GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 333. BINGKISAN


“Sayang, aku mau tanya sesuatu.” ujar Arimbi saat dia baru selesai mandi dan berjalan menghampiri Emir yang duduk sambil bersandar diranjang sambil memainkan ponselnya.


“Mau tanya apa? Soal Renaldi?”


“Ehm...kamu bagaimana bisa tahu aku mau menanyakan tentang itu?” Arimbi berbaring dipangkuan Emir sambil menatap wajah tampan suaminya.


 


“Aku hanya ingin membantumu! Kamu istriku, cepat atau lambat kamu harus mengambil alih Rafaldi Group! Setelah apa yang terjadi pada Amanda, kamu pikir dia akan diam saja? Nama baiknya sudah rusak dan dia butuh pegangan kuat untuk bisa bangkit dan tetap punya muka dihadapan orang-orang.”


 


“Jadi, maksudmu dia mungkin ingin mengambil alih Rafaldi Group?”


“Ya, mungkin! Jika dia bisa mengambil alih Rafaldi Group maka statusnya ada diatas! Dengan begitu, semua berita buruk tentangnya akan hilang dan orang-orang tidak akan mempedulikan lagi. Dia bisa menjalani kehidupannya seperti dulu.”


 


Emir meletakkan ponselnya diatas nakas lalu menunduk dan mencium bibir istrinya. Seharian ini keduanya sama-sama sibuk dan bahkan makan siang mereka pun hanya sebentar karena jadwal Emir yang punya banyak janji bertemu klien hari ini.”


 


“Apa kamu merindukanku hari ini?” tanya Arimbi mengelus rahang Emir sambil tersenyum. “Kamu bahkan tidak banyak bicara padaku saat makan siang tadi! Aku pikir kamu sudah tidak peduli lagi padaku, Emir! Menyebalkan!” Arimbi mengerucutkan bibirnya


 


“Ya, selalu! Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Emir.


“Aku merasa tidak enak hati. Ayah mengumumkan di rapat tentang pewaris perusahaan.” ucap Arimbi. “Bagaimana reaksi Amanda nanti jika dia tahu kalau dia sudah tidak lagi bagian dari perusahaan?”


“Jangan pikirkan hal yang tidak penting. Fokus saja pada dirimu dan kandunganmu! Ingat apa kata dokter, kamu tidak boleh stress.” ucap Emir mengelus perut Arimbi.


 


“Oh iya, tentang Renaldi! Aku terkejut saat melihatnya, ternyata dia masih muda!”


Emir mengeryitkan alisnya tak senang mendengar ucapan Arimbi. “Apa menurutmu dia tampan?”


“Ya, dia tampan!” ucap Arimbi tak sadar. Tapi itu memang yang sebenarnya karena Renaldi Prawira adalah seorang eksekutif yang berwajah tampan. Semua orang pun akan berpendapat sama dengannya.


“ARIMBI!” Emir melotot mendengar istrinya memuji pria lain.


 


“Dia memang tampan, Emir! Masa aku harus bilang jelek? Tapi kalau dibandingkan denganmu, kamu jah lebih tampan! Lebih seksi dan lebih menari. Dan yang terpenting adalah, kamu milikku selamanya!” Arimbi merubah posisinya memeluk Emir. Membuat hati pria itu pun melunak.


 


“Apa ada kabar dari ibumu?”


“Tadi aku menghubungi ibu! Sepertinya dia masih kesal dan marah pada Amanda. Ibu sudah mengepak semua barang-barang Amanda dan mengirimkannya ke desa. Ck! Entah apa yang akan dilakukan Amanda saat dia tahu kalau ayah juga sudah menghapus namanya dari keluarga dan dia tidak boleh memakai nama keluarga Rafaldi lagi dibelakang namanya.”


 


“Apa dia ada menghubungimu?”


“Belum. Aneh juga ya? Kenapa dia masih tenang dan tak melakukan apapun?”


“Mungkin dia belum tahu! Mengingat karakternya, seharusnya dia sudah beraksi saat tahu semuanya.”


“Hppp! Aku hanya berharap ayah dan ibu baik-baik saja. Aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada mereka.” ujar Arimbi dengan wajah sedih.


 


“Jangan khawatir! Aku akan meminta Rino mengirimkan anak buahnya untuk berjaga-jaga dirumah ayahmu. Besok aku akan bicara dengan ayah, jika dia tidak keberatan aku akan memberinya pengawal untuk menjaganya. Sudah seharusnya ayah memiliki pengawal pribadi! Aku adalah menantunya dan banyak musuhku diluar sana. Bisa saja mereka menargetkan ayah dan ibu untuk membalasku.”


 


“Iya.” jawab Emir. “Sekarang kita tidur. Besok akhir pekan kamu mau kemana? Besok malam ada jamuan makan malam. Kamu akan menemaniku.”


 


“Baiklah! Mungkin besok pagi kita bisa jalan-jalan di area villa lalu kita bisa pergi mengecek mall-ku. Bagaimana?” tanya Arimbi. Sejak Emir memberikan mall itu kepadanya, baru sekali Arimbi kesana untuk melakukan pengecekan. Orang kepercayaan Emir yang menjalankan operasional mall dan Arimbi hanya melakukan pengecekan sekali seminggu.


...*******...


“Selamat pagi Tuan, Nyonya. Diluar ada tamu yang mau ketemu Nona Joana.”


“Tamu? Siapa?” sepasang suami istri itu merasa heran. “Katakan saja Joana masih tidur. Anak itu jam segini belum bangun!” ucap Jayanti sambil melanjutkan sarapan paginya.


 


Setelah pelayan itu pergi, tak berapa lama dia kembali lagi. “Ada apa?”


“Ehm….ada bingkisan untuk Nona Joana. Nyonya!” jawab pelayan itu.


“Bingkisan? Dari siapa?”


“Dari tamu tadi! Katanya itu untuk Nona Joana. Bingkisannya besar, mau saya letakkan dimana Nyonya? Apa saya bawakan ke kamar Nona Joana saja?”


 


“Bingkisan apa bik?” tanya Joana yang baru saja memasuki ruang makan dengan wajah yang masih setengah mengantuk.


“Tumben kamu sudah bangun jam segini?” tanya Hardi pada putrinya.


“Oh, aku mau keluar sebentar lagi ayah. Ada urusan penting yang mau aku urus.”


 


“Urusan apa? Biasanya juga kamu tidak ada kerjaan.” sahut Jayanti.


“Bik, bingkisan apa? Dari siapa?” Joana tak menjawab pertanyaan ibunya. Dia malah bertanya pada pelayan yang berdiri disampingnya meletakkan lauk dipiring Joana.


“Tadi ada tamu yang datang mencari Nona. Karena Nona masih tidur ya dia hanya menitipkan bingkisan katanya untuk Nona Joana. Itu ada diruang tamu.”


 


“Oh, taruh dikamarku saja bik. Nanti saya lihat itu dari siapa.” jawab Joana acuh.


“Kamu memangnya punya teman selain Arimbi? Atau punya pacar? Penggemar?” tanya Jayanti.


“Tidak bu! Paling juga dari Arimbi! Untuk keperluan kerjaan.”


“Kerjaan? Memangnya kamu mau kerja sama Arimbi?” tanya Jayanti yang merasa heran.


 


“Bukan bu! Aku mau membuka bisnis sendiri. Sebenarnya itu ide dari Arimbi tapi rasanya cocok dengan hobiku. Jadi setelah ku pikir-pikir aku setuju! Arimbi juga sudah nemu lokasi strategis untuk bisnisku.” ujar Joana bersemangat. Ini pertama kalinya dia akan bekerja dan itu akan menjadi bisnisnya sendiri.


 


“Memangnya kamu mau bisnis apa?”


“Mau buka galery cafe! Jadi konsepnya cafe sekalian galeri, pengunjung yang mau foto bisa disitu! Aku juga bisa memajang hasil-hasil fotoku di galery itu nanti! Bagi yang minat bisa membelinya. Bagaimana menurut ayah dan ibu? Bagus kan? Itu ide dari Arimbi! Supaya aku tetap bisa menjalani hobiku.”


 


“Cukup bagus! Memangnya kamu paham menjalankan bisnis?” tanya Ruben, kakak laki-laki Joana.


“Kan ada Kak Ruben? Bisa ajari aku dan ada Arimbi juga yang bisa memberiku masukan.” ujar Joana. “Jangan khawatir, aku pasti bisa! Oh iya, tempatnya juga sudah ada. Aku sudah tanda tangan kontrak!”


“Wah, ayah bangga sama kamu Joana! Kalau kamu butuh apa-apa, kamu datang ke ayah.”