
“Amanda terlalu sibuk bekerja untuk kita dan dibesarkan dikeluarga kita, jadi dia selalu menganggap dirinya sebagai putri kandung kita. Sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya adalah putri keluarga Darmawan. Jadi wajar jika dia tidak memiliki perasaan untuk ibu kandungnya.” Yadid bicara mewakili Amanda. “Ingat kan bagaimana Arimbi memperlakukan kita ketika dia baru saja kembali pada kita? Jangan berpikir buruk tentang Amanda hanya karena hal ini. Adapun Arimbi dan Reza, Amanda dapat seperti Arimbi dan melepaskan Reza.”
Mosha mendengus tak senang setelah mendengar ucapan suaminya, “Kamu terlalu sibuk dengan perusahaan setiap hari jadi kamu tidak memperhatikan cara putrimu bergaul satu sama lain. Arimbi lebih berhati-hati setiap kali bertemu Amanda sekarang sejak dia kembali pada kita. Aku sangat yakin kalau Amanda tidak memperlakukannya dengan baik.”
Saat Mosha mulai mendukung putri kandungnya, dia mulai merasakan kalau Amanda semakin licik setiap kali dia memandang Amanda, Mosha bisa melihat bahwa putri angkatnya itu terlihat seperti mempunyai rencana buruk.
“Baiklah! Jangan dipikirkan soal itu lagi. Jika anak-anak mengetahuinya kamu akan melukai perasaan mereka. Aku akan pergi kerja sekarang.”
Yadid masih mengandalkan Amanda jadi dia tidak suka mendengar istrinya berbicara buruk tentang Amanda. Dia kemudian berdiri dan mengambil jaketnya setelah itu dia pergi. Mosha mengantarnya sampai didepan, “Apakah Arimbi sudah memberitahumu bahwa Tuan Emir mengijinkannya bekerja?” tanya Yadid sambil berjalan.
“Tidak. Dia belum ada mengatakan apapun padanya. Aku akan menanyakannya nanti saat makan siang. Apakah kamu mau kembali untuk makan siang? Beritahu aku sekarang agar aku bisa mempersiapkannya.”
“Aku ada acara makan siang penting dengan klien hari ini, jadi aku tidak bisa pulang untuk makan siang. Meskipun Arimbi adalah bagian dari keluarga Serkan, dia tetap putri kita. Aku tidak berpikir Tuan Emir akan mengijinkannya pulang kesini jadi kita bisa cari waktu lain untuk makan bersama.”
Namun Mosha merasa sangat khawatir. ‘Arimbi terjebak dalam Keluarga Serkan, yang memiliki banyak aturan dan tata krama. Jika Tuan Emir memberi tahu para tetua keluarganya tentang Arimbi, apakah dia akan bersenang-senang? Aku harus bertanya padanya tentang hal itu saat dia datang kesini.’
Pada saat yang bersamaan setelah Rino membantu Emir masuk ke mobil, dia langsung mengambil hadiah yang dipercayakan Arimbi padanya. Dia menyerahkannya pada Emir dengan hormat.
“Tuan Muda Emir, ini adalah hadiah yang disiapkan oleh Nyonya Muda Arimbi untukmu.”
Itu adalah sebuah amplop besar. Emir mengambil amplop itu yang terasa ringan dan tidak terlalu berat. Jadi dia menganggap benda didalamnya tidak berharga. Arimbi menyiapkan hadiah untuknya setiap hari tetapi semua hadiah itu tidak berharga. Emir pun merasa penasaran hadiah apa yang diberikan Arimbi pada Reza sebelumnya.
Dia membuka amplop dan mengeluarkan kartu cinta darinya. Itu adalah kartu cinta buatan sendiri. Dua hati bersebelahan dan terhubung dengan tanda panah asmara. Warna latar belakangnya itu hangat membuatnya terlihat indah. Beberapa baris kata ditulis di kartu cinta itu.
Untuk Emir Rayyanka Serkan, suamiku tersayang.
Aku sangat mencintaimu dengan segenap hatiku.
Aku berharap dapat berdiri disisimu, bahu membahu bersamamu untuk memandang matahari terbit dan terbenam sampai kita menua bersama. Meskipun hidup takkan selamanya indah, aku berharap kita bisa saling bergandengan tangan melalui semua badai kehidupan bersama.
Setelah kalimat itu, gambar bibir merah terlukis di kartu cinta itu untuk mengeskpresikan ciuman. Setelah membaca isinya, Emir merasa terlalu kaku dan tidak menarik sama sekali. Dia membolak balik bagian belakang kartu dan menemukan mawar yang terbuat dari karton merah. Apakah benar begitu?
Emir memasukkan kembali kartu cinta itu kedalam amplop setelah membacanya dua kali. Kemudian dia menekan tombol untuk menurunkan jendela dan menatap keluar.
Arimbi tanpa malu-malu menyembunyikan arti sebenarnya dalam kartu cinta itu agar Emir mau berdiri untuknya. Kemudian Emir mengeluarkan ponselnya dan menelepon Arimbi.
“Emir?” suara manis nan manja Arimbi terdengar di telepon.
Ekspresi wajah Emir pun langsung melunak setelah mendengar suara istrinya.
“Emir, apakah kamu sudah melihat hadiah yang kusiapkan untukmu? Apakah kamu menyukainya?”
“Apakah kamu pernah mengirim barang-barang seperti ini pada Reza sebelumnya?” tanya Emir. Dia bertanya dengan dingin untuk menutupi maksud dan pikirannya yang tersembunyi.
Arimbi tertegun sejenak lalu dengan refleks dia menjawab. “Tidak! Aku takut Reza tidak akan menyukai sesuatu yang murah jadi---”
Arimbi segera terdiam menyadari apa yang baru saja diucapkannya. ‘Apa yang aku katakan barusan? Aku memberikan yang murah untuk Emir dan tidak pada Reza! Dengan kepicikan dan perilaku Emir yang tidak menentu, pasti dia akan langsung menutup telepon dan memarahiku.’
Benar saja, eskpresi Emir langsung berubah dan dengan suara dingin dia berkata, “Arimbi! Kamu memperlakukanku seperti tempat sampah kan?”
“Tidak Emir. Hadiah-hadiah kecil itu aku buat sendiri dan berbeda dengan apa yang kuberikan pada Reza yang semuanya dibeli. Suatu barang yang dibuat dengan tangan lebih dipenuhi cintaku dibandingkan dengan membeli barang jadi dari toko. Jadi jangan marah ya? Wajahmu yang sangat tampan itu kalau marah sangat menakutkan….”
Emir langsung memutuskan panggilan. Ada perbedaan antara barang yang dibeli dan buatan tangan? Tapi dia masih marah. Dia berpikir bahwa Arimbi bersikap pelit padanya. Setelah dia menutup telepon, dia mengeluarkan kartu cinta yang diberikan Arimbi padanya lalu menurunkan jendela dan membuang kartu itu. Surat itu terlempar jauh. Salah satu mobil pengawal dibelakang langsung berhenti kemudian Dimas membuka pintu dan dengan cepat berlari mengambil surat cinta yang jatuh ke tanah.
Dimas tidak berani melihat apa yang tertulis disurat itu. Semua orang melihat Arimbi memberikan surat itu kepada Rino. Emir pasti akan menyesal membuangnya. Dimas tahu bahwa dia harus menemukan surat itu dan menyimpannya sampai Emir mulai menyesal telah membuangnya. Itu akan menjadi waktu yang tepat baginya untuk mengembalikan kartu itu pada Emir.
Sedangkan saat ini Emir masih marah bahkan setelah dia membuang hadiah yang disiapkan istrinya untuknya. Dia memerintahkan Rino yang duduk dikursi penumpang untuk menelepon Arimbi. Rino tidak tahu apa yang sebenarnya ada dipikiran Emir, tapi dia tetap patuh melakukan apa yang diperintahkan Emir.
“Setelah dia menjawab teleponnya, katakan padanya aku ingin semua barang yang dia berikan pada Reza. Semuanya! Tidak peduli barang apa itu! Katakan juga padanya kalau aku terlihat sangat kesal dan sedang marah besar!” ujar Emir yang melebih-lebihkan. Dia ingin Arimbi merayunya dan meminta maaf padanya. Dia marah dan cemburu pada semua pria yang dekat dengan istrinya. Hanya dia saja yang boleh menerima hadiah dari Arimbi jadi dia meminta semua barang yang pernah dihadiahkan pada Reza.
Rino yang merasa bingung dengan sikap Emir akhir-akhir ini hanya bisa menurut. Dia bahkan melebih-lebihkan apa yang diucapkan Emir agar terdengar dramatis. Setelah menyampaikan kata-kata yang diucapkan Emir, dengan suara lembut Arimbi bertanya pada Rino, “Seberapa menyebalkan ekspresinya ? Apakah wajahnya berubah sehitam batu bara?”
“Yang harus anda ketahui adalah Tuan Muda Emir sangat marah, Nyonya Muda Arimbi!” jawab Rino dengan murung.