GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 98. MENJEMPUT JOANA


Tidak ada lagi julukan yang pas untuk seorang pria yang bisa melakukan apa saja yang dia mau kemanapun dia pergi. Setelah mendengar jawaban Arimbi membuat Joana berpikir keras dan setelah beberapa detik dia bertanya, “Tuan Kepiting yang mana yang sedang kita bicarakan ini? Bukankah kamu sudah menangkapnya dan memasaknya menjadi hidangan kepiting kukus?”


Arimbi tersenyum, memang seharusnya dia mengukus saja si Tuan Kepitingnya dan memakannya. “Aku akan memberitahumu lain kali ya. Aku sudah sampai di bandara dan akan mencari mu sekarang setelah kami parkir mobilnya. Tunggu saja disana oke?”


“Baiklah.” Joana mengangguk lalu menutup teleponnya.


Dia bahkan belum mendapatkan informasi siapa Tuan Kepiting tadi, itu adalah pukulan untuk egonya sebagai salah satu putri kaya dikota ini tapi tidak mengetahui siapa orang itu. Tapi suasana muram hatinya tidak berlangsung lama karena dia bertemu dengan supir taksi online yang sangat tampan yang telah mempesonanya saat melihat fotonya.


Joana ingin mengambil foto Rino dari depan, mencetaknya dan menempelkannya di dinding kamar. ‘Oh….tidak! Dinding kamarku sudah penuh dengan foto pria tampan! Aku pikir aku tidak akan bisa memberikan ruang untuk foto lain,’ Joana hampir menangis.


Setelah Rini memarkirkan mobil, dia terdiam beberapa detik sebelum berkata pada Arimbi, “Nyonya Muda Arimbi. Silahkan.”


Ketika Arimbi hendak membuka pintu, dia tiba-tiba berhenti lalu memiringkan kepalanya dan menggoda Rino dengan berkata, “Kenapa Rino? Takut ya Joana akan memfotomu dari depan? Tidak masalah kamu itu laki-laki atau bukan, penampilanmu akan selalu menarik perhatian orang kemanapun kamu pergi.”


Rino terdiam setelah itu, akhirnya Arimbi pun berhenti memaksanya ikut menjemput Joana kedalam bandara. “Baiklah. Kalau begitu tunggu saja disini biar aku menjemputnya kedalam. Aku akan segera kembali setelah bertemu dengan Joana.”


Walaupun Rino mengantarnya ke bandara tapi dia masih anak buah Emir dan hanya akan setia pada Emir. Kemudian Arimbi keluar dari mobil dan mencari Joana.


Dia segera menemukannya berdasarkan petunjuk yang dikirimakn Joana padanya. Begitu dia melihat sahabatnya dia langsung mendatanginya sambil tersenyum lebar. “Joana!”


Joana langsung menghampiri sahabatnya sambil menyeret kopernya. Sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu akhirnya dipertemukan lagi dan slaing berpelukan erat.


Arimbi mengamati Joana dari kepala hingga kakinya smabil tersenyum, “Kenapa kulitmu selalu seputih ini meskipun kamu sering jalan-jalan keluar? Aku iri.” ujar Arimbi yang merasa iri dengan kulit temannya yang seputih salju itu. Joana meraba pipinya dan mulai memuji dirinya sendiri, “Aku memang seperti dewi dan dari dulu sudah cantik. Tidak ada gunanya iri padaku.”


“Huh! Kamu itu ya baru sekali aku memujimu langsung besar kepala.” ujar Arimbi yang hendak meraih salah satu tas Joana untuk membantu membawanya.


“Aku bisa sendiri.” ucap Joana memegang erat koper dan tasnya.


“Kenapa orang sekecilmu selalu saja membawa bawaan seabrek. Pasti capek membawa semua ini. Sini aku bantu bawain.”


Melihat Arimbi memaksa akhirnya Joana tidak punya pilihan untuk menuruti temannya dan menyerahkan satu kopernya pada Arimbi.


Sebagai teman yang tubuhnya lebih besar, Arimbi selalu membantunya ketika mereka bersama-sama. “Apa sih isi koper ini? Berat sekali? Apa kamu memasukkan semua batu kedalamnya ya?”


“Itu semua isinya hadiah untukmu.”


“Hehehe…..kamu baik sekali.” Arimbi terkekeh.


“Kamu kan sahabatku. Aku harus baik pada siapa lagi kalau bukan padamu?”


“Aku juga baik padamu. Jauh-jauh datang kesini menjemputmu.” balas Arimbi tak mau kalah.


Joana menggandeng tangannya dan terus berbincang sambil berjalan menuju ke parkiran. “Aku tahu kamu selalu memperlakukanku seperti tuan putri makanya aku tidak mau supirku menjemputku. Aku mau kamu yang menjemputku. Apa si tampan itu beneran supir taksi online?” tanya Joana lagi.


“Mana mungkinlah! Aku belum bertemu langsung dengannya. Aku sudah bertemu banyak pria tampan dan aku tidak semudah itu jatuh cinta.” ujar Joana. Dia suka mengumpulkan foto-foto orang tampan dan cantik, itu sudah menjadi hobinya. Tapi tentu saja sebagian besar isi koleksinya adalah foto pria tampan. Dia juga punya banyak foto-foto wanita cantik tapi dikamar lainnya. Bahkan keluarganya tidak bisa melakukan apapun untuk hobinya itu.


“Baiklah. Aku tidak bisa memberitahumu tentang dia sekarang.” ujar Arimbi dengan menyesal.


“Ohhhh….begitu ya kamu sekarang?”


Arimbi hanya tersenyum tanpa berkata apapun lagi. Sedangkan Joana yang mengerti pun tak lagi memaksanya karena itu pasti akan membuat Arimbi tak nyaman.


“Oh iya bagaimana hubunganmu dengan Reza selama aku tidak ada? Apa kamu berhasil mendapatkan dukungan dari orangtuamu? Lebih baik kamu menyerah saja jika mereka tidak mendukungmu. Kamu tahu kan kata orang kamu tidak harus menikahi seseorang yang dikenalkan oleh orang tuamu tapi kamu harus berpikir kembali jika orangtuamu tidak mau kamu menikahi orang yang kamu pilih.”


Reza itu tampan tetap Joana tidak pernah menyukainya dan tidak percaya pada pria itu. Joana bahkan tidak punya foro Reza meskipun Reza itu tampan.


“Aku sudah merelakannya.” jawab Arimbi mengacuhkan.


“Hah? Kenapa? Yang benar saja?” Joana tiba-tiba berhenti membuat Arimbi tertawa.


“Hahahaha….bukannya kamu yang menyuruhku untuk merelakannya? Kamu yang bilang kami tidak cocok ketika aku tergila-gila padanya. Tapi lihatlah sekarang kamu terkejut ketika aku bilang aku sudah merelakannya. Joan, aku harus bagaimana?”


Setelah mendengar itu Joana terus menatap sahabatnya itu sambil emnaruh tangannya didahi Arimbi, “Kamu tidak demam. Kamu pasti memikirkannya dengan matang. Arimbi apa kamu benar-benar telah merelakan Reza?”


“Hmm….benar. Bye!”


Joana langsung tersenyum, “Masih ada harapan untukmu kalau begitu. Pria itu licik sekali, terllau licik untuk wanita seberani dan sejujurmu. Selain itu dia telah mengenal Amanda selama bertahun-tahun dan hubungan mereka cukup harmonis tidak sekedar teman saja. Bukannya membandingkan tapi Amanda itu jauh lebih baik dari kamu. Bagaimana kamu bisa yakin kalau tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka? Kamu sangat setia dan penurut padanya hingga rela berkorban deminya. Aku mengkhawatirkanku tapi aku tidak berani mengatakan apapun karena kamu tidak mau mendengarkan nasehatku selama ini.”


Entah mengapa kata-kata tulus Joana membuat Arimbi kembali teringat akan kehidupan sebelumnya. Hubungannya dengan Joana harus berakhir karena Joana selalu menyuruhnya untuk meninggalkan Reza. Joana tahu betapa cintanya Arimbi pada Reza dan dia rela melakukan apapun demi reza. Tapi Joana tetap meminta Arimbi untuk memutuskan Reza. Hingga Arimbi merasa kalau saran Joana itu bukan demi kebaikannya dan dia mengira Joana hanya iri dan mengerjainya saja.


Arimbi saat itu bahkan mengira kalau Joana juga menyukai Reza hingga membuat Joana marah dan memicu prtengkaran hebat diantara mereka hingga hubungan persahabatan mereka pun putus.


Tapi sekarang Arimbi telah berada dikehidupan kedua dan dia tidak akan pernah meragukan temannya lagi. “Terimakasih Joan.” ucapnya pada Joana. Dia berterimakasih untuk kehidupan keduanya. Dia berhutang ini pada sahabatnya itu dikehidupan kedua ini.


“Kenapa kamu berterimakasih padaku? Aku hanya memberimu saran sebagai seorang teman. Aku tidak melakukan apapun, aku tidak perlu terima kasih darimu selama kamu tidak berpikir kalau aku terlalu ikut campur urusanmu.” ujar Joana.


“Tidak Joan.” Arimbi tersenyum. Pil itu pahit namun menyembuhkan, saran yang terbaiklah yang tidak enak untuk didengarkan.


Joana mengatakan semua itu hanya karena dia ingin yang terbaik untuk Arimbi sahabatnya itu. Sedangkan Amanda disisi lain selalu berharap semoga Arimbi cepat mati sehingga dia selalu memuji-muji Reza supaya Arimbi tergila-gila padanya. Dulu Arimbi mendengarkan Amanda yang akhirnya mengarahkannya pada kematiannya.


“Ayo cepat pergi. Kita tidak mau supir kita menunggu terlalu lama.”