
Setelah menyelesaikan makan malam, Emir meminta Arimbi untuk menemaninya dalam rehabilitasi. Emir harus menebusnya karena bolos di sore hari karena suasan hatinya saat itu sedang buruk.
Awalnya Arimbi senang menemani Emir dalam terapi fisiknya, namun ketika dia melihat keringat dingin didahi Emir saat dia mencoba berjalan lebih banyak, Arimbi merasakan hatinya sakit lagi.
“Sayang, tolong istirahat sekarang.” dengan tertatih Arimbi membawakan tisu untuk menyeka kringat dikening Emir. “Kamu sudah melakukan ini selama empat puluh menit, kamu harus istirahat sekarang sebelum melanjutkan latihanmu lagi. Kamu tidak boleh memaksakan dirimu seperti ini.”
Namun Emir mengacuhkan ucapanya dan tetap berdiri, setelah Arimbi selesai menyeka keringatnya.
Emir yang tak tahan lagi pun terjatuh tersungkur.
“Emir!” Arimbi berteriak kaget dan segera bangkit untuk membantunya. Namun Emir terlalu lelah pada saat ini. Bahkan dengan bantuan Arimbi, dia tidak memiliki kekuatan untuk berdiri kembali sekarang.
Melihat bagaimana Arimbi berjuang untuk membantunya bangkit kembali, Emir mendorongnya menjauh sebelum memukul kakinya dengan keras dengan kedua tangannya.
Dia mengutuki kakinya betapa tidak bergunanya dia, “Jatuh karena berjalan beberapa langkah saja! Kakiku ini sangat tidak berguna!” lalu dia kembali memukuli kakinya.
“Emir!” Arimbi datang kesisinya lalu menerjangnya untuk menghentikan Emir memukuli kakinya dengan meraih kedua tangan pria itu.
“Arimbi! Lepaskan! Aku sudah muak dengan semua ini. Kakiku benar-benar tidak berguna! Tidak peduli berapa lama aku bertahan dalam hal ini, aku masih tidak bisa menempatkan kekuatan apapun ke kakiku ini. Biarkan saja aku berada di kursi roda selama sisa hidupku!” Emir kembali mendorong Arimbi menjauh sekali lagi dan mulai memukuli kakinya lagi.
Para pengawal yang mengawasi mereka dari jauh segera datang setelah melihat apa yang terjadi. Melihat bagaimana para pengawal itu bertindak boleh dikatakan bahwa mereka berpengalaman ketika mereka mencegah Emir memukul kakinya dan buru-buru menggendongnya lalu mendudukkannya kembali di kursi rodanya.
“Biarkan aku!” Emir mendorong pengawal dengan panik dan berjuang untuk berdiri sekali lagi. Pada akhirnya dia jatuh kembali ke tanah.
“Tuan Muda Emir!”
“Tuan Emir!”
Arimbi langsung bangkit kembali dan langsung memeluk Emir sebelum dia berkata dengan lembut, “Emir, Emir sayangku, kamu luar biasa! Kamu sungguh luar biasa! Kamu bisa melakukannya. Kakimu masih berguna! Aku telah menghitung jumlah langkah yang baru saja kamu ambil. Kamu sudah bisa berjalan enam langkah sendirian! Itu kemajuan besar, sayang!”
Ketika Emir mencoba untuk mendorong Arimbi menjauh, wanita itu memegang wajahnya dan mencium bibirnya untuk menenangkan Emir dari rasa frustasinya tanpa menghiraukan para pengawalnya.
Mereka yang berada dikursi roda cukup lama akan selalu berkeinginan dapat berdiri dan berjalan dengan kedua kaki mereka sendiri dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Namun ketika mereka dihadapkan pada kenyataan yang kejam, rasa frustasi akan menumpuk didalam diri mereka dan beberapa bahkan memilih untuk menyerah pada diri mereka sendiri.
Karena Emir telah kehilangan harga dirinya, dia tidak dapat merasakan efek langsung dari proses terapinya bahkan setelah bertahan selama beberapa hari dan bahkan telah menunjukkan pada istrinya penampilan terburuknya.
Dia lebih suka melanjutkan berpura-pura seperti orang gila. Jadi ciuman Arimbi tidak mampu menenangkannya, dia bahkan menggigit bibirnya.
“Arimbi.” pada titik ini Emir merasa sakita hati atas apa yang telah dilakukannya.
“Ini tisu, Tuan, Nyonya.” Rino segera mengambil sebungkus tisu dan menyerahkan kepada suami istri itu. Emir mengeluarkan beberapa lembar tisu dan dengan lembut menyeka darah dari bibir Arimbi.
“Arimbi, maafkan aku.” ujarnya lirih penuh rasa bersalah.
Arimbi menggelengkan kepalanya. “Sayang, ini tidak sakit. Jangan salahkan dirimu untukini, aku serius loh ini benar-benar tidak sakit. Kamu juga tidak perlu merasa malu hanya karena kamu jatuh didepanku. Aku tidak akan pernah mengejekmu karena itu.”
“Emir sayangku, bagiku kamu adalah pria yang luar biasa untuk bertahan selama setengah jam dalam pemulihan fisik dan bahkan mengambil enam langkah sendiri. Ini adalah kemajuan dari yang terakhir kali kamu melakukannya. Emir, jangan pernah menyerah pada diri sendiri. Kamu luar biasa bagiku, jadi jangan menyebut dirimu tidak berguna.”
Ketulusan dimata Arimbi, sakit hatinya dan kelembutannya berhasil meredam rasa frustasi yang dirasakan oleh Emir. “Sayang, ayo berdiri sekarang oke? Tolong berusahalah berdiri, aku tidak bisa menopangmu karena kakiku juga terluka.” ucap Arimbi dengan ragu-ragu.
Setelah Emir menganggukkan kepalanya, Arimbi dan Eino kemudian membantunya kembali ke kursi rodanya.
Kemudian wanita itu berjongkok didepannya dan memperbaiki pakaiannya lalu dengan lembut menepuk debu yang terlihat dipakaiannya,
“Sayang, bagaimana kalau kita berhenti sampai disini untuk hari ini? Ayo kembali kerumah dan beristirahat ya. Tidak baik jika kamu terlalu memaksakan dirimu karena kamu akan terlalu kelelahan dan tidak baik untuk kesehatanmu.”
“Aku akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan. Arimbi, aku akan terus melakukan latihan setiap hari mulai sekarang. Aku pasti akan bangkit setiap kali aku jatuh.”
Sebenarnya Emir tidak sepenuhnya cacat sampai tidak bisa berjalan sendiri. Namun dia akan kesakitan dan tidak bisa mengerahkan kekuatan apapun ke kakinya setiap dia berjalan.
Itulah sebabnya dia mengandalkan kursi roda untuk bergerak. Namun dokter telah memperingatkannya bahwa jika dia tidak melakukan pemulihan fisik dan terus saja menggunakan kursi roda, maka kedua kakinya akan benar-benar cacat selamanya.
Dia masa lampau dia benar-benar tidak peduli jika dia harus berasa dikursi roda selama sisa hidupnya. Tapi semuanya kini berbeda karena dia memiliki Arimbi bersamanya. Dia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dikursi roda dan dia ingin berdiri dengan kedua kakinya disisi Arimbi.
Karena Emir bertubuh tinggi dengan wajah yang tampan dia menyukai penampilan Arimbi yang imut dan tak berdaya ketika berdiri disamping Arimbi. Istrinya itu tidak pendek,tinggi badannya sesuai untuknya dan tubuhnya juga padat dan berlekuk indah. Suami mana yang tak ingin melindungi wanitanya yang secantik Arimbi?
Lagi pula jika dia bisa berjalan sendiri maka dia bisa sampai di sisi Arimbi lebih cepat setiap kali wanita itu kesulitan dan dia bisa membantunya menyelesaikan masalahnya.
Mendengar apa yang dikatakan Emir, Arimbi pun langsung mengacungkan jempolnya sambil memujinya, “Suamiku benar-benar kelas atas! Sayang, tetap semangat ya! Kamu bisa melakukan ini. Aku yakin itu.”
Emir tertawa lalu meraih ibu jari Arimbi untuk menarik lengannya mendekat dan mencium punggung tangannya. Emir menatap istrinya dalam-dalam dan berkata, “Arimbi, aku akan melakukan yang terbaik.” kemudian dia membelai bibir yang telah dia gigit tadi. Meskipun bibir Arimbi sudah tidak berdarah lagi tapi masih bengkak. “Sakit ya?”
“Tidak!”jawab Arimbi singkat.