyeka keringatnya, dia lalu menanyainya dengan sikap dingin, “Apakah kamu sudah mendaftar untuk kelas etika?”
“Belum.” jawabnya singkat.
“Biarkan aku yang mendaftarkanmu.” ucap Emir.
Arimbi yang bingung langsung meliriknya dan bertanya, “Emir, apakah kamu mengatakan aku terlalu liar untukmu?”
“Aku hanya bertanya, kalau-kalau kamu lupa. Kamu tidak akan duduk disini jika aku benar-benar berpikir begitu. Omong-omong, kamu tidak bisa duduk disini hanya dengan berlagak tidak tahu malu.”
Emir tidak mengizinkannya bahkan jika Arimbi benar-benar tidak tahu malu, dia tidak akan bisa duduk disebelahnya dan makan bersamanya.
“Terimakasih banyak Emir. Tolong daftarkan aku untuk kelas itu. Aku bekerja disiang hari dan hanya bisa mengikuti kelas malam mereka.”ujar Arimbi.
Emir menanggapi hanya dengan bergumam pelan dan kemudian pasangan suami istri itu mulai makan. Seperti yang sebelumnya, Arimbi makan bersama orang tuanya di rumah mereka.
Jadi Arimbi tidak makan banyak sekarang. Dia meletakkan sendoknya setelah mencoba sedikit dari setiap hidangan dan melihat suaminya makan dengan tenang.
Etiket makannya sangat elegan dan sopan, Arimbi merasakan bahkan jika dia mengambil kelas etiket, dia tidak akan pernah setara dengan Emir. Lagipula, dia dibesarkan di lingkungan yang menyenangkan sejak dia masih balita, tidak sama seperti Arimbi.
“Apakah hidangannya tidak sesuai dengan seleramu hari ini? Atau kamu sedang tidak enak badan?” tanya Emir dengan nada ringan setelah melihat istrinya hanya makan sedikit saja.
“Tidak. Makanannya enak, aku sudah hampir kenyang karena tadi aku sudah makan dirumah ibu. Aku tidak bisa makan sebanyak biasanya.” jawabnya.
“Baguslah. Itu berarti kamu cukup sadar diri.” ujar Emir. Yang membuat Arimbi terdiam tak tahu harus menjawab apa lagi. Meskipun tatapannya menyatakan hal lain tetapi suara rendah dan monoton.
“Emir, apakah kamu mau jalan-jalan siang bersamaku? Aku akan pergi bersamamu. Kita bisa melihat-lihat taman dan terserah kamu mau pergi jalan-jalan kemana, aku akan ikut.” ujar Arimbi.
“Baiklah. Jika kita menangkap ikan, kita bisa buat ikan bakar. Aku akan membuat bumbunya nanti.”
“Apakah hanya makanan saja yang kamu pikirkan? Dasar tukang makan!” seru Emir.
“Apakah kamu tidak ingin menikmati hasil tangkapanmu? Apakah kamu tidak ingin menyimpannya sebagai hewan peliharaan? Aku tidak pandai memelihara ikan, aku memiliki banyak ikan dan biasanya mereka akan mati ditanganku. Meskipun kedengarannya tragis tapi nasib kucingku berbeda.”
“Benar-benar perusak suasana.” gerutu Emir.
“Emir!” Tiba-tiba Arimbi memanggil Emir dengan suaranya yang paling lembut dan menatapnya dengan mata rusa betina yang provokatif, dia berniat meluluhkan hati suaminya.
“Apa?”
“Apakah boleh aku memiliki dua kucing dan seekor anjing?” tanya Arimbi.
“Kita punya banyak anjing dirumah.” balas Emir.
“Aku tidak bicara tentang anjing serigala disini. Aku membicarakan tentang hewan peliharaan. Anjing serigala dirumah kita terlalu ganas dan tidak ada lucu-lucunya sama sekali! Ayolah, kita pelihara anak anjing yang lucu dan dua ekor kucing.”
“Sekarang setelah kamu memiliki banyak waktu luang, coba bayangkan dirimu sedang bersantai dibawah sinar matahari sambil membelai beberapa anak kucing yang lucu dan menikmati pemandangan taman yang indah. Bukankah itu menakjubkan?”
“Lebih baik aku memeliharamu dirumah daripada memelihara binatang!”
Arimbi tercengang ketika dia mendengar perkataan Emir. Apakah suaminya ini mencoba menjadi romantis? Lucunya?
Tapi dia masih ingin memelihara dua kucing peliharaan.
“Jangan memelihara hewan yang berbulu.” ucap Emir.
Arimbi pun jadi cemberut dan berkata, “Baiklah, jika kamu mengatakan begitu.”
Rumahnya rapi dan sangat bersih karena diakibatkan oleh sifat mysophobia-nya.
Sebelumnya, permintaan terkait memelihara beberapa hewan peliharaan juga telah ditolak oleh Emir. Kemudian pria itu menanyakan apakah Arimbi ingin memelihara hamster sebagai gantinya.
Tapi dia hanya menginginkan kucing. Saat dia melihat Arimbi tidak senang dengan penolakannya, Emir pun mengerucutkan bibirnya dan mencoba berkompromi.
“Aku akan mengijinkannya kalau kamu bisa berjanji bahwa mereka tidak akan merontokkan bulunya.” ujar Emir.
“Bagaimana bisa mereka tidak merontokkan bulunya? Kamu bahkan tidak bisa berjanji bahwa kamu tidak akan merontokkan rambutmu sendiri. Aku juga kehilangan beberapa helai rambut ketika menyisir rambutku setiap hari.” ujar Arimbi lagi.
“Yah, lupakan saja perkataanku tadi. Ketika aku sudah mendapatkan hewan peliharaan yang kusukai, aku akan menyimpannya dirumah ibu dan akan mengunjunginya kapanpun aku punya waktu luang.”
Lalu Arimbi berdiri dan berjalan pergi. Emir bahkan tidak berusaha menghentikannya dan dia hanya menatap Arimbi meninggalkan gazebo.
Saat itu Arimbi dipenuhi kemarahan, dia berjalan keluar gazebo dan hembusan angin yang dingin mampu meredakan amarahnya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk istirahat sebentar disekitar rumah sendirian. Setelah itu dia berkeliling lagi dan menemukan rumah utama.
Pada saat itu dia melihat adik iparnya keluar dari rumah utama. Elisha memegang boneka kain dan dibelakangnya ada hewan peliharaan yang mengikutinya. Arimbi menganggap kedua anjing itu sangat lucu terlepas apakah mereka anjing atau kucing.
Setelah permohonannya untuk memelihara hewan peliharaan ditolak suaminya, Arimbi menjadi iri pada Elisha yang memiliki hewan peliharaan.