GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 400. BERTEMU ANGEL


Mendengar perkataan Dion membuat wanita itu ketakutan dan perlahan mengangkat wajahnya. “Sa---saya mohon Tuan! Jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini untuk membiayai keluargaku.” ucap wanita itu dengan wajah memelas.


Mendengar suara wanita itu kembali membuat Dion mengerutkan alisnya, ‘Kenapa suaranya terdengar hampir sama dengan Joana? Apakah aku sudah gila? Kenapa aku malah selalu teringat wanita itu?’


‘Tapi kenapa aku merasa sangat familiar dengan perempuan ini? Suaranya mirip Joana!’ Dion menggelengkan kepalanya. ‘Aku benar-benar sudah gila! Bisa-bisanya aku melihat wanita lain sebagai Joana! Kemana kamu pergi Joana? Aku yakin kamu masih hidup!’ baru kali ini Dion merasakan tersiksa karena kehilangan Joana.


Tak bisa dipungkirinya, jika kehadiran Joana di hidupnya sedikit banyaknya membawa perubahan dalam hidup dan kesehariannya. Pertengkaran mereka, sikap Joana yang keras kepala dan semua hal yang selalu saja di protes wanita itu.


Belum lagi tingkahnya yang selalu membuat Dion emosi dan kacau! Dion kembali menyesap minumannya sambil memandang wanita bernama Angel itu.


“Kenapa kamu hanya berdiri saja disana! Bukankah tugasmu melayaniku?” ujar Dion dengan tajam menatap para wanita berpakaian seksi itu. Angel yang merasa ketakutan pun melirik temannya seraya memberi kode, lututnya sudah gemetaran dan dia khawatir kalau akan membuat Dion marah dan mengakibatkan mereka semua harus menanggung akibatnya.


Seorang wanita bernama Liliana memasang senyum manis lalu melangkah ke depan, mengambil sebuah botol minuman dan membuka penutupnya. Seraya berjalan menghampiri Dion dia pun berkata, “Biar saya tuangkan lagi minumannya Tuan!”


Saat wanita itu hendak membungkukkan badan untuk menuangkan minuman, tangan Dion langsung mendorongnya menjauh.


Untung saja wanita itu cekatan langsung memegang sandaran sofa sehingga dia tidak terjatuh. Wajahnya langsung memucat, hampir saja dia jatuh dan memecahkan botol minuman yang mahal itu. Sedangkan Angel yang melihat apa yang terjadi langsung maju dan mengambil botol minuman dari tangan temannya lalu mendekati Dion.


“Maafkan teman saya, Tuan karena ceroboh! Mohon mengampuninya.” ucap Angel dengan suara lembut tanpa menatap Dion menuangkan minuman kembali di gelas yang digenggam Dion.


Dion memejamkan matanya saat Angel dekat dengannya, aroma tubuh wanita itu begitu menenangkannya dan dia aroma itu persis sama seperti Joana.


Merasa kalau dia bisa saja kehilangan kendali dirinya, Dion pun mengusir para wanita itu dari ruangannya. Dengan ketakutan para wanita itu bergegas berjalan cepat meninggalkan ruang VVIP itu. Setibanya diluar dan sudah menutup pintu ruangan tampak mereka menghela napas lega.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Jantungku rasanya mau copot.”


“Aku harap kamu punya penjelasan yang masuk akal untuk ini.” ucap Angel menatap teman wanitanya yang menatapnya dengan ekspresi bersalah diwajahnya.


“Aku akan jelaskan padamu, tolong jangan marah! Ini diluar perkiraanku tapi setidaknya pria itu memesan minuman termahal! Kita minta bayaran dari manajer lalu pergi dari sini.”


Angel menghempaskan napas sebelum pergi dari sana dia menoleh menatap pintu ruangan itu dengan nanar. Entah mengapa ada rasa sakit dan kasihan yang muncul didalam hatinya. ‘Apa semua pria seperti itu ya kalau sedang stress?’ pikirnya menggelengkan kepala lalu mengikuti temannya. Setelah menerima bayaran mereka, Angel dan temannya meninggalkan tempat itu.


Kedua wanita itu duduk dialam mobil membisu. Tak ada seorangpun yang berkata-kata. Wanita yang sedang menyetir menoleh sejenak, karena sudah tidak tahan lagi dia pun bicara.


“Aku minta maaf soal malam ini! Aku tidak menyangka kalau tamu itu Tuan Harimurti!”


“Masa kamu tidak tahu? Siapa yang memberitahumu soal tamu istimewa dengan bayaran tinggi untuk menemani minum malam ini?”


“Grace! Bagaimana kalau seandainya Dion mengenaliku? Aku belum mau menemuinya! Cukup sekali ini saja kita melakukan ini!”


“Hehehehe……jujur saja padaku! Apa kamu merindukan dia? Aku tadi melihat kalau kamu sempat menoleh menatap pintu ruang VVIP itu. Sepertinya kamu merasa sedih, Joana?”


Joana hanya diam saja tak merespon ucapan Grace. Ya malam ini sebenarnya mereka memang sengaja bekerja part time di club mewah itu karena Manajer klub yang merupakan teman Grace mengatakan ada tamu istimewa dengan bayaran tinggi hanya untuk menemani minum! Dia juga tidak bertanya siapa orang itu, andai Grace tahu kalau pria itu adalah Dion, dia pasti tidak akan mau menerima tawaran itu.


‘Tunggu dulu, kenapa jadi aku yang bersalah? Bukankah semuanya ide Joana awalnya? Dia yang punya rencana untuk mengerjai Dion Harimurti? Tapi kenapa sekarang malah aku yang terpidana?; bisik hati Grace kembali melirik Joana.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya? Aku minta maaf soal malam ini.”


“Sudahlah lupakan saja! Setidaknya hanya bekerja satu jam sudah dapat uang sebanyak itu.”


“Joana, kalau bukan karena temanku yang minta tolong aku juga tidak akan mau menerima pekerjaan ini. Untung saja tidak ada yang mengenaliku! Bisa-bisa aku dikirim ke luar negeri lagi kalau keluargaku tahu?” ucap Grace mengatakan yang sejujurnya.


Joana menghela napas panjang, kita berhenti di persimpangan beli sate dulu ya?”


“Baiklah Tuan Putri! Yang penting malam ini seru sekali bukan? Hahahaha…..kamu lihat bagaimana ekspresi wajah Tuan Harimurti tadi? Dia bahkan bisa merasakan kehadiranmu disana! Dia berulang kali menyebut namamu. Joana, menurutku dia benar-benar mencintaimu!”


“Ck! Tahu apa kamu tentang cinta? Seperti sudah berpengalaman saja.” ucap Joana berdecak.


“Bukankah benar yang kukatakan? Begitu melihatmu dia langsung memanggil namamu!”


“Untung saja dia tidak memaksaku untuk duduk disampingnya atau memintaku melayaninya, bisa ketahuan aku.” ucap Joana yang terdiam sejenak sambil mengeryitkan keningnya. Seolah dia sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia tersenyum dan menatap Grace.


“Grace! Sepertinya aku baru saja mendapat ide baru!” ucap Joana dengan nada gembira.


“Aku harap idemu kali ide masuk akal dan tidak gagal!” sahut Grace menghentikan mobilnya tepat di depan penjual sate. “Itu tukang satenya. Aku belikan satu bungkus saja.”


“Ya sudah. Aku beli dulu.” ucap Joana melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Setelah membeli sate, Grace kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemannya. Tak lama keduanya sudah duduk santai diruang tamu sambil menyantap sate kambing.


“Aku akan membuat Dion bertekuk lutut dan mengejarku! Aku tidak akan berhenti sampai dia benar-benar sudah berada dibawah kuasaku!” ucap Joana tiba-tiba memecah kesunyian.


“Gila kamu Jo! Pria posesif itu? Dia dingin sekali, apa kamu yakin bisa mengendalikannya?”