GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 399. DIMANA DIA


Setelah pesta selesai, Grace dan Joana pun memutuskan menginap di hotel itu. Arimbi memaksa mereka berdua untuk tinggal sementara di hotel sampai mereka menyusun rencana selanjutnya. Emir yang heran dengan ketiga wanita itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sebaiknya kalian tahu apa yang kalian lakukan!” ucap Emir.


“Sayang, biarkan mereka memikirkannya. Kita ke kamar ya aku capek!” ucap Arimbi memeluk lengan suaminya. Lalu dia melirik Joana dan Grace. “Kalian beristirahatlah. Kita bicara lagi besok. Joana, apapun keputusanmu aku akan mendukungmu.”


“Terima kasih sayangku! Kamu memang sahabat terbaikku.” ucap Joana.


“Lalu aku apa?” ucap Grace memasang wajah cemberut.


“Kamu juga sahabatku yang terbaik! Maafkan aku ya Grace sudah melibatkanmu. Ayo kita pergi, jangan mengganggu pengantin baru kita ini.” ucap Joana melambaikan tangan pada Arimbi.


Emir membawa Arimbi ke kamar mereka. Setelah keduanya selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Arimbi yang sudah kelelahan pun langsung berbaring.


Emir yang paham kalau istrinya lelah, duduk diujung ranjang lalu memijat kaki Arimbi.


“Sayang, kamu manis sekali.” Arimbi memanyunkan bibirnya dan menatap Emir dengan sendu.


“Jangan menggodaku! Kamu pasti lelah sekali, biar aku pijat kakimu. Istirahatlah!”


“Ehm…..kamu juga istirahat!” ucap Arimbi sembari tersenyum. “Emir, aku tidak pernah menyesal memilihmu.”


“Kalau kamu sampai menyesal maka akan kupatahkan kakimu!” Emir mencoba menakuti Arimbi.


“Emir! Apa kamu mau punya istri kaki buntung?” Arimbi mendelikkan matanya.


“Sssttt…..makanya kalau bicara jangan yang aneh-aneh. Ingat kamu itu sedang hamil, hati-hati berbicara nanti anak kita bisa dengar.”


“Memangnya dia bisa dengar? Kan dia didalam tiduran?”


“Ck! Jangan suka membantah! Tutup matamu dan istirahatlah.”


“Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak memelukku. Kemarilah, peluk aku!”


“Apa kakimu sudah enakan? Biar aku pijat sebentar lagi.”


“Tidak usah! Besok kita bisa ke spa berdua. Sekarang temani aku tidur.”


Emir lalu menaiki tempat tidur lalu berbaring disamping Arimbi, dia meletakkan lengannya sebagai ganjalan kepala Arimbi.


“Apa kamu minta aku bacakan cerita dongeng juga supaya bisa tidur?”


“Sayang, jangan mengejekku! Kemarin-kemarin aku minta kan karena permintaan anak kita.”


“Mana dia tahu cerita dongeng! Kamu suka mengada-ngada.” protes Emir mencubit hidung Arimbi dengan gemas.


Dia tahu kalau kadang Arimbi suka mengerjainya dengan alasan mengidam. Namun Emir tidak pernah marah dan selalu menuruti keinginan istrinya untuk menyenangkan hatinya. Dia tidak mau Arimbi merajuk berhari-hari.


“Emirku sayang, tapi aku sekarang mau mendengar cerita dongeng! Ayolah, biar aku cepat tidur.” ucap Arimbi dengan suara manja sambil mengerucutkan bibirnya.


“Baiklah……anggap saja malam ini aku berbaik hati! Mau cerita dongeng apa yang mau kamu dengar? Jangan yang susah-susah karena aku tidak tahu cerita dongeng anak-anak.”


“Kamu harus belajar! Kalau anak kita sudah lahir, maka kamu harus membacakan cerita untuk mereka tiap malam.”


Sementara itu dikediaman Harimurti, tampak suasana yang mencekam. Semua orang menundukkan kepala tak berani memandang Dion yang wajahnya menggelap. Sejak kehilangan Joana suasana hatinya memburuk! Dia bahkan memarahi semua orang saat meeting siang tadi. Tak ada seorangpun yang lepas dari amukan kemarahan Dion Harimurti.


Begitu juga dirumahnya, semua orang menjadi pelampiasan kemarahan. “Bagaimana hasil dari tim forensik? Apakah Joana selamat?”


“Maafkan kami Tuan! Tim forensik menemukan kalau di pakaian yang terbakar itu ada DNA Nona Joana! Jadi, ada kemungkinan-----” kepala pelayan tidak berani melanjutkan kalimatnya karena takut Dion akan mengamuk.


Dia melirik sedikit kearah Dion untuk memperhatikan ekspresi pria itu. Tepat seperti dugaannya, wajah Dion menegang dan merah! Berarti dia berada dalam amarah! Ini tidak bagus, semua orang akan menjadi pelampiasan kemarahannya lagi.


“Tuan-----”


“Diam! Aku tidak menyuruhmu bicara! Suruh mereka semua mencari Joana sampai ketemu.”


Dion masih tidak percaya dengan pernyataan kepala pelayan dan pengawalnya. Baginya Joana masih hidup! Ini membuatnya benar-benar marah dan ada sedikit kesedihan yang berusaha disembunyikannya dibalik wajah gelapnya.


Kedua tangannya mengepal erat, “Cari ke ujung dunia sekalipun! Intai rumah orang tuanya! Jangan pernah berhenti mencari keberadaannya!”


Semua pelayan dan pengawal diruangan itu saling melempar pandang, merasa bingung kemana mau mencari Joana. Sementara tim forensik menemukan DNA Joana dikamar yang terbakar. Namun sepertinya Dion tidak mempercayai siapapun!


Dia mengikuti instingnya yang mengatakan kalau Joana masih hidup. “Dia belum mati! Dia terlalu pintar untuk mengakhiri hidupnya begitu saja! Aku tidak mau tahu, kalian mulai pencarian sekarang juga!”


Lalu Dion bangkit dari duduknya dan memerintahkan pengawalnya untuk mengikutinya.


“Kalian pergi mencari Joana sekarang! Kirimkan lebih banyak orang untuk mencarinya! Jangan ada yang melaporkan ke pihak berwajib, jangan sampai ada berita tersebar mengenai hilangnya Joana.”


“Bagaimana dengan kedua orang tua Nona Joana, Tuan?” tanya kepala pelayan lagi.


“Kalau mereka datang kesini, katakan saja kalau Joana sedang pergi liburan ke luar negeri. Selebihnya biar aku yang atur.” Dion langsung berjalan meninggalkan ruangan itu setelah selesai memberikan perintah kepada semua pengawalnya. Kepala pengawal segera membagi tugas pada anak buahnya untuk memulai pencarian.


Mobil yang membawa Dion melaju menuju kesalah satu club mewah. Pria itu pusing dan ingin menenangkan dirinya. Saat dia memasuki klub malam mewah itu, para gadis-gadis cantik langsung mencoba mendekatinya namun mereka langsung didorong menjauh oleh pengawal Dion.


Sikap dingin dan kejam Dion membuat banyak wanita yang penasaran padanya.


Dion dan pengawalnya memasuki salah satu ruang VIP. Tak lama empat orang wanita cantik memasuki ruangan itu membawa troli berisi minuman mahal. Salah satu wanita itu menuangkan minuman ke gelas lalu menyodorkan pada Dion. Saat Dion mengambil gelas itu dari tangan si waiter tak sengaja tangan mereka saling menyentuh.


Tubuh Dion bereaksi dan dia merasakan kehangatan. Rasa hangat yang terasa familiar dan mengingatkannya pada Joana. ‘Kenapa aku merasa hangat saat menyentuh tangan wanita ini?’ pikirnya seraya menatap wajah wanita didepannya. Tinggi tubuh dan bentuk tubuhnya sama seperti Joana tapi wajah berbeda. Tapi perasaan hangat yang familiar itu membuat Dion semakin menatap serius wanita itu.


Merasa kalau dia diperhatikan, wanita itupun menundukkan wajahnya tak berani menatap Dion. Dia mengenal Dion yang dingin dan kejam. Tak ada satu wanita pun yang bisa menyentuhnya sembarangan. Pria ini benar-benar angkuh dan pemilih dalam hal wanita! Seleranya cukup unik yang membuat banyak wanita penasaran.


“Siapa namamu?” tanya Dion tiba-tiba pada wanita itu.


“A---Angel, Tuan.” jawabnya masih menundukkan wajah.


Dion memicingkan matanya mengamati wanita itu. “Kenapa kamu terus menundukkan wajahmu, hah? Apa begini caramu melayani tamu disini?”


Tampak wanita itu semakin gugup sambil menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin dan gemetar ketakutan.


“Maafkan rekanku ini, Tuan Harimurti. Dia masih baru bekerja disini. Masih masa training.” ucap salah satu wanita yang terlihat lebih profesional berusaha melindungi temannya.


“Aku tidak peduli dia masih baru atau tidak! Kalau tidak bisa bekerja dengan baik dan tidak menyenangkan tamu, lebih baik dia dipecat saja!”