
“Arimbi!” Elisha memanggilnya sambilt ersenyum. “Bukankah seharusnya kamu menemani Emir makan siang? Kenapa kamu ada disini?”
“Dia tidak membutuhkan aku disana!” jawabnya dengan santai kemudian dia berjalan mendekati Elisha. “Kucingmu sangat menggemaskan.” komentarnya sambil melihat kucing yang digendong Elisha.
“Aku sudah memilikinya selama beberapa tahun. Aku mempunyai tempat khusus untuk hewan peliharaan dimana ada anjing dan kucing. Maukah kamu ikut denganku untuk melihat-lihat?” Elisha senang mempunyai seseorang yang bisa diajak bicara tentang hewan peliharaan. Dia ingin membawa Arimbi untuk melihat hewan peliharaannya dan permintaannya itu terdengar seperti dia sedang menawarkan emas.
“Baiklah.” ucap Arimbi senang.
“Ayo pergi mimi dan momo!” Elisha memanggil kedua anjing peliharaannya. Meksipun bulu mereka seputih salju, salah satu anjing itu lebih kecil. Tidak mengherankan jika Elisha memberi mereka nama ‘Mimi’ dan ‘Momo’ untuk membedakan mereka.
Arimbi sempat berpikir bahwa tempat Elisha memelihara hewan peliharaan adalah dirumah utama, tetapi dia tidak menyangka jika Elisha membawanya kearah barat dan mereka tiba dihalaman setelah menempuh perjalanan panjang. Halamannya tidak berbeda dengan kediaman Serkan----memiliki rumah dengan dikelilingi tembok rendah.
Halaman juga tampak tenang karena ada bunga dan tanaman hias lainnya. Arimbi telah berada dikediaman Keluarga Serkan begitu lama dan Beni telah mengajaknya berkeliling disekitaran kompleks villa itu sebelumnya. Namun dia tidak menyangka masih ada banyak tempat lagi di kompleks itu!
Saat Arimbi melihat halaman kecil kecil dibagian barat, dia pun menyadari kalau dia belum pernah mengunjungi lokasi lainnya di kompleks itu. Rumah Keluarga Serkan sangat besar! Ketika mereka tiba disana, mudah untuk mengetahui pada pandangan pertama bahwa ini adalah rumah hewan peliharaan.
Dilihat dari plakat yang bertuliskan ‘Istana Hewan Peliharaan’ yang digantung di gerbang masuk.
“Arimbi! Ini adalah tempat khusus untuk hewan peliharaanku. Emir membenci hewan berbulu dan hewan peliharaan kita semua berbulu. Karena itu, untuk mencegahnya menginjak-injak mereka sampai mati aku hanya bisa membiarkan hewan peliharaanku tinggal jauh dan mengandalkan orang lain untuk merawat mereka. Aku datang kesini setiap kali aku punya waktu luang.” ucap Elisha menjelaskan.
Istana hewan peliharaan lokasinya jauh dari rumah Emir, karena itu hewan peliharaan sering ditemukan berkeliaran disekitar halaman. Bahkan jika hewan-hewan itu meninggalkan istana hewan peliharaan, mereka hanya akan berjalan disekitaran lingkungan ini saja dan tidak akan berlari ketempat lainnya.
“Nona Elisha, kamu sangat beruntung!” Arimbi menghela napas panjang. Keluarga ini bahkan membangun sebuah rumah khusus untuk tempat hewan peliharaannya. Kemampuan keuangan keluarga Serkan telah membuka mata Arimbi tentang arti kekayaan yang sebenarnya. Dibandingkan dengan keluarga Serkan, keluarganya hanya bisa digambarkan sebagai keluarga kelas menengah, bukan orang kaya.
“Arimbi, panggil saja aku Elisha! Karena kita dekat jadi mulai sekarang kita berteman.” Elisha tersenyum hangat saat dia berbicara dengan Arimbi sambil membawanya masuk ke istana hewan peliharaan. Elisha memujanya dan bisa menjadi kakak iparnya dimasa depan jadi dia senang bisa dekat dengan Arimbi.
“Nona, anda disini.” sapa para pekerja yang merawat hewan peliharaan Elisha saat mereka mendengar suara dari luar. Merekapun langsung keluar dari rumah untuk menyambutnya dengan senyuman. Lalu Elisha memberitahu para pekerja itu, “Ini Nona Arimbi. Dia juga suka hewan peliharaan, jadi aku akan membawanya berkeliling untuk melihat milikku.”
Arimbi juga disambut dengan senyuman oleh para pekerja itu sebelum pergi dan mengizinkan Eisha untuk mengajaknya berkeliling. Arimbi melihat bahwa Elisha sangat menyukai kucing dan anjing. Ada beberapa hewan peliharaan lainnya dari berbagai ras seperti burung beo dan deretan sangkar burung yang tergantung dipohon besar.
Ketika burung beo melihat Elisha mendekat, mereka menjadi sangat senang. “Anda disini nona.
“Aku merindukanmu nona.”
“Aku terpikat pada tuturmu. Aku tersihir jiwamu.”
Burung-burung beo itu terdengar seperti mereka dilatih untuk ikut teater. Arimbi tertawa ketika mendengar mereka bicara satu sama lain dengan nada yang hidup.
“Elisha, siapa yang mengajari mereka bicara? Mereka bahkan bisa menghapalkan lirik lagi pop.” Arimbi berjalan mendekat dan menggoda burung beo itu. Elisha tersenyum melihat tingkah Arimbi lalu dia menjelaskan.
Tidak hanya satu pekerja tetapi sepuluh pekerja. Elisha khawatir kucing dan anjing akan berkelahi. Sehingga Elisha memisahkan tempat kedua binatang itu.
Selain itu, beberapa hewan peliharaan suka merobohkan rumah mereka. Karena itulah perlu banyak orang untuk mengawasi dan merawat kebun binatang ini.
“Semakin aku melihat mereka, aku semakin menginginkan memiliki hewan peliharaan.” ujar arimbi.
Seekor anjing peliharan berbulu datang berlari karena sangat ramah dan tidak takut pada manusia. Anjing peliharaan itu mengusap wajahnya kekaki Arimbi, membuatnya membungkuk lalu menggendongnya.
“Aku sarankan kamu lupakan soal itu karena Emir membenci hewan peliharaan kecil ini. Jika kamu membawa anjing kembali dia mungkin akan meremukkannya sampai mati tepat didepanmu saat itu juga. Aku tidak sanggup untuk menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan. Kamu juga pasti tidak mau melihatnya juga bukan?”
“Tapi, Arimbi jika kamu menyukainya, kamu dapat mengunjunginya kapan saja untuk memberi makan dan berbicara dengan mereka. Setelah kamu berkenalan dengan mereka, mereka pasti akan bermain denganmu.” kata Elisha tersenyum.
Mata Arimbi pun langsung berbinar mendengar ucapan Elisha. “Benarkah? Aku bisa datang kapan saja kesini?” tanya Arimbi masih tak percaya.
Elisha tersenyum dan berkata, “Aku akan memberitahu para pekerja nanti. Kamu dipersilakan untuk mengunjugi tempat ini kapan saja dimasa depan.”
“Kalau begitu, aku akan singgah dan memberi mereka makan saat aku ada waktu luang.” Arimbi merasa sangat senang.
Elisha membungkuk dan meletakkan kucing Ragdoll ditangannya ke tanah. Sementara itu momo dan mimi sudah bermain dan bersenang-senang sambil berlarian dihalaman. Keduanya telah dibesarkan selama beberapa tahun jadi mereka sangat pintar dan berperilaku baik. Mereka bahkan jaran berkeliaran disekitar ruang tamu utama karena takut menimbulkan kekacauan dan mendapat konsekuensi serius.
Kedua wanita itu berada di Istana hewan peliharaan selama beberapa waktu sebelum pergi. Elisha khawatir kakaknya akan membutuhkan kehadiran Arimbi setelah makan siang. Jadi dengan cepat-cepat dia menyeret Arimbi pergi sebelum wanita itu menjadi semakin enggan untuk pergi.
“Arimbi apa kamu sudah mengenal lingkungan rumah kami?” tanya Elisha sambil menatap kakak iparnya itu.
Arimbi menjawab dengan gelengan kepalanya dengan jujur lalu berkata, "Aku hanya tahu jalan ke rumah Emir. Aku bisa mengenali beberapa jalan disekitar sana tetapi hanya karena aku melewatinya setiap hari.”
Dia cukup beruntung karena Emir tidak menanyakannya baru-baru ini. Kalau tidak, dia tidak akan yakin apakah akan mengatakan yang sebenarnya atau berbohong.
Author bagiin nih visual Elisha dan Arimbi 😊 biar yg baca tambah semangat
Visual ELISHA MELIKE SERKAN
Visual ARIMBI SARASWATY RAFALDI