GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 154. MEMANGKAS BUNGA


“Rumahmu sangat besar dan jalan menuju kesana juga membentang dimana-mana. Aku selalu tersesat ketika mencoba untuk berkeliling, yang membuat semakin sulit untukku menemukan jalan kembali. Aku merasa seperti berada di labirin.” ucap Arimbi mengatakan yang sebenarnya sesuai pengalamannya.


“Memang seperti labirin, tapi keamanan kita juga terjamin. Semua orang dikeluarga besar kami tinggal dikompleks ini dan setiap keluarga memiliki area tempat tinggal mereka sendiri, tetapi masih terhubung dengan mansion.” sambung Elisha lagi menambahkan.


Pada saat itu Arimbi tercengang tak mampu berkata-kata, dia bisa menilai seberapa besar kekayaan Keluarga Serkan. Rumah keluarga itu sudah cukup besar dan seseorang harus menghabiskan beberapa jam untuk berkeliling ke seluruh tempat dengan berjalan kaki.


Dia terkejut mendengar dari Elisha bahwa kemungkinan mereka akan memperluas kompleks itu lagi. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk memperluas kompleks villa ini?


Lagipula setiap keluarga memiliki rumah sendiri didalam kompleks mereka sendiri, jadi Arimbi terkejut mendengar bahwa semakin bertambahnya jumlah anggota keluarga bisa menjadi masalah.


Sehingga ada kemungkinan harus memperluas kompleks dan menambahkan beberapa bangunan baru lagi. Sehingga saat anggota keluarga bertambah, sudah ada cukup bangunan untuk nenampung.


Arimbi pun kehilangan kata-kata sekali lagi. Dukungan yang aku temukan selama sisa hidupku memang sangat bisa diandalkan pikirnya.


Keluarga ini memang benar-benar kaya, dan juga memiliki kekuasan sehingga kelak Arimbi bisa menggunakan segala sumber kekuatan keluarga ini untuk membalas dendam dan melindungi dirinya.


“Sayang sekali saudara-saudaraku tidak berniat menikah secepat ini. Nenek telah lama mendambakan cicit selama beberapa tahun terakhir tetapi tidak berhasil membujuk saudara-saudaraku untuk menikah. Emir yang tertua, tetapi dia masih lajang jadi saudara-saudara yang lain punya alasan untuk tidak menikah.” ujar Elisha lagi seraya tersenyum menatap Arimbi.


“Setiap kali para tetua mengganggu mereka untuk segera menikah, mereka pasti mengungkit status Emir sebagai anak tertua yang masih lajang. Rumah tangga kami terlalu sepi dan akan lebih menyenangkan kalau ada kehadiran anak-anak kecil berlarian di sekitaran rumah ini.” tambahnya.


Elisha adalah anggota keluarga Serkan yang termuda dalam generasinya, tetapi sikapnya jauh lebih tua daripada yang seumurnya. Sudah beberapa waktu lamanya sejak terakhir kali keluarga Serkan dibanjiri tawa canda suara anak-anak.


Saat itu juga Arimbi memikirkan Emir. Nyonya Serkan harus bergantung pada cucu-cucunya yang lain jika dia menginginkan cicit dalam pelukannya dalam waktu dekat.


“Aku mendengar Emir menyebutkan sebelumnya bahwa kamu akan diberi hadiah uang sebanyak satu milyar jika melahirkan anak laki-laki dan sepuluh milyar untuk anak perempuan. Itu hadiah yang sangat menarik! Apakah tidak ada diantara kalian yang tergoda untuk menikah dan punya anak?”


Elisha tersenyum dan menjawab, “Mereka semua memiliki karir mereka sendiri dan tidak ada satupun dari mereka yang membutuhkan hadiah. Mereka pasti lebih memilih kebebasan daripada hadiah setiap hari. Namun ada banyak wanita diluar sana yang akan melakukan apasaja dan menggunakan taktik untuk menikahi salah satu dari mereka, tetapi mereka tidak pernah berhasil.”


Bahkan Zivanna, putri kesayangan Keluarga Lavani sangat ingin menikah dengan Keluarga Serkan. Tetapi Zivanna memiliki standar yang sangat tinggi karena dia hanya tertarik pada Emir kepala keluarga ini dan pria Serkan lainnya tidak ada satupun yang menyukai Zivanna.  Lagipula wanita itu pernah mengaku kalau dia hanya akan menikahi kepala keluarga.


Lagipula posisi kepala keluarga dalam keluarga bergengsi seperti keluarga Serkan pasti sangat dihormati, jadi tidak heran dia tertarik untuk menjadi istri Emir Serkan. Namun dengan keadaan Emir yang lumpuh saat ini, Zivanna lebuh suka mengalihkan pandangannya pada Dion Harimurti daripada menurunkan standarnya dan memilih pria lain dari Keluarga Serkan.


Tentu saja, alasan utamanya adalah status Dion sebagai kepala keluarga Harimurti dan ahli waris dari keluarga itu. Kemudian Elisha memiringkan kepalanya untuk melihat Arimbi dengan tatapan penuh arti. Arimbi yang melihat bagaimana Elisha menatapnya pun bertanya, “Kenapa kamu menatapku seperti itu Elisha?”


Elisha tersenyum dan memuji, “Menurutku kamu sangat canti. Kamu istimewa dan juga unik.”


“Setiap orang punya pendapatnya sendiri dan mereka pasti mempunyai pendapat berbeda dan hal-hal yang disukai pun berbeda pula. Akan ada orang yang mengagumi tipemu. Ya, aku sangat menyukaimu dan semakin kita dekat dan menghabiskan banyak waktu bersama, aku semakin menikmati interaksi diantara kita, Arimbi.”


“Terima kasih. Dengan senang hati aku juga sependapat denganmu. Aku juga menyukaimu Elisha.”


Lalu keduanya memasuki rumah Emir sambil berbincang satu sama lain. Emir tidak lagi beradadi pavilliun, jadi ada kemungkinan dia sudah kembali kerumah untuk beristirahat. Begitu mereka memasuki halaman, mereka melihatnya sedang memegang gunting sibuk memotong cabang bunga.


Ada beberapa cabang yang dipotongnya berserakan diseluruh tanah. Adapun pot bungan sekarang terlihat cukup kosong. Elisha langsung menghentikan langkahnya dan berbisik pada Arimbi dengan lembut, “Arimbi ini waktu istirahatku.  Aku akan pergi dulu ya. Aku akan mengajakmu keluar lagi di lain waktu saat aku punya waktu luang.”


Lalu Elisha berbalik dan bergegas pergi dengan langkah cepat. Hanya dalam waktu satu menit Elisha sudah tidak kelihatan lagi. Dia sepertinya berlari menghindari sesuatu.


Sementara itu Arimbi masih berdiri disana dengan kebingungan. Dia melihat saat Elisha pergi dan berbalik untuk melihat Emir yang bergerak dikursi rodanya, siap-siap untuk menyerang pot bunga berikutnya.


Pot yang dia targetkan adalah pot bunga mawar yang sedang mekar sempurna. Dia baru saja akan memotong cabang ketika Arimbi buru-buru menyela, “Emir! Jangan dipotong!”


Bunga-bunga itu sedang bermekaran dengan indah. Jika dia memangkasnya, maka tidak akan ada lagi yang tersisa. ‘Lebih baik aku melakukan sesuatu sebelum bunga mawar malang itu dieksekusi.’ gumam Arimbi didalam hatinya.


Saat Arimbi mendekatinya, Emir meletakkan gunting ditangannya dan menghentikan aksinya memangkas bunga.


“Emir disini cuacanya cukup panas. Mengapa kamu tidak masuk kedalam dan beristirahat saja? Serahkan gubtingnya padaku dan aku akan memotong bunga untukmu.” begitu Arimbi menyelesaikan kata-katanya, Arimbi langsung mengambil gunting dari tangannya. Dia ingin mencegah suaminya membunuh pot bunga lainnya.


Bunga dan tanaman dirawat dengan baik dan membuat seluruh tempat terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Saat dia meninggalkan rumah di pagi hari, Arimbi suka mengendus bunga-bunga yang mekar lalu mengambil beberapa foto bunga dan mempostingnya di media sosialnya dimana ada bunga yang berbeda yang mekar setiap hari.


Banyak foto-fotonya yang menjadi populer dimedia sosialnya. Sebagai tanggapan atas perkataan Arimbi, Emir mengangkat kepalanya lalu menatapnya dengan dingin selama beberapa menit sebelum dengan suara rendah memanggil pengawalnya, “Rino!”