GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 289. SINDIRAN ARIMBI


“Amanda, semakin hari aku perhatikan sikapmu semakin agresif terhadapku! Kenapa? Apa kamu merasa takut kalau posisimu di perusahaan ini akan tergeser?”


“Aku tidak pernah takut! Kalau kamu memang berbakat dan mempunyai kemampuan pasti ayah akan menyerahkan perusahaan kepadamu. Aku tidak masalah, Arimbi!” jawab Amanda sambil tersenyum.


“Well, jangan takut. Karena aku bahkan tidak peduli jika kamu memegang perusahaan ini. Kamu sudah merasa sangat nyaman di keluarga Rafaldi bukan? Saking nyamannya sampai-sampai kamu bahkan tidak pernah menjenguk ibu lagi sampai dia keluar dari rumah sakit.” ujar Arimbi sarkas.


“Apa? Ibu sudah keluar dari rumah sakit? Arimbi, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Pasti kamu sengaja kan? Untuk membuatku terlihat seperti anak yang tidak punya hati?”


“Menurutmu? Seminggu kamu disana, bukannya menjaganya dengan baik tapi kamu malah sibuk main ponsel dan berbalas pesan dengan Reza, iyakan? Apa yang kamu pikirkan Amanda? Ayah, apakah salah jika aku mengingatkannya tentang status Reza?”


“Apa itu benar Amanda?” tanya Yadid mengeryitkan dahinya menatap putri angkatnya itu.


“Ayah, kami sudah berteman selama bertahun-tahun! Selama ini kami berhubungan baik, apa salah kalau kami masih berteman meskipun dia akan segera menikah?” ujar Amanda.


“Sangat salah! Sangat tidak pantas seorang pria dan wanita dewasa berteman dekat! Setelah apa yang dia dan keluarganya lakukan pada keluarga kita! Sebaiknya kamu memutuskan semua hubungan dengan Reza! Jangan membuat orang lain salah paham akan pertemanan kalian berdua.” ujar Yadid.


“Baiklah. Ayah.” Amanda menunjukkan ekspresi bersalah tetapi didalam hatinya dia menggerutu.


“Apa masih ada lagi yang ingin dibicarakan?”


“Ayah, aku ingin bertanya padamu.” ucap Arimbi. Dia ingin melemparkan bola panas itu sekarang.


“Apa yang ingin kamu bicarakan? Katakan saja. Apa kamu butuh bantuanku?”


“Iya, ayah. Begini, ini tentang Metro Megamall.” ucap Arimbi ingin menjelaskan.


“Ya, bukankah itu tempatmu bertengkar dengan Nona Zivanna kemarin malam?” tanya Yadid.


“Sekarang tempat itu sudah jadi milikku. Apa yang harus kulakukan ayah?” tanya Arimbi.


“Jadi milikmu? Maksudmu kamu membelinya? Itu pusat perbelanjaan termewah! Harganya bangunan itu sangat mahal, berada di lokasi strategis juga.” ujar Amanda terkejut dan sedikit tak senang.


“Seseorang memberikan padaku sebagai hadiah setelah aku dan Zivanna bertengkar.”


“Apa kamu bilang?” Yadid terkejut mendengarnya. Dia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Arimbi kamu jangan bicara omong kosong! Siapa yang menghadiahkan sebuah pusat perbelanjaan padamu? Apa kamu merayu seseorang? Sebaiknya kamu berhati-hati…..ini bisa jadi bumerang padamu. Siapapun yang memberikannya padamu, mungkin memberi dokumen palsu.” Amanda berkata dengan perasaan iri dan cemburu.


“Siapa lagi ya kira-kira yang sudah begitu baik padaku sehingga menghamburkan uang sebanyak itu? Ck! Mungkin aku sudah melakukan banyak kebaikan di kehidupanku sebelumnya jadi di kehidupan ini aku mendapat begitu banyak kebaikan. Benarkan ayah?” ucap Arimbi tersenyum sinis pada Amanda.


Itu daftar hadiah pernikahan terbanyak dan termahal yang pernah dia lihat. Dia hanya mengkhawatirkan putrinya jika Keluarga Serkan mengetahui itu mungkin mereka akan merundung Arimbi lagi. Makanya saat Emir bertanya padanya apakah ada yang dia inginkan, Yadid langsung menjawab tidak.


“Arimbi, bisa kita bicara berdua saja?” tanya Yadid. Amanda pun langsung paham dan tanpa basa basi dia segera berkata, “Aku juga masih punya banyak pekerjaan. Aku pamit dulu.”


“Baiklah Amanda.” ucap Yadid.


“Amanda, tolong tutup pintunya rapat ya! Aku khawatir ada yang menguping pembicaraan kami seperti sebelumnya.” ujar Arimbi menyindir Amanda.


Amanda mengacuhkan dan langsung meninggalkan ruangan itu lalu menutup pintu dengan amarah. Bahkan saat Sartika menyapanya, Amanda tidak mengatakan sepatah katapun lalu bergegas masuk kedalam lift.


‘Siapa yang memberikan pusat perbelanjaan itu padanya? Beruntung sekali si udik itu! Pasti orang itu sangat kaya.’ gumamnya.


“Arimbi, apakah dugaanku benar? Jika yang membelikan pusat perbelanjaan untukmu adalah Emir?”


“Hehe….ayah menebaknya dengan tepat! Maafkan aku ayah, aku terpaksa mengusir Amanda dari sini karena aku tidak mau dia mengetahui apapun. Ayah, sebenarnya aku mencurigainya karena ini yang kesekian kalinya Zivanna bisa tahu keberadaanku.”


“Ayah, tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berharap kedua putriku bisa hidup dengan baik dan damai. Tapi sepertinya semua itu tidak akan pernah terjadi. Mengapa kamu sampai berpikir kalau Amanda ada hubungannya dengan semua ini?” ujar Yadid.


“Apa ayah ingat tentang pertemuan dengan Tuan Jordan? Amanda membohongiku dan dia juga yang memberitahu Zivanna dimana aku berada saat itu. Dan ini juga sama, sebuah kebetulan tidak akan terjadi berulang beberapa kali kecuali itu memang disengaja. Aku merasa kalau Amanda sengaja ingin membuatku dan Zivanna saling berkonfrontasi.”


“Tidak baik menuduh jika itu tidak ada bukti Arimbi! Bisa saja insiden sebelumnya memang Amanda yang memberitahu Zivanna tapi yang terjadi kemarin malam? Darimana Amanda bisa tahu kalau kamu akan pergi  kesana bersama Joana?”


“Ayah, aku akan mencari tahu! Jika benar Amanda sengaja melakukan semua ini, maafkan aku kalau aku harus melakukan sesuatu terhadapnya! Aku tidak ingin pertikaian tapi jika dia memulainya maka aku akan menghadapinya. Apapun tujuan Amanda melakukan ini pasti karena dia merasa posisinya sekarang terancam.”


“Aku tidak akan memintamu untuk melepaskan Amanda. Tapi ingat, kondisimu sekarang sedang hamil. Jagalah dirimu baik-baik dan berhati-hatilah. Jangan khawatir Arimbi, ayah tahu apa yang harus ayah lakukan. Mengenai mall itu, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu ingin berhenti bekerja dari perusahaan ini dan fokus mengurus mall itu?”


“Tidak ayah. Aku akan tetap bekerja disini sampai aku siap untuk mengambil alih perusahaan. Mall itu sudah dikelola dengan baik selama ini oleh orang-orang kepercayaan Emir. Mungkin aku hanya perlu mengecek sesekali saja. Ayah, aku bahagia sekali! Emir memperlakukanku sangat baik.”


“Ayah senang melihatmu bahagia. Bagaimana dengan anggota keluarga Serkan yang lain? Jika mereka tahu mengenai hal ini. Apa yang akan kamu lakukan?”


“Ayah, memang mereka sudah tahu. Tidak mungkin berita seperti ini tidak sampai kepada mereka. Apalagi beritanya sudah viral sekarang. Jangan khawatir, aku bisa menghadapi mereka.”


“Baiklah…..baiklah…...”


Sementara itu diwaktu bersamaan, di salah satu restoran mewah tampak Zivanna duduk dengan ekspresi wajah penuh kekesalan dan kedua tangannya mengepal erat. “Brengsek! Sialan!” geramnya Zivanna memaki didalam hatinya. Saat ini dia sedang berada di sebuah ruang Vip di salah satu restoran mewah. Dia menunggu kedatangan Rania, dia memang sengaja ingin bertemu dengan wanita paruh baya itu.