
Sementara itu tak jauh dari kediaman Harimurti nampak seorang perempuan yang mengenakan hoodie dan topi, wajahnya ditutupi masker. Dia berjalan mengendap-endap dan saat dia hampir mencapai perempatan jalan sebuah taksi menuju kearahnya.
“Hei berhenti!” perempuan itu langsung menghadang taksi sambil merentangkan kedua tangannya. Saat taksi itu berhenti perempuan itu langsung masuk kedalam taksi.
“Jalan pak!” ujarnya membuat supir taksi bingung dan hanya diam membeku.
“Mau kemana nona?” tanya supir taksi menatap perempuan itu dengan tajam.
“Saya baru saja dikejar penculik makanya saya berantakan begini dan tidak pakai sepatu karena tadi pas lari sepatu saya terlepas! Tolong bapak antar saya ke alamat ini.” ujar perempuan itu menunjukkan kertas yang diatasnya tertulis sebuah alamat butik.
Meskipun agak bingung namun supir taksi itu melajukan kendaraannya setelah dijanjikan akan diberikan uang tambahan karena sudah menolong. Tiga puluh menit kemudian taksi berhenti didepan sebuah butik mahal.
Perempuan itu menyodorkan sejumlah uang yang membuat mata si supir membelalak. Ini adalah penumpang pertamanya pagi ini tapi dia malah mendapat rejeki nomplok.
“Terima kasih pak. Tolong kalau ada nanti yang menanyai bapak apakah melihat saya atau bagaimana……bilang saja tidak tahu ya pak.” ucapnya memohon dengan wajah memelas. Melihat ekspresi wajah polos dan jujur dari perempuan itu, supir taksi pun tak bisa menolak.
“Baiklah. Tenang saja nona, saya tidak akan mengatakan apapun. Apakah nona aman disini?”
“Saya akan menemui teman saya, saya tidak punya ponsel tapi kantornya tidak jauh dari sini.”
“Oh begitu. Baiklah, nona berhati-hati ya.”
“Iya pak. Sekali lagi terima kasih.” perempuan itu langsung berbalik dan berlari menuju kearah jalan kecil disamping butik. Lalu dia bersembunyi diantara pagar tanaman memperhatikan jalanan.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya dan sekitarnya aman, perempuan itupun berjalan menuju ke belakang butik lalu mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka dan dia langsung masuk.
“Ada apa denganmu? Kenapa harus mengendap-ngendap begitu datang kesini seperti pencuri?”
“Sudahlah jangan banyak bertanya. Sekarang aku mau mandi dulu.”
“Joana, ada apa denganmu? Kenapa badanmu bau terbakar begitu?”
Joana tak menjawab tapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Sebelum masuk kedalam kamar mandi dia menoleh kebelakang dan berkata,
“Grace! Tolong siapkan saja pakaianku! Nanti akan kujelaskan padamu semuanya. Pesta pernikahan Arimbi akan dimulai pukul sepuluh.”
“Tenang saja! Aku sudah siapkan semuanya. By the way, apa Tuan Dion tahu kamu kesini?”
Lagi-lagi Joana diam dan langsung menutup pintu kamar mandi. Ya, perempuan itu adalah Joana yang berhasil melarikan diri dari kediaman Harimurti. Joana yang seperti detektif berhasil mengelabui semua orang dirumah Dion dengan membakar kamarnya.
Arimbi yang kesal setelah mendengar penjelasan Joana pun merencanakan sesuatu. Ide keduanya memang benar-benar gila! Membuat Joana seolah-olah mati dalam kebakaran dirumah Dion. Untuk memberi pelajaran pada pria itu. Meskipun agak mengerikan karena itu berarti Joana harus bermain api namun dia tidak takut dan nekat melakukannya.
Sepuluh menit kemudian Joana keluar dari kamar mandi dan menemukan Grace sudah memegang gaun untuk Joana. Keduanya pun bersiap-siap, Grace pemilik butik langganan Joana dengan cekatan membantunya memakai gaun dan topeng wajah yang sudah disiapkan Arimbi untuknya. Dengan begitu Dion dan anak buahnya tidak akan bisa menemukan Joana.
“Joana! Kamu benar-benar gila! Apa kamu tidak takut kalau Tuan Harimurti nanti menangkapmu?” tanya Grace sambil merias wajah Joana. Grace bahkan mengunci ruangan itu dan tak ada seorang pun staff-nya yang mengetahui ada Joana diruangan itu.
“Biarkan saja! Laki-laki brengsek itu perlu diberi pelajaran! Aku dan Arimbi sudah lama berteman, dia tidak bisa seenaknya melarangku datang ke pesta pernikahan sahabatku.”
“Ck! Aku tidak tahu mau bilang apa Joana! Apakah kau beruntung atau sial!” ucap Grace terkekeh. “Banyak wanita yang menginginkan Tuan Emir dan Tuan Harimurti karena mereka kaya dan tampan. Tapi lihatlah, malah kalian berdua yang mendapatkannya! Apakah kau membenci pria itu Joana?” tanya Grace lagi yang merasa penasaran.
Grace seorang wanita cantik berasal dari keluarga kaya, dia juga masih single karena kesulitan untuk mencari pasangan yang selevel dengan keluarganya. Grace juga bukan wanita yang mudah bergaul dengan siapa saja. Dia merasa tidak nyaman bergaul dengan wanita-wanita kaya lainnya yang menurutnya angkuh dan sombong. Hanya dengan Joana lah dia merasa nyaman.
Pertemuan mereka diawali saat Grace kembali dari luar negeri dan membuka butik. Dia adalah seorang desainer dan penata rias terkenal diluar negeri. Namun keluarganya memintanya kembali karena merasa khawatir pada putri satu-satunya yang hidup seorang diri diluar negeri. Sejak kenal dengan Joana, keduanya langsung akrab. Grace pernah bertemu sekali dengan Arimbi dulu.
“Grace! Kurasa aku beruntung dan juga sial!” ujar Joana mengerucutkan bibirnya.
“Hahahaha…..bukankah kamu yang nekat mengambil photonya dulu? Lalu kenapa sekarang kamu sepertinya menyesal menerima lamaran Tuan Harimurti?”
“Aku tanya padamu, apakah kamu menyukai Tuan Harimurti?” tanya Joana membalikkan pertanyaan pada Grace yang langsung tertawa sambil memegang perutnya.
“Joana…..Joana……aku akui kalau Tuan Harimurti itu tampan dan kaya raya. Aku menyukai pria tampan tapi dia bukan tipeku. Aku tidak suka pria dingin dan angkuh seperti dia.” ucap Grace.
“Jadi, pria seperti apa yang kamu suka? Apakah Ruben kakakku adalah tipe pria yang kamu sukai?” tanya Joana sambil tersenyum menatap Grace yang langsung gelagapan.
Ruben memang pria tampan dan sikapnya lembut. Joana tahu jika Grace sepertinya ada hati pada saudara laki-lakinya itu karena saat Ruben mengantarkan Joana ke butik Grace dulu, dia bisa melihat ekspresi dan tatapan mata Grace yang terpesona menatap Ruben.
“Kenapa kamu malah membawa-bawa nama Ruben?”
“Aku kan hanya bertanya? Katamu tidak suka tipe pria yang dingin dan angkuh seperti Emir dan Dion! Bagaimana dengan tipe pria seperti Ruben? Menurutku kakakku itu sangat lembut dan ramah, meskipun begitu dia tidak sembarangan dekat dengan wanita. Nyatanya diusianya yang sekarang dia baru sekali punya pacar.”
Joana dengan sengaja mengatakan itu sedikit memberikan informasi pada Grace dan mempromosikan kakak laki-lakinya. Joana berharap Grace menyukai Ruben karena menurutnya Grace adalah wanita yang baik dan rendah hati meskipun dia berasal dari keluarga kaya.
“Sudah…..sudah! Riasanmu sudah selesai. Sekarang kita berangkat!’ ucap Grace mengalihkan pembicaraan. Dia membereskan perlengkapannya lalu mengambil tas kecil.
“Biar aku saja yang menyetir biar kita cepat sampai disana.” kata Joana merebut kunci mobil dari tangan Grace. “Aku tidak mau terlambat ke pesta pernikahan sahabatku.”
Grace hanya bisa geleng-geleng kepala lalu mereka keluar melalui pintu belakang. Grace memarkirkan mobilnya didekat jalan kecil disamping butik. Area itu adalah sebuah taman kecil.