GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 325. KEJUJURAN ELISHA


“Saya mengatakan yang saya dengar dari pelayan, Nyonya Besar!”


“Apa sekarang pekerjaan pelayan hanya menggosip? Huh! Ingatkan peraturan dirumah ini jika mereka sudah lupa! Aku tidak mau dengar omong kosong seperti itu lagi!” ujar Layla Serkan.


 


“Baik Nyonya! Tapi, bukankah lebih baik menanyakan langsung pada Tuan Emir atau Nyonya Arimbi mengenai kebenarannya Nyonya? Karena pelayan yang biasa mengantarkan makanan ke villa Tuan Emir yang mengatakannya. Jadi mungkin saja kabar itu benar.” ucap Yaya lagi mencoba menyakinkan Layla Serkan.


 


“Cih! Apa kamu lupa kondisi Emir? Mana mungkin Arimbi bisa hamil? Kecuali dia melakukannya dengan orang lain! Dasar perempuan tidak tahu malu! Aku tidak akan membiarkan dia mengandung anak laki-laki lain dan membawanya masuk ke keluarga ini!”


 


Yaya tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya diam mendengarkan kemarahan nenek Serkan.


“Pergilah kesana! Katakan pada Arimbi untuk menemuiku!”


“Baik nyonya besar! Akan saya sampaikan sekarang.” ujar Yaya menunduk sedikit sebagai tanda hormat lalu dia berjalan keluar dari ruang baca. Meninggalkan Layla Serkan sendirian diruangan itu.


 


‘Keterlaluan sekali perempuan itu! Aku tidak akan diam saja! Mengapa Emir selalu saja membela Arimbi dan sepertinya dia memanjakannya. Aku harus cari cara untuk memisahkan mereka! Tidak akan kubiarkan dia mengandung anak orang lain dan memberikan nama keluarga Serkan untuk anaknya!’ bisik hati Layla Serkan.


 


“Nenek…...” suara Elisha yang terdengar saat pintu ruang baca terbuka. Layla Serkan belum menyadari kehadiran cucu perempuan kesayangannya itu karena larut dalam pikirannya.


“Nenek! Apa nenek baik-baik saja?” Elisha menyentuh bahu neneknya sehingga menyadarkan Layla Serkan dari lamunannya.


 


“Elisha! Ah, nenek tidak dengar kamu masuk kesini. Ada apa? Duduklah disini.” Layla Serkan bergeser sedikit agar cucunya bisa duduk disampingnya.


“Aku memanggil nenek dari tadi tapi nenek tidak menyahut! Nenek sedang memikirkan apa?”


“Tidak ada! Nenek hanya sedikit lelah saja.” jawab Layla Serkan menutupi kebenaran.


“Ehm…..apa nenek memikirkan tentang Arimbi?” tanya Elisha memiringkan kepalanya menatap.


“Maksudmu?”


“Aku juga dengar percakapan pelayan di belakang! Katanya Arimbi hamil! Itu bagus sekali, nenek.” Elisha malah terdengar antusias dan bahagia sekali. “Tidak lama lagi aku akan punya keponakan!”


 


“Huh! Entah siapa ayah bayinya!”


“Nenek….kenapa nenek bicara seperti itu? Sudah pasti itu anaknya Emir.”


“Elisha! Kamu lupa kalau kakakmu itu memiliki masalah disfungsi akibat kecelakaan?”


Gadis cantik itu tak terima mendengar perkataan neneknya, dia sangat menyayangi Emir dan dia juga menyukai Arimbi karena dia melihat ketulusan dari kakak iparnya itu.


 


“Semua orang terlalu bodoh karena percaya rumor tak jelas itu! Aku tahu Emir normal! Aku dengar dia bicara dengan Dokter Sam waktu itu! Dia hanya pura-pura mengiyakan rumor itu! Ternyata benar, begitu rumor bereda semua orang menjauhinya! Bahkan semua wanita yang dulu mengejarnya pun hilang entah kemana.” ujar Elisha lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


 


Layla Serkan menatap Elisha dengan mengerutkan alisnya, mencoba mengulang perkataan cucunya. “Kamu bilang Emir normal? Siapa yang mengatakan itu padamu?” tanya Layla Serkan.


“Ah, nenek…..hehe….aku hanya bercanda saja.” Elisha merasa bersalah karena tanpa sengaja membongkar rahasia kakaknya yang hanya dia seorang yang mengetahui.


 


“Elisha! Berani kamu membohongi nenekmu? Katakan yang sebenarnya?”


“Nek----jangan marah dulu! Aduh…...” Elisha menepuk keningnya, kesal pada dirinya sendiri karena kelepasan bicara. Apa yang akan dilakukan Emir padanya karena tak sengaja membongkar rahasia yang selama ini disimpan rapat?


 


“Jangan----jangan nek! Iya...aku bicara!” Elisha menarik napas panjang. “Tapi nenek harus janji dulu jangan bilang pada Emir kalau aku yang mengatakannya!”


 


“Cepat katakan!” Layla Serkan menatap tajam cucu perempuan kesayangannya itu. Bisa-bisanya cucunya membohonginya?


“Sse---sebenarnya Emir tidak punya masalah! Dia seorang pria normal. Tapi setelah kecelakaan itu, entah siapa yang memulai menyebarkan rumo tentang disfungsi-nya. Awalnya Emir mau mengkonfirmasi tetapi setelah dia melihat bagaimana orang-orang berubah dan menjauhinya jadi dia memutuskan untuk membiarkan rumor itu beredar dan tak pernah menyangkalnya.”


 


Elisha menjelaskan sambil menatap wajah Layla Serkan untuk melihat ekspresinya. Tampak tatapan mata wanita tua itu lurus kedepan dan tajam. Ada kilatan emosi dimatanya, tangannya menggenggam erat tongkat kayunya.


Elisha merasa lega karena akhirnya dia bisa mengatakan yang sebenarnya, ‘Fuuuhhhh! Semoga Emir tidak memarahiku karena memberitahu nenek yang sebenarnya.’


 


‘Aku sangat senang saat mendengar kabar Arimbi hamil. Aku bakal punya keponakan, tapi ibu dan nenek terus saja berusaha menyingkirkan Arimbi dari keluarga ini. Kenapa mereka tidak memikirkan kalau suatu hari nanti aku juga akan menikah dan menjadi bagian keluarga lain? Bisa saja apa yang dialami Arimbi juga terjadi padaku?’ bisik hatinya.


 


“Sudah berapa bulan?”


“Heh? Maksud nenek?” tanya Elisha yang tersadar dari lamunannya.


“Sudah berapa bulan kehamilannya?”


“Oh, kalau tidak salah sudah empat minggu. Iya empat minggu, aku punya fotonya.” Elisha yang gembira mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.


 


Foto USG yang dia minta pada Arimbi untuk disimpan sebagai koleksi, lalu dia menyerahkan pada neneknya. “Ini foto USG -nya yang terbaru. Kemarin aku minta pada Arimbi untuk koleksiku. Nenek aku senang sekali, aku akan punya keponakan!” pekik Elisha tersenyum lebar.


 


Layla Serkan mengambil foto USG itu dari tangan cucunya dan memegangnya dengan tangan gemetar.


“Apa kakakmu yang memintamu untuk berbohong?”


“Nenek! Aku minta maaf!”


“Hmm! Kalian berani sekali membohongiku!”


 


“Ini bukan salah Emir! Jangankan orang lain, bahkan keluarga kita sendiri memperlakukannya berbeda sejak kecelakaan itu. Makanya Emir memilih membiarkan rumor itu beredar selama ini. Jadi bisa melihat orang-orang yang tulus dan yang tidak! Tapi soal Arimbi, dia memang tidak tahu apa-apa. Nenek jangan salahkan dia! Selama ini dia merawat Emir dengan baik.”


 


“Kenapa kamu selalu membela wanita itu? Apa memang benar anak itu milik kakakmu?”


“Dia adalah wanita yang baik! Nenek, apa tidak bisa melihat betapa bahagianya Emir sejak kehadiran Arimbi? Dia serius menjalani terapinya dan lihatlah bagaimana perusahaan juga semangat meraup keuntungan dalam masa satu bulan karena Emir bersemangat.”


 


Layla Serkan tak merespon ucapan Elisha, dia menatap foto USG ditangannya. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita tua itu bahkan Elisha sulit memahami ekspresi wajah dan tatapan mata neneknya.


‘Benarkah ini calon anak Emir? Jadi selama ini cucuku normal?’ suasana hati Layla Serkan berkecamuk.


 


 Wanita tua itu tanpa sadar menyentuh dadanya, setitik airmatanya jatuh. Dulu dia terlalu fokus mendidik Emir menhadi pewaris. Dia memang berhasil tapi didikannya yang tanpa kasih sayang membuat Emir menjadi sosok dingin dan kejam.