
“Reza! Bagaimana bisa kau ditendang dari Lavani Group? Lalu bagaimana dengan perusahaan kita?” Yessi, ibunya Reza terlihat sangat panik. Sejak Reza dikeluarkan dari perusahaan milik keluarga Lavani, membuat pasangan suami istri Kanchana panik.
Masalah perusahaan mereka belum teratasi dan mengharapkan Reza bisa menggunakan kekuasaannya untuk membantu perusahaan keluarganya.
“Bu, Zivanna sudah kembali dan dia juga sudah menikah! Sekarang dia yang memegang kekuasaan perusahaan itu bersama suaminya. Memangnya aku bisa berbuat apa? Aku berusaha agar tetap bisa berada disana setidaknya bisa memegang salah satu posisi penting. Tapi Tuan Jack, suami Zivanna malah menolak dan sepenuhnya berkuasa disana.” ujar Reza.
Dia menyugar rambutnya dengan kasar, belum sempat dia mengambil cukup uang dari perusahaan itu, namun kemunculan Zivanna dan Jack menghancurkan semua harapannya.
Kini dengan terpaksa dia harus kembali ke perusahaan milik keluarganya. Perusahaan itu sedang kacau dan jika tidak segera ditangani maka akan bangkrut.
Reza tidak mau hidupnya jatuh miskin, dia sudah melihat bagaimana Amanda sekarang. Jangankan untuk membuka usaha baru, mendapatkan pekerjaan saja sulit.
‘Apa yang harus kulakukan sekarang? Ck! Sial sekali! Sejak aku berpisah dengan Arimbi, semuanya jadi kacau. Sedangkan wanita itu sekarang hidup senang bergelimang harta.’ gumamnya dalam hati.
“Apa kamu tidak bisa bicara pada Zivanna? Kamu sudah membantu keluarga mereka dengan mengurus perusahaan sejak keluarga Lavani bermasalah! Apa tidak ada sedikitpun rasa terima kasihnya padamu? Reza…..temui Zivanna dan suaminya! Ajak Ruby bersamamu dan minta bantuan pada mereka! Jika menunggu lebih lama lagi, kita akan kehilangan segalanya.” ucap ayahnya Reza.
“Ya benar itu! Aku akan menemui besanku nanti. Aku akan memberitahu mereka untuk membantu kita. Bagaimanapun Reza adalah suami dari sepupu Zivanna! Apa mereka tega melihat Ruby hidup susah? Pasti tidak bukan? Aku yakin jika kita mendesak mereka, pasti semuanya akan teratasi.”
Reza memikirkan perkataan ibunya, Ruby adalah jalan keluar dari masalahnya. Istrinya itu sedang hamil dan sangat mencintainya. Bukankah selama ini dia sangat pandai dalam merayu wanita? Dia sudah pernah menjalin hubungan dengan kedua putri keluarga Rafaldi!
Tidak ada salahnya kali ini dia memanfaatkan Ruby untuk mendapatkan keuntungan. Senyum pun muncul di wajah Reza lalu dia menatap ibunya.
“Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Ibu mungkin bisa menemui mertuaku, bicarakan dengan mereka tapi jangan terlalu terlihat kalau kita ingin memanfaatkan mereka.” ujar Reza.
“Ibu tahu apa maksudmu Reza! Nah beginilah, ibu jadi lega mendengarnya. Hmmm!” Yessi Kanchana pun menarik napas lega setelah mendapatkan cara untuk menyelesaikan masalah keluarganya.
“Reza! Apa kamu masih bertemu dengan Amanda?” tiba-tiba ayah Reza menanyakan. Dia teringat saat itu Amanda mengatakan kalau dia sedang mengandung anak Reza. Pertanyaan ayahnya membuat Reza terdiam sejenak.
Sudah lama dia tidak memikirkan tentang Amanda. Dia terlalu sibuk dengan kehidupan barunya bersama Ruby dan menikmati semua fasilitas yang didapatnya.
“Aku tidak tahu kabarnya lagi ayah! Kami sudah tidak ada hubungan apapun! Semua kesialan ini juga bermula darinya! Sejak aku berpisah dengan Arimbi, rasanya kehidupanku kacau balau.”
“Cih! Arimbi itu sombong sekali! Aku pernah melihatnya di mall dan dia bahkan tidak mau melihatku! Kalau dia tidak menikahi keluarga Serkan, memangnya dia bisa menjalani hidup seperti yang dia miliki sekarang?” Yessi sangat kesal setiap kali dia mengingat Arimbi.
Apalagi mengetahui Arimbi menikah ke keluarga paling kaya di negeri ini. Yessi merasa sakit hati dan direndahkan oleh Arimbi.
“Sudahlah! Tidak perlu mengingat perempuan itu lagi!” ujar ayahnya Reza. Dia menyadari jika semua adalah kesalahan putranya sejak awal. Andai Reza tidak mengkhianati Arimbi, mungkin saat ini kehidupan mereka tidak akan terpuruk. Meskipun perusahaan tidak sebesar perusahaan Rafaldi Group, tapi setidaknya mereka masih punya status tinggi di masyarakat.
“Apa sebaiknya aku mencoba menghubungi Arimbi? Toh aku sudah menikah sekarang! Tidak akan ada salahnya jika aku berteman dengannya, bukan? Aku dengar Rafaldi Group sangat berkembang pesat sekarang. Salah satu cucu Keluarga Serkan yang memegang perusahaan itu dan mengembangkan bisnisnya. Tuan Rafaldi sudah pensiun dan menghabiskan waktunya liburan dengan istrinya.”
“Ck! Untuk apa lagi kamu mau berhubungan dengan keluarga itu? Mereka sangat sombong! Apa kamu lupa bagaimana perlakuan Nyonya Rafaldi pada kita waktu itu? Apalagi sekarang, putrinya menikah dengan Tuan Emir, Cih! Pasti mereka semakin besar kepala! Tidak perlu menemui mereka lagi.” Yessi benar-benar kesal dan masih menyimpan sakit hatinya.
Setelah beberapa saat, dia pun menyetujui ide ayahnya. Bukankah cara ini jauh lebih baik? Dia tidak perlu menghubungi Arimbi secara langsung. Bagaimana pun dia harus menjaga harga diri dan martabatnya sebagai seorang pria.
‘Kalau aku menemui Arimbi dan meminta bantuannya, pasti dia akan merendahkanku atau bahkan menertawaiku!’
...****...
Sementara itu di sebuah pusat perbelanjaan mewah yang juga milik Arimbi. Elisha berjalan berampingan dengan neneknya. Disebelahnya ada Bryan yang sejak tadi sibuk mengajak Elisha berbincang.
Sikapnya yang ramah dan pandai bicara membuat suasana hidup. Arimbi duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang pengawal. Sedangkan beberapa pengawal lainnya mengikuti dari belakang.
Sejak mereka memasuki mall itu, semua mata pengunjung memandang Arimbi. Ekspresi wajah mereka menatap takjub pada wanita yang duduk dikursi roda dengan perut besar itu.
Semua orang mengenali Arimbi sebagai Nyonya Serkan yang berkuasa. Apalagi mall itu adalah miliknya dan juga sebagai putri sekaligus pewaris Rafaldi Group.
“Kakak ipar, kita ke butik yang disana! Tempo hari aku melihat mereka punya koleksi terbaru pakaian untuk wanita hamil.” ujar Elisha bersemangat. Dia senang sekali bisa menemani Arimbi berbelanja.
“Ya, nenek juga memilihkan beberapa pakaian untuk Arimbi.” ucap Layla Serkan. “Bryan! Ini kesempatanmu belajar, sebentar lagi juga kamu akan menikah dan punya istri.”
“Hehe….nenek! Mungkin masih lama untuk itu! Aku belum punya kekasih.” ucap Bryan melirik Elisha yang kebetulan juga sedang meliriknya. Elisha langsung mengalihkan pandangannya saat tatapan mereka bertautan.
“Apakah nenek punya calon untukku?” tanya Bryan lagi.
“Ah, kalian anak muda susah sekali kalau disuruh menikah! Lihatlah bagaimana Emir dulu!”
“Aduh, nenek! Jangan samakan Emir denganku! Dia cukup beruntung bisa memiliki istri seperti Arimbi! Ah, iya…..Arimbi, apa kamu punya seseorang yang bisa dikenalkan padaku?” tanya Bryan.
“Hmm…..siapa ya? Bryan, aku tidak tahu wanita seperti apa yang kamu sukai! Apakah kamu ada menyukai seseorang? Aku dengar dari Emir ka---”
“Jangan bicarakan Emir! Dia membuatku kesal saja. Aku sudah mengatakan niatku padanya tapi dia malah mengejekku!” sahut Bryan memotong Arimbi.
Dia tahu apa yang ingin dikatakan Arimbi, sehingga dia memotongnya agar Elisha dan Layla Serkan tidak mendengar. Arimbi menoleh padanya lalu tersenyum, “Benarkah? Apa kata suamiku?”
“Tidak penting! Aku tidak mau membicarakan hal seperti itu lagi padanya.” Bryan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia pun tersenyum lalu berkata lagi,
“Arimbi….aku rasa kamu bisa membantuku.”
Mereka sudah tiba didepan pintu butik, sehingga Bryan pun tidak lagi bicara. Mereka memasuki butik itu sedangkan para pengawal menunggu diluar butik.