GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 338. SEMPURNA DAN SERASI


Mata semua orang menoleh kearah Emir dan Arimbi, banyak yang terkejut dengan kehadiran Emir yang sudah lama vakum dari kegiatan sosial. Dan yang lebih mengejutkan adalah dia berjalan tegak menggandeng Arimbi disisinya, wanita itu bersinar dengan gaun mewah berwarna merah yang dipakainya.


 


Pasangan itu tampak sempurna dan serasi, si pria yang tampan dan si wanitanya sangat cantik. Senyum Arimbi yang selalu mempesona seakan menghipnotis semua orang. Seorang panitia penyelenggara pun langsung bergegas menghampiri, “Selamat datang Tuan Emir dan Nyonya Serkan!” sapanya menyalami keduanya.


 


Arimbi bersikap sangat elegan, jauh dari sikap bar-bar yang selama ini ditunjukkannya. Kursus etika yang diikutinya ternyata membuatnya banyak berubah menjadi sosok wanita cantik, kaya dan elegan. Satu persatu para tamu menyalami mereka. Suatu kehormatan bagi mereka bisa menyapa Emir karena itu sangat bagus untuk memulai.


 


Semua orang yang datang diperjamuan ini adalah para pebisnis dan petinggi di perusahaan besar. Ini adalah tempat dimana mereka akan mencari muka dan menjalin kerjasama bisnis. Kedatangan mereka ke perjamuan ini tidak lain untuk mencari peluang dan koalisi bisnis.


 


Kehadiran Emir menjadi magnet bagi setiap pasang mata yang ada di tempat itu. Mereka memandangi Emir dan Arimbi bergantian. Tapi Emir yang menjadi pusat perhatian, hampir semua tamu sekarang tak lepas memandang Emir. Perhatian itu membuat Arimbi yang terus berada disisi Emir pun semakin senang dan bangga.


 


Emir menggandengnya dengan begitu tenang dan penuh kepercayaan diri. Mereka ada disini dengan status yang jelas, bersama dengan suami yang sangat sempurna dan diidolakan banyak wanita. Arimbi meremas lengan Emir lalu pria itu melirik kearahnya karena tidak paham kenapa pegangan Arimbi menjadi lebih kencang.


 


“Di sebelah kanan, diatas balkon.” bisik Arimbi yang membuat Emir melirik kearah yang dikatakan oleh Arimbi. Terlihat disana seseorang yang menatap kearah mereka dengan tajam. Emir mengacuhkan dan kembali menatap lurus kedepan sambil berjalan bersama Arimbi menyapa rekan bisnis Emir.


 


Zivanna ada diatas balkon yang ditunjukkan Arimbi. Wanita itu bersama seorang pria dan tampak sedang berbincang dengan dua pria lainnya. Tampak mereka berbincang dengan sangat serius dan Zivanna hanya menanggapi dengan tersenyum. Tatapan Zivanna kembali ke arah bawah memandang punggung Arimbi dan Emir.


 


‘Kurang ajar! Sejak kapan Tuan Emir bisa berjalan? Aisss…...dia semakin tampan dan kekar! Kenapa harus perempuan udik itu yang bersamanya! Seharusnya akulah yang berada disisinya.’ geramnya.


“Kamu baik-baik saja Zivannna?” tanya pria itu yang tak lain adalah Marcel Arkatama.


“Ehm….aku mau permisi ke toilet sebentar.” bisiknya ke telinga Marcel lalu Zivanna segera pergi dari sana dan berjalan menuju ke arah halaman belakang.


 


“Apa kamu sudah melihatnya?” tanya Emir saat dia membawa Arimbi agak menjauh dari tamu lain. Saat ini mereka sedang duduk menikmati makanan dan minuman yang disediakan.


“Belum! Apa kamu yakin dia berani datang kesini? Darimana dia akan mendapatkan undangan untuk masuk keperjamuan ini?”


 


“Menurutmu?” tanya Emir.


“Gio? Kasihan sekali dia mencintai wanita seperti Amanda? Cinta membuatnya buta dan lupa diri!”


“Bukankah kamu juga seperti itu, istriku?” bisik Emir menghembuskan napasnya di leher Arimbi.


“Emir! Jangan menggodaku disini! Apa kamu mau aku terkam didepan semua orang?”


“Kamu wanita paling tidak tahu malu yang pernah kukenal.” ucap Emir tersenyum.


 


“Memang! Dan wanita tak tahu malu ini sedang mengandung anakmu! Wanita tidak tahu malu ini membuatmu kembali tersenyum dan bisa berjalan lagi!” ujar Arimbi seraya tersenyum menggoda.


“Aku bisa berjalan supaya aku bisa menghabisimu!” ucap Emir.


“Hehehe…...benarkah? Berapa lama waktu bertahanmu?” Arimbi mengerlingkan sebelah matanya.


 


“Arimbi! Jangan keterlaluan!” ucap Emir mengeram karena tubuhnya sudah menunjukkan reaksi.


“Kamu akan membuktikannya nanti! Berapa lama aku bisa bertahan! Aku peringatkan sekarang, kamu minta maaf atau aku akan membuatmu tidak bisa bangun selama tiga hari.”


 


“Huuuuu…...aku takut!” Arimbi memasang wajah pura-pura ketakutan yang terlihat sangat menggemaskan. Tanpa mereka sadari Zivanna yang berdiri dibalik pohon tak jauh dari meja mereka mendengarkan semua percakapan mereka. Kedua tangannya mengepal erat, sudut bibirnya terangkat memunculkan seringai jahat.


 


Acara baru saja dimulai dan para tamu sudah duduk di meja yang sudah diberi nama. Joana tiba disana bersama ayahnya. Menggenakan gaun mewah yang diterimanya pagi tadi, rambutnya yang di buat model spiral, riasan warna natural membuatnya tak kalah cantik malam ini. Saat dia dan ayahnya baru saja turun dari mobil, ayahnya berbincang dengan rekan bisnisnya yang juga baru tiba.


 


Joana mengikuti dari belakang, dan saat itu Dion pun baru tiba. Matanya memicing melihat Joana yang sedang berdiri di pintu masuk sambil bermain dengan ponselnya. Mata Dion memindai Joana yang terlihat sangat cantik malam ini, gaun yang dipakainya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang padat dan langsing.


 


Dion menelan salivanya, tiba-tiba bayangan malam itu muncul dibenaknya. Setiap gerakan Joana dibawah kukungannya, desahannya dan tangan Joana yang mencengkeram rambutnya hingga cakaran kuku Joana didadanya semua muncul di benaknya sehingga membuatnya menatap Joana dengan insten.


“Selamat datang Tuan Harimurti! Mari saya antarkan ke meja anda.” ucap seorang pelayan.


“Terima kasih.” ucapnya mengikuti pelayan itu, dia masih sempat menoleh sekali lagi pada Joana yang masih sibuk dengan ponselnya. Lalu Dion pun duduk dimeja yang sudah diperuntukkan baginya.


 


Dion meminta minuman alkohol pada pelayan, matanya terpaku melihat pasangan yang terlihat romantis yang jaraknya sekitar lima meja darinya.


‘Emir bisa berdiri? Sejak kapan?’ pikirnya memperhatikan pasangan itu. Arimbi yang terlihat beberapa kali berbisik ditelinga Emir sambil tersenyum manis.


 


“Fuuuhh! Untung masih ada kursi kosong.” suara lembut seseorang yang duduk disebelah Dion membuatknya menoleh lalu mengeryitkan keningnya. ‘Wanita itu?’


“Maaf Tuan! Boleh ya saya duduk disini, semua kursi sudah terisi. Saya hanya sebentar saja setelah saya selesai makan saya langsung pergi.” ucap wanita itu.


 


Dengan refleks tangan Dion mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan kuat. Dia duduk disana tanpa memperhatikan siapa orang yang duduk disana.


Dengan santainya dia duduk di kursi sebelah Dion yang sengaja ditariknya mendekat agar tidak ada orang lain yang duduk disana. Tapi, wanita ini dengan beraninya langsung duduk dan makan dengan santainya.


 


Saat wanita itu mendongak untuk melihat siapa orang yang mencengkeram tangannya, matanya terbelalak kaget. Dia menelan dengan kasar makanan yang tersangkut di tenggorokannya.


“T---Tu---Tuan Dion?” suara wanita itu bergetar ketakutan. “Saa-----”


Dion tak mengatakan apapun, dia hanya diam menatap tajam pada wanita itu.


 


“Sa----saya minta maaf! To—tolong lepaskan tangan saya tuan. Saya akan pergi sekarang. Ma—maaf!”


“Mau kemana?” suara berat Dion terdengar, namun tatapan matanya tak lepas dari wanita itu.


“Sa—saa----saya duduk tempat lain saja. Maafkan saya. Saya tidak sengaja.”


“Habiskan makananmu.”


“Heh?”


 


“Apa kamu tidak mendengarku, Joana?” ujar Dion mendekatkan wajahnya ke telinga Joana. Tapi---


“Tuan Harimurti!” suara manja dan lembut yang dibuat-buat tiba-tiba terdengar dari arah samping Dion. Dia menoleh tanpa mengubah posisi kepalanya yang masih berada dekat di telinga Joana. Sedangkan wanita itu sudah merinding dan keringat dingin karena tangan Dion masih mencengkeram pergelangan tangannya.