GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 180. MENOLAK KERJASAMA


“Arimbi, berhati-hatilah selalu. Bahkan orang yang paling kamu percayai mungkin menusukmu dari belakang.” ujar Yadid lagi menambahkan agar Arimbi bisa waspada dengan sekelilingnya. Dan Arimbi pun tahu kalau Yadid memaksudkan Amanda. Setelah Yadid mengetahui apa yang terjadi pada Reza di pesta ulang tahun Zivanna, Yadid mulai waspada dengan Amanda.


Apalagi setelah dia mendengar bahwa sebelum Reza membubuhkan obat bius diminuman itu, dia bertemu dan berbincang dengan Amanda. Siapa yang tahu? Mungkin saja mereka memang bersekongkol untuk menjebak Arimbi. Hal itu membuat rasa percaya Yadid pada Amanda mulai terkikis perlahan.


“Arimbi, meskipun kamu adalah Nyonya Serka, Emir selalu mengesampingkan urusan pribadinya dari pekerjaan. PT. Libra Elektroindo berada dibawah manajemen Tuan Jordan. Dia pria yang cakap yang suka memancing. Tapi ada kekurangan dalam karakternya, dia menyukai gadis muda dan cantik. Dengan kata lain, dia orang yang dikuasai oleh nafsu.”


Arimbi berhenti sejenak dalam keheningan sebelum berkata,”Ayah, apa dia benar-benar pernah melewati batasan?”


“Tidak! Tidak mungkin.dia biasanya memberi beberapa kesan dan dia tidak akan membiarkanmu pergi setelah kamu memberi lampu hijau. Selain itu dia juga dikenal karena memiliki toleransi tinggi pada alkohol. Aku tahu kamu bisa mentoleransi alkohol, tapi tetap kendalikan dirimu.Aku akan meminta seseorang yang bisa minum dengan baik untuk menemanimu.”


“Ayah, apakah menurutmu Emir akan terlibat dalam proyek ini?”


Yadid tertawa mendengar pertanyaannya, “Kenapa dia ikut campur dalam masalah sepele seperti ini?”


Serkan Global Group mempunyai bayak cabang usaha, karena itu sangat mustahil bagi Emir untuk mengawasi perusahaannya satu persatu.


Ditambah lagi, Tuan Muda di keluarga Serkan bertanggung jawab atas divisi yang paling penting. Sedangkan posisi sepele seperti supervisor atau manajer bisa diisi dengan orang luar.


“Tidak heran orang seperti Tuan Jordan bisa menjadi manajer dan sepertinya Emir tidak keberatan sama sekali.”


“Arimbi, kamu masih terlalu polos. Masyarakat ini kejam penuh dengan aturan yang tidak diucapkan dan selalu ada. Mereka tahu itu jebakan tapi mereka masih mau menerima umpannya.


Jadi kamu harus selalu was-was agar tidak terjebak dalam skema atau plot siapapun. Bagaimanapun Emir adalah suamimu, kamu harus selalu berhati-hati jangan sampai merusak nama baiknya.”


Arimbi menahan lidahnya saat dia berpikir, ‘itu sebabnya aku disiksa dengan menyedihkan di kehidupan sebelumnya. Semua itu berkat kebodohanku. Aku terlalu percaya pada orang lain dan tidak waspada pada sekelilingku.’


Kring kring kring…..


Arimbi menjawab telepon yang berdering dimeja kerja ayahnya. “Tuan, Direktur Harimurti ada disini.” mendengar itu Arimbi langsung menyerahkan telepon itu pada ayahnya yang kemudian meminta Arimbi untuk segera pergi. “Arimbi, kamu bisa pergi dulu. Aku tidak mau Dion Harimurti melihatmu disini. Dia sedang menuju kesini.”


“Baik.” Arimbi berbalik dan menghilang dalam sekejap mata karena dia tidak berniat untuk menemui orang-orang yang sedang berkunjung itu. Setelah memastikan dirinya sendirian, Yadid bertanya pada sekretarisnya Ciara, “Dimana pria itu sekarang?”


“Direktur Harimurti sedang berada di lift sekarang.” jawab Ciara,


“Baiklah. Suruh saja langsung masuk keruanganku begitu dia tiba disini.”


Sedangkan Arimbi justru ingin menghindari Dion dan pergi ke pantry untuk membuatkan kopi untuk dirinya. Setelah itu dia ingin menemui Amanda, tak peduli berapa besar bencinya tapi dia harus mengakui kalau dia hanyalah pendatang baru yang masih perlu banyak belajar.


Mekipun keinginan balas dendamnya begitu kuat, Arimbi menyadari kenyataan kalau dia terlahir kembali saja tidak cukup untuk bisa meraih tujuannya.


Menjadi lebih kuat adalah prioritas utamanya saat ini jika dia ingin menginjak musuhnya satu persatu. Dia bisa merencanakan pembunuhan untuk mengakhiri hidup Reza dan Amanda tapi hal itu akan membahayakan masa depannya.


Dia punya waktu seumur hidup untuk menjatuhkan kedua orang itu ke bawah kakinya dan menyita semuanya dari mereka. Saat itulah mereka takkan memiliki apapun selain diri mereka sendiri.


Mereka akan menjadi tikus parit yang dibenci semua orang. Baru saja dia menghabiskan kopinya dan melangkah keluar dari pantry dia melihat pintu lift terbuka dan segerombolan orang keluar.


Arimbi bergegas masuk masuk kedalam lift sebelah yang baru terbuka. Dia tidak ingin bertemu dengan Dion lagi, tapi pria itu sudah melihatnya duluan.


“Arimbi.” panggil Dion dengan suara dingin dan datar.


“Halo Direktur Harimurti, anda pasti kesini untuk menemui Direktur Rafaldi. Dia sudah menunggu anda diruangannya. Aku ada urusan penting jadi aku pergi dulu agar tidak membuang waktumu yang berharga.” ujar Arimbi menekan tombol untuk menutup pintu lift.


Dion Harimurti masih terlihat acuh di kursi rodanya tanpa mengalihkan tatapannya pada pintu lift yag tertutup. Jemarinya mengetuk sandaran lengan kursi rodanya selama beberapa saat lalu berkata, “Bawa aku ke kantornya.”


Misi Dion Harimurti hari ini adalah ingin mendengarkan alasan yang akan diberikan oleh Yadid Rafaldi, si pria tua licik yang menolak hubungan kerjasama yang diajukannya tempo hari.


Bagi Dion, penolakan itu sangat tidak masuk akal dan alasannya juga belum jelas. Belum pernah ada yang menolak kerjasama dengan perusahaannya sehingga membuat Dion merasa penasaran.


******


Sementara itu di kantor Serkan Global Group, Aslan memasuki kantor direktur sebelum Emir bertanya, “Bagaimana hasilnya?”


“Seperti yang kita duga, semua orang tertarik untuk mengambil penawaran itu. Selama mereka memiliki papan sirkuit yang kita butuhkan, mereka akan terus mencoba merebut kontraknya dengan segala cara.”


Lalu Aslan menuangkan segelas air hangat untuk menghilangkan rasa hausnya. Setelah merasa lega dia mengisi gelasnya lagi membuat Emir melirik kearahnya.


“Kenapa? Aku tidak boleh minum air?” tanya Aslan.


“Terserah kalau kamu ingin menghabiskan selurh air itu. Hanya saja, jangan sampai mengganggu efisiensi pekerjaanmu karena terlalu sering ke kamar mandi.”


Aslan tertawa, “Kukira kamu tak suka melihatku minum airmu. Sarapan pagi ini terasa sedikit asin.”


“Kamu harus memperhatikan apa yang kamu makan dan sering-seringlah berolahraga. Jangan heran kalau kamu  masih bujangan seumur hidupmu dengan tubuh seperti itu.”


Mendengar itu Aslan menurunkan pandangan menatap perutnya dan mencubit perutnya yang agak buncit.


Merasa puas, dia menghela napas, “Kenapa cepat sekali besarnya padahal aku baru bermalas-malasan selama beberapa hari? Direktur Serkan, nafsu makanmu lebih besar dariku dan kamu tak olahraga sepertiku, tetapi kenapa kamu masih terlihat kekar dan bugar?”


“Selama ini aku berolahraga malam hari dan siang hari aku melakukan rehabilitasi.  Olahraganya tidak main-main dan banyak menghabiskan energi dan membakar banyak kalori.” jawab Emir yang membuat Aslan terpelongo mendengar jawabannya.