
“Nenek, ada apa? Kenapa nenek terlihat marah? Ada masalah apa?”
“Nenek, beritahu kami siapa yang membuatmu kesal? Kami akan membalaskannya untukmu.”
Agha dan Elisha sangta terkejut menemukan ruang tamu mewah di rumah utama berantakan saat mereka masuk kedalam rumah.
Banyak barang-barang pecah berserakan dilantai, menandakan seberapa besar amarah Layla Serkan. Nenek mereka biasanya cukup berkepala dingin dalam keadaan apapun dan tenang seiring bertambahnya usia dan dia hampir tidak pernah kehilangan kesabarannya. Dia tidak akan menghancurkan barang-barang seperti sekarang ini.
Agha dan Elisha saling pandang melihat pemandangan didepan mereka. Emir sudah pergi bersama Arimbi cukup lama tapi Layla tetap masih marah.
Dia merasa dadanya sakit karena ledakan kemarahan dan dia juga merasa kasihan pada Emir. Dengan gusar, dia menjawab. “Selain Emir apa ada orang lain yang mempunyai kemampuan untuk membuatku marah?”
Elisha maju selangkah dan duduk disamping neneknya. Pada saat yang sama dia mencengkeram lengan Layla dan menghiburnya. “Nenek jangan marah. Nenek sudah tahu bagaimana Emir dan begitulah dia. Jangan menganggapnya terlalu serius. Tidak ada gunanya nenek marah seperti ini karena akan mempengaruhi kesehatan nenek.”
“Nenek, apa yang dilakukan Emir sehingga nenek semarah ini?” tanya Agha dengan prihatin.
“Apa kalian tahu identitas seperti apa yang disandang Arimbi ketika dia pindah kerumah kita?”
Mata cantik Elisha berkedip, “Aku rasa dia seorang pengasuh. Emir membawanya kembali untuk membalas dendam padanya. Itu saja yang aku tahu.”
“Hah! Pengasuh? Balas dendam yang tepat? Hanya orang bodoh saja yang akan mempercayainya!” dengus Layla Serkan kesal. Saat nenek Serkan menahan amarahnya dengan tamparan dipahanya, dia tidak bisa merasakan sensasi apapun. Namun, cucu perempuannya yang berharga mulai mengerang disampingnya.
“Ada apa denganmu?” nenek bertanya sambil memicingkan matanya menatap curiga kearah Elisha.
“Nenek baru saja memukul pahaku, bukan paha nenek sendiri.” jawabnya menggerutu. Pukulannya sangat kuat sehingga pahanya terasa seperti terbakar.
!Nenek Serkan melihat kebawah dan segera menarik tangannya. Dia dengan cepat mengulurkan tangannya dan menggosok area dimana Elisha dipukul.
“Elisha apakah terasa sakit? Aku tidak tahu mengapa aku melakukannya. Tidak heran aku tidak bisa merasakannya, aku pikir kaki tuaku sudah mati rasa. Ternyata aku memukul pahamu, hehe….”
“Nenek, apa yang membuat nenek sangat marah pada Arimbi? Bagaimana dia mendapatkan izin untuk tinggal bersama kita?” tanya Elisha penasaran.
Nenek Serkan mengerutkan kening dan menegur dengan marah. “Arimbi menikah dengan saudara laki-lakimu dan pada hari mereka menerima buku nikah mereka, hal itu terjadi di hari yang sama dia memotong pergelangan tangannya. Emir terlalu tertutup untuk menyembunyikan masalah penting seperti itu dan tak mengatakan apapun padaku!”
Elisha benar-benar terkejut, “Buku nikah? Artinya Arimbi adalah kakak iparku sekarang?”
“Dia bukan kakak iparmu, Elisha! Aku tidak suka dia menjadi kakak iparmu.” jawab Layla Serkan.
“Apa yang dia pikirkan tentang Keluarga Serkan? Dia pikir siapa sebenarnya Emir? Apa dia pikir dia bisa menikah kapanpun dia mau? Dan memotong pergelangan tangannya kapanpun dia menolak?” kekesalannya yang merasa tidak dianggap dan dihargai sebagai tetua keluarga yang membuat amarahnya memuncak.
“Nenek, kurasa tidak apa-apa arimbi menikah dengan Emir asalkan kakakku menyukainya. Aku sudah tahu bahwa mereka adalah suami istri dan aku bisa melihat bagaimana Emir memperlakukannya dengan sangat baik karena Arimbi pun bersikap baik pada Emir. Lihatlah bagaimana Emir sekarang terlihat bahagia dan berbeda dari sebelumnya.” kata Agha.
Begitu dia menyelesaikan kalimatnya, Nenek Serkan dan Elisha memandangnya. Lalu Agha pun menyadari bahwa menjadi orang yang sibuk dan tak bisa menahan mulut bisa membawa masalah baginya, Nenek Serkan sangat marah karena Agha akan membuatnya kesal setiap kali dia bicara.
“Agha! Kamu sudah tahu tentang pernikahan mereka? Kenapa aku baru mendengarnya?” teriaknya.
“Nenek, jika Emir tidakmengatakan apa-apa tentang hal itu, mengapa aku harus melakukannya? Dia pasti akan marah dan menyiksaku. Selain itu nenek bahkan tidak membantuku ketika dia mendisiplinkan aku terakhir kali.” balas Agha membela dirinya.
“Bagus! Hehe…..hebat sekali cucu-cucuku!” nenek Serkan terkekeh. Lalu dia menatap Agha dengan tatapan yang sulit diartikan sehingga membuat pria itu salah tingkah dan merasakan firasat buruk. Dia tahu betul sifat neneknya itu. Detak jantung Agha tiba-tiba kencang saat tatapan mata neneknya berubah diselingi senyum tipis.
“Agha! Aku melihatmu sudah cukup dewas, kalau tidak salah usiamu hampir dua puluh delapan tahun ini, hampir seusia dengan Andrew tetapi kamu dua bulan lebih tua darinya. Saat itu ibumu dan bibi Ester sama-sama melahirkan di tahun yang sama jadi aku punya cucu dalam setahun. Untuk sementara aku sangat gembira dan ingat jelas usiamu.”
“Wah, nenek punya ingatan yang sangat bagus! Aku masih berusia lima belas tahun ini dan masih sangat muda. Aku akan selalu menjadi cucu kecilmu yang lucu, tambah Agha menggoda neneknya.
“Aku dengar kabar bahwa teman lamaku Nyonya Moertini bilang kalau cucunya akan kembali dari luar negeri minggu depan. Dia dua tahun lebih muda darimu. Saat cucunya kembali nanti, aku ingin kamu menjemputnya di bandara dan bertemanlah dengannya.”
Ini jelas-jelas Nenek Serkan merencanakan kencan buta yang terselubung untuk Agha. Ketika Agha mendengar perintah neneknya, dia langsung menggosok perutnya dan berkata pada Nenek Serkan, “Nenek kupikir aku makan terlalu banyak barbeque tadi dan perutku sakit. Aku harus ke dokter dulu.” Dia berbalik dan langsung berlari secepat mungkin setelah menjawab neneknya.
Dia tidak mau kencan buta dengan cucu Nyonya Moertini. Mikaela memeliki nama yang lembut tetapi dia tidak mewarisi temperaman yang baik dari namanya. Ketika mereka masih kecil, mereka sering berkelahi dan Mikaela selalu melukai wajah Agha.
Rasa sakitnya selalu membuatnya menangis dan Mikaela bahkan mengolok-oloknya setiap kali dia menangis kesakitan. Itu sangat memalukan Agha!
Meskipun bertahun-tahun sudah berlalu, Agha masih mengingat dengan jelas Mikaela sebagai gadis yang dua tahun lebih muda dan senang berkelahi dengannya dan anak lelaki lainnya.
Sehingga banyak anak-anak yang tidak menyukai Mikaela karena sifatnya yang buruk. Agha membayangkan bagaimana buruknya sifat Mikaela sekarang jika saat masih kecil saja pun sudah bandel dan menyebalkan.
Nenek Serkan hanya menatap kearah mana cucunya lari, dia tersenyum kecut dan berkata, “Kamu bisa melarikan diri kali ini Agha! Tetapi kamu tidak akan bisa melarikan diri selamanya! Huh! Kenapa semua cucuku menentang keputusanku untuk mencarikan mereka jodoh? Apa mereka mau melajang selamanya? Dan Emir, malah menikah diam-diam tanpa minta restuku!”
Wanita tua itu menghela napas panjang, dia masih emosi dengan kelakuan cucu-cucunya, “Aku akan menunggi sampai Mikaela kembali lalu mencari cara untuk membawamu kepadanya!” senandung Nenek Serkan. Setelah itu dia berbalik dan menatap Elisha. Elisha yang memiliki keinginan kuat untuk bertahan hidup dengan cepat tersenyum.